Hamil yang bikin kangen

 

apa

Apa sih yang paling ngangenin dari hamil selain tendangan-tendangan kecil dari dalam perut kita? Saya sih salah satunya belanja..hehe. Kayaknya seruuuu banget belanja macem-macem perintilan soal hamil ini. Apalagi pas hamil anak pertama, suami kayaknya gak pernah komplen (atau gak berani? wkwkwk) mau saya belanja apapun. Tujuannya bikin bumil senang kali ya? Semoga Allah berkahi suami-suami macam gini, aamiin ๐Ÿ™‚

Dulu, pas hamil Amaya di trimester pertama gak pakai morning sick sih, tapiiii gak bisa makan sama sekali, semua makanan gak berasa. Jadi seharian itu lemes, gak bisa kemana-mana. 2012 akhir belum jaman go-food dkk ya, jadi pilihan masih terbatas oleh jangkauan ibu hamil yang bekerja ini. Masuk trimester kedua baru deh segala makanan lancaar masuk, jadi udah bisa jalan-jalan ngemol. Perut juga udah semakin terlihat ke-hamil-annya. Cihuuuy banget rasanya ada alasan buat beli baju baru ๐Ÿ˜€ apalagi baju hamil kerja juga sekarang udah banyak pilihannya, dan kece-kece banget. Selalu ada alasan buat beli baju baru #tobat. Biasanya walau baju hamil, tapi tetep bisa dipakai setelahnya saat menyusui, jadi gak rugi-rugi banget karena harus dipakai selama hamil doang. Istilahnya buy one get one, eh tepat gak sih? ๐Ÿ˜€ Masuk trimester akhir, perut udah lumayan kurang asik dibawa kemana-mana. Masuk fase ini tangan udah gatel klik sana klik sini belanja online. Kalau 2017 sih yaaa, udah lah saya lebih sering belanja online daripada offline. Bakalan kalap banget kayaknya kalau baru hamil sekarang-sekarang ini. Marketplace udah bejibun, layanan ojek online tinggal klik, asik banget pasti. #lalukapanhamillagibun? Hahahaha..

Selain soal belanja, soal perhatian itu yang paling ngangenin juga. Apa-apa diperhatiin. Mau makan apa selalu ditanyain. Nyaman gak duduknya? tidurnya? segala-gala dinomersatukan. Rasanya emang jadi spesial. Di Transjakarta, di KRL, bahkan pernah didahulukan cuman di antrian ATM #girang. Tahun lalu pernah baca cerbung di salah satu forum terbesar di Indonesia, tentang seorang wanita yang ter-obsesi dengan kehamilan. Dan dia punya anak 11! Anak loh, bukan kucing ๐Ÿ˜€ jadi dia setiap tahun hamil melahirkan hamil melahirkan, warbiyasaaak. Karena dalam dunia nyata ada juga yang memang selalu merasa istimewa saat hamil kan ya, jadi baca cerita itu ya berasa nyata aja.

Diluar itu semua, kondisi wanita hamil berkali-kali disebutkan dalam al-quran dan hadis. Tuh kan, super spesial banget. Ini yang paling saya suka :

Wahai Fatimah, jika wanita mengandung anak di perutnya, maka para malaikat akan memohonkan ampunan baginya, dan Allah SWT menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, menghapuskan seribu kejelekannya. Ketika wanita itu merasa sakit karena melahirkan, maka Allah SWT menetapkan baginya pahala para pejuang dijalan Allah SWT. Jika ia melahirkan bayinya maka keluarlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Dan akan keluar dari dunia dengan tidak membawa dosa apapun. Di kuburnya akan ditempatkan di taman-taman surga. Allah memberinya pahala seribu ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

Masyaallah.. betapa ya memang hamil itu sesuatu yang istimewa sejak dulu :’).

Sedikit agak out of topic, wanita tetaplah seorang wanita ya.. mau pernah hamil atau belum pernah hamil. Pliiis atuhlah, jangan pernah usil tanya ke teman atau saudara (apalagi kalau kamu gak deket) yang sudah nikah, dengan pertanyaan “kamu udah isi (hamil) belum?” Pliiiisss jangan! Kamu gak pernah tau seberapa keras usaha dia untuk bisa hamil, berapa banyak uang yang keluar untuk satu kata hamil itu. Kamu juga gak tau seberapa dalam perasaan yang sudah terkuras untuk hal ini. Heuu suka sedih sendiri kalau ada yang kepo-kepo soal hamil ini. Okeh okeh? ๐Ÿ™‚

Kalau kamu, apa apa apa yang bikin kangen hamil? #sayayangkepo ๐Ÿ˜€

Melahirkan itu sakit gak?

“Aku tuh udah gak kuat banget mbak.. nahan mules udah lebih dari 24 jam, aku yang minta ke Dokternya buat Operasi Secar aja.. aku yang gak mau normal.. aku yang udah gak kuat nahan rasa sakitnya, bukan suamiku kok yang kurang menguatkan aku”

Sayaย hanya senyum saja mendengarkan cerita heroiknya saat melahirkan anak pertamanya sekitar 9 minggu yang lalu. Tidak ada kisah proses melahirkan yang tidak heroik, semua hebat! Apapun jalannya, setidaknya begitu menurut saya. Jawaban teman saya itu menanggapi pernyataan dari teman lainnya yang mengira sang suami-nya lah yang meminta untuk melahirkan lewat jalan operasi, bukan spontan pervaginam.

“Sakit banget kan ya mbak mules-mules itu? pas di cek ternyata baru bukaan 1, 24 jam lebih loh mbak aku udah nahan mulesnya ini, ternyata baru 1, baru 1 mbak..”

