Critical Eleven

Saya sudah lupa kapan terakhir membaca satu buku tuntas sebelum 24 jam berlalu dimulai dari tangan kanan ini menyentuh covernya sejak memiliki anak, well oke revisi, sejak menikah deh, dan itu almost 4 tahun yang lalu! dan yaaaay, rekor ini terpecahkan malam tadi. Satu buku saya tamatkan sebelum hari berganti, alhamdulillah.. rasanya lega banget. Iya sebahagia itu saya kalau bisa menyelesaikan satu buku tuntas tanpa dipending untuk besok, lusa, atau pekan depan. Jam 23 lewat dikit saya tutup buku pinjaman dari perpustakaan kantor (sebrang) dengan wajah sumringah yang tak bisa didefinisikan, hahaha. Sampai Pak Suami berkomentar : Lebay deh Bun..

 

Jadi buku apa yang membuat saya kekeuh untuk membacanya tuntas hingga akhir halamannya? Well, mungkin ini terasa basi ya buat bookaholic di luar sana.. karena ini buku tahun 2015! Kemana aja saya baru baca buku ini? Ada, ada kok.. cuman 4 tahun ini bergeser titik berdiri di Gramedia dari rak-rak novel ke arah rak-rak buku parenting, kesehatan, kehamilan, hahaha. Buku yang tuntas saya baca inipun bukan punya sendiri (tapi mungkin nanti saya akan pikirkan untuk membelinya), judulnya Critical Eleven, penulisnya Ika Natassa. Sound familiar eh? Iyalaaaah.. IKa Natassa kan femes! Banget! dan Emak dua anak ini baru aja baca SATU bukunya, hahaha poor me.

 

20150818c8b76e15-566e-4380-b83c-b1326322305b

No, tenang aja.. Saya gak akan bikin review bukunya, gak pinter saya me-reviewreview gitu. Tapi emang bukunya bagus banget. Walau plot waktunya itu maju, mundur, cantik. Malah di satu part ceritanya di campur kadang ini tentang masa lalu dan lansung cerita masa sekarang, tapiiii itu sama sekali gak bikin saya bingung. Padahal biasanya saya selalu pusing dan ‘gak-dong‘ gitu lah kalau baca/nonton yang maju mundur gitu. Contoh beberapa waktu yang lalu saya nonton film Korea Miracle in cell no 7 yang kata temen-temen disini itu sediiiiih banget, hati kamu batu cha kalau kamu gak nangis nonton ini. Dan di akhir film saya malah bergumam “kan happy ending, dia menang kan dipersidangan?” Whahaha kaco kan sayaaa.. Selain maju mundur, cerita ini juga diambil dari 2 sudut pandang, Anya dan Ale tapi tetap manis ritmenya. So, 6 Jempol (pinjam jempol Amaya Arsa) deh buat buku Critical Eleven ini. Saya hanya bisa terkagum-kagum sama isi bukunya, bagaimana Ika Natassa mengembangkan masalah –suami yang salah ngomong ke istrinya dan istrinya marah– itu menjadi ratusan lembar, dan buku itu hanya berjangka waktu 30 hari-cerita sebenarnya. Cool.. Saya suka banget cara Ika Natassa mengaduk-aduk perasaan pembaca (saya) dalam lembaran-lembaran bukunya. Jujur, saya jadi baper banget karena ini tentang seorang istri, tentang anak, dan tentang suami, yang semuanya ada di hari-hari saya.

 

“Jadi bukunya bagus banget bun? Itu dalam bahasa inggris kan?”
“bahasa Indonesia kok, tapi ya campur-campur Inggris gitu lah.. Bagus banget! Tapi ada yang miss deh di buku ini?”
“Apa?”
“Asi, sol ASI beh, disini gak dibahas”
“Kok ASI? Kenapa?”
“Iya, jadi di buku ini ceritanya tentang Istri yang harus melahirkan (persalinan normal per vaginam), walau bayi nya itu sudah meninggal. Nah, setelah dilahirkan itu kan si Ibu tetap memproduksi ASI loh, karena sunatullah itu setelah melahirkan hormonnya berganti jadi yang untuk menghasilkan ASI. Dan itu berat banget pasti.. ASI keluar, tapi bayi meninggal, pasti desperate banget kan.. Kalau gak dikeluarin ASInya itu PD dia bakal bengkak, jadi mastitis bla bla bla.. tapi di buku itu sama sekali gak diungkit, like nothing happened aja gitu”
“Meeeh, itu mah Bunda aja kali yang terlalu detail”
“wahahahaha”

