Atopic Skin, Psikosomatis, dan Redwin Sorbolene Moisturiser

nurse-joyce
Sebenarnya sudah lamaaa banget ingin nulis tentang ‘penyakit’ nya Amaya, tapi masih maju mundur. Kadang baru satu paragraf akhirnya dihapus lagi. Merasa belum siap mental si Bunda, hehehe. Kali ini mudah-mudahan selesai yaaa.. ini ditulis dengan harapan bisa jadi pelajaran buat semua orang tua.
Jadi, ada apa dengan Amaya? Mari kita flashback ke 2 tahun yang lalu. Oktober 2014 saat saya hamil Arsa 6 bulan, Amaya saat itu masih 13 bulan, tiba-tiba ketuban saya rembes. To make it short, saya harus di rawat di Rumah Sakit dan bedrest total selama 3 bulan sampai lahiran. Amaya yang tadinya full ASI harus mendadak disapih, dan pisah dengan Bundanya. Amaya tinggal dengan Neneknya (masih di Jakarta). Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu. Takut, kecewa, sedih, bahkan marah semua campur jadi satu. Hal ini berat buat semua pasti, terutama buat Saya dan Amaya. Bagaimana dia menjadi uring-uringan, dan super rewel. Pernah suatu malam, saat saya sudah pulang dari RS (tapi tetap bedrest di rumah), tengah malamnya Amaya bangun, nangis heboh. Kami perhatikan kulitnya mucul merah-merah, ukur suhu badan tetap normal. Waktu itu kami pikir udara panas, akhirnya sama Pak Suami dibawa ke luar rumah (jam 12 lewat) biar adem. Eh, ternyata di luar ramai orang-orang, tetangga sebelah ada yang meninggal. Jadilah waktu itu Amaya disangka ‘kerasukan’ oleh tetangga karena nangisnya gak diam-diam, ya ampun… Beberapa malam setelahnya, Amaya masih nangis dan garuk seluruh badannya tanpa bisa di tenangkan. Sampai 3 bulan, hampir selalu seperti itu setiap malam. Sedih banget kan ya 😥
Sampai akhirnya saya melahirkan, kami mengungsi ke rumah orang tua saya di Serang. Saya selalu deg-deg-an setiap menjelang maghrib, takut banget Amaya akan ngamuk, nangis, gak bisa saya tenangkan. Bahkan saya sentuh saja dia langsung marah-marah. Setiap malam dia di kelon kalau gak sama Pak Suami, sama Neneknya. Gak pernah mau sama saya. Badannnya kami perhatikan merah-merah dan kadang sampai beruntusan. Ibu saya terus-terusan menyuruh membawanya ke dokter kulit, tapi dengan kondisi saya masih pegang bayi yang masih merah gini, saya gak berani kemana-mana dulu. Daaaan, tanpa sepengetahuan saya Amaya di bawa ke RSU Serang oleh Neneknya. Katanya dibawa ke Dokter Kulit paling terkenal di Serang, entah siapa namanya.
Kata dokternya, Amaya kena Eksim nih cha
begitu kira-kira kata Ibu saya, ampuuun.. saya yang sudah lama gabung dengan komunitas Milis Sehat gak bisa begitu saja percaya dengan diagnosa itu. Tapi susah ya kalau lawan bicaranya Nenek. Dibawalah itu obat macem-macem : salep racikan, obat puyer racikan, dan AB. Maaaak gak jelas semua obatnya. Tapi posisi saya susah banget untuk bisa diskusi dengan Ibu. Obat diminum sampai habis, dan Amaya tetap gatal, tetap muncul bruntusannya, masih sama seperti sebelumnya. Sedih? Pasti.