Saya agak susah menanggapi pertanyaan (dan pernyataan) dia kali ini. Saya tidak pernah pergi ke Dokter atau bidan, dan diberitahukan “ini sudah bukaan satu ibu”. Saat proses melahirkan Amaya, begitu sampai di RSI Cempaka Putih cek bukaan sudah bukaan 4. Jadi, saya gak ngerti -gimana-rasanya-bukaan-satu itu. Setelah bukaan 4 itu yang saya rasakan ya mulas yang berjeda. Mulas-nya (maaf) seperti mau BAB, bukan mulas seperti sakit saat maag atau lainnya, itu yang saya rasakan. Lebih ekstrim lagi saat melahirkan Arsa, begitu sampai di RSI Cempaka Putih, cek bukaan, sudah bukaan 8 menjelang 9, kalau yang ini rasanya bukan mulas lagi, tapi benar-benar sudah kayak di ujung mau BAB tapi gak boleh! Dan saya gak akan pernah lah mengatakan “lemah banget kamu baru bukaan 1 tapi udah menyerah..” no no no, toleransi sakit tiap orang beda-beda kan ya. Dan lagi, menurut saya takaran sakit setiap ibu yang mau melahirkan itu beda-beda, gak akan sama, jadi gak bisa dipukul rata. Continue reading

Cerita Kehamilan Arsa (riwayat KPD dan PJT)

Bismillah..

Heyhoย  Arsa! Barakallah ya Nak, usiamu sudah 6 bulan. Eh sudah 6 bulan aja ya saat-saat Bunda memutuskan jalan ke mall kasablanca instead of ke Rumah Sakit Islam ๐Ÿ˜€ . Yuk ah biar Bunda cerita sedikiiiiit aja tentang hari-hari saat hamil untuk kedua kalinya, sebelum umur menggerogoti ingatan Bunda.

Awal Kehamilan.

Bunda sudah merasa ada yang berbeda di diri Bunda. Lebih sensitif. Lebih mudah capek, tapi nafsu makan menurun. Pagi-pagi sering kali pusing kepala, mual tapi tidak sampai muntah. Hasil pumping ASI untuk Kakak Amaya pun beberapa hari terakhir terus menurun kuantitasnya. Dan, yang paling terasa adalah. Bunda sudah telat dari tanggal haid seharusnya. Deg. Bunda bicarakan dengan Abeh tentang kondisi ini, dan esok harinya Bunda sudah siap dengan test-pack. Hasilnya langsung garis dua jelas, bukan samar-samar. Allahuakbar! Bunda masih ingat sih, apa yang bunda lakukan setelah melihat hasil test-pack itu. Bunda langsung peluk dan cium kakak Amaya yang masih tidur pulas. Tahan-tahan supaya gak menangis. Entahlah ya Nak, rasanya memang campur aduk saat itu. Takjub sekali dengan rencana Allah sebenarnya. Semuanya datang secara bersamaan. Senang, haru, gak percaya, sedih, takut, dan galau ah Nak, padahal orang-orang yang dekat sama Allah gak boleh galau loh. Makanya Bunda langsung berbenah hati deh, yakin kalau semua yang terjadi sudah skenario terbaik untuk keluarga kita. Insyaallah ๐Ÿ™‚ #senyumdulu

Bunda dan Abeh bersepakat untuk tidak memberitahukan ke keluarga besar perihal kehamilan kedua ini. Banyak pertimbangannya, tapi terlalu sensitif jika Bunda ceritakan disini. Biar saja nanti Allah yang atur gimana cara mereka tau kalau Bunda hamil. Bun, emang gak keliatan ya kalau lagi hamil? Gak dek.. kalau kata temen Bunda mah, antara Bunda masih single, menikah, hamil kakak Amaya, lalu setelah melahirkan, gak ada bedanya ukuran tubuhnya ๐Ÿ˜€ ya gitu deh, segini-gini aja. Jadi aja gak ada alasan buat beli baju hamil yang kece-kece itu #eh

Sedikit Bun ceritain tadi, awal ngerasa kalau Bunda hamil itu karena hasil pumping ASI buat kakak menurun dari biasanya. Nah, ada Dokter Ian yang berbaik hati untuk bisa diajak ngobrol tentang kondisi Bunda saat itu. Ah, blessing banget deh bisa kenal sama Dokter Ian itu. Orangnya baik, masyaallah. Semoga Allah berkahi.. dan anak-anak Bunda bisa meniru kebaikan-kebaikan dari Dokter Ian itu yaa.. ๐Ÿ™‚ Cerita lengkap tentang drama Nursing While Pregnant (menyusui saat hamil) ada disini, dan cerita tentang Bunda main ke rumah dokter Ian ada disini.

Trimester ke-dua

Nah, ada sedikit cerita ala ala sinetron nih di trimester tengah ini. Saat hari Raya idul Adha tahun 2014, Bunda mendapati kalau Baju yang Bun pakai buat tidur basah di bagian belakangnya. Sampai ke-esokan harinya tetap masih keluar cairan. Endingnya, Bunda harus masuk UGD di RSI karena ternyata itu cairan ketuban. Bun harus dirawat lanjut bedrest-entah-sampai-kapan. Kok gak tau pastinya Bun? Karena kasus KPD (Ketuban Pecah Dini) di usia kandungan masih 27 itu BIASANYA berakhir dengan keguguran. Ehya, walau namanya PECAH, tapi nyatanya hanya rembes ya.. bayangin kalau ada balon berisi air, lalu ada lubang keciiiiiil banget, nah airnya kan gak langsung keluar semua ya, tapi tes tes tes perlahan. Gak kayak kalau balon itu ditusuk pakai pisau, lalu airnya langsung luber. Back to KPD tadi. Iya loh Nak, Dokter Helmina yang nanganin kita, sudah bilang kalau kasus-kasus yang sudah beliau tangani biasanya berujung keguguran, jadi kami diminta menyiapkan mental dan hati yang luas tentu saja. Duh Nak, rasanya dunia berhenti beberapa detik saat Dokter bilang gitu. Ya Allah.. Bunda langsung minta ampun sama Allah. Kalau-kalau ini azab karena dosa-dosa Bunda. Juga minta Allah yang punya kuasa tak terbatas untuk menyelamatkan kita berdua, bukan Bunda seorang. Tapi Dokter Helmina juga janji sama Bunda akan melakukan semaksimal mungkin kemampuannya. Abeh berbaik hati (dan dompet) menempatkan Bunda di ruangan inap kelas 1 yang super nyaman. Nenek Medan alias Nenek Medan pun sungguuuuh baik banget mau nemenin Bunda di Rumah Sakit. Duh, sudah jadi orang tua ternyata masih bikin repot Nenek juga. Hiks.. Kelak kalau panjang umur, Anak-anak bunda harus berbakti sebesar-besarnya sama Nenek yaa ๐Ÿ™‚ Lanjut tentang bedrestnya, Allah Maha Penyayang.. DIA kasih kesempatan lagi untuk kita tetap bertahan. Saat itu usia kandungan 28minggu, nilai ketuban masih aman, dan Bunda sudah di suntik untuk mematangkan paru-paru kamu dek. Jadi, kelak kalau kamu harus dilahirkan-segera, paling enggak paru-parumu sudah matang (emang makanan buuuun.. :p) tiap minggu Bunda dipantau segala-galanya, dari USG, CTG, darah, air pipis. Untuk memastikan kamu baik-baik saja disana, masih bisa bertahan. Yang paling deg-deg-an saat hasil leukosit keluar, setinggi apakan nilainya. Sebanyak apa kah bakteri yang ada di dalam? Duh, rasa-rasanya Bunda lebih deg-deg-an saat itu deh ketimbang saat Bunda taaruf sama Abeh dulu #lho

