Demam (lagi)

tidak-ada-satupun-obat-tidak-ada-satupun-dokter-yg-bisa-mempercepat-penyembuhan-common-cold

Yang paling sering gagal paham soal Common Cold ini, ya gak sih? Kadang beberapa kali dokter di milis sehat menjawab obat yang paling manjur adalah : menenangkan hati orang tuanya, hihihi. Pernah juga Arsa demam sampai lebih dari satu minggu, si Ibun berusaha tetap rasional (tapi susah), karena kemakan isu kalau demam lebih dari 72 jam itu bahaya, heu.. padahal ternyata Common Cold bisa sampai 12 hari, dan Arsa pernah! Apalagi beberapa teman yang anaknya punya riwayat Kejang Demam, pasti harus lebih tough ya menghadapi yang ‘cuman’ common cold ini. Yuk ah, belajar lebih banyak soal demam ini. Bisa mampir ke :

Tentang Demam di Sepedakwitang.wp

Demam di Milis Sehat

Merawat anak Demam di Milis Sehat

Penggunaan obat demam yang Rasional di Milis Sehat

Selamat Belajar! 🙂

Advertisements

KIPI Vaksin, Apa Yang Harus Anda Lakukan?

KIPI adalah singkatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, yaitu suatu kejadian medis, yang terjadi beberapa saat, setelah orang tersebut diberikan imunisasi atau vaksinasi. Dan kejadian ini bisa ada kaitan dengan tindakan vasinasi tersebut, tapi bisa juga tidak ada kaitan sama sekali, hanya terjadinya secara kebetulan saja.

Pertama-tama, ingatlah bahwa vaksinasi atau imunisasi itu adalah tindakan pencegahan penyakit infeksi, yang bisa kita cegah dengan vaksinasi atau imunisasi yang elektif, yang artinya bukan suatu tindakan medis yang bersifat mendadak, darurat dan tak direncanakan sebelumnya.

Sebaliknya tindakan imunisasi atau vaksinasi adalah tindakan yang kita rencanakan sebelumnya dengan matang dan penuh kesadaran.

Kita merenacanakan vaksin, rencanakan vaksin apa yang akan kita berikan kepada bayi, anak dan diri kita atau orang tua kita, yang sesuai dengan jadwal vaksinasi bayi dan anak, atau vaksin yang sesuai dengan keperluan dan kebutuhan kita, misalnya untuk tujuan ibadah Haji dan atau berdarmawisata.

Karena tindakana vaksinasi atau imunisasi adalah tindakan elektif, maka  setiap vaksinasi atau imunisasi, baru akan kita berikan dengan pertimbangan, bila :

1. Bayi, anak atau kita atau sipenerima vaksin, sedang berada dalam keadaan sehat,   tidak sedang menderita suatu penyakit yang akut dan serius

2. Vaksinasi atau imunisasi. tetap dapat diberikan untuk mereka yang sedang menderita penyakit khronik,seperti misalnya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke, penderita penyakit AIDs dan HIV,dan lain-lain, dengan syarat penyakit khronik diatas telah sepenuhnya dibawah kendali

3. Vaksinasi atau imunisasi baru akan efektif,dimana tubuh telah mulai membentuk zat antibody untuk melawan penyakit infeksi yang kita maksudkan, setelah melewati masa dua minggu (minimal 10 hari) setelah kita mendapatkan suntikan vaksinasi (Vaccine Lag Time).

Hal ini terutama bagi mereka yang baru pertama kali mendapatkan vaksinasi baru, yaitu vaksin yang belum pernah diterima sebelumnya.
Sedangkan untuk mereka yang mengulang vaksinasi yang sama, juga vaksinasi booster/dosis penguat , maka  tenggang waktu ini sudah tidak berlaku dan tidak perlu lagi dipermasalahkan, karena sistim pertahanan tubuh kita akan langsung memproduksi zat antibody yang memadai jumlahnya untuk melawan penyakit infeksi yang dimaksudkan.

Hal ini penting untuk vaksinasi atau imunisasi yang diwajibkan sebelum memasuki suatu negara, misalnya vaksin meningtis, vaksin poliomyelitis dan influenza untuk jemaah haji yang kan berangkat ke Tanah Suci. Bila seandainya tenggang waktu vaksinasi dengan waktu tiba di negara tersebut masih kurang dari tenggang waktu yang disepakati atau “vaccine lag time“, maka sangat besar kemungkinan orang tersebut akan ditahan dikarantina bandara, atau di deportasikan yaitu dipulangkan segera kembali ke negara asalnya.