2 bulan di Serang, kami balik lagi ke Jakarta untuk beberapa minggu, dan akhirnya pindah ke Tangerang. Amaya bagaimana? Masih sama.. setiap menjelang gelap, mulai gelisah.. uring-uringan, gatel, dan nangis gak jelas. Kami akhirnya membawa ke Dokter Kulit di salah satu RS Swasta di perbatasan Tangerang dan Jakarta. Disitu Amaya dibilang alergi, dikasih pantangan makanan banyaaak banget : susu sapi, kacang, udang, cumi, dll saya gak inget deh. Diminta juga untuk tes alergi dengan masuk seluruh badan ke dalam alat tesnya yang kayak tabung gitu, tapi Amaya menolak. Entah itu alat apaan deh, saya gak ngerti. Diminta bulan depan datang lagi, dan mengganti susu sapi dengan susu kedelai. Dan tetap ya di resepin macam-macam racikan yang saya gak bisa tau kandunganya apa. Berhasil kah? Enggaaak.. Amaya tetap beruntusan dan ngamuk-ngamuk 5 dari 7 hari deh. Saya masih penasaran apa yang terjadi dengan anak saya, sampai akhirnya kedua Neneknya berfikiran Amaya kena gangguan Jin. Heuu apa lagi ini..
Dibawalah si Gadis ke Ustadz yang luamyan terkenal di Serang, saya ikut waktu itu. Ustadznya bilang :
Gak kok.. bersih ini, gada yang ganggu. Itu yang bikin gatel-gatel tiap malam penyakit biasa dari darahnya itu (?) , orang tuanya harus sabar aja, paling lama sampai dia sekolah lah.
Tuh kan, gada apa-apa. Kalau urusan sabar mah, semua orang tua emang harus sabar ya dengan anaknya, hehe. Gak hanya sampai disitu, Mertua saya di Jakarta kembali membawa Amaya ke kerabat yang katanya ngerti hal-hal gaib, kata orangnya Amaya emang digangguin, di suruh baca alfatihah sebelum tidur, terus bacaan yang lain. Laaah ini mah emang rutin kali kalau mau tidur. Saya gak percaya sama orang itu, karena dia aja sering kerasukan..heu..
Balik lagi ke kondisi Amaya. Makin parah.. kulitnya jadi bersisik, dan beruntusan hebat. Kadang digaruk sampai berdarah, sereeem banget pokoknya. Kami memutuskan untuk ke salah satu dokter anak di Jakarta, akhirnya dapat diagnosa : dermatitis atopic. Banyak baca, dan dihindari segala macam penyebabnya. Kami berikan juga cream pelembab kulit. Beruntusan berkurang, tapi tetap ada dan tetap menangis saat malam. Perjalanan mencari tau ada apa dengan Amaya sudah 11 bulan, tapi masih belum ketemu titik cerahnya. Di usia Amaya yang ke-2 tahun kami memutuskan untuk ke RSCM.
Dimulai dengan konsultasi dengan dokter spesialis anak, hampir satu jam kami di dalam ruang dokter. Dilakukan anamnesis dari doter ke orang tua, tentang riwayat dan obat-obat apa saja yang sudah diberikan. Dokter tersebut gak bisa mengambil keputusan dan akhirnya merujuk kami ke Dokter spesialis Anak, subspesialis Alergi dan Imunologi. Barang baru banget buat kami. Beberapa hari setelahnya baru kami bisa konsul dengan dokter Imunologi itu. Ditanya macem-macem banyaaak banget, sampai pada kesimpulan : kita cek alergi dulu ya Bu, gimana? Diberikan lah list tersangkanya, dari mulai makanan sampai ke tungau. Lebih dari 30 macam alergan akan di tes, banyak banget. Akan dilakukan skin prick test. Untuk yang belum kenal skin prick test, itu adalah uji alergi dengan menusukan jarum ke lengan si anak. Jika ada tanda yang muncul, bisa jadi anak kita memang alergi dengan alergran tersebut. Tapi lebih dari 30 tusukan? Masyaallah.. saya aja gak sanggup rasanya. Tes ini dipilih karena ekonomis dan lebih valid dari tes yang lainnya, tapi,
at the end saya tanya ke Profesornya : Dokter, kalau anak dokter yang mengalami hal ini, apa dokter mau melakukan tes ini? Hening beberapa saat sampai akhirnya dokter tersebut menjawab : Tidak. Nyessss banget dengernya.
