Pusing : Gangguan Keseimbangan atau Stress?

Untitled design

Barusan liat-liat draft, eh ada tulisan 1 tahun yang lalu, et daaaah kemana aja Bun gak diposting-posting, hahaha.. Jadi ini teh cerita pas Ramadhan tahun kemarin, saat itu saya sering banget pusing-pusing atau sakit kepala gitu laaaah.. Nah ini cerita mencari tau soal sakit kepala itu. (Warning, postingan ini akan sangaaat panjang)

Awalnya tanggal 10 Juni 2017 saya merasa pusing yang banget-banget-banget, di daerah alis sebelah kiri. Dititik itu doang. Rasanya kayak nyut-nyut gitu, lemes, dan lumayan mual. Dipikir ini karena efek menstruasi hari pertama yang sudah banjiiir banget. Plus sejak pakai IUD haidnya selain banyak juga lamaa bisa sampai 2 minggu! Minumlah si saya sangobion, padahal gak tau Hbnya berapa. Masih pusing juga akhirnya minum Parcet. Tiduran sebentar di Mushola, bangun-bangun sudah lega, alhamdulillaaaah..

seharian sampai besok subuhnya baik-baik aja.. Ealah pas jam 8-an, pusing di titik itu kambuh lagi. Sampai saya harus memejamkan mata biar agak nyaman. Itu masih di Daycare abis nganter Acha sekolah.

Sampai di kantor udah gak kuat buat duduk di meja bahkan, akhirnya milih istirahat di Mushola, coba tidur tapi berat banget kepalanya, sampai dzuhur tetep pusing dan mual.

Dan seperti itu kejadiannya sampai 1 minggu berikutnya. Dari pagi sampai sore pusing.. tapi menjelang maghib sampai sahur alhamdulillah membaik. Gak ngerti karena siklusnya, atau karena efek paracetamolnya.

Setelah 1 minggu kayak gitu terus, akhirnya memutuskan ke Klinik Faskes yang pakai BPJS, gak berharap banyak buat dapat informasi macem-macem, karena dipikiran cuman butuh obat selain paracetamol. Ini karena pagi sudah minum parcet, tapi tetep pusing kayak apa tau.

sekitar 3 menit di ruang praktik dokter umum, cuman ditanya kenapa? Oh sakit kepala. Pulanglah saya dengan bawa ibuprofen. Gak banyak tingkah, langsung diminum itu ibu profen karena sudah gak tahan lagi. Abis itu tidur selama 3 jam. Bangun-bangun seger.. gak pusing sama sekali. Entah karena obatnya, tidurnya, atau karena siklusnya yang kalau sore memang mereda pusingnya.

Besoknya, saya gak minum itu ibuprofen.. beuuh langsung pusing lagi di tempat yang sama. Terus mikir, ini kalau setiap pusing mesti minum ibuprofen gawat banget kan ya.. Akhirnya curhatlah ke Dokter FS, dan dikasih tau kalau pusing itu Gejala sesuatu. Jadi ya kalau mau mengobati pusingnya, harus tau dulu penyebabnya apa? Oke, mari kita cari tahu penyebabnya.. Dokter FS menganjurkan untuk periksa ke THT.

Hari ke 10-pusing berangkatlah saya sendirian ke RSCM poli THT. Dateng jam 9-an, jam 10-an sudah dipanggil untuk masuk kesebuah bilik kecil tempat observasi THT Umum. Kalau RSCM gini diperiksanya sama Dokter PPDS ya, jadi yang belum spesialis THT, tapi masih kuliah Spesialis. Tetep ada konsulennya sih, dokter THT yang mensupervisi  mahasiswa itu. Balik ke bilik THT Umum, diawal saya diminta menceritakan kronologisnya, lalu dokter menggunakan otoskop (itu yang bentuknya kayak palu tapi kepalanya senter itu loooh, ngeuh gak?) untuk melihat telinga, hidung, dan tenggorokan. Saya juga diperiksa gerakan matanya. Saya diminta untuk mengikuti gerakan telunjuk dokter ke kanan dan ke kiri, tapi yang boleh bergerak hanya mata saja, kepala dan badan tidak boleh bergerak. Lalu dokter Arum (baru inget namanya) juga meminta saya memejamkan mata, lalu beliau menguncang-guncangkan kepala saya, begitu berhenti saya diminta untuk membuka kedua mata, katannya mau melihat gerakan mata saya. Entah ya.. disini saya gak diberitahu hasil dari apa-apa yang dia lakukan. Tapi Dokter Arum bilang “dirujuk ke bagian Neurotology ya, untuk lihat ada gangguan keseimbangan gak nih” Masyaallah, apaaan itu neurotology.. baru denger 😥

Setelah menunggu sekitar 15 menit, saya dipanggil lagi untuk masuk ke ruangan yang bertuliskan “Neurotology”, ternyata di ruangan itu ada beberapa ruangan lagi, sebut saja ada 4 ruangan ya. Saya diminta masuk ke ruangan nomer 3. Isinya ada (Kayaknya) Mahasiswi/a semacam perawat khusus THT (saya lihat di nametagnya ada tulisan auditory bla bla bla gitu lah), lalu ada seseorang yang saya gak tau dia sebagai apa. Pakai baju dokter bukan, baju perawat bukan, laki-laki usianya sekitar 30tahunan. Begitu masuk, dia langsung bilang “Buka kerudungnya” Laaaah.. saya bengong dong, jelasin dulu kek mau dilakukan apa.. ini enggak, mana jutek banget lagi. Saya kasih mimik gak enak, dan salah satu mahasiswi bilang “Masnya keluar dulu aja kali.. mbaknya kan muslimah, jadi gak nyaman” Eeeeeh dianya nyolot bilang “ya kalau gak mau buka kerudung ya keluar ajaaa” et dah.. parah banget ya itu orang. Ya saya juga langsung keluar lah.. Bye!

Setengah jam dari itu, saya dipanggil lagi tapi masuk ke ruangan yang berbeda. Di ruangan itu saya ditanya-tanya lagi tapi dengan Dokter yang berbeda. Lalu dilakukan tes mata sederhana, seperti yang di awal tadi. Tangan dokternya bergerak ke kanan dan ke kiri. Lalu ada tes lainnya yang saya harus melihat hidung dokternya, lalu kepala saya digerak-gerakan gitu lah. Selanjutnya tes yang kayak tes minus buat kacamata. Tapi kali ini sambil digerak-gerakin kepalanya sama si dokter. Setelah itu saya diminta menunggu lagi sekitar 10 menit, lalu masuk ke ruangan pertama tadi. Isinya Dokter yang tadi, laki-laki yang jutek itu, mahasiswa audiotory, sama konsulennya. Konsulennya gak ngomong sama sekali, lagi sibuk sama HPnya. Dimulailah skrinning. Jilbab dibuka gak? Engga.. jadi hanya disingkap sebagian, lalu dokter yang perempuan tadi bantu pegang, agar hanya bagian telinga saja yang terlihat. Kalau gini kan sebenarnya gak perlu buka jilbab kan? Skrinning awal pakai garpu tala. Sounds familiar eh? Ya gitu-gitulah.. alatnya dibunyikan, lalu didekatkan ke salah satu telinga saya, kalau saya dengar suara dari garpu tala diminta untuk mengangkat tangan, kalau suara sudah habis diminta menurunkan tangan. Selain itu garpu tala juga ditempelkan di dahi bagian tengah. Sambil ditanya, suaranya lebih keras dimana? Kanan atau kiri? Saya jawab sama aja.. dua-duanya keras. Ada sekitar 3 macam garpu tala yang di tes.