Trimester ke-3

Eh yaa.. Qadarullah Bunda dirawat lagi di RSI saat usia kandungan 33minggu. Karena rembesan ketubannya masih terus keluar. Padahal sejak usia kandungan 27minggu itu Bun sudah bedrest total loh, gak masuk kerja juga. Tapi yasudahlah yaaa.. kita jalanin aja usaha yang maksimal, yang terrrrbaik sebisa mungkin. Tapi Dokter Helmina bener-bener menunaikan janjinya kok, untuk berusaha sebesar-besarnya untuk keberlangsungan kehamilan Bunda. Sebenernya walau belum cukup bulan, tapi perasaan bunda dan dokter serta perawat yang nanganin Bun sudah lumayan lega, karena sudah masuk ke 33. Kalau harus di operasi secar, lebih tidak berisiko ketimbang saat 27weeks kemarin. Tapi tetep loh Bunda harus disuntik lagi untuk pematangan paru-paru kamu deh. Dek, just wondering aja nih ya, apa yaaa yang Adek rasain saat Bunda disuntik itu? ๐Ÿ˜€ Daaaan, alhamdulillah atas izin Allah kita berdua sampai di cukup bulan, usia kandungan 36lewat, cihuy! Hoya, sampai sini sebenernya sudah bunda ceritain detailnya disini.

Tapi..tapi..tapi… Kok ukuran kamu, berat badan kamu, kecil dan gak sesuai dengan chart-pada umumnya ya. Walau Bun berkali-kali bilang kalau Kakak Amaya pun lahir dengan BB 2,65kg, tapi Dokter Susi (another doctor) kekeuh kalau Bun harus di rujuk ke Dokter Kandungan Subspesialis Fetomaternal dengan suspect PJT alias Pertumbuhan Janin Terhambat atau istilah medisnya Intra Uterine Growth Restriction (IUGS), wissss horor banget pas denger itu. Btw, Dokter Kandungan Subspesialias Fetomaternal itu lumayan limited di Jakarta ini. Hanya ada di RS Rujukan saja. ย Awalnya di rujuk ke RS Persahabatan, tapi duuuuh sistem CS by phone nya gak banget deh. Bunda diminta datang hari Rabu, pas udah dateng, ternyata jadwalnya hari Kamis atau Jumat. Pas Bunda komplain ke CS Centre, yang lagi di situ bilang “itu bukan bagian saya jaga” wew.. Jadilah Bunda dan Abeh memutuskan datang ke RSCM.ย  Ehya, Pemeriksaan Fetomaternal artinya pemeriksaan yang tujuannya untuk menegakkan diagsnosis pada kasus-kasus gangguan kehamilan atau gangguan janin, atau biasa disebut kehamilan risiko tinggi. Biar kalau memang positif ada gangguan kehamilan, langsung bisa ditangani segera. Waktu itu Bunda di USG lanjut CTG selama kurang lebih 1jam. Sebenernya beberapa nilai (duh Bunda lupa deh apa aja nilai-nilai yang ada di hasilnya) masih dalam nilai rujukan, tapi entah kenapa kesimpulan dan sarannya : untuk mengakhiri kehamilan. Deg-deg-an banget pas itu karena Bunda hanya sendirian, Abeh diluar gak boleh masuk. Langsung buru-buru whatsapp dokter Susi, dan gak dibales. Yaudah Bun berkesimpulan kalau ini gak urgent lah. Toh Dokter Susi gak langsung bales :p

Besok lusanya Bunda ketemu Dokter Helmina untuk menyerahkan hasil USG Fetomaternal itu. Dokternya sih masih santay ajah, lumayan bikin tenang, alhamdulillah. PRnya Bun harus minum susu high protein macem ensure, peptisol, makan daging merah tiap hari, which is hampir tiap hari Bunda makan steak, kalau lagi tajir di Steak 21 di kasablanca atau melipir jalan ke Waroeng Steak di Tebet. Hoya, PR lainnya karena posisi kamu masih sungsang jadi atas rekomendasi dari Bidan Wina yang baik hati, Bunda dikirimin beberapa gerakan dan posisi yang harus Bunda lakukan setiap hari. Eh ya, Bidan Ika ini juga Bunda gak kenal loh, cuman tau via Facebook aja. Tapiiii.. masyaallah orangnya baiiik banget. Semoga Allah balas dengan kebaikan bertubi-tubi juga ya untuk Bidan Ika ๐Ÿ™‚

10808237_844836252233610_453167638_n

Ini kata Bidan Ika : Ada banyak sebenarnya untuk memposisikan bayi menjdi normal.. Sujud itu gerakan yg simple tp banyak manfaat, Rebozo, ada juga gerakan tidur dibagian pinggang diganjal setinggi mungkin semampu mb bisa dengan bantal dg posisi kaki ditekuk jadi posisi kaki lbh tinggi dr kepala,tujuan agar janin yg mungkin hampir masuk kepanggul bisa naik lagi dan janin bisa berputar mjdi normal.. Lakukan sesering mungkin semampunya..

Pose itu yang Bun lakukan sesering mungkin, sampai akhirnya di usia kandungan 39minggu, posisimu sudah bagus, dan siap dilahirkan! Air ketuban aman dengan ICA 8koma, plasenta masih aman walau sudah pengapurang tingkat 2. Dan kami sepakat untuk menunggu rasa mulas kontraksi datang. Bunda sesering mungkin untuk jalan-jalan pagi. Dan saat hari Jumat pagi, Abeh, Bunda, Kakak Amaya dan Nenek jalan-jalan ke taman suropati untuk icip-icip batu refleksinya.