Kami dirujuk lagi ke Poliklinik Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit yang sama, RSCM. Bikin janji dengan Dokter disana, dapat di pekan depannya.
Pertama kami diminta untuk bertemu dengan Dokter spesialis Kulit (dermatologi umum), dilakukan anamnesis, dan again, dirujuk ke Dokter Spesialis Kulit dan kelamin, subspesialis dermatologi pediatrik. Nahloh, apalagi itu.. Disini asik banget deh, karena memang khusus anak-anak. Jadi perlakuannya beda, bahkan sempat dikasih mainan dan camilan oleh dokternya. Tapi yang bikin serem, kandungan dari si bruntusannya Amaya harus di cek lab untuk uji kandungannya apa. Bruntusannya harus di tusuk jarum, dan diambil isinya. Heuuu serem deh untuk anak usia 2 tahun. Setelah tau isinya apa, (maaaap saya lupa, intinya tidak berbahaya) kami diresepkan antihistamin jika memang sudah rewel gak bisa tidur, dan pelembab. Mereknya bebas kata dokternya, tapi beliau menyebutkan beberapa referensi merek pelembab. Amaya di diagnosa Atopic skin. Diinfomasikan tata laksana di rumah seperti tidak boleh mandi air hangat, setelah mandi harus memakai pelembab, membersihkan tempat tidur dengan vacuum khusus yang bisa membunuh tungau, membersihkan rumah dari debu-debu, memakai pakaian tidur yang tertutup, karena Dokternya yakin ini bukan dari makanan jadi Amaya bebas makan dan minum apa aja, horeeee! Diminta datang lagi 2 minggu kemudian untuk melihat kondisinya. Sebenernya di awal mulai mencari tau kenapa dengan Amaya ini kan sudah didiagnosa “atopic skin aka dermatitis atopic” ya.. tapi akar masalahnya justru yang belum ketemu.
Alhamdulillah dari situ sudah mulai tampak kemajuan, walau tetap ada drama nangis-nangis dimalam hari, tapi lebih berkurang. 2 minggu setelah itu, kami datang lagi ke Dokter Dermatologi Pediatrik itu. Ditanya-tanya bagaimana progressnya. Dan agak kaget saat dokternya bilang gini :
“Hm.. sudah berkurang tapi masih tetap rewel ya kalau malam hari. Ini saya yakin anak ibu dermatitis atopic sih, tapi penyebabnya selain kulit kering juga kayaknya stres deh, Ibu bisa konsul ke Psikolog untuk lebih jauh soal stress ini. Jadi kalau dia stress, gelisah, dia bakalan gatel-gatel nih kayaknya”
Jegeeeer.. saya kaget dong, si Amaya stress? Stress apa coba? Emang anak kecil bisa stress ya? Pulang dari situ kami banyak banget pertanyaan di kepala kami berdua. Antihistamin masih diberikan jika kami sudah tidak mampu menenangkan Amaya, bahkan dia jadi kayak kecanduan : Bun, obat bun, aku mau minum obat. Sedih banget.. kami kayak ngasih obat tidur ke Amaya. Walau sudah jauh berkurang, tapi kadang Amaya suka minta gak pakai pelembab, nah kalau udah gini gatel lagi deh malamnya. Sudah gonta ganti merek pelembab tapi belum ada yang bertahan lama.
Dan akhirnya kami beneran ke Psikolog dong, beberapa kerabat dekat sampai kaget bilang : kayak gila aja ke Psikolog. Tapi kami merasa ini penting. Saya, suami, Amaya, Arsa, dan Nenek (yang kalau saya dan suami kerja beliau yang menemani Amaya di rumah) berangkat ke wilayah Cililitan untuk konsultasi dengan Psikolog. Psikolognya seorang laki-laki, berusia lebih dari 50tahun, yaaap sudah lumayan berumur ya. Kami dipersilahkan untuk duduk di kursi berhadapan dengan beliau di ruangan konsultasinya. Sebut saja namanya Pak Abu ya. Pak Abu melakukan ‘anamnesis’ ala seorang psikolog. Bertanya dari awaaaaal banget sampai apa yang terjadi hingga kami bisa datang kesini. Ajaibnya, Amaya bisa ngobrol santai loh dengan Pak Abu. Menjawab pertanyaan-pertanyaannya, layaknya sudah biasa ngobrol. Wew..