Setelah itu saya diminta berdiri di atas karpet yang ada gambar seperti dua busur yang disatukan. Lengkap dengan lingkaran-lingkarannya dan nilai derajat kemiringannya.

Tes pertama, saya diminta untuk berdiri dengan kaki yang tertutup (duh gak pandai mendeskripsikan nih), kayak sikap sempurna Paskib gitu lah. Kedua tangan bersedekap kayak lagi sholat gitulah. Setelah beberapa detik, lalu diminta untuk memejamkan mata. Disini saya merasa kaki kok seperti mau goyang ya.

Tes kedua, saya diminta untuk memposisikan kaki kanan didepan kaki kiri, lalu tangan bersedekap kembali. Diawal mata masih terbuka. Masih lancar lah.. lalu yang selanjutnya mata diminta untuk tertutup. Naaah disini saya yang grogi banget kayak limbung gitu.

Tes ketiga, saya diminta untuk naik ke atas busa, dengan posisi seperti tes pertama, dengan mata tertutup.

Tes keempat, saya diminta untuk mengangkat kedua tangan sejajar bahu (macam di film-film vampir gt lah), lalu menggerakkan kedua kaki seperti lagi jalan ditempat-nya anak pramuka. Diawal lancar, lalu pas saya diminta sambil menutup mata, dan membukanya kembali, posisi saya sudah tidak ditempat semula. Tapi ada di ujung kanan, kalau saya lihat nilai derajatnya 30derajat. Wew.. feeling gak enak..

Tes kelima, saya diminta untuk menggunakan semacam penutup mata (ini kayak kacamata renang tapi besar), nah dipenutup mata itu ada kameranya. Saya duduk dengan kaki selonjor kedepan (di tempat tidur pasien ya), lalu dokternya secara cepat menggerakkan badan saya ke belakang, dengan posisi kepala menggantung (tapi ditahan sama dokternya), saat digerakkan ke belakang bagian kanan, saya ngerasa gak nyaman banget.. sampai keluar air mata. Lalu samar-samar saya dengar dokternya bilang “kelihatan nistagmusnya” Gerakan diulang dengan posisi jatuhnya ke kiri. hoya, ada layar di depan saya yang menampilkan rekaman dari kamera yang ada di penutup mata itu ya. Jadi dokternya langsung bisa lihat gerakan mata saya.

Skrinning selesai, lalu diminta menunggu diluar. Sekitar 30 menit saya dipanggil masuk lagi. Lalu dokter tadi menjelaskan sedikit (beneran sedikit, gak detail) apa yang telah tadi dilakukan. Intinya gini : Saya mengalami gangguan keseimbangan, angkanya di 30derajat itu. Syooook dong denger kayak gitu.. Lalu saya disarankan untuk melakukan olahraga rutin 2minggu ini, plus melatih otot mata (tapi gak dikasih tau caranya gimanaaa..). 2 minggu lagi disuruh datang lagi langsung ke bagian “Neurotology” untuk skrinning lebih detail saraf no.8 yaitu pendengaran dan keseimbangan. Kalau yang pakai garpu tala itu kan sederhana, nah katanya nanti yang lebih kompleks lagi. Jadi mereka ingin make sure dulu kalau pendengaran saya apakah oke-oke saja atau terjadi problem. Selanjutnya kalau memang oke-oke saja, mau fokus di soal keseimbangannya.

Dokter tanya, apa saya masih sanggup tanpa obat? Saya bilang masih. Jadi Dokternya tidak meresepkan obat apapun. Pulanglah saya.

Sehari setelahnya, saya bener-bener ngerasa mual dan pusing.. akhirnya give up minta anter Anggi ke SS Medika Salemba. Tempat Pak Suami pernah operasi telinganya oleh Dokter Susana spesialis THT.

Jam 11-an sampai di SS Medika, langsung bisa masuk karena gak pakai antri. Ngobrol-ngobrol santai sama Dokternya, karena dokternya masih inget AmayaArsa yang pernah bikin rusuh SS Medika, hiihihihi. Dokter tanya saya kenapa? Lalu saya membacakan apa yang sudah saya list, dari gejala sampai soal saya yang ke RSCM kemarin.

Dokternya agak kaget sih, tapi tetep berusaha stay cool. Lalu duduklah saya di kursi perawatan. Disitu dokternya memasukan alat berkamera ke hidung, dia bilang bersih ini.. gak ada sinus. Lalu mulut diperiksa, eh tenggorokan ya. Dia bilang bersih juga.. Lanjut telinga, dan bersih juga..

“kamu bersih kok gak ada yang aneh-aneh.. infeksi, nanah, atau apapun gak ada, kamu lagi ada pikiran gak? ini BFF gak? Dia lagi ada yang dipikirin apaa gitu mba?” –nanya ke Anggi

Si Anggi ketawa-ketawa aja..sambil bilang “ada dok, dia mau LDR-an sama suaminya”

“berapa lama sih? 1 tahun?”

Saya jawab sambil mesem-mesem..enggak dok.. 2-3 bulan paling.. abis itu saya nyusul kesana..

“Yaelaaah.. saya pernah kok LDR-an..bla bla bla -curhat soal LDR-an dia, Mungkin kamu stress kali ya? Karena kalau stress itu asam lambung meningkat, bikin mual dan pusing juga”

“lah tapi hasil skrinning kemarin kan positif saya mengalami gangguan keseimbangan dok…”

“Iya, tapi jangan lupa skrinning saat itu ya bisa ngaruh hasilnya kalau kamu lagi pusing, belum makan, dll.. apalagi RSCM, ngantri, gak nyaman..dll”

“tapi.. saya gak menyepelekan gangguan ya.. ini karena sudah 2 minggu selalu pusing, jadi kita MRI aja ya? di RSCM aja biar murah, sekitar 2,8juta dulu”

Jedeeeeng.. saya langsung bengong dong.. ini dokter kok nyuruh MRI segala.

“Jadi ya, daripada kamu bolak balik ke dokter umum, THT, lalalalala.. jadi kita langsung lihat aja deh dikepala kamu ada apa. Mudah-mudahan gak ada apa-apa, murni stress aja.. tapi kalau ada apa-apa ya biar cepet selesai sebelum kamu mulai LDR-an ya. Ada beberapa pasien saya yang kayak gini juga.. ada yang ternyata stress, tapi ada juga tuh yang berlarut-larut pusingnya pas di MRI ternyata ada tumor di otaknya, segini (mengepalkan tangan), tapi sekarang udah beres.. udah diambil, udah seneng dia.. santai aja, bismillah ini karena stress aja” —> asli ini dokter Susana santai banget ngomongnya.