10897091_933249620041908_1714345530927784673_n

Teringat pengalaman nemenin Tante Hana saat melahirkan Izan dulu diawali dengan jalan-jalan di sebuah taman di Bali, yang ini dek. Pulang dari taman suropati, kami lanjut mampir ke rumah Nenek Ain.

Siangnya Bun sama Abeh pulang ke kontrakan untuk melakukan sesuatu, dan jadwal minum susu peptisol Bunda.ย Hoya Nak, efek minum susu tinggi protein itu bikin perut Bun jadi mules.. berasa mau pup tapi gak jadi. Duh gimana ya ngejelasinnya ๐Ÿ˜€ Akhirnya sore-sore setelah minum susu itu perut Bunda mulesss. Abeh tanya apa udah waktunya melahirkan, tapi Bun bingung jawabnya..ahahaha. Setelah diskusi, diputuskan Bun dan Abeh ke mall kasablanca dulu, buat apa? Beli Kameraaaa.. sejujurnya Bunda ngidam kamera sejak diawal kehamilan. Tapi, tapi, tapi cuman berkode aja sama Abeh. Sampai akhirnya Abeh sadar, baru deh di usia kandungan 39minggu 5hari meluncur ke ES buat menunaikan ngidamnya Bunda. Hahaha agak konyol sih, karena disana perut Bunda makin mules sebenernya. Bolak balik maju mundur keliling mall. Abeh udah was-was ngajak ke Rumah Sakit sebenernya, tapi Bunda bilang gak usah dulu. Setelah beneran punya kamera, Kami langsung meluncur ke rumah Nenek Ain. Walau Abeh minta langsung aja ke RS, tapi Bunda bilang melahirkan itu hidup dan mati. Kalau nanti takdirnya mati, bunda pengen banget ketemu Kakak Amaya dulu. Makanya bunda bela-belain ke Rumah Nenek Ain buat peluk-peluk kakak Amaya dulu. Jam 20.30 WIB meluncur ke RSI, alhamdulillah gak macet. Di Mobil, mulesnya makin jadi, tapi Bunda berusaha banget buat stay cool biar Abeh stay focus sama nyetirnya. Nenek Ipah terus-terusan berzikir. Sampai di RSI, langsung meluncur ke Ruang Persalinan. Pakai adegan digodain perawatnya dulu lagi : mana senyumnya bu? wekekek.. kontraksi lagi dateng senyumnya dikit ajah :p Sampai di ruang persalinan, jam 21.20, cek bukaan, alhamdulillah sudah bukaan 7 menuju 8, cihuy! Instruksi dari dokter Susi via telpon sajah, karena udah gak keburu kalau ke RS dari Rawamangun. Alhamdulillah, wasyukurillah 21.40 Adek lahirrrr… Ah, lega bangettt. Adek lahir dengan berat 2900gr dan tinggi 48cm. Alhamdulillah..

Hanya karena kuasa Allah deh, kita berdua bisa selamat. Dari yang hanya berharap kamu dilahirkan dengan paru-paru matang, dilanjut harapan dilahirkan cukup bulan walau lewat operasi secar, meningkat jadi lahiran cukup bulan dengan proses spontan (normal). Terima kasih banyak Abeh, sudah mendampingi Bunda 100%. Allah yang akan balas segala kebaikan Abeh ya.. Jadi, 2015 ini kita ubah formasi yaaa.. Abeh, Bunda, Kakak Amaya, dan Adek Arsa. Semoga Allah mampukan Abeh dan Bunda menjaga amanah besar ini. Semoga Allah berkahi keluarga kita ya.. Semoga Allah mengumpulkan kita di dunia dan kelak di Surganya. Aamiin..

Hoya, karena sudah 6 bulaaaan, selamat makan Arsa! Selamat menjelajahi ribuan rasa! ๐Ÿ™‚

Ini Foto Arsa usia tepat 6 bulan, BB 9.3kg, Pj 70cm, Lika 44cmย pas makan pertama kali di Daycare. Makan apa Bun? Jambu merah ๐Ÿ˜€ย Terus sehat, tumbuh dan berkembang ya Arsa!

Arsa 6 bulan

Arsa 6 bulan

Cerita Kehamilan kedua

Seorang teman menyarankan saya untuk nge-blog, menulis apa yang bisa ditulis, lintasan-lintasan pikiran, harapan, kekhawatiran dan hal-hal lainnya. Tentu saja, harus ada filternya.. Sooo.. here we go, Bismillah, mari mulai ngeblog lagi ๐Ÿ˜‰ hoya, ini postingannya agak panjang, maaap yaa ๐Ÿ˜€


Pregnancy is truly teacher of patien. Yes, saya setuju sekali dengan kalimat super bijak itu. Seorang wanita diajarkan kembali untuk memaknai sebuah kesabaran saat dia mengandung. Dan, satu hal lagi yang juga saya setuju bahwa setiap sesi kehamilan pasti punya history yang berbeda, jangankan beda ibu, dari dalam satu rahimpun pasti punya cerita yang berbeda. Dan itu bukan untuk dibandingkan, tapi diambil pelajarannya. Untuk kemudian bermuara pada rasa syukur dan sabar. Begitulah yang saat ini kami hadapi, saya terutama. Saat hamil pertama, hamil Amaya dulu, masyaallah.. kerikil-kerikil kecil yang kami hadapi masih tampak biasa, mual-mual di awal kehamilan hanya terjadi sebentar, makanpun sudah lancar sejak kandungan berusia 3bulan, saya setiap hari ngantor naik motor/metromini, pulang naik angkot dua kali ganti, dan berjalan ke arah kontrakan sekitar 10-15 menit. Tidak ada keluhan berarti, keputihan, pendarahan, flek, kontraksi atau yang lainnya, masyaallah.. Bahkan masih ingat betul saya, saat mau melahirkan pun saya dan suami masih berani naik motor padahal sedang gerimis. Lancaaar.. Alhamdulillah..