Dari hasil konsul dengan Pak Abu, ada beberapa hal baru lagi buat kami. Amaya mengalami Psikosomatis ternyata. Untuk yang belum pernah denger psikosomatis, mudahnya adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Disana kami dapat kenyataan kalau Amaya mengalami stress berat sejak usianya 13 bulan. Hiks.. Dia stress karena mendadak disapih, mendadak dipisahkan dengan Bundanya, mendadak hidupnya berubah. Ini menjawab kenapa sejak 13 bulann lewat itu dimulainya gatel + bruntusan + ngamuk gak jelas, bukan.. bukan karena kerasukan.. bukan juga karena alergi susu sapi atau alergi yang lainnya. Ini juga menjawab kenapa setiap masuk maghrib Amaya akan super gak jelas, karena rutinitas biasanya adalah maghrib ketemu Bunda. Heuuu, jangan tanya gimana perasaan saya saat itu. Ini juga menjawab kenapa dia gak mau tidur sama saya, bahkan gak mau menghabiskan waktu berdua yang lama dengan saya. Bawaannya selalu takut. Ternyatya karena dia trauma, saya akan meninggalkan dia lagi. Sedih banget ya. Pasti campur aduk rasanya. Karena stress itu di-mulai magrib, mulai juga ‘fase tenang’ anak untuk mulai beristirahat ditambah kondisi kulitnya yang atopic skin itu, komplit lah sudah untuk membuat amaya mejadi gatal gak ketulungan. Dia bisa nangis, garuk seluruh badan sampai berdarah, guling-guling bahkan menyakiti diri sendiri. 😦
Sepulang dari Pak Abu, kami diberikan PR : memeluk Amaya minimal 20 detik setiap harinya. Mengusap-usap kepalanya, menghubunginya saat kami di kantor tanpa bertanya macam-macam melainkan kami yang bercerita. Jadi saat telpon hindari banyak bertanya : sudah makan? sudah mandi? sudah bobo siang? dll.. ceritakan saja misal : tadi bunda naik kereta.. eh keretanya gangguan. Awalnya memang aneh, tapi lama-lama dia akan merespon. Dia tau kalau Bundanya pergi dari dia bukan buat bersenang-senang-tanpa dia. Satu lagi PRnya mempunyai waktu khusus berdua. Jadi Saya-Amaya, Saya-Arsa, Amaya-Pak Suami, Arsa-Pak Suami, waktu bertiga : Ortu-Amaya, Ortu-Arsa. Dalam satu minggu harus ada waktu khusus tersebut, gak perlu jauh dan lama. Ke Indomaret 20 menit juga cukup kok. PR memeluk yang awalnya saya pikir gampang, ternyata susah. Saya baru sadar kalau Amaya gak mau lama-lama kalau saya peluk : apaan sih Bun.. gitu katanya. Bukan, bukan dia benci saya, ternyata dia justru takut kehilangan saya 😦 Sampai akhirnya saya sampai pada waktu bisa memeluk dia lebih dari 20 detik dengan mudah, itu butuh waktu 2 bulanan.. alhamdulillah.. Untuk tidur bareng dia samping-sampingan dia belum mau, dia masih merasa saya itu sepenuhnya milik Arsa. Pernah saat Arsa dan Abehnya sudah tidur, saya bilang ke dia : Ayo kak, bobo sama Bunda.. Bun usap-usap ya. Dia ragu, melirik sekeliling yang sudah tidur, akhirnya bilang : kalau Aca bangun gimana Bun? Aku sama Abeh aja ya bobonya.. Bunda sama Aca aja.. 😦 #PRbesarbuatsaya
Mengkombinasikan tata laksana dokter kulit dan psikolog membuahkan hasil yang baguuus banget, Amaya kalau seharian happy sama ortunya, malamnya akan tenang tidurnya. Itu jadi indikator kami kalau dia tidurnya gelisah, berarti ada yang salah dengan kami. PR lanjutannya adalah soal pelembab. Sejak pindah ke Jakarta Amaya sudah mau mandi air dingin, tapi suka mogok pakai pelembab. Ada aja alasannya, lengket, atau apalah. Kami sudah gonta-ganti pelembab. Sampai akhirnya teman saya di kantor yang dulu S2 di Ausie menginfokan tentang Redwin Sorbolene Moisturiser. Katanya itu pelembab paling hits di Ausie. Dia cocok banget. Bisa buat Baby bahkan orang tua. Buat saya yang kerja kantoran dengan ruangan full AC juga cocok banget.. buat Amaya yang juga harus jaga kelembaban kulitnya juga bisa banget. Setelah banyak baca, si Sorbolene ini juga bebas paraben, zat yang berbahaya buat dikonsumsi kulit. Langsung penasaraaaan banget dan hari itu juga titip teman yang lagi sekolah di sana. Eh ndilalahnya ada juga ternyata di Indonesia, hehehe. Asiiiik.. di apotik-apotik Jakarta sini, mudah banget nyarinya.