(draft satu tahun yang lalu sampai sini)

Ditulislah itu surat rujukan untuk MRI Kepala (otak) dan sinus, nah saya lupa deh itu yang MRI Frontal apa bukan. Setelah dapat rujukan untuk MRI, saya langsung menghubungi RSCM buat urus-urus, eh ternyata Qadarullah list MRI di RSCM itu sudah penuh sampai Lebaran. Karena di sana itu lebih prioritasin anak-anak juga sih, dan ternyata kalau mau MRI tuh gak langsung bisa ujug-ujug datang minta MRI. Tapi ada banyak tahapannya dulu, cek lab, terus apaaa gitu lah lupa penjelasan Mbak Perawatnya. Dan ternyata  biayanya bukan 2,8 juta, hahaha. Karena rujukannya MRI di 2 titik kan, otak sama sinus, itu jenis yang beda. Jadi biayanya lumayan banget, lebih dari 5 juta pokoknya.

Setelah mendapat pencerahan kayaknya gak mungkin bisa MRI di RSCM, suami menawarkan untuk MRI di Mayapada Hospital aja, karena ada kerjasama sama kantornya, lumayan diskon 20% kalau gak salah. Tapi pas tau harga MRI di Mayapada Hospital, walau sudah dikurang diskon, harganya teteup lebih tinggi daripada di RSCM, Hahahaha. Beda kelas sih ya emang.. Hoya, setelah ini saya juga sempat cek Hb dll itulah, untuk pertama kali pengen banget dapat hasil lab HBnya rendah aja, biar jadi tersangka saya pusing-pusing ini. Ternyata Hb dll-nya itu hasilnya normal semua, wkwkwk.

Dan, waktu lebaran pun udah mau dekat. Waktu itu saya mencoba mensugesti diri sendiri untuk less-stress. Gak ngerti juga apa yang dipikirin. Tapi, dalam hati kecil emang tau sih ini ada stressnya juga, karena baru pertama kali kan mau LDR-an sama suami yang agak lama. Belum lagi nanti saya yang akan fokus sendiri urus pindahan barang-barang dari rumah kontrakan ke rumah Mama di Serang. Belum lagi di kantor lagi nyiapin berkas-berkas buat ngajuin Cuti diluar Tanggungan Negara, plus ngabisin kerjaan kantor biar pengganti saya adem tentram.

Mungkin karena bertepatan sama hari-hari terakhir Ramadhan, saya juga makin getol ngaji dan ibadah lainnya kali ya. Tau-tau pusing itu terlewatkan aja. Sama sekali gak datang-datang lagi. Suami juga support, meyakinkan saya kalau semua akan baik-baik aja insyaallah. Alhamdulillah setelah Lebaran, itu pusing-pusing yang banget itu gak pernah mampir lagi. Pas waktunya LDR-an sama suamipun, all is well, alhamdulillah.  Suami sih pengennya tuntasin aja sekalian MRI, tapi saya yang gak mau, hihihi. Dan, satu tahun sudah lewat, alhamdulillah pusing yang mampir yang gak parah-parah banget. Paling kalau kurang tidur aja, atau kalau haid-haid hari pertama. Atau lagi sebel sama suami. Hahaha. Sampai sekarang sih saya meyakininya pusing yang terjadi itu murni karena stress, banyak pikiran dalam satu waktu, banyak kerjaan dalam satu waktu juga.

Doakan semoga kami selalu sehat-sehat yaaaa 🙂
Btw, kalau yang sering-sering pusing dan beneran gak stress sih mending di cek ke THT kali ya, jangan pernah meremehkan pusing-pusing itulah. Periksa ke ahlinya aja 😉

 

 

Rekomendasi Dokter Anak di Jakarta

 

Untitled design (4).png
Rekomendasi Dokter Anak di Jakarta

 

Halo! Bahas soal dokter-dokter anak favorit Bunda ya kali ini. Lokasi di Jakarta kok ini, bukan di Jepang. Sudah pernah ke dokter anak di Jepang Bun? Sudaaaaaah. Asik ga? Gak ngerti apa yang dia omongin T_____T Hahaha kendala bahasa sih, kita ngomong Bahasa Inggris, dijawab Bahasa Jepang yasudaaahhh eh tapi periksa si Acha kemarin juga sebentar banget, gak ada 5 menit udah keluar.. Makanya, ‘nemu’ dokter yang tek-tok nya dapet itu kind of blessing gitu kali ya? Gara-gara kemarin si Ibun ditanyain sama beberapa (iya lebih dari 1) teman di aplikasi Whatsapp, ngejelasin hal yang sama pula, dan baru ngeuh kalau ternyata sering banget ditanya hal ini, makanya bismillah ditulis di blog aja kali ya 🙂 Btw, tulisan ini sangat SUBJEKTIF ya, monmaap kalau ternyata dokter yang cocok buat kami, gak cocok buat anda :p

1. dr. Yulianto Santoso Kurniawan, SpA (Dokter Anto)

Kayaknya Dokter Anto gak seterkenal Dokter Apin kalau di medsos ya? Hahaha. Karena beberapa kali saya ngerekomen dokter Anto ke teman-teman, dan gak ada satupun yang tau. Tapi, buat warga milis sehat, pasti kenal banget dengan nama Dokter Anto. Sering jadi Moderator dan bahkan Narasumber acara-acara PESAT di Jakarta. Makanya salah satu point plusnya Dok Anto itu punya gaya komunikasi yang asik, bisa banget bawa suasana. Sejujurnya, saya belum pernah konsul sama dokter Anto setelah resmi menyandang gelar spesialis anak. Jadi, kenal sama Dokter Anto pas masih jaman-jaman beliau menempuh pendidikan spesialis anak, dan kerennya beliau jadi lulusan terbaik. Dokter Anto itu menurut saya tipikal dokter yang energik, gesit gitu loh keliatannya. Bisa menghandle anak kecil. Walau dulu konsul dengan status masih dokter umum dan cuman mau imunisasi, tapi anak-anak tetap dicek perkembangan nya apakah sesuai dengan umurnya. Menyeluruh banget. Dan jangan harap bisa bawa pulang resep macam-macam obat kalau emang anaknya gak perlu obat ya. Apalagi minta resepin vitamin, wkwk. Pernah ada teman yang konsul sama Dok Anto soal hasil skrinning ADBnya, kalau dilihat sekilas hasil lab nya aman, tapi katanya Dok Anto ngerasa ada yang áneh. Beberapa hari setelahnya, teman saya itu di WA buat datang lagi ke markas sehat ngomongin hasil skrinning ADBnya, yang ternyata ketauan thalassemia minor. Pas di kasir, ternyata dibuat free sama Dok Anto, dengan alasan : Kan saya yang minta datang ke sini. Hahaha.. masih ada aja dokter kayak gitu. Semoga berkah ya dok…

Baca juga : It Takes Two To Tango #2

dr-yulianto-santoso-kurniawan-spa
Gambar dari Web RS Mayapada

Dokter Anto (setau saya) praktek di 2 tempat ini :

Markas Sehat

Alamat : Jalan Margasatwa Komplek PWR no.60, Jakarta Selatan
Hari : Selasa
Jam : Sore (biasanya mulai jam 15.00 – 17.00 WIB)
Biaya Konsul : IDR 250.000
Reservasi di Whatsapp : 0812-8355-2332 (tanya Jadwal Dokter + Ketersedian Vaksin)
Note : Datang lebih awal, kalau telat ditaro diantrian paling akhir.