Jujur, saya gak tau apa Ika Natassa sudah menikah dan punya anak atau belum, tapi soal ASI ini MENURUT SAYA penting banget untuk setidaknya sedikit saja di-ungkit, karena real-life nya kan seperti itu. Saya yakin, yakin banget Ika Natassa pasti melakukan riset yang sungguh-sungguh dalam menulis Critical Eleven ini, soal kopi, soal rig, soal pesawat itu benar-benar detail kok. So, saya jadinya wondering aja kemana soal ASI ini, hahaha ampun Mbak Ika Natassa.

 

Selalu kagum berat sama orang-orang yang pintar merangkai kata itu. Buku yang ratusan halaman itu sebenarnya mengandung pesan sederhana untuk pasangan suami istri. Pretty much like this : Tetap berada di sisi istrinya, tanpa peduli seberapa besar usaha istrinya untuk menjauhakn dan menjauhinya (berlaku sebaliknya). Dan ada satu hal yang saya suka banget dari sosok Ale ini, dia tidak pernah menceritakan masalah rumah tangga nya ke siapapun, termasuk orang tua, dan saudaranya. Padahal dia deket banget sama adiknya (Harris), semua-mua selalu diceritain, tapi tidak untuk masalah rumah tangganya dengan Anya, uhuy, good point Le! Walau awalnya Anya pun melakukan hal yang sama, tapi pada akhirnya dia gak tahan dan cerita juga ke sahabatnya Tara dan Agnes semua masalahnya sambil gak berhenti nangis, tipikal wanita banget lah ini. Dan baiknya, kedua sahabatnya solutif, gak kompor sama sekali.
Hoya, saya tulis bagian paling saya suka dari buku ini boleh? Bolehlaaaah.. ini kan blog saya sendiri :p
Membuat kopi itu ritual laki-laki, Le. Buat ayah, semua langkah mulai dari memilih beans, grinding, sampai kopinya siap diseduh, prosesnya seperti hidup seorang laki-laki. Sebagai laki-laki, tugas utama kita adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat yang tergantung pada kita.  Sering proses mengambil keputusan ini gabisa sebentar, Le, harus sabar. Sama seperti ayah sabar memilih-milih biji kopi terbaik, sabar juga menjalani proses membuatnya sampai jadi secangkir kopi yang pantas dibanggakan karena enak banget. HIDUP INI JANGAN DIBIASAKAN MENIKMATI YANG INSTAN-INSTAN, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.
satu lagi,
Dia sudah memilih gue sebagai suaminya, dan seharusnya sejak itu kebahagiaan Anya sepenuhnya menjadi tanggung jawab gue sebagai laki-laki. Pecundang gue namanya kalau se-enaknya menyerah dan melepas kunci kebahagiaan Anya ke orang lain. Gue yang bertanggung jawab sampai mati. Sewaktu gue berani mengucapkan ijab dan kabul, sejak itu pula gue sendiri yang harus berusaha sebisa yang gue mampu bahkan lebih untuk membuat dia bahagia, bagaimanapun caranya.
So, buku ini rekomendid gak? Banget! Beli gih.. kalau enggak pinjem lah ke Perpus😉

6 thoughts on “Critical Eleven

    • aku nangis kok.. tapi cuman pas adegan anaknya liat ayahnya dipaksa2 pas di TKP itu.. tp aku gak dong kalau ayahnya itu sudah duluan di hukum mati.. karena kan gada adegan itu yaa..hahaha dodol yaaa.. aku pikir menang di persidangan, jd gak di hukum mati😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s