at-waldorfs
Pertama kali coba, saya cium dulu aromanya : loh kok gak ada wanginya ya. Beda sama pelembab Amaya sebelumnya yang wangiii aroma jeruk. Redwin Sorbolene Moisturiser ini blassss gak ada wanginya. Nah baru ngeuh banget kalau emang skin care kan memang yang bagus tanpa pewangi, pewarna dan pengawet ya.. Jadi emang idelanya ya tanpa aroma. Dioles ke kulit juga cepat meresap. Cocok nih kalau lagi buru-buru ngoles buat Amaya dan Bundanya. Jatuh cinta sama si Redwin Sorbolene Moisturiser ini karena bisa bikin kulit sehat dan lembut *langsung bisa terasa deh bedanya sebelum dan setelah pakai. Seneng banget rasanya saat Amaya konsisten pakai pelembabnya, saya pun ngasih full perhatian ke dia, pastiii deh tidurnya nyenyak, tanpa tangisan, apalagi garukan pada beruntusan kecil-kecil di sekujur tubuhnya. Hoya, antihistamin si obat tidur juga sudah lama tidak diberikan, cihuuuy 🙂

Balik lagi ke Amaya, emang yaa rasa bersalah saya besar banget sama dia, waktu juga udah gak bisa di ulang kan.. Jadi ya, sejauh ini saya melakukan sebaik mungkin yang bisa saya lakukan untuk dia. Walau belum kembali normal 100% tapi saya optimis dan terus berdoa sama Allah biar Amaya percaya lagi sama Bundanya. Nyaman lagi sama Bundanya. Doain yaaa.. img_20160906_075751Hoya, dari yang saya dengar dari seorang Psikolog di daycare Arsa kemarin, ada kegiatan yang bisa jadi bonding ke anak. Misalnya mandi, ‘mendandani’nya, memakaikan baju. Happy banget saat kami saling mengoles pelembab dari satu tube 😀 . Sebisa mungkin saya cari cara agar bisa bersentuhan dengannya deh pokoknya 🙂

Fyuuuuh panjang banget kan ternyata curhat kali ini, semoga ada manfaatnya buat saya pribadi ya.. Aamiin 🙂
Advertisements

5 thoughts on “Atopic Skin, Psikosomatis, dan Redwin Sorbolene Moisturiser

  1. Ichaaaa peluuuk dulu sinih. Makasih sharingnya ya. Pengetahuan baru buatku nih. Ternyata anak kecil bisa stress juga ya, kasiiaaan. Semoga Amaya bisa semakin membaik ke depannya ya cha.

  2. Aku bacanya pelan-pelaaann….menarik dan menyentuh ceritanya, Cha. Terima kasih sudah berbagi, ya. Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi juga untuk keluarga lain, khususnya terkait menelusuri penyebab dan pantang menyerah mencari solusi yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s