RS Mayapada Lebak Bulus

Alamat : Jl. Lb. Bulus I No.Kav 29, RT.6/RW.4, Cilandak,  Jakarta Selatan +62 21 29217777
Hari : Senin, Rabu, Kamis
Jam : Senin Rabu : 17.00 – 21.00 WIB, Kamis : 16.00 – 20.00WIB
Biaya Konsul : Gak ingat terlalu pasti, tapi dulu biaya pendaftaran + konsultasi dokter anak sekitar IDR 400.000 (cmiiw)

2. dr. Arifianto, SpA (Dokter Apin)

Kalau yang ini sudahlah ya, kayaknya emak-emak kekinian gak ada yang gak pernah dengar nama Dok Apin. Yang bikin Dok Apin terkenal itu kayaknya karena beliau sering banget mengedukasi masyarakat di Medsos (Facebook dan Instagram). Rajin banget, kayaknya bisa 1 postingan tiap hari. Masyaallah. Plus, karena emang jago dalam tulisan, Dokter Apin juga sudah menulis 3 buku. Nah ketiga buku ini rekomen banget buat pasangan suami-istri yang istrinya baru hamil, belajarnya dicicil ya dari masih hamil, jadi gak kaget saat ujian sakit itu datang. Tiga bukunya Dok Apin berjudul : Orang Tua Cermat anak Sehat, Pro Kontra Imunisasi (yang tetep bagus dibaca walau kamu sudah pro imunisasi), dan Berteman dengan Demam. Silahkan googling sendiri ya dengan keyword judul bukunya. Saya sering banget ngasih kado ke teman yang baru lahiran dengan buku-bukunya Dokter Apin, semoga ilmunya berkah..

Baca juga : Tempat Imunisasi Favorit

Kenal nama Dokter Apin juga dari milis sehat, dan pertama kali konsul dengan Dok Apin juga di Markas Sehat. Baru setelah kadang gak cocok sama jadwal di markas sehat, saya beberapa kali konsul ke rumah beliau di Kramat Jati.

33029675_10214005401363524_3835013149417799680_n
Gambar dari FB Dok Apin

Point plus  buat Dok Apin
– Tipikal dokter yang asik diajak ngobrol (tapi PERASAAN saya ya, kalau kesana sama suami, RASANYA Dok Apin ngobrolnya sama suami aja, bukan sama saya, hahaha)
– RUM
– Gak jualan Obat (Hahahaha)
– Pilihan lokasi Praktek ada banyak
– Kalau konsul gak sekedar konsul, tapi ada unsur edukasinya

Jadwal Praktek dr. Apin:
– Senin-kamis jam 8-11 di RSUD Pasar Rebo.
– Senin,rabu,jumat jam 16-18 di klinik sehat, dgn perjanjian ke no 081283552332;
– Selasa,kamis,sabtu di praktek Pribadi jam 16-18, perjanjian ke no 08161134311.
Alamat praktik pribadi: Jl. Inpres no 17A, RT03/01, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jaktim Continue reading “Rekomendasi Dokter Anak di Jakarta”

Perawatan Saluran Akar Gigi di RSKGM UI

feel amazing

Mari kita lanjutkan drama soal Gigi ya, setelah galau muter-muter ke beberapa dokter gigi, akhirnya bismillah memutuskan ke RSKGM di FKG UI, Salemba. Ada beberapa alasan kenapa milih perawatan gigi di RSKGM UI itu sih, nanti dibahas satu-satu.

Jadi, kalau kamu berniat untuk perawatan di RSKGM UI, saran saya kamu harus siapkan 1 hari cuti kerja atau izin kuliah untuk di kedatangan pertama. Kenapa harus banget cuti? Karena sepengalaman saya dan beberapa orang yang sudah pernah kesana, kedatangan pertama itu LAMA BANGET. Setelah baca-baca katanya pendaftaran dibuka dari jam 8 pagi, jam 8 lewat 5 menit saya sampai disitu dan sudah tidak dapat tempat duduk. Sudah penuuuuuh banget. Setelah mendaftar di bagian resepsionis (biaya 10.000) , saya menunggu sambil berdiri untuk dipanggil masuk ke ruang dokter gigi. Sekitar 20 menit baru masuk ke ruangan dokter gigi yang letaknya ada di sebelah loket pendaftaran tadi. Diperiksa kondisi giginya, lalu dokter tersebut akan menerangkan gambaran umum yang kira-kira akan dilakukan untuk perawatan gigi. Lalu, saya diminta untuk ke ruangan rongen gigi di lantai 2 untuk merongen gigi. Di tempat rongen, ternyataaaaa udah penuh, ngantri lagi. Sekitar 30 menit baru dipanggil dan dilakukan rongen yang gak berasa itu. Terus? Nunggu lagi sekitar 20 menit untuk ambil hasilnya. Biaya lupa.. antara 15rb atau 30rb. Setelah mendapatkan hasil rongen gigi, balik lagi ke ruangan dokter gigi yang pertama. Ngasih hasil rongen ke perawatnya, daaaaan nunggu lagi di luar, buat nanti dilihat sama dokternya. sekitar 10 menit baru masuk lagi ke ruangan dokternya, dan dijelaskan lagi kondisi gigi. Saya sih kasusnya harus ada 3 gigi yang masih bisa diselamatkan tapi dengan proses panjang : perawatan saluran akar gigi. Jadi dirujuk ke bagian spesialis konvervasi gigi.