Lain Aya, lain (calon) adiknya Aya. Ada beberapa hal yang tidak saya alami saat hamil Aya dulu. Saya sharing satu-satu ya, semoga bisa jadi pelajaran untuk yang lainnya. ๐Ÿ™‚

1. Kekurangan Kalsium, Gigi Bermasalah.
Yes, saya positif kekurangan kalsium. Hal ini bisa disebabkan karena saya hamil sambil menyusui. Sampai akhirnya gigi geraham saya patah, patah yang tidak sempurna sehingga meninggalkan infeksi. Saya ke beberapa dokter Gigi, sampai akhirnya memutuskan untuk continue dengan dojter gigi di RSI Jakarta, dengan alasan rekam medis saya lengkap di satu RS ini saja. Dokter gigi bilang, kalau gigi geraham saya positif terinfeksi. Ini terjadi saat usia kandungan 15minggu, mulai saat itu saya rutin ke Dokter gigi untuk memantau kondisi Gigi. Saya tau, infeksi pada gigi bisa menyebabkan kontraksi, dan kontraksi sebelum waktunya tentu saja bukan hal yang baik kan? Penting untuk perempuan yang belum hamil atau sedang program hamil untuk membereskan masalah giginya terlebih dahulu. Apapun masalahnya, bereskan dengan tuntas, jangan ditunda, jangan dinanti-nanti. Merasa tidak bermasalah dengan giginya? Saya tetap menyarankan untuk tetap memeriksakan kondisi giginya, karena dokter gigi tentu lebih tau kondisi gigi kita yang tidak kasat mata, please be wise ya untuk urusan gigi ini. Karena saat hamil, tindakan yang bisa dilakukan dokter gigi sangat terbatas.

2. Apendisitis (Radang Usus Buntu)
Duluuu, saat seminggu setelah menikah saya pernah di-diagnosa terkena Apendisitis oleh seorang dokter Umum di salah satu klinik di Serang. Saat itu saya tidak terlalu mempercayainya, karena sekitar seminggu dari itu, perut saya sudah normal kembali. Namun, tiba-tiba saat Usia Kandungan di kehamilan ke-2 ini menginjak 20minggu, perut saya melilit hebat lagi. Saya sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter kandungan merujuk saya ke dokter bedah karena curiga terkena Apendisitis. Langsunglah saya cari tau tentang Apendisitis pada Ibu hamil, hasilnya bikin horor.. harus dilakukan operasi secepatnya agar tidak menganggu perkembangan janin, Subhanallah.. lemas saya setelah membacanya. Setelah tanya di milis sehat, saya disarankan untuk bertemu dengan Dokter Bedah di RSCM untuk penegakan diagnosa. Yap, saya pun sejak awal berniat ke RSCM karena pengalaman dengan dokter bedah di RSI saat menangani Suami, tidak klik dan susah diajak berkomunikasi. Cerita tentang dunia per-RSCM mungkin akan saya bahas kapan-kapan yaaa.. Akhirnya setelah mengantri 3 jam (saya pasien non-BPJS loh ya) saya akhirnya diperiksa oleh dokter PPDS dan Dokter Senior bedahnya. Dilakukan pemeriksaan klins dengan menyentuh dan menekan beberapa bagian perut dan periksa lewat dubur, lalu dilakukan interview selama lebih dari 30 menit, saya dinyatakan negatif Apendesitis, alhamdulillah.. Lagi-lagi pelajaran selanjutnya untuk yang sedang promil untuk memastikan kondisi usus dkk nya.

image

3. Ketuban Rembes (Ketuban Pecah Dini / KPD)
Masih ingat betul saya, saat proses melahirkan Aya dulu, ketuban pecah di bukaan-6. Pecah spontan, tanpa berbunyi, tau-tau air mengalir deras dan tak bisa dikontrol. Saya tidak menyium aromanya, yang tidak seperti air seni, tapi memang terasa hangat. Naaaah., saat 7 oktober 2014 lalu, saat bangun tidur saya merasa ada yang mengalir dari miss v, langsung saya cek ke kamar mandi, airnya bening, tidak berlendir, tidak kental, tidak beraroma seperti air seni. Saya langsung bilang ke suami, dan kami memutuskan untuk observasi dulu. Siangnya cairan masih keluar, sampai membasahi gamis bagian belakang. Saya meng-whatsapp Dokter Ian (dokter-nya milis sehat), beliau bilang kalau besok masih keluar cairannya, langsung ke UGD aja, takut Air Ketuban. And yes, besok pagi si cairan itu masih keluar. Pagi-pagi kami menitipkan Aya di rumah neneknya, saya dan suami langsung berangkat ke RSIJ, masuk UGD, dan akhirnya harus rawat inap. Saya langsung diminta berbaring dan meminimalisir gerakan, ambil urin dan darah. Cek jatung janin & tensi. Malamnya dokter kandungan saya baru datang, beliau mengecek vagina dengan kertas lakmus, dan katanya memang ketuban. Lemes lah saya. Dokternya bilang tetap optimis untuk melanjutkan kehamilan, tapi juga realistis mengingat usia kandungan baru 27weeks. Dari pengalaman dokternya bilang, ketuban rembes di Usia kandungan 20-an itu biasanya berakhir dengan keguguran/kematian, atau kelahiran prematur. Continue reading

Nursing While Pregnant

Saya baru mengetahui istilah Nursing While Pregnant atau biasa disebut NWP tentu saja setelah menikah dan (alhamdulillah langsung) hamil saat tahun lalu. Sekedar tau, dan melewati begitu saja saat ada bahasannya di milist sehat. Kurang penting kali ya waktu itu mikirnya, hehe. Sekedar tau itu yang menyebabkan pikiran saya menganggap enteng tentang NWP ini, apa susahnya sih? Mirip-mirip saat saya belum punya anak, dan di medsos mulai heboh tentang dunia menyusui. Waktu itu mikirnya, apa susahnya menyusui sih? Heboooh banget itu emak-emak di medsos. *plis jangan digetok*

