Martabak dan Markisa

Semakin kesini, saya semakin sadar kalau ternyata saya tipikal perempuan yang melow. Dilihat dari playlist MPC saya ada satu lagu yang terus-terusan ada di satu bulan terakhir ini, judulnya Sampai Jadi Debu, punya Banda Neira. Ah, coba baca liriknya, daleeem banget. Tapi, mungkin buat orang non-melow mah biasa aja sih😀

Salah satu contoh lain tentang si Melow ini adalah dalam hal kenangan. Adakah yang sama dengan saya dalam hal mengasosiasikan sesuatu dengan seseorang yang ingin dikenang? Martabak kacang-cokelat dan Rasa-Markisa menjadi dua hal yang selalu mengingatkan saya kepada (alm) Papa. Papa sukaaaa banget Martabak kacang-cokelat, hampir setiap pekan kami membeli martabak itu di Royal (salah satu lokasi jajan warga Serang). Selain karena pedagangnya orang Padang (Papa orang Padang), juga karena martabaknya memang enak banget! Sampai si Abang Martabaknya kenal banget sama kami. Jadi, terbawalah saya dengan si Martabak. Perlahan tapi pasti, martabak jadi salah satu makanan favorit saya tanpa saya sadari. Setelah Papa meninggal 8 tahun yang lalu, saya selalu menyempatkan menikmati martabak setiap pekannya. Menikmati martabak bukan hanya sekedar : memasukan ke mulut – mengunyah perlahan – menelannya, gak.. bukan hanya itu. Setiap gigitan martabak membawa memori saya ke sosok Papa. Kenangan-kenangan manis tentangnya begitu saja muncul di 10 centi di depan wajah saya. Bagaimana kami naik angkot dari rumah ke Royal hanya untuk membeli seporsi Martabak, mengantri dan menikmati martabak bersama se-isi rumah. Setiap gigitannya, saya tidak hanya merasakan kombinasi antara tepung-mentega-cokelat-kacang-mentega, bukan.. bukan hanya itu. Tapi rasa sayang seorang Ayah ke anak perempuan satu-satunya ini. Sesederhana potongan martabak. Manis yang tidak berlebihan.

Saya menyimpan rapat-rapat filosofi  menikmat martabak ini sendirian sejak Papa meninggal, hingga akhirnya saya menceritakan ke suami sambil ngambek nangis. Jadi saat awal-awal menikah, kondisi kami masih pelan-pelan saling menyesuaikan. Termasuk soal keuangan. Pernah suatu hari di akhir bulan, saya benar-benar ingin makan martabak. Bertepatan dengan jadwal kami ke rumah mertua. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli satu porsi martabak (martabak nya mahal soalnya, hahaha). Saat di warung Martabak saya langsung memesan martabak manis cokelat-kacang. Tapi langsung dipotong oleh suami yang mengcanlce pesanan saya, dan menggantinya dengan Martabak telor yang saya sama sekali gak suka! Saya bengong dong.. dia tau saya sukanya martabak manis, bukan telor. Dan jawabannya masih saya ingat sampai sekarang : Ibu (mertua) gak suka martabak manis, sukanya martabak telor. Oh, oke.. fine. Sedangkan untuk membeli satu porsi martabak manis lagi tampak tidak memungkinkan. Sepanjang jalan saya hanya diam, dimotor pun saya berpegangan dengan jok belakang saja. Di rumah mertua saya pun enggan menyentuh martabak telor-yang-saya-gak-suka itu. Saya merasa momen-mengenang-Papa menjadi tertunda, dan itu bikin saya sensi banget (selain bawaan hamil sih). Sepulang dari rumah mertua, saya masih ngambek dan akhirnya sampai nangis, menceritakan betapa saya menginginkan martabak manis itu. Hahaha, called me Lebay!😀

Selain martabak, Papa juga suka markisa. Buah yang jarang banget kan.. Nah, untuk mengganti sensasi Markisa, biasanya saya membeli softdrink rasa Markisa. Beberapa orang menegur saya karena kok ya sering banget minum softdrink gitu, saya hanya tersenyum sambil bilang : gak sering kok, sesekali aja. Lebih dari itu, saya hanya ingin mengenang Papa dalam tegukan rasa Markisa ini kok. Saya hanya ingin (kembali) merasakan bagaimana terobatinya dahaga saya akan kasih sayang seorang Ayah. Semanis rasa markisa. Manis yang tidak berlebihan.🙂

3 thoughts on “Martabak dan Markisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s