Nah, lokasi Bagian Konservasi Gigi ini adanya di lantai 2 belakang loket pendaftaran. Begitu masuk saya kaget banget, ternyata sudah penuuuuh dengan yang ngantri. Ada kali sekitar 1 jam nunggu untuk dipanggil. Akhirnya, setelah penantian panjang itu saya ketemu sama dokter residen yang akan menangani gigi saya sampai tuntas. Namanya dokter Sandy. Alhamdulillah perempuan. Diawal pertemuan saya bilang, kalau bulan November atau Desember saya mau pindah ke Jepang, jadi mohon-mohon banget untuk perawatan giginya dilakukan dengan cepat, alhamdulillah Dokter Sandy menyanggupi. Hoya, jadi untuk perawatan di RSKGM UI ini kita ditangani nya sama dokter gigi yang lagi tingkat akhir pendidikan spesialisnya, jadi memang belum dokter spesialis sih, tapi teteup aja sudah dokter gigi dan ada supervisor dari dosennya. Kalau kasusnya cuman bersihin karang gigi itu nanti ditanganinya sama anak-anak yang belum dokter gigi kayaknya, anak-anak yang masih co-ass. Lanjut ke perawatan saluran akar, ini upaya yang dilakukan agar gigi yang kondisinya sudah parah tidak harus dicabut. Prosesnya memang agak lama, harus bolak-balik ke dokter gigi, makanya harus punya niat yang kuat kalau mau PSA. Karena kalau nanggung, nanti sama aja bohong. Pertemuan pertama itu akhirnya berakhir sekitar jam 4 sore. See? Berangkat jam 7.30 dari kantor, balik kantor jam 16.30, hiks.. tau gitu cuti aja. Siapa yang nyangka kalau ke dokter gigi aja harus seharian. Tapi, point plusnya untuk saya, jarak dari kantor ke RSKGM itu deket banget, apalagi naik gojek paling cuman 5-10 menit sudah kena lampu merah 3x.

Kabar baiknya, untuk pertemuan lanjutan, jadwalnya tergantung kesepatakan antara pasien dan dokter. Jadi bisa kita atur lah, setiap pertemuan paling enggak 2 jam. Kata Dokter Sandy sih biasanya dia ketemu pasien itu 2 minggu sekali. Tapi karena saya buru-buru akhirnya disanggupi seminggu dua kali, setiap selasa dan jumat saya akan ketemu dokter Sandy. PR banget emang seminggu dua kali harus ke Dokter Gigi. Tapi, demi gigi yang tuntas, diniat-niatin banget. Jadi, asiknya di RSKGM UI ini bisa ngatur jadwal sendiri ke dokternya. Selanjutnya, soal biaya. Udah deh, ini sudah saya survey kemana-mana.. disini emang yang paling murah. Jadi setelah pertemuan pertama itu, pertemuan lanjutannya saya langsung ke bagian konservasi gigi di lantai 2, bayarnya juga di kasir di lantai 2. Setiap perawatan gigi, jasa dokternya kita cukup bayar 35.000, dan tindakan tambal gigi atau lainnya saya gak ingat berapa tepatnya, tapi tambal sementara itu kalau gak salah 60 ribu, bersihin karang gigi tergantung banyak atau enggak, kalau banyak cuman 50-60 ribu, lupa tepatnya euy maaf. Pokoknya ini yang paling murah. Kalau untuk PSA kayak saya, setiap kedatangan paling 200ribuan, kecuali kalau udah terakhir-akhir pas pasang crown ya, karena ada 3 gigi yang di crown itu abisnya emang jutaan sih. Tapi, teteup kalau dibandingin ke klinik gigi lain, biayanya bisa 3x lipat dari RSKGM ini. Kadang saya suka lupa bawa uang cash, itu biasanya saya bayarnya nanti malamnya, transfer ke Dokter Sandy aja, hehehe.

WhatsApp Image 2018-03-16 at 4.02.34 PM
Thankyou drg Sandy @ RSKGM FKG UI

Nah, perawatan gigi di RSKGM ini salah satu yang mungkin jadi pertimbangan adalah dokternya yang kita gak bisa milih. Jadi, alhamdulillah saya dapatnya dokter perempuan. Karena, ada kan.. teman-teman perempuan yang enggan kalau ditangani sama dokter laki-laki. Nah itu, kita gak bisa milih dokter. Kenapa saya bilang alhamdullillah banget dapat dokter perempuan? Karena kebayang aja.. seminggu 2 kali selama 3-4 bulan akan ketemu terus sama dokternya, komunikasi intens via whatsapp juga, plus selama 2-4 jam di ruang perawatan itu kan kita gak diam-diaman.. tapi ngobrol. Pasti rasanya aneh kalau dokternya laki-laki (ini kalau saya sih, hahahaha). Dokter Sandy asik banget orangnya, setelah ngobrol kemana-mana ternyata kita tau kalau seumuran, nikah di waktu yang gak terlalu jauh, punya anak yang seumuran, dan kita satu angkatan. Dan punya beberapa kenalan yang sama. Jadi, ngobrolnya nyambung. Ini juga untung-untungan sih, karena 1 bagian konvervasi itu ruangannya terbuka, saya jadi tau ada juga loh dokter yang bener-bener irit ngobrol sama pasiennya, jadinya krik-krik banget. Dokter dan pasien di RSKGM kan sifatnya memang saling membutuhkan ya, lupa tepatnya berapa, kalau gak salah 10 pasien deh dokter tersebut butuh untuk bisa lulus di pendidikan spesialisnya. Alhamdulillah juga dokter Sandy bener-bener memotivasi saya supaya perawatan giginya bener-bener selesai. Karena balik lagi sih, kalau gak selesai dokternya juga harus ngulang lagi dari awal dengan pasien lain, hahaha.

Tanggal 8 Desember kami berangkat ke Jepang, tanggal 6 Desember nya adalah perawatan gigi saya yang terakhir di RSKGM UI, benar-benar mepet banget, hahaha.. tapi alhamdulillah tuntas. Intinya kalau ada gigi yang bermasalah, harus banget segera ke dokter gigi deh, kalau enggak bisa panjang masalahnya sampai harus PSA kayak yang punya blog ini. Plus, pemeriksaan gigi yang 6 bulan sekali itu emang PENTING. Gak kenapa keluar uang untuk ke dokter gigi yang 6 bulan sekali, ketimbang harus ke dokter gigi kalau kondisinya sudah parah. Akan ada banyak uang dan waktu yang harus dikorbankan.

Postingan Sebelumnya soal Gigi : disini

Salam,

Bunchaaa

Tooth Fairy #1

Menyesal itu emang diakhir ya Kak, diawal itu pendaftaran, duh basi ya gueeeh..hahaha. Ini mau bahas apa sih kok diawali dengan penyesalan gitu? Hahaha.. Ini soal Gigi, bukan Gigi nya Bang Armand ya, tapi Gigi yang ada dimulut. Kalau dibikin survey, kayaknya bakalan lebih banyak orang yang takut ke dokter gigi daripada ke dokter lainnya ya? Lebih baik minum ponstan atau parcet atau painkiller lainnya ketimbang harus ke dokter gigi, ya kan? Ayo ngaku deh.. Kenapa ya? Kayaknya dokter gigi itu horor banget auranya, wkwkwk..

Soal gigi yang bermasalah ini benernya dari tahun 2010 deh kayaknya, dulu ke klinik dokter gigi dikantor, tapi entah ya.. sudah 1 tahun lebih itu 1 gigi geraham yang bermasalah, gak kelar-kelar juga. Padahal hampir tiap minggu ke klinik kantor, dan kata atasan “hobby banget lo cha ke dokter gigi..” sampai pas 2012 itu gue ada di titik “udah lah, males lagi ke dokter giginya..” padahal udah dikasih tau sama teman kantor yang lain, disuruh ke dokter gigi lain aja.. kali emang gak jodoh dengan dokter gigi di klinik kantor. Tapi waktu 2012 itu sok sibuk lah, ada aja alesannya buat gak ke dokter gigi.