Mungkin Allah ingin saya learning by doing kali ya, eh Qadarullah ini.. perjalanan rumah tangga kami berjalan sangat cepat, whuss whuss.. setelah melahirkan Aya di September 2013, di bulan April 2014 saya positif hamil. Alhamdulillah.. harus bersyukur kan? Harus dooong ๐Ÿ™‚ *senyum dulu sama diri sendiri* Range waktu dari September-April bukan masa-masa yang mudah kami lewati. Menjadi orang tua fresh gini, walau segala ilmu sebatas teori bertebaran di mana-mana, teteup yaa.. punya anak itu rasanya.. Masyaallah ๐Ÿ™‚ dimulai dari saat-saat menyenangkan menjelang persalinan, masa-masa PD bengkak sampai bikin demam dan harus di pijat kompres, setiap pijatan menghasilakn tetesan air mata.. jangan tanya perihnya :’), ASI lancar, selesai? oh tentu belum.. ternyata Pumping dengan tangan tak semudah yang diliat, lanjut dengan pemberian ASIP dengan dengan media sendok dan drama Amaya yang selalu mau ASIP FRESH.. Masyaallah indah banget kalau diinget dan ditulis gini ๐Ÿ˜€ *berasa gampang*

Jadi, positif hamil (lagi) nih? Iya ๐Ÿ™‚

Awalnya sempet nangis sambil peluk-peluk Aya yang waktu itu lagi kena Common Cold, atau baru mikir alesan gak mau KB karena takut itu kok konyol banget. Belum lagi pikiran, siapa yang bantu momong adiknya Aya, atau karena sampai sekarang masih tinggal di kontrakan 1 pintu ini, nanti gimana punya anak dua? Tapi eh, Allah kan memberikan sesuatu sesuai dengan kadar kualitas Hamba nya ya? sesuai dengan berapa berat pundak si makhluk kan? lagipula, Allah pun janji berkali-kali kok kalau suatu perkara itu diturunkan sepaket, masalah dan solusi, kesusahan dan kemudahan. Aih.. Allah itu Maha Sempurna. Jadi ini program gagal KB Kalender gitu? Atau unplanned pregnancy? Ya enggak doong, Allah mana pernah bikin rencana yang salah ya sayaang ๐Ÿ™‚ *kasih senyum lagi*

Bagaimana rasanya NWP?

Oke, kita mulai beberapa fakta yang saya alami sendiri ya, mungkin beberapa mama-NWP berbeda pengalaman.

1. Hasil pumping

Bertambah? Tetap? Berkurang? yang ketiga jawabannya. Saya menyadari kalau-sepertinya- saya hamil dari sini, kok semakin hari semakin berkurang hasil pumping oleh-oleh dari kantor ya? selama Amaya 2-6 bulan, hasil perah saya cenderung stabil, 3-4x pumping sekitar 600-650ml/hari. Namun, sekitar awal April terus menurun. Saat baru test-pack, dan positif akhirnya saya memilih konsultasi dengan dokter Ian, cerita lengkap ada disini. Daaaan, drama penurunan kuantitas perah semakin menjadi. Dari mulai 200ml/sesi, 150ml/sesi, 100ml/sesi…..sampai tanggal 1 September kemarin hasil pumping saya seharian adalah : 10ml ๐Ÿ™‚ Sedih? Pastinya.. Tapi Allah punya rencana lain. Setelah sebelum-sebelumnya saya beberapa kali mendonorkan ASIP saya ke seorang Sahabat di Serang karena Amaya kan gak mau minum ASIP kalau gak Fresh alias baru, eh Qadarullah setelah saya positif hamil, dan hasil pumping terus defisit, Amaya akhirnya mau minum stok ASIP saat mulai MPASI. Allahuakbar! Allah mudahkan kami.. Aya full ASI sampai usia 1 tahun di 6 September 2014 kemarin. Menangis saya dibuatnya. Sejak hamil, setiap malam saat Aya menyusu langsung, saya usap kepalanya, saya bisikkan pelan-pelan: “Aya.. Aya.. berdoa bareng-bareng ya, semoga Allah memberikan rizki berupa ASI buat Aya paling enggak sampai 1 tahun..” every night :’). Jadiii ibu-ibu, kalau merencanakan NWP, salah satu tipsnya : Kumpulkan Stok ASIP sebanyaaaak-banyaknya ya, biar lebih tenang ๐Ÿ™‚

lastasip

2. Sensitivitas

Apanya yang sensi? Banyaaak.. kata Dokter Ian, hormon menyusui dan hormon kehamilan banyak yang bekerja berkebalikan. Jadi kebayang kan, yang satu ke utara, yang satu ke selatan.. dan ini ngaruh banget sama kondisi psikologis ibu yang menyusui sekaligus hamil. Apalagi awal-awal, rasanya semua salah, rasanya semua hal berantakan, rasanyaaaa.. tapi semakin kesini, semakin bisa mengontrol si-rasa-rasa itu lah ya ๐Ÿ™‚ Hoya, selain perasaan yang bertambah sensitif, sepasang nipple yang ibu-berNWP miliki juga semakin sensitif. Jadi, beberapa kali saat sesi menyusui Aya saya sambil menutup mata, dan jika tidak tahan akhirnya nangis juga..tanpa suara. Karena, yes.. menyusui saat hamil itu kalau tidak boleh dibilang sakit, yaa kurang nyaman kali ya. Apalagi di Usia Aya 8bulan, giginya (alhamdulillah) sudah 6. Kebayang kan, kalau Aya (gak sengaja) gigit-gigit nipple itu? Begitu juga sesi pumping di kantor, rasanya tidak seperti normal. Sedikit nyeri-nyeri setiap tarikannya >.<

3. Asupan Kalsium

Berdasarkan diskusi dengan Dokter Ian, saya disarankan untuk mengkonsumsi skimmed milk karena kadar kalsium yang tinggi tapi low fat. Kenapa mesti? Karena ibu yang NWP itu butuh double triple asupan kalsium. Untuk si janin, si kakak, dan ibu itu sendiri. Kekurangan kalsium banyak negatifnya. Sayangnya saya sudah berusaha minum susu skim itu, tapi tubuh menolak, dikeluarin lagi. Sampai akhirnya, pas usia kandungan 3 bulan, saat menggosok gigi.. gigi saya patah *doh*, jadiii ibu-ibu yang niat NWP.. asupan kalsiumnya diperhatikan baik-baik yaaa ๐Ÿ˜‰

4. Dokter Pro-NWP

Awal-awal hamil, saya sering kali browsing mencari dokter kandungan yang pro-NWP, karena banyaaak sekali yang kontra. Gugling deh. Alhamdulillah, so far cek ke Dokter Helmina di RSI Cempaka Putih (icip-icip ganti dokter kandungan, eh ternyata cocok) beliau pro-NWP, tentu aja dengan beberapa ceklis yang harus dipenuhi yaaa :

a. Saat menyusui tidak terjadi kontraksi, atau perut tegang, kalau iya hentikan menyusui dulu. Yes, menyusui merangsang hormon oksitosin yang bekerja.. dan bisa menimbulkan kontraksi.

b. Tidak ada riwayat keguguran, pendarahan, atau bayi lahir prematur pada kehamilan sebelumnya.

c. Perkembangan janin normal, bertambah panjang dan beratnya.