4. Memberi keterangan selengkap mungkin kepada dokter vaksinator,  tentang status kesehatan anda, termasuk penyakit khronik yang ada, bila ada alergi dengan obat-obatan atau terhadap makanan, atau alergi terhadap kondisi cuaca tertentu, seperti alergi dengan udara yang dingin, juga informasi tentang obat-obatan yang sedang kita konsumsi, dan lain-lain

5. Setiap orang tua atau sipenerima vaksinasi atau imunisasi, berhak menanyakan segala sesuatu tentang vaksin yang dipergunakan kepada dokter vaksinator, sehingga tidak ada pertanyaan yang diragukan lagi sebelum menerima vaksinasi atau imunisasi tersebut

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang mungkin terjadi dengan pemberian vaksin atau imunisasi:

a. Reaksi lokal.

Yaitu reaksi yang terjadi segera setelah penyuntikan vaksin, yang terjadi         pada daerah atau tempat dimana vaksin disuntikkan.

Bisa berupa :
– kulit yang menjadi kemerahan
– tempat suntikan teraba lebih hangat, dan ada rasa nyeri
– teraba benjolan bawah kulit ditempat suntikan
– bengkak ditempat suntikan vaksin
– kemungkinan terjadi abses bawah kulit ditempat suntikan, meskipun ini   lebih jarang  terjadinya

b. Reaksi Sistemik.

Yaitu suatu reaksi yang terjadi beberapa saat setelah pemberian vaksin atau imunisasi, bisa berupa :
– demam, yang biasanya sekitar 38.8 derajat Celsisu, dan kasus yang lebih jarang bisa lebih tinggi dari 38.8 derajat Celsius
– sakit kepala
– nyeri otot atau rasa lemah
– gatal gatal
– bayi menangis terus menerus tidak mau berhenti
– kejang-kejang anggota badan dan tubuh
– rasa mual, muntah dan diare
– kelemahan otot, seperti terjadinya Guillain Barre Syndrome (GBS) pada pemberian vaksin influenza
– reaksi alergi, dari reaksi alergi ringan hingga yang serius, seperti shock anafilaktik
– reaksi kelainan komponen darah, seperti thrombocitopenia yang terjadi dengan pemberian vaksin yang berantigen virus
– terjadi radang otak dan selapaut otak

Perlu kita ketahui, bahwa daftar efek samping vaksin yang disampaikan diatas, adalah bukan kejadian sehari-hari atau sering dan pasti akan terjadi pada setiap kali kita melakukan tindakan vaksinasi atau imunisasi, terutama yang disebutkan dalam reaksi sistemik itu, itu adalah kejadian pasca imunisasi yangsangat jarang terjadi, namun tetap perlu kita sebutkan, agar supaya semua orang tua mengetahui dibalik tindakan vaksinasi atau imunisasi yang sudah diketahui banyak gunanya, tetapi juga ada efek samping yang mungkin saja terjadi, meskipun kemungkinan terjadinya adalah satu kasus berbanding sekian juta atau satu kasus berbanding sekian puluh juta kasus vaksinasi atau imunisasi.

Dan saat ini juga, pada setiap kali dokter menawarkan tindakan vaksinasi atau imunisasi bayi, akan selalu menerangkan sejelas-jelasnya tentang tujuan vaksinasi tersebut, vaksin yang akan dipergunakan, manfaat dan juga jenis efek samping yang mungkin bisa terjadi, dan tindakan pencegahannya yang bisa dilakukan.

Dan terakhir, bila orang tua sudah mengerti dan setuju dengan vaksin dan tindakan vaksinasi yang akan diberikan kepada bayi mereka, dokter akan meminta orang tua bayi untuk menanda-tangani yang disebut “Inform Consent” , yaitu semacam surat persetujuan tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter bersangkutan untuk bayi atau anak mereka.

Tujuan “Inform Consent” ini tiada lain adalah untuk mencegah setiap kemungkinan salah tindakan, yang dilakukan secara tidak sengaja, oleh dokter dalam memberikan pelayanan kedokteran untuk pasiennya, dalam hal ini pemberian vaksinasi atau imunisasi untuk bayi, untuk anak atau pada orang dewasa dan orang berusia lanjut.

Beberapa tips penting sewaktu pemberian vaksinasi atau imunisasi:

1. Selalu meminta dokter untuk memperlihatkan vaksin yang akan disuntikkan untuk bayi atau anggota keluarga kita, untuk mengetahui apakah itu adalah vaksin yang tepat untuk vaksinasi saat itu

2. Memperhatikan apakah bungkus atau packing/kemasan vaksin masih dalam dus atau box yang utuh,bersih dan masih tertutup baik, belum pernah dibuka sebelumnya.