2012 akhir menikah, dan langsung hamil. Gigi geraham yang bolong bermasalah itu teteup bolong sih, tapi gak sakit, jadi ya gue biarin aja. Dan dodolnya termakan mitos kalau lagi hamil, gigi yang bermasalah gak bisa diapa-apain. Duuuh.. waktu itu belum banget tertarik sama dunia kesehatan, jadi sering termakan isu-isu yang gak jelas. Poor me..

2013 punya anak, gigi teteup bermasalah. Tapi setiap hari di jam kerja sudah 3x izin buat pumping asi, jadi punya alasan lagi gak ke dokter gigi. Niat ada, tapi realisasinya nihil. Hiks..

2014 tau-tau hamil lagi, NAH ini titik penyesalan kenapa di tahun 2010 lalu urusan gigi itu gak diberesin. Pas hamil sekitar 13 minggu, lagi sikat gigi biasa aja tau-tau.. gigi geraham patah doooong, bengong sendiri di kamar mandi. Weekendnya kontrol di dokter kandungan cerita, katanya hamil + masih menyusui itu emang nguras kalsium. Double ngurasnya, jadi emang kondisinya rapuh banget. Itu gigi yang patah, bukan geraham yang bolong ya, geraham lainnya. Daaaan, sekitar 2 minggu kemudian geraham lainnya patah juga, hiks, padahal udah super rajin minum kalsium yang diresepin sama dokter kandungan.

Hamil 27 minggu, si Bunda ketubannya rembes. Cerita bisa dibaca disini yaaa.. Walau emang gak diketahui penyebabnya, tapi  dokternya bilang loh bisa jadi ini kontraksi dari gigi yang bermasalah itu. Hwaaaaa…

Hoya, seinget si Bunda dari kejadian gigi patah pertama ke hamil di 27 minggu itu pernah 2 kali ke Dokter gigi di RSI juga, biar aman jejak rekam medisnya. Dan tau gaak, ternyata walau hamil ya teteup bisa sih perawatan gigi yang bermasalah itu. Hwah, nyesel banget gak dari pas hamil Amaya dulu. Tapi, again, gak selesai karena lebih concern ke si ketuban ketimbang giginya.

2015 awal Acha lahir, terlupakan lah itu masalah gigi karena tertutup masalah lainnya yang menurut gue lebih urgent untuk diselesaikan.

tooth-fairy-y-u-no-give-me-enough-money-for-the-dentist-quote-1
baru tau kalau ke dokter gigi itu mahal, wkwkwk

2016 akhirnya coba balik lagi ke klinik gigi kantor, tapi dokter giginya give up dong, hahaha.. yaudah lah cari tempat yang lain aja. Tapi pas di cek-cek, yampuuuun biaya ke dokter gigi itu muahal banget yak, sedangkan kondisi pada saat itu gak oke buat hambur-hambur uang, wkwkwk. Jadi, diputuskan ke dokter gigi dengan layanan BPJS. Sempat googling dulu dokter gigi yang oke sekitar kantor, dan memutuskan untuk ganti Faskes dari yang awalnya di Puskesmas di dekat rumah, ke Klinik Pratama di Cempaka Putih.

Jadilah 2016 itu mulai perawatan ke Klinik yang di Cempaka Putih. Rada nyebelin sebenernya, karena ternyata 1 hari hanya bisa menangani 10-15 pasien aja, dan tiap pasien hanya boleh di cek 1 gigi aja. Gitulah ya kalau gratisan, hahahaha…

To make it short, gak ada 1 pun gigi yang berhasil di-sehat-kan kembali sama si dokter gigi di Cempaka Putih itu, mulai ketar-ketir karena 2016 itu Papanji sudah bilang mau lanjut sekolah ke Jepang, padahal urusan gigi sama sekali belum keliatan cahaya nya.

2017, iya kayak virus, gigi yang bermasalah itu menular, ada sekitar 5 gigi jadinya yang bermasalah. Dan masih inget banget sekitar abis lebaran 2017 benar-benar bertekad untuk menyelesaikan urusan gigi ini. Budget sudah disiapkan, tinggal nyari tempat esekusi.

Dimulai dari bikin status di FB buat tanya rekomendasi dokter gigi yang oke dengan harga yang ramah kantong, dapat tuh beberapa rekomen dari teman-teman. Langsung cuss googling buat cek pengalaman orang lain, lokasi yang terjangkau atau engga dari rumah / kantor, plus harga tentu aja.

Dan, bismillah diputuskan ke RSKGM FK UI di Salemba, yang jaraknya lumayan dekat dengan kantor. Yang hari sabtu ada kliniknya yang buka (in case terjadi apa-apa di weekend kan.. walau ternyata mahal juga kalau yang ini mah), dari segi harga juga murah banget KALAU dibandingin tempat lain yang berbayar, plus segi keahlian dari dokternya yang ANAK UI. Entah kenapa kalau urusan dokter ini, emang susah banget lepas dari UI, rasanya gimanaaa gitu kalau bukan anak UI, hahaha..

Mudah-mudahan dalan waktu dekat si Bunda bisa ketakketik di laptop dengan tenang kayak pagi ini, nanti dilanjut insyaallah tentang perawatan saluran akar gigi di UI nya yaaa ^^

Salam.

Postingan lanjutan Perawatan Saluran Akar Gigi : disini

It Takes Two To Tango #2

Kemarin lalu, saya curhat di sesemilis soal beberapa hal yang belakangan ini muter-muter terus di kepala saya. Intinya mah soal kesehatan.. mengetahui fakta di lapangan kalau ada teman yang anaknya kena CC (literally CC loh ya, bukan yang lain, dan tanpa asma) itu pas ke dokter disuruhnya di inhalasi, atau bahasa kekiniannya di-uap. Gak cuman itu, saat saya (katakanlah) iseng screenshoot salah satu halaman di buku dokter Apin, yang tertulis kalau inhalasi bukan tata laksana yang tepat untuk CC, itu banyak yang protes. *padahal lagi yg nulis udah dokter, bukan anak ekonomi. Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Betul, kondisi anak beda-beda. Tapi ingat, selalu ada Tata Laksana yang baku kan? Sayangnya, kita emang suka lupa, kalau dokter juga beda-beda. Beda Universitasnya, beda visinya, dan jangan lupa walau keluar sama-sama bergelar dokter, tapi beda-beda IPnya. Ya kan? Menyoal VISI, Visi itu kan ‘What be believe we can be’ ya? pastilah beda-beda tiap individu dokter. Ada yang impiannya masyarakat jadi sadar soal kesehatan, tau apa-apa yang harus dilakukan saat gelaja ini itu datang, atau mungkin juga ada yang pengen masyarakatnya terus-terusan ke dokter? Who Knows, semoga salah, semoga gak ada. Selalu ada oknum dalam pekerjaan apapun. Di Kementerian Keuangan aja pasti ada kok.. oknum nakal yang bikin susah kalau kirim barang dari luar negeri masuk Indonesia, atau yang pemeriksa pajaknya minta ini itu.. pasti ada. Begitu juga dengan profesi dokter kan? ada good doc, ada juga bad doc.