5. Another story

Untuk kebutuhan nutrisi urutan prioritasnya seperti ini : Janin – Kakak – Ibu. Jadi, jangan takut si janin tidak terpenuhi nutrisnya karena diambil si kakak yang sudah MPASI ya :). Ibu NWP (mestinya) makan lebih bergizi dan (biasanya) bertambah porsi makannya. Tapi beda dengan saya, di awal-awal hamil susaaah banget rasanya mau makan, walhasil berat badan terus berkurang, dan ini sudah 24 weeks tapi berat badan saya masih minus 1kilo dari sebelum hamil ๐Ÿ˜ฆ Btw, saya tidak mempublish tentang kehamilan ini ke banyak teman dan keluarga. Bahkan ibu mertua saya baru tau saya hamil bulan lalu, ini demi menghindari asupan negatif yang banyak beredar untuk stop menyusui Aya kalau hamil, Alhamdulillah sampai sekarang Aya masih semangat nenen ๐Ÿ™‚ . Saya males denger yang seperti itu.. makanya diem-diem dulu, lah ini BB belum naik.. gak akan ada yg nyangka saya hamil, di metrominiย  juga gak ditawari duduk kok :p

6. Tandem nursing?

Yes or not? Wallahualam.. lagi-lagi nantinya saya manut sama rencana Allah. Kalau ditanya keinginan, saya super ingiiiin sekali bisa menyelesaikan misi menyusui Aya sampai minimal 2 tahun. Tapi.. gimana nantinya, gimana caranya, gimana kondisinya biar kita liat kemudahan-kemudahan yang Allah berikan ya, insyaallah ๐Ÿ™‚

lagi-lagiii mesti percaya janji-janji Allah :’)

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS : al-โ€˜Ankabuut ayat 60)

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS ath-Thalaaq ayat 2-3)

Banyak doa yang terucap sejauh ini, banyak pinta atas kelemahan diri ini, banyak harap untuk banyak hal, semoga doa-doa kami terus menembus langit ๐Ÿ™‚

amaya

Catatan Dokter Fahrian Sakinah

Saya mengenal Dokter Fahrian Sakinah (perempuan), biasa disapa dengan Dokter Ian, dari Mbak Dian di salah satu Group Whatsapp yang saya ikuti. Sebut saja Bulil Ladies. Layaknya wadah sharing para wanita, isinya seputar dunia keluarga sehari-hari. Nyaris gak pernah ada habis topik perbincangan kami. Dari mulai Hamil yang isinya ngidam, rekomendasi dokter kandungan yang oke, sembelit saat hamil, mual, sensi sama suami, sensi sama mertua, belanjaan buat bayi, vaksin, dll. Anaknya lahir, bahas lagi, tentang ASI, ASIP, pengasuh, working mom, stay at home-mom, MPASI, dokter anak, jenis-jenis KB, manajemen waktu dengan anak dan suami, dll. Anak udah toddler lain lagi bahasannya, sibligs rival, GTM, manajemen emosi, belanja baju kiddos dimana, sampee diskon diapers. Atau lainnya, kaya resep masakan, saling sharing online shop langganan, sikit-sikit bahas tentang landasan agama. Nah, back to topic, Mba Dian ‘Bulil Ladies’ lah yang mengenalkan saya dengan nama Dokter Fahrian Sakinah.

Mbak Dian biasa imunisasi Mily & Farel di Dokter Ian. Biasanya Ibu-Ibu Muda banyak yang memlih dokter dengan beberapa pertimbangan ya, salah satunya dokter yang mau mengedukasi pasiennya. Bukan sekedar datang, suntik/tetes, pulang sambil dipesenin dua bulan lagi balik ya, buat vaksin lanjutan. Gak, gak kayak gitu yang oke. Saya biasa membawa Amaya ke Markas Sehat di kawasan Mampang, alasannya merasa cocok dengan dokter-dokter disana. Setiap mau vaksin, semua di cek : mata, kulit, mulut, telinga, nafas, refleks, dan di stimulus beberapa kegiatan. Diterangin juga via chart-nya WHO, Amaya ada di range apa, normalnya seperti apa, anjuran bulan kedepannya seperti apa, MPASInya kayak gimana, semuaaa di bahas di Markas Sehat. Minusnya, lokasi Markas Sehat dari rumah kami di Saharjo lumayan jauh, macetnya itu looh.. dan biaya yang dikeluarkan di sana memang agak lebih mahal ketimbang di tempat lain ๐Ÿ™‚

Sampai akhirnya, iseng plus penasaran-lah sama Dokter Ian ini, tanya Mbak Dian eh biaya konsulnya 75ribu sajah, yasudah berangkatlah saya di jam istirahat kantor ke rumah Dokter Ian sekalian mau ada yang dikonsultasikan :). Rumah Dokter Ian mudah ditemukan, ada di Jalan Murtadho, daerah Pramuka, kalau dari arah senen, belok kiri di prempatan lampu merah matraman, gang-nya ada setelah pom-bensin, deket dengan fly over matraman. Dari Gang murtadho itu jalan lurus aja sampai mentok, lalu belok kanan. Nanti ada plank Dokter Fahrian di sebelah kanan. Kami (saya dan Mba Ary) janjian jam 13.00, tapi memang kami datang lebih awal, 12.30, akhirnya menunggu beberapa menit barulah kami dipersilahkan masuk ke ruang praktek. Dokter Ian masih muda, lulusan FKUI 99, berjilbab rapih. ย Kondisi ruang prakteknya memang seperti ruang praktek buat bocah, ada banyak mainan, dan tempat tidur yang dilengkapi dengan tangga. Dimulailah obrolan kami. Awalnya saya konsultasi tentang ASIP yang selama dua pekan ini berkurang kuantitasnya. Eh tapi dokternya asik banget.. jadilah perbincangan melebar kemana-mana. Bahas segala macem hormon selama menyusui dan hamil, bahas KB spiral, bahas tentang susu skimmed, MPASI, KB Kalender, BPJS, kenapa vaksin varisela jadi langka, bahas SPOG yang oke, tentang keguguran pun kami bahas. Wuiiih gak berasa sampai 1,5jam ngobrolnya.ย  Continue reading

