Re-Sign

Jadi posisinya, Pak Panji pegang kemudi, Amaya duduk manis di bangku depan, Bunda & Arsa duduk di bangku penumpang bagian belakang. Saat itu kami mau menitipkan Amaya ke rumah Neneknya di Jakarta untuk beberapa hari ke depan.
A : Ini Abeh mau kerja ya?
P : Iya
A : Bunda juga mau kerja ya?
B : —bunda gak jawab–
P : Iya, Bunda juga mau kerja.
A : Nanti aku sendirian dong?
P : Nanti kan bisa main sama Tante Anis..
A : Enggak kok.. Nanti aku main sendirian..
P & B : Gak ada yang berani nanggepin
A : Aku gak mau ke rumah Nenek..
Hiks, orang tua mana yang gak sedih denger ucapan polos dari anak usia belum genap 3 tahun ini. Saya kalau urusan seprti ini paling gak bisa jawab, pasti menguras perasaan.

resign

Yaudah sih ibunya berhenti kerja aja.
Halloooo, berhenti bekerja tidak semudah mengedipkan mata. Apalagi status saya yang PNS harus menjalani prosedur yang lumayan. Tidak hanya soal prosedur, soal keuangan juga suka tidak suka jadi fokus pertimbangan kami berdua. Lain lagi soal keridhaan orang tua dan mertua. Banyak hal yang menghiasi kami untuk mengambil keputusan saya berhenti bekerja.
Beberapa waktu yang lalu muncul tulisan seorang teman wanita yang malah jadi (maaf) ‘pembenaran’ untuk tetap bekerja, katanya kembali ke niatnya. Duh, saya justru jadi malah kepikiran.. Saya bukan Dokter yang banyak pasien perempuan yang membutuhkan pekerjaannya. Bukan pula Bidan atau perawat yang memang butuh sentuhan wanita untuk bekerja dibidangnya. Saya bukan Guru TK yang juga diperlukan anak-anak kecil disekitarnya. Atau profesi lainnya, yang memang butuh sosok perempuan didalamnya. Bukaaan.. Saya hanya seorang PNS-wanita. Yang kayaknya nih ya, PNS mah masih bisa dikerjakan laki-laki (saja). Justru malah dalam hati kecil saya berkata kalau anak-anak saya lebih butuh tangan saya ketimbang ‘Negara’ ini. Hiks.. baper kan jadinya.
Coba liat itu Nabi Muhammad juga gak di-asuh orang tuanya, malah jadi orang paling mulia di dunia dan akhirat.
Atuhlah, please jangan kompare keluarga kami dengan keluarga Nabi Muhammad. Jauh.. jauuuh banget. Kehidupan Nabi Muhammad dirancang untuk banyak hikmah sampai beribu-ribu tahun setelahnya.
Yang penting itu waktu yang berkualitas kok, gak masalah ketemu anak sebentar.
No, no, no maaaaap banget saya kurang sependapat dengan anda kalau soal ini. Ada banyak hal yang memang membutuhkan waktu yang lama (dan juga berkualitas) untuk memenuhi hak anak dari kedua orang-tuanya.
dan
masih
banyak lagi.
Banyak banget kok yang mendukung seorang wanita tetap bekerja.
Apapun itu, kalau memang saya ditakdirkan untuk tetap bekerja saat ini, semoga Allah mencatatnya sebagai amalan kebaikan saya, dan mengampuni saya sebagai ibu yang lalai dari memberikan hak anak-anaknya. Dan kalaupun akan berhenti bekerja, semoga Allah memantapkan hati dan langkah saya, hingga tepat waktunya🙂
ah, Amaya..
I miss you..
*dia lagi suka bilang : Thank you

8 thoughts on “Re-Sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s