Pak WS

Saya sebenernya sama sekali tak pernah mendengar namanya, pun ketika seorang teman bercerita tentangnya.

“Gue sekarang kerja sama dia cha, tau kan? Dosen UI kok, pasti pernah denger namanya deh” saya hanya nyengir “gue gak gaul lah, gak pernah denger namanya juga”

Suatu hari setelah kejadian itu, entah kenapa saya iseng menuliskan namanya di mesin pencari. Dan, luarbiasa.. artikel tentangnya banyak, banyak banget malah. Kemana saja saya sampai kok ya gak pernah denger/baca tentangnya. Hampir semua link yang muncul berisi tentang keilmuan yg ditekuninya. Oh Scientis ya orang ini, begitu pikir saya.

Dan waktu pun membawa saya mampir ke tempat kerja si Bapak. Tempatnya berupa ruko 2 lantai, sempit dan kurang oke untuk dikatakan sebagai kantor/lab. Bahkan sholatpun di antara kursi-kursi ruangan meeting. Space kosong yg tersisa antar meja ke meja atau meja ke dinding hanya bisa dilalui oleh 1 orang saja. Belum lagi lemari-lemari gantung berisi banyak kabel dan komponen listrik lainnya yg nempel di dinding-dinding rukonya, bikin suasanya makin padat. Dalam hati saya bertanya-tanya apa nyaman ya kerja ditempat sempit kayak gini. Tapi… di hari pertama saya ke ruko itu, saya merasakan betul mereka sebagai satu keluarga, bukan lagi seperti rekan kerja. Isinya didominasi orang-orang muda, jadi semakin terasa semangatnya.

Saya masih ingat betul pertama kali  melihat si Bapak adalah saat…. dia marah-marah! Hahaha, iya marah-marah loh. Saya gak cukup kepo tentang tema omelannya, tapi yang saya tangkap justru seperti Bapak yang ngomel sama anaknya, bukan Boss yang ngomel sama staffnya. Status saya sebagai penyusup saat itu sebenernya jadi gak enak liat pemandangan itu, dan si bapak yang sekilas melihat saya pun mungkin bertanya-tanya, siapa nih orang? Hahahaha ampun deh, gak lagi-lagi nyusup kantor orang *salimpak

Ternyata takdir Allah membawa saya harus ‘rutin’ ke ruko 2 lantai itu. Akhirnya banyak kenal dengan ‘anak-anak’ si Bapak. Hangaaat sekali disana, di ruko sempit 2 lantai. Dari mulai satpam, si emak yg spesialis bersih-bersih, anak-anak si Bapak, teman ‘seangkatan’ si Bapak, bahkan Bapak sendiri pun terasa hangat di hati saya. Dan karena rutin ke sana, saya jadi sering nebeng pulang ke Jakarta dengan sohibnya si Bapak. Si Sohib pun mulai bercerita tentang banyak hal, tentang perjuangan mereka saat sekolah sampai S3 di Jepang dulu, kerja apa saja untuk bisa bertahan hidup, gimana kondisi keuangan mereka, makan apa saja, sampai cerita tentang betapa teganya si Bapak saat riset di kampus bersamaan dengan istrinya yang mau melahirkan anak ke-3 (atau ke 4 saya lupa).

“Jadi cha, si WS masih di lab (kampus) tuh padahal istrinya udah mules2 di flat. Sampai akhirnya istrinya WS manggil taksi, ber3 naik taksi sama anak2nya ke RS buat lahiran. Lahiran sendiri laaah.. mana ada cerita si WS nemenin istrinya, dia aja udah gak tau berapa hari nginep di lab”

saya membayangkan bagaimana si Bapak dan sohibnya menyiapkan mental istri dan anak-anaknya. Duh kalau saya mah sensi berat kali kalau Pak Panji lebih milih di lab ketimbang nemenin saya mau lahiran, heuuu cemen ya😦

“Iyalah harus mandiri. Saya ngajarin istri pas pertama kali ke Jepang untuk naik kereta cuman sekali kok. Setelah itu kemana-mana harus sendiri. Misal menuju ke A, itu biasanya harus ganti naik kereta 2 atau 3 kali. Saya ajari, naik dimana, turun dimana, cari pintu, apa dst, abis itu ya usaha sendiri. Mengingat-ingat dan mencatat, padahal saat itu di Jepang masih sedikit tulisan latin, semua kanji. And she could survive, walau lagi hamil sekalipun”

Si sohib pun bercerita tentang mimpi-mimpi mereka, mimpi tentang Indonesia dan masyarakatnya. Mimpi tentang aplikasi teknologi, tentang kesejahteraan masyarakat, kekuatan pangan, dan lain-lain yang kadang pikiran saya tak sampai untuk menterjemahkannya. *puntenpak

Di ruko dua lantai masih sama rasanya, kadang kadang saya ikut makan lebihan ketring-an dengan mereka, atau ikut di ajak pak Sohib makan di luar. Saya masih rutin kesana. Sampai akhirnya saya dan salah satu anak si Bapak bersepakat untuk menikah *laaah apa-apaan ini ujug2 tentang nikah *tutup muka. Namanya menuju pernikahan ada saja kerikil-kerikil kecil di dalamnya. Si Bapak cuman bilang “yaudahlah, gak usah banyak pikiran, bentar lagi nikah inih, sebelum nikah harus sehat dan sembuh total ya!” Saya hanya mengangguk saja walau mikir jangan-jangan si Bapak tau soal fitnah yang didapati oleh (calon) suami saya waktu itu. Semakin mendekati pernikahan, saya banyak dapat wejangan dari si Bapak dan Sohibnya. Tentang keluarga, tentang sabar dan syukur, dan terutama soal Rezeki.