Sedihnya bad doctor ketemu sama pasien yang gak pernah belajar soal kesehatan. Dokter Wati selalu bilang : it takes two to tango dan ini benerrrrr banget. Gak bisa lah kita nyalahin dokternya, nuduh-nuduh dokternya yang komersil (misal). Lah kitanya juga pas di ruangan dokter diem aja, gak berusaha membangun komunikasi. Jadi, ayo.. udah zaman now mah kita harus aware juga soal kesehatan-kesehatan gini.. Internet sudah terjangakau harganya, bisa baca-baca di situs yang valid, kalau mau bahasa Indonesia bisa ke http://www.milissehat.web.id

dan, lucunya, tadi baca curhatan Dokter Wati beberapa waktu yang lalu, saya copas ya :

Dear all

Selamat pagi.
Nikmat sekali – hibernasi di balik tumpukan kitab. Kegiatan yg seharusnya lebih sering meski bukan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan, kepingin banget gak praktek (hehehe maaf ya, jangan ditiru kebiasaan buruk ini). Banyak alasannya.
Termasuk “gamang”; takut emosi tak bisa dijaga sedingin kutub. Takut bicara tak bisa dikendalikan seketat niat.

Jadi?
Ikutan curhat deh, boleh ya?!

Bbp hari yl, dapat telp dini hari dari UGD. Singkat cerita, anak laki2 usia 12 bulan, KD (kejang demam) pertama. 
Saya sangat berterimakasih bahwasanya saya dihubungi (ada cerita sendiri sih hehehe). 
Saya ngobrol, ada dua “aliran” untuk penangan KD pertama. Dirawat utk observasi sampai pasti bukan KD. Atau, tidak dirawat kalau di UGD saja sdh yakin itu KD.

Nakes yakin itu KD, ok boleh rawat inap (maksudnya under dr wati). Buat observasi ya. 
Oh tapi sudah keburu di infus
Oh ya sudahlah (toh nanti siang pas visit akan saya pulangkan)

Leukosit 6 ribu, tapi LED tinggi; begitu di infokan berulang.
Oh ya, kita observasi saja ya
Kelihatannya sih virus.

Apakah ditemukan fokus infeksi? Di saluran napas atas? Telinga? Lain2?
Tidak katanya.
Oh baiklah; mungkin roseola. 
Tidak perlu obat apapun.
Paracetamol?
Boleh kalau butuh, 80 mg ya (pernah ada anak diinfus dosisnya 30 mg per kg). Belakangan, instruksi ini diterjemahkan sebagai parasetamol puyer. Hmmmmmm

Pagi kasih presentasi ke dokter se DinKes Depok
Siang menuju sore baru bisa visit
Demam, sadar, tak dehidrasi, nangis kuat (alhamdulillaah), tak ada kaku kuduk, batpil.
Yo wis, KD dan ispa
Boleh pulang

Lhooo stay nya 3 hari (maunya stay sampai bebas demam. Diterangkan berulang risk hospitalization when it is not indicated to be hospitalized … Gak terdengar speertinya penjelasan berulang ini)
Hari ke 3 ya gak divisit

Malamnya ditelp
Masih demam
Ibu panik
Minta rawat lagi

Terangin lagi
Bu, masak tiap demam harus dirawat?! Kasihan dong
Dulu kamu kan KD, kan ibumu bisa handle dg baik, kamu nya oke banget (sarjana, karir mulus).
Ayo ah! 

Ya tapi lemes.
Iya, kalau inf virus … Emang lemes. Minum mau?
Banyak. Asi juga sering
Ya udah; berpelukan sanah, manjain aja lah. Kan kakaknya juga batpil ya wajar dia sakitnya rada “lama”.

Lemesnya saya kasih stesolid ya dokkkk
Addduuuh jangaaaaan. Stesolid bukan obat lemessss. Terangkan lagi efek samping diazepam (nama dagang stesolid, valium). Sepertinya tetap tak terdengar. 

Kalau dikasih stesolid, saya rada tenang, gak takut KD.
Terangkan lagi

Dok dok, minggu gak praktek ya?
Ya enggaklah
Ngapain juga weekend ke dokter?!
Saya boleh ya ke dsa minggu kalau masih demam?
Bole banget; yg pinter tapi ya. Baca tuh yg saya kasih.

Besok lusa dapat kabar
Dirwat lagi di rs lain lantaran dahak menuju ke arah paru2 basah. Lantaran dahaknya gak bisa keluar.

Hmmmmm
Kalau kayak gini, apa percuma ya berbusa2 
Dari awal saja serahkan ke yang lain.

Apalagi sekarang gak semua ibu “happy” ketika kita minta belajar. Yang ada dsa nya dianggap “gak sopan”, gak empatis, gak profesional (krn gak kasih obat). 

Sekian sharing kebingungan saya hehehe
Jangan diketawain ya
Takuuuut prakteeeeekkkkkk

Btw, welcome lho kalau ada asupan, seandainya kalian di posisi dsa (yg membumi) … Heeehehehe (kabuuurrrr)

Wati

-patient’s safety first-

see? Hehehe.. jadi bener kan? it takes two to tango 🙂

it takes two to tango

 

Happy Learning,

BunCha

Lakukan 3 Hal ini sebelum : Hamil

Tenang aja, saya gak lagi hamil kok 🙂 #senyumdulu . Bikin postingan kali ini diinspirasi oleh diri sendiri yang sekarang-sekarang ini lagi hobi datengin klinik konservasi gigi di RSKGM UI. Pas dokter lagi asik-asiknya merawat akar gigi saya, tiba-tiba aja kepikiran untuk sharing soal gigi ini-salah satunya.