3. Perhatikan nama vaksin (nama dagang) dan isi kandungan vaksin tersebut, dipermukaan kemasan atau brosur vaksin tersebut

4. Periksa tanggal pembuatan vaksin tersebut, dan kapan masa kadaluarsa akan terjadi. Perhatikannomor batch vaksin dan pabrik pembuat vaksin tersebut.

5. Setelah  vaksin dikelurkan dari kemasan, perhatikan bentuk dan penampilan vaksin, apakah jernih,bening tidak ada busa dan endapan, tidak keruh dan bagaimana dengan warna vaksin tersebut.

Untuk warna vaksin, biasanya adalah bening tidak berwarna, ada yang seperti susu yang encer atau larutan encer berkabut, tidak ada endapan apapun dalam larutan vaksin.

6. Tanyakan kepada dokter bersangkutan, apakah vaksin ini akan diberikan dengan cara suntikan yang macam apa, apakah disuntik dalam otot (intra muskular), atau dibawah jaringan kulit (Sub cutan) atau didalam kulit (intra cutan). Karena setiap vaksin yang berbeda, maka cara suntiknya juga berbeda, sesuai dengan instruksi dari pabrik pembuat vaksin, yang tercantum pada kemasan vaksin .

Tips Penting Setelah prosedure vaksinasi atau imunisasi selesai diberikan:

1. Setelah pemberian vaksinasi atau imunisasi, jangan segera membawa bayi anda pulang kerumah atau pergi ke tempat lain, tetapi tunggulah sekitar 15 hingga 30 menit diklinik atau ditempat imunisasi, untuk melihat apakah ada kejadian ikutan pasca imunisasi yang mungkin terjadi segera atau beberapa saat kemudian setelah pemberian vaksinasi atau imunisasi

2. Setelah melewati masa waktu tersebut, maka bayi sudah bisa dibawa pulang kerumah. Namun dirumah tetaplah waspada dan menaruh perhatian penuh terhadap tingkah laku bayi atau penampilan fisik bayi, apakah ada sesuatu yang lain dari biasanya, misalnya bayi menjadi rewel, malas bergerak atau tidak lincah seperti biasanya, bayi tampak lelah dan mengantuk, bayi mulai panas atau demam, bayi mulai muntah atau diare, bayi menangis merengek tanpa sebab yang jelas, bayi tampak gelisah tidak bisa diam, dan lain-lain hal yang diluar kebiasaan bayi yang telah dikenal baik oleh ibu atau orang tuanya.

3. Bila terjadi hal hal tersebut atau diluar hal tersebut, namun diluar kebiasaan normal bayi, maka segeralah mencatat kejadian tersebut dengan jelas dan rinci, juga waktu kapan terjadinya, berlangsung  hingga kapan, tindakan apa yang telah diambil untuk mengatasi gangguan tersebut dan bagaimana hasilnya.

4. Bila dipandang perlu, maka segera hubungi dokter bersangkutan untuk meminta nasehat dan pertolongan untuk bayi tersebut.

5. Jangan panik dan bertindak gegabah, hanya minta pertolongan kepada dokter yang berpengalaman atau bawalah bayi ke rumah sakit terdekat dan hubungi dokter pemberi vaksinasi atau imunisasi tersebut, agar supaya bisa di tindak lanjuti dengan tepat, cepat dan efisien.

Terakhir, kita tidak perlu takut atau kuatir kalau akan memberikan vaksinasi atau imunisasi pada bayi, pada anak atau anggota keluarga kita yang lain, karena alasan alasan berikut ini :

1. Setiap vaksin yang dipasarkan dan dipergunakan telah mengalami  beberapa tahap uji klinik dan uji mutu yang sangat ketat dan bertanggung jawab, sehingga dengan sangat pasti boleh dikatakan, tidak ada vaksin yang berbahaya yang akan diberikan kepada anggota masyarakat dan bayi kita

2. Meskipun demikian tetap saja ada kemungkinan efek samping yang terjadi dengan pemberian vaksinasi atau imunisasi, meskipun hal ini sudah sangat jarang terjadi untuk vaksin yang telah dibuat dengan cara pembuatan yang modern dan sesuai dengan kriteria dan kaidah pembuatan vaksin yang sangat tinggi

3. Biasanya yang terjadi adalah reaksi lokal yang akan berlangsung dalam waktu < 48 jam, dan reaksi itu akan sembuh atau menghilang dengan sendirinya

4. Bila terjadi KIPI vaksin, laporkan kepada dokter bersangkutan,untuk mendapatkan perawatan dan pertolongan yang diperlukan bagi bayi atau anggotta keluarga kita.