“Jadi ya cha, harta itu hanya ada 3 kok. Apa yang kita pakai, apa yang kita makan, dan  apa yang kita infakkan. makanya saya biasa ajah dengan segala perintilan hidup, yang penting gimana kita berkontribusi. Itu yang buat saya berani melangkah, soal anak-anak juga.. mereka punya rezeki masing-masing, yang penting bagaimana kita siapkan mereka untuk bisa survive”

Dan desember 2012 saya dan Pak Panji menikah. Si Bapak jadi saksi nikah pihak laki-laki, dan si Sohib jadi saksi nikah dari pihak saya. Saya menikah dalam kondisi sehat dan sudah sembuh dari penyakit yang tadinya ada di dalam tubuh saya selama 3 tahun belakangan. Alhamdulillah..

Akad Nikah Desember 2012

si Bapak, Pak Panji, Saya, si Sohib

2

Menikah dengan anak-riset si Bapak saya seringkali mendengar cerita-cerita tentang apa yang terjadi dengan ruko 2 lantai itu. Mereka akan pindah! Pindah ke ruko lain dibilangan alam sutera, bukan 2 lagi, tapi 6 ruko yang disatukan. Tidak sempit-sempitan lagi. Salah satu alasan pindah pun karena permintaan ‘klien-klien’ Bapak yang komplain dengan ruko 2 lantai sempit itu. Kondisi berubah, anak-anak Bapak semakin banyak, saya sudah tidak kenal lagi. Saya pun sudah tidak rutin datang kesana lagi. Kami hanya bertemu saat ada anak-Bapak yang menikah saja atau kalau saya sedang main ke alam sutera.

@edwar

Lalu november 2015 tiba-tiba ada ramai-ramai di 6 ruko itu. Ada surat cinta dari Pemerintah yang datang, mereka ingin merivew apa-apa yang dikerjakan di ruko itu. Selama 2 bulan klien baru yang ingin ketemu Bapak pun di stop karena Bapak sudah sepakat dengan Pemerintah untuk tidak menerima klien baru. Suatu hari di penghujung Desember saya tanya suami, berapa jumlahnya? Dia bilang 100 orang lebih yang ‘waiting list’ mau ketemu. Masyaallah..

Saya kuliah tentang Ekonomi, itupun cuman sebentar, apa-apa yang dibahas di ruko itu tidak sepenuhnya saya mengerti. Kadang saya hanya mengangguk-angguk kecil saat suami menceritakan sedikiiiiiiiiit saat dia mau presentasi paper di Bali dulu atau di Jerman tahun lalu. Yang saya tahu, di 6 ruko itu didominasi oleh orang-orang yang sedang belajar, sedang mengembangkan ilmu, sedang memikirkan apa-apa yang terbaik yang bisa mereka kasih ke orang yang membutuhkan. Orang yang terkenan Kanker salah satunya.

Sungguh saya sempat menangis saat baca salah satu tulisan di media sosial tentang Bapak. Dia bilang Bapak penipu, Bapak dukun, Bapak tukang peras orang yang kena Kanker. Masyaallah.. Mungkin dia gak tau ya kalau gaji anak-anak Bapak dipotong untuk mereka-mereka yang kena Kanker? Gak tau kan? Saya pun menangis *cengeng banget* saat ada nakes yang ngata-ngatain Bapak di media sosialnya. Iya saya tau.. Bapak itu Engineer.. dan dia Nakes, saya tau bidang yang diteliti Bapak itu menyangkut ranah kedokteran, tapi apa iya harus menghujat segitunya? Seolah-olah ilmu yang dimiliki si Nakes jauuuuuh lebih hebat, lebih banyak, dan lebih bermanfaat untuk masyarakat? Masyaallah.. Pun ramai-ramai orang bilang Bapak jahat, membohongi banyak orang kanker, menyumpahi dengan kalimat yang aduhai parahnya. Ya Allah.. kalaupun Bapak ‘salah’ mbok ya sama-sama riset bareng, diluruskan hingga tercipta alat yang penuh manfaat untuk banyak orang. Apa dengan anda menghina-hina, muncul solusi untuk jutaan orang yg mendapat anugerah kanker?

Dan hari ini keluar surat cinta lanjutan dari Pemerintah, surat cinta yang mungkin tak diharapkan oleh si Bapak. Pak, apapun langkah Bapak selanjutnya, semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik. Terbaik untuk Bapak, anak-anak Bapak, keluarga Bapak, dan ribuan orang yang mendapat anugerah kanker. Doa-doa dari kami (iya, saya salah satunya) yang pernah Bapak bantu insyaallah akan menembus langit, berkejaran dengan takdir yang telah Allah tuliskan🙂

mengutip perkataan Baher, anak-asli-Bapak :

Don’t Worry, Something aint great if everybody can understand it. Something aint high if one can reach easily. Those things is just a prove that what you are doing right now is great thing

Ganbarimashou!

3 thoughts on “Pak WS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s