Jadiiii.. apa-apa saja yang saya rekomendasikan untuk dilakukan sebelum teman-teman hamil? tapi please atuhlah, jangan bilang : saya kan gak tau hamil kapan MbakCha? siap-siap kan gak ada salahnya kakaak :p

  • Periksa Kesehatan Mulut dan Gigi
OralHealthPregnancy
ilikemyteeth(dot)org

Ini haruuus banget menurutku ya. Urusan gigi ini akan sangat panjang deh kalau di-entar-entar aja. Bahkan sekarang, kalau ada teman yang mau nikah, aku suruh periksa gigi dulu. Kelar-in dulu semua masalah di gigi. Siapa tau rezeki dia, setelah nikah langsung hamil kan? Kenapa sih pas hamil kondisi gigi kita harus sehat? Karena kalau buruk, dampaknya gak baik buat kehamilannya. Dari yang paling simple aja, kalau ibu hamil giginya bermasalah, apa bisa makan beraneka macam makanan yang bergizi tinggi? sakit gigi itu pasti jadi pilih-pilih makanan.. belum lagi kalau bumil kena morning-sick (yang pada kenyataannya sepanjang hari, bukan morning aja kakaaak :)) Terus tau gak kalau kebutuhan kalsium dari seorang bumil itu berlipat-lipat dari yang gak hamil? Jadi kondisi gigi kita jadi gampang banget bolong, bahkan patah.. Pengalaman sendiri, pas hamil + menyusui itu saya sikat gigi buru-buru, patahlah itu geraham T___T jadi kalau kebutuhan kalsium orang biasa itu X, ibu hamil itu 2x, ibu hamil dan menyusui itu 3X (misal loh ya). Lanjut lagi kalau pas hamil kondisi giginya memang sudah parah, itu akan merangsang keluarnya hormon prostaglandin. Naaah, hormon ini bisa merangsang kontraksi sebelum waktunya euy. Taulah ya akibat-akibat kalau muncul kontraksi secara terus-menerus : terjadinya kelahiran prematur. Heu, serem kan.. Nah, seperti di awal saya bilang kalau lagi hobi banget bolak balik ke klinik konservasi gigi untuk menyelamatkan beberapa geraham (iyaaa..beberapa, parah bgt kamu mah Bun!) setiap dilakukan perawatan saluran akar gigi itu mesti deh gigi saya di rongen. Nah kalau ibu hamil apa kabar? Makanya, please selesaikan semua masalah per-gigian sebelum memutuskan untuk hamil, bahkan menikah, imho loh ya. Jangan dimarahin kalau gak sependapat 🙂 Kalau terlanjur hamil padahal gigi bermasalah gimana? Teteup ke Dokter Gigi ya, saran saya sih yang satu RS aja sama periksa kandungannya, jadi kita punya rekam medis yang lengkap, biar gampang kalau kedepannya ada yang harus ditangani, semoga enggak yaaa 🙂

  •  Vaksinasi

vaccines-protect

Siapa yang bosen saya sering bahas soal imunisasi, vaksinasi, dan teman-temannya? Hihihi.. semoga enggak yaaa :)) Sering saya bahas, soalnya ini emang pentiiiing banget! Pernah denger gak kalau untuk membesarkan anak yang baik, kita harus memiliki lingkungan yang baik pula, bukan  hanya keluarga, tapi bisa jadi se-kecamatan, bahkan lebih. Begitu pula dengan vaksin, pernah denger soal Herd Immunity kan? Jadi, ayo vaksin dan ajak lingkungan kita juga untuk di vaksin (gak terima debat ya buat ya Antivaks, di lapak sebelah aja :)) Balik lagi ke soal hamil, ada loh vaksin yang hits banget sejak Agustus 2017 kemarin. Yup, MR! Dulu, dulu bangettt.. 5 tahun yang lalu, sebelum saya nikah, saat MMR masih tersedia, alhamdulillah saya sudah di vaksin MMR. Eh ya, MR berarti Measles-Rubella, kalau MMR : Mumps, Measles, Rubella. Untuk Ibu hamil, yang paling penting “R” nya kok, jadi gak masalah kalau dapetnya yang MR, bukan MMR. Kenapa Vaksin MR itu penting banget buat Ibu Hamil? Kena Rubella kan ‘biasa-biasa’ aja buat ibu hamil, gak bikin kenapa-kenapa si Ibunya kan? Iya bener, tapi yang kenapa-napa itu JANINNYA! ANAKNYA kelak! Apalagi kalau kenanya di trimester awal, duh kaaak 😦 Ini sedikit banyak penyakit yang bisa terkena untuk si Janin kalau ibu hamilnya kena Rubella : Katarak, Jantung, Tuli, gangguan lainnya yang banyak banget.

blog_infographic-560x282 Teman-teman bisa googling : Congenital Rubella Syndrome (CRS) untuk lebih tau soal ini. Bisa juga mampir di blognya Mami Gesi disini yang memiliki Ubii, gadis seumuran Amaya. Atau bisa juga mampir di FP nya “Rumah Ramah Rubella”. Hoya, kalau merencanakan kehamilan dan mau vaksin ini, harus di jeda ya. Minimal banget 4 minggu, ‘jangan hamil dulu’ ya, makanya saya rekomen vaksin ini sebelum nikah aja.. Buat temen-temen yang sudah punya anak-pun jangan lupa ya untuk memberikan HAK anak kita berupa imunisasi MR, atuhlah jangan bilang takdir kalau kamu gak mengusahakan pencegahan terlebih dahulu 🙂

  • Kesehatan Mental

Hah Mental? Yakin ini? Hehehe.. iya bener mental. Apalagi buat teman-teman yang gak pakai pacaran (alhamdulillah) dalam proses pernikahannya, nikah dan langsung hamil. Itu hidupnya kayak roller coster banget. Tau-tau nikah, tau-tau hamil. Grafik emosinya bisa jadi up and down. Saya pribadi melakukan sesi konseling loh ke Psikolog. Kalau enggan ke Psikolog, bisa juga ‘healing’ dengan ustadzah atau orang yang ahli dibidang ‘healing’ ini. Karena ternyata buanyak banget, perempuan yang ternyata gak siap hamil, nanti akan berlanjut ketidaksiapannya dalam melahirkan, mengasuh anak, duh bakalan panjang deh kak..

Apa lagi yak? Ada yang mau nambahin? 🙂

 

 

Salam,

BunCha

 

 

My personal PRACTICAL tips (ke2): Seputar MPASI (Complimentary feeding) – dr Wati

my-personal-practical-tips-2

Yipppiiie! Paling seneng kalau di Milis ada info soal-soal kesehatan yang asik buat dibikin infografis kayak gini 😀 Hatur nuhun Bunda Watiii.. semoga Bunda selalu sehat 🙂 Semoga bermanfaat! Enjoy!

#lalumempertanyakan

#ibunorangekonomi

#atauorangdesign

Demam (lagi)

tidak-ada-satupun-obat-tidak-ada-satupun-dokter-yg-bisa-mempercepat-penyembuhan-common-cold

Yang paling sering gagal paham soal Common Cold ini, ya gak sih? Kadang beberapa kali dokter di milis sehat menjawab obat yang paling manjur adalah : menenangkan hati orang tuanya, hihihi. Pernah juga Arsa demam sampai lebih dari satu minggu, si Ibun berusaha tetap rasional (tapi susah), karena kemakan isu kalau demam lebih dari 72 jam itu bahaya, heu.. padahal ternyata Common Cold bisa sampai 12 hari, dan Arsa pernah! Apalagi beberapa teman yang anaknya punya riwayat Kejang Demam, pasti harus lebih tough ya menghadapi yang ‘cuman’ common cold ini. Yuk ah, belajar lebih banyak soal demam ini. Bisa mampir ke :

Tentang Demam di Sepedakwitang.wp

Demam di Milis Sehat

Merawat anak Demam di Milis Sehat

Penggunaan obat demam yang Rasional di Milis Sehat

Selamat Belajar! 🙂