Amaya 6mo! #1 (Review : Minum ASIP dengan Sendok)

Alhamdulillah si cantik Amaya kemarin tepat berusia 6 bulan. Sedemikian rupa ya ternyata jadi new-mom itu, beruntungnya saya ada group ibu-ibu yang anggotanya lebih berpengalaman, kalau ada sesuatu biasanya saya tanya/share ke group, dan akan ada tanggepan dari para membernya, alhamdulillah, terima kasih telah membersamai langkah kami menuju asi ekslusif, Alhamdulillah. Awalnya ingin sekali bikin catatan Aya per-month, apa daya gak ada waktu saya sering males, hihi maafkan bunda ya Nak.. Mari kita review aja ya beberapa hal yang terjadi 6 bulan kemarin ๐Ÿ˜‰

Minum ASIP dengan Sendok

Sedikit berbeda dengan bayi-bayi yang lain, Aya minum ASIP dengan media sendok. Jadi awalnya, sudah tau lah ya kalau ternyata penggunaan dot itu lumayan banyak risikonya, dari mulai bingung puting, daya hisap bayi ke puting yang melemah, masalah pencernaan juga ada, akhirnya Bismillah dua pekan sebelum Bunda masuk kantor, Kami (saya, suami, Aya, 2 neneknya Aya) ke konselor laktasi di RS St. Carolus Jakarta Pusat. Disana diajarin untuk pijat laktasi biar aliran asinya lancaaar.. Suami juga diajarin mijat laktasi daerah punggung, sayangnya sampe Aya 6 bulan belum pernah tuh si Abeh mijet laktasi itu, hiksย  dijarin tentang manajemen ASIP, cara merah yang benar dengan teknik marmet, dan diajarin teknik memberikan ASIP ke Aya dengan sendok. Lalu setelah seminggu training di rumah, review lagi ke Carolus, diliat berat badan Aya naik normal, akhirnya bismillah lanjut pakai sendok aja. jadi total sekitar 11 hari kami harus bersabar dan terus berusaha untuk lancar pakai sendok ini, padahal kata konselornya lebih baik jauh-jauh hari trainingnya, bayi umur 2 minggu udah bisa diajarin kok. Di luar sana banyaaak banget yang gak berhasil dengan sendok ini, berikut saya kasih beberapa point ya dalam pemberian ASIP dengan sendok, semoga bisa membantu ๐Ÿ™‚

1. Pastikan yang memberikan ASIP dengan sendok adalah yang sudah nempel dengan bayi, bukan orang asing yang baru kenal kemaren lalu, big no no. Kemaren Aya dan nenek jakartanya baru pertama kali ketemu, jangankan disuapin ASIP, digendong, dimandiin aja masih nangis heboh. Solusinya, saya mengalah untuk pegang Aya, saya percayakan sama ibu mertua, dari mulai mandi, pakai baju, jalan-jalan, gendong-gendong, diajak main, diajak nyayi-nyanyi.. Biarkan Aya merasa nyaman dengan neneknya. Barulah, saat sudah nempel, kenal, nyaman, training pakai sendok bisa dimulai. Karena ini bukan sekedar kegiatan mengenyangkan perut, tapi aliran kasih sayang juga ๐Ÿ™‚

2. Pemberian ASIP jangan saat si bayi lapar banget ya, udah bisa dipastikan si anak akan lebih rewel, gak sabaran, nangis. Nah coba perhatikan jadwal menyusunya. Tawari ASIP sebelum jadwal menyusu, misal jadwal menyusu jam 10 pagi, jam 9.30 tawari ASIP dengan sendok.

3. Pastikan suhu ASIP hampir sama dengan suhu ASI saat menyusu langsung, sekitar 37-40 dercel, untuk hal ini saya pakai warmer. Atau bisa juga pakai ASIP fresh ya, jadi perah-langsung-kasih.

4. Kalau Aya, pas menggunakan sendok biasanya ngamuk pas jeda saat sendok sudah kosong dan ibumertua mengambil dari gelas, jadi saya siasati dengan menggunakan sendok botol boon squirt (harga 85K beli di Ocha Ambassador), jadi saat ASIP di sendok sudah kosong, tinggal pencet/tekan botolnya, maka mengalirlah itu ASIP nya.

5. Amati kesenangan si bayi, kalau Aya sama sekali gak bisa minum ASIP sambil didudukin sesuai SOP dari konselor, jadilah kami siasati dengan ibu mertuaku gendong Aya pakai jarik, sambil dinyanyiin atau ajak ngobrol.

6. Yang terakhir, dan yang paling penting menurut saya : Jangan sesekali si Ibu ada di TKP saat kegiatan pemberian ASIP itu, percayakan sama ibu mertua dan anakmu. Semakin percaya, semakin yakin kalau kalian bisa melaluinya, maka semakin mudahlah proses itu. Jujur nih, sempet hopeless banget kemaren itu, tiap hari saya nangis aja, kenapa kok Aya belum bisa-bisa juga, kenapa kok Aya masih belum nempel dengan Ibumertua. Tapi akhirnya ngobrol sama Mba Ade dari Milis Sehat, disuruh rileks..disuruh pergi nyalon, jalan-jalan bada lahiran.. disuruh percaya total dengan ibumertua dan Aya, dan yaaa alhamdulillah semakin lancar ๐Ÿ™‚

Kayaknya segitu aja, kalau sekarang Aya sudah pinter sekaliiii.. bahkan sudah bisa kasih kode dalam kegiatan minum asip ini. Kalau dia masih dalam proses mencerna ASIP, kaki kanannya akan mengangkat sedikit, artinya : jangan disuapin dulu, aku masih mencerna asip yang dimulut ini. Nah, kalau udah abis yang dimulut, nanti Aya akan mengeluarkan sedikit lidahnya, hihi lucunya anakkuuuuuu ๐Ÿ˜€

Insyaallah lanjut lagi part #2 nya yaaah, ini bonus foto Aya dulu deh ๐Ÿ˜‰

IMG-20140221-WA0006ย IMG-20140221-WA0007