It Takes Two To Tango #2

Kemarin lalu, saya curhat di sesemilis soal beberapa hal yang belakangan ini muter-muter terus di kepala saya. Intinya mah soal kesehatan.. mengetahui fakta di lapangan kalau ada teman yang anaknya kena CC (literally CC loh ya, bukan yang lain, dan tanpa asma) itu pas ke dokter disuruhnya di inhalasi, atau bahasa kekiniannya di-uap. Gak cuman itu, saat saya (katakanlah) iseng screenshoot salah satu halaman di buku dokter Apin, yang tertulis kalau inhalasi bukan tata laksana yang tepat untuk CC, itu banyak yang protes. *padahal lagi yg nulis udah dokter, bukan anak ekonomi. Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Betul, kondisi anak beda-beda. Tapi ingat, selalu ada Tata Laksana yang baku kan? Sayangnya, kita emang suka lupa, kalau dokter juga beda-beda. Beda Universitasnya, beda visinya, dan jangan lupa walau keluar sama-sama bergelar dokter, tapi beda-beda IPnya. Ya kan? Menyoal VISI, Visi itu kan ‘What be believe we can be’ ya? pastilah beda-beda tiap individu dokter. Ada yang impiannya masyarakat jadi sadar soal kesehatan, tau apa-apa yang harus dilakukan saat gelaja ini itu datang, atau mungkin juga ada yang pengen masyarakatnya terus-terusan ke dokter? Who Knows, semoga salah, semoga gak ada. Selalu ada oknum dalam pekerjaan apapun. Di Kementerian Keuangan aja pasti ada kok.. oknum nakal yang bikin susah kalau kirim barang dari luar negeri masuk Indonesia, atau yang pemeriksa pajaknya minta ini itu.. pasti ada. Begitu juga dengan profesi dokter kan? ada good doc, ada juga bad doc.

Sedihnya bad doctor ketemu sama pasien yang gak pernah belajar soal kesehatan. Dokter Wati selalu bilang : it takes two to tango dan ini benerrrrr banget. Gak bisa lah kita nyalahin dokternya, nuduh-nuduh dokternya yang komersil (misal). Lah kitanya juga pas di ruangan dokter diem aja, gak berusaha membangun komunikasi. Jadi, ayo.. udah zaman now mah kita harus aware juga soal kesehatan-kesehatan gini.. Internet sudah terjangakau harganya, bisa baca-baca di situs yang valid, kalau mau bahasa Indonesia bisa ke http://www.milissehat.web.id

dan, lucunya, tadi baca curhatan Dokter Wati beberapa waktu yang lalu, saya copas ya :

Dear all

Selamat pagi.
Nikmat sekali – hibernasi di balik tumpukan kitab. Kegiatan yg seharusnya lebih sering meski bukan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan, kepingin banget gak praktek (hehehe maaf ya, jangan ditiru kebiasaan buruk ini). Banyak alasannya.
Termasuk “gamang”; takut emosi tak bisa dijaga sedingin kutub. Takut bicara tak bisa dikendalikan seketat niat.

Jadi?
Ikutan curhat deh, boleh ya?!

Bbp hari yl, dapat telp dini hari dari UGD. Singkat cerita, anak laki2 usia 12 bulan, KD (kejang demam) pertama. 
Saya sangat berterimakasih bahwasanya saya dihubungi (ada cerita sendiri sih hehehe). 
Saya ngobrol, ada dua “aliran” untuk penangan KD pertama. Dirawat utk observasi sampai pasti bukan KD. Atau, tidak dirawat kalau di UGD saja sdh yakin itu KD.

Nakes yakin itu KD, ok boleh rawat inap (maksudnya under dr wati). Buat observasi ya. 
Oh tapi sudah keburu di infus
Oh ya sudahlah (toh nanti siang pas visit akan saya pulangkan)

Leukosit 6 ribu, tapi LED tinggi; begitu di infokan berulang.
Oh ya, kita observasi saja ya
Kelihatannya sih virus.

Apakah ditemukan fokus infeksi? Di saluran napas atas? Telinga? Lain2?
Tidak katanya.
Oh baiklah; mungkin roseola. 
Tidak perlu obat apapun.
Paracetamol?
Boleh kalau butuh, 80 mg ya (pernah ada anak diinfus dosisnya 30 mg per kg). Belakangan, instruksi ini diterjemahkan sebagai parasetamol puyer. Hmmmmmm

Pagi kasih presentasi ke dokter se DinKes Depok
Siang menuju sore baru bisa visit
Demam, sadar, tak dehidrasi, nangis kuat (alhamdulillaah), tak ada kaku kuduk, batpil.
Yo wis, KD dan ispa
Boleh pulang

Lhooo stay nya 3 hari (maunya stay sampai bebas demam. Diterangkan berulang risk hospitalization when it is not indicated to be hospitalized … Gak terdengar speertinya penjelasan berulang ini)
Hari ke 3 ya gak divisit

Malamnya ditelp
Masih demam
Ibu panik
Minta rawat lagi

Terangin lagi
Bu, masak tiap demam harus dirawat?! Kasihan dong
Dulu kamu kan KD, kan ibumu bisa handle dg baik, kamu nya oke banget (sarjana, karir mulus).
Ayo ah! 