5. Rentang waktu  yang diperkirakan adalah KIPI Vaksin, adalah kejadian KIPI yang terjadi beberapa waktu segera setelah pemberian vaksinasi atau imunisasi hingga beberapa minggu kemudian setelah kejadian pemberian vaksinasi atau imunisasi

Vaccine Safes Lives !

dicopy-paste dari Group GESAMUN (Gerakan Sadar Imunisasi) yang ternyata didapat dari selukbelukvaksin.com

Sengaja di re-posting disini, tujuannya masih sama seperti postingan sebelumnya, buat seorang Ibu yang sudah mau 2 tahun galau belum juga mengimunisasi anak-anaknya 🙂

cheers!

Demam Batuk Pilek

Bismillah,

Iseng-Iseng saya copy paste  tulisan singkat dari Dokter Yoga, salah satu Dokternya Milis Sehat tentang common problem: demam, batuk-pilek. Refresh ilmu dasar, siapa tau ada yg belum sempat baca file yg dikirim moderator saat pertama kali gabung milis…atau mungkin ada yg belum pernah berkesempatan ikut PESAT…atau mungkin ada yg lagi galau sehingga lupa sama ilmu dasar 😉 –> ngacung dok, saya sering :p

demam

sharing PESAT 5 DIY by Dokter Yoga

batuk pilek, sharing PESAT 5 DIY by Dokter Yoga

batuk pilek, sharing PESAT 5 DIY by Dokter Yoga

MPASI Amaya

Alhamdulillah, 6 Maret 2014, Amaya menyelesaikan ASI eksklusifnya. Rasanya benar-benar bersyukur, terasa sekali perjalannya. Bukan perjalanan yang mudah, tapi tidak bisa dikatakan sulit pula, jika dibandingkan dengan ujian pada teman-teman sesama Ibu Menyusui. Saya dan Aya termasuk kategori menengah kebawah untuk kuantitas permasalahan. Alhamdulillah, meski Aya selalu menginginkan ASIP fresh (artinya saya selalu harus menyediakan paling sedikit 600ml setiap harinya) syukur Allah mudahkan prosesnya. Mulai dari Aya yang tidak pernah nursing strike, produksi ASIP saya selama ngantor juga cenderung stabil, kebaikan dari atasan dan rekan kerja di kantor yang memudahkan untuk memerah asi sehari 3 atau 4 kali. Ah, alhamdulillah.. mendengan cerita di group whatsapp, macam-macam ujiannya, insyaallah Allah memberi ujian sesuai kadar hambaNya ya buibu, tetep semangat memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI full 6 bulan 🙂

So, tanggal 6 Maret itulah Aya mulai makan makanan pertama kalinya, Apakah makannya? Niat awal mau memberikan bubur beras. Apadaya Bundanya udah lamaaaa banget gak bikin bubur (diinget-inget, terakhir bikin bubur itu kelas 4 SD), jadilah gagal itu buburnya, haha malu-maluin yaaa >.<, akhirnya liat kulkas ada kabocha, Bismillah.. makanan pertama Aya kabocha.. Saya dan suami takjub bener liat Aya makan lahap, tanpa tutup mulut, mukanya sumringah pulaa 😀 Jangankan kami orangtuanya, itu neneknya, tante-tantenya, encing, engkong, uyut, yangti, dll fans-fans Aya di kawasan menteng atas udah countdown untuk momen bersejarah ini, hihi..

Eh ya, saya mengikuti anjuran WHO untuk MPASI Aya, tanpa pantangan, tanpa harus pure buah terlebih dahulu, tanpa sistem tunggu tiga hari, tanpa food combining, tanpa apa lagi yaaa..banyak banget anjuran MPASI awal, tapi setelah baca-baca dan ngikutin diskusi di MILIS SEHAT asuhan Dokter Purnamawati Sp.A, bismillah.. saya mantapkan untuk ikut aturan WHO. Kapan-kapan kita bahas deh yaa, insyaallah 🙂

Dan hari ini sudah bulan April, Aya sudah makan apah ajah sebulan kemarin? cekidot 😀

Serealia :

Bubur Nasi

Gandum

Umbi :

Kentang

Ubi Cilembu

Protein Hewani :

Daging Sapi

Protein Nabati :

Tempe

Sayuran : 

Kabocha (kesukaaaaan sekali)

Zukini

Brokoli

Wortel

Labu Siam

Buah-Buahan :

Pepaya

Pisang

Buah Naga

Pear Packham

Semangka

Melon Kuning

Jeruk

Cairan lain selain ASI :

Air Putih (hanya untuk pengenalan saja, tidak rutin dan wajib minum sekalian ml tiap hari)

Semoga lancar MPASInya, lancar lanjut ASI nya sampai 2 tahun. Mudah-mudahan ada rezeki untuk selalu memberikan mpasi yang variatif untuk Aya 🙂 Sehat-sehat ya nak.. Bunda (dan Abeh) loveeee u!Image