Ya tapi lemes.
Iya, kalau inf virus … Emang lemes. Minum mau?
Banyak. Asi juga sering
Ya udah; berpelukan sanah, manjain aja lah. Kan kakaknya juga batpil ya wajar dia sakitnya rada “lama”.

Lemesnya saya kasih stesolid ya dokkkk
Addduuuh jangaaaaan. Stesolid bukan obat lemessss. Terangkan lagi efek samping diazepam (nama dagang stesolid, valium). Sepertinya tetap tak terdengar. 

Kalau dikasih stesolid, saya rada tenang, gak takut KD.
Terangkan lagi

Dok dok, minggu gak praktek ya?
Ya enggaklah
Ngapain juga weekend ke dokter?!
Saya boleh ya ke dsa minggu kalau masih demam?
Bole banget; yg pinter tapi ya. Baca tuh yg saya kasih.

Besok lusa dapat kabar
Dirwat lagi di rs lain lantaran dahak menuju ke arah paru2 basah. Lantaran dahaknya gak bisa keluar.

Hmmmmm
Kalau kayak gini, apa percuma ya berbusa2 
Dari awal saja serahkan ke yang lain.

Apalagi sekarang gak semua ibu “happy” ketika kita minta belajar. Yang ada dsa nya dianggap “gak sopan”, gak empatis, gak profesional (krn gak kasih obat). 

Sekian sharing kebingungan saya hehehe
Jangan diketawain ya
Takuuuut prakteeeeekkkkkk

Btw, welcome lho kalau ada asupan, seandainya kalian di posisi dsa (yg membumi) … Heeehehehe (kabuuurrrr)

Wati

-patient’s safety first-

see? Hehehe.. jadi bener kan? it takes two to tango 🙂

it takes two to tango

 

Happy Learning,

BunCha

Advertisements

Lakukan 3 Hal ini sebelum : Hamil

Tenang aja, saya gak lagi hamil kok 🙂 #senyumdulu . Bikin postingan kali ini diinspirasi oleh diri sendiri yang sekarang-sekarang ini lagi hobi datengin klinik konservasi gigi di RSKGM UI. Pas dokter lagi asik-asiknya merawat akar gigi saya, tiba-tiba aja kepikiran untuk sharing soal gigi ini-salah satunya.

Jadiiii.. apa-apa saja yang saya rekomendasikan untuk dilakukan sebelum teman-teman hamil? tapi please atuhlah, jangan bilang : saya kan gak tau hamil kapan MbakCha? siap-siap kan gak ada salahnya kakaak :p

  • Periksa Kesehatan Mulut dan Gigi
OralHealthPregnancy

ilikemyteeth(dot)org

Ini haruuus banget menurutku ya. Urusan gigi ini akan sangat panjang deh kalau di-entar-entar aja. Bahkan sekarang, kalau ada teman yang mau nikah, aku suruh periksa gigi dulu. Kelar-in dulu semua masalah di gigi. Siapa tau rezeki dia, setelah nikah langsung hamil kan? Kenapa sih pas hamil kondisi gigi kita harus sehat? Karena kalau buruk, dampaknya gak baik buat kehamilannya. Dari yang paling simple aja, kalau ibu hamil giginya bermasalah, apa bisa makan beraneka macam makanan yang bergizi tinggi? sakit gigi itu pasti jadi pilih-pilih makanan.. belum lagi kalau bumil kena morning-sick (yang pada kenyataannya sepanjang hari, bukan morning aja kakaaak :)) Terus tau gak kalau kebutuhan kalsium dari seorang bumil itu berlipat-lipat dari yang gak hamil? Jadi kondisi gigi kita jadi gampang banget bolong, bahkan patah.. Pengalaman sendiri, pas hamil + menyusui itu saya sikat gigi buru-buru, patahlah itu geraham T___T jadi kalau kebutuhan kalsium orang biasa itu X, ibu hamil itu 2x, ibu hamil dan menyusui itu 3X (misal loh ya). Lanjut lagi kalau pas hamil kondisi giginya memang sudah parah, itu akan merangsang keluarnya hormon prostaglandin. Naaah, hormon ini bisa merangsang kontraksi sebelum waktunya euy. Taulah ya akibat-akibat kalau muncul kontraksi secara terus-menerus : terjadinya kelahiran prematur. Heu, serem kan.. Nah, seperti di awal saya bilang kalau lagi hobi banget bolak balik ke klinik konservasi gigi untuk menyelamatkan beberapa geraham (iyaaa..beberapa, parah bgt kamu mah Bun!) setiap dilakukan perawatan saluran akar gigi itu mesti deh gigi saya di rongen. Nah kalau ibu hamil apa kabar? Makanya, please selesaikan semua masalah per-gigian sebelum memutuskan untuk hamil, bahkan menikah, imho loh ya. Jangan dimarahin kalau gak sependapat 🙂 Kalau terlanjur hamil padahal gigi bermasalah gimana? Teteup ke Dokter Gigi ya, saran saya sih yang satu RS aja sama periksa kandungannya, jadi kita punya rekam medis yang lengkap, biar gampang kalau kedepannya ada yang harus ditangani, semoga enggak yaaa 🙂

  •  Vaksinasi

vaccines-protect

Siapa yang bosen saya sering bahas soal imunisasi, vaksinasi, dan teman-temannya? Hihihi.. semoga enggak yaaa :)) Sering saya bahas, soalnya ini emang pentiiiing banget! Pernah denger gak kalau untuk membesarkan anak yang baik, kita harus memiliki lingkungan yang baik pula, bukan  hanya keluarga, tapi bisa jadi se-kecamatan, bahkan lebih. Begitu pula dengan vaksin, pernah denger soal Herd Immunity kan? Jadi, ayo vaksin dan ajak lingkungan kita juga untuk di vaksin (gak terima debat ya buat ya Antivaks, di lapak sebelah aja :)) Balik lagi ke soal hamil, ada loh vaksin yang hits banget sejak Agustus 2017 kemarin. Yup, MR! Dulu, dulu bangettt.. 5 tahun yang lalu, sebelum saya nikah, saat MMR masih tersedia, alhamdulillah saya sudah di vaksin MMR. Eh ya, MR berarti Measles-Rubella, kalau MMR : Mumps, Measles, Rubella. Untuk Ibu hamil, yang paling penting “R” nya kok, jadi gak masalah kalau dapetnya yang MR, bukan MMR. Kenapa Vaksin MR itu penting banget buat Ibu Hamil? Kena Rubella kan ‘biasa-biasa’ aja buat ibu hamil, gak bikin kenapa-kenapa si Ibunya kan? Iya bener, tapi yang kenapa-napa itu JANINNYA! ANAKNYA kelak! Apalagi kalau kenanya di trimester awal, duh kaaak 😦 Ini sedikit banyak penyakit yang bisa terkena untuk si Janin kalau ibu hamilnya kena Rubella : Katarak, Jantung, Tuli, gangguan lainnya yang banyak banget.

blog_infographic-560x282 Teman-teman bisa googling : Congenital Rubella Syndrome (CRS) untuk lebih tau soal ini. Bisa juga mampir di blognya Mami Gesi disini yang memiliki Ubii, gadis seumuran Amaya. Atau bisa juga mampir di FP nya “Rumah Ramah Rubella”. Hoya, kalau merencanakan kehamilan dan mau vaksin ini, harus di jeda ya. Minimal banget 4 minggu, ‘jangan hamil dulu’ ya, makanya saya rekomen vaksin ini sebelum nikah aja.. Buat temen-temen yang sudah punya anak-pun jangan lupa ya untuk memberikan HAK anak kita berupa imunisasi MR, atuhlah jangan bilang takdir kalau kamu gak mengusahakan pencegahan terlebih dahulu 🙂

  • Kesehatan Mental

Hah Mental? Yakin ini? Hehehe.. iya bener mental. Apalagi buat teman-teman yang gak pakai pacaran (alhamdulillah) dalam proses pernikahannya, nikah dan langsung hamil. Itu hidupnya kayak roller coster banget. Tau-tau nikah, tau-tau hamil. Grafik emosinya bisa jadi up and down. Saya pribadi melakukan sesi konseling loh ke Psikolog. Kalau enggan ke Psikolog, bisa juga ‘healing’ dengan ustadzah atau orang yang ahli dibidang ‘healing’ ini. Karena ternyata buanyak banget, perempuan yang ternyata gak siap hamil, nanti akan berlanjut ketidaksiapannya dalam melahirkan, mengasuh anak, duh bakalan panjang deh kak..

Apa lagi yak? Ada yang mau nambahin? 🙂

 

 

Salam,

BunCha

 

 

Demam (lagi)

tidak-ada-satupun-obat-tidak-ada-satupun-dokter-yg-bisa-mempercepat-penyembuhan-common-cold

Yang paling sering gagal paham soal Common Cold ini, ya gak sih? Kadang beberapa kali dokter di milis sehat menjawab obat yang paling manjur adalah : menenangkan hati orang tuanya, hihihi. Pernah juga Arsa demam sampai lebih dari satu minggu, si Ibun berusaha tetap rasional (tapi susah), karena kemakan isu kalau demam lebih dari 72 jam itu bahaya, heu.. padahal ternyata Common Cold bisa sampai 12 hari, dan Arsa pernah! Apalagi beberapa teman yang anaknya punya riwayat Kejang Demam, pasti harus lebih tough ya menghadapi yang ‘cuman’ common cold ini. Yuk ah, belajar lebih banyak soal demam ini. Bisa mampir ke :

Tentang Demam di Sepedakwitang.wp

Demam di Milis Sehat

Merawat anak Demam di Milis Sehat

Penggunaan obat demam yang Rasional di Milis Sehat

Selamat Belajar! 🙂