Surat Kangen

Dear Papa
Tahun ini 2015 sudah masuk di penghujungnya. Artinya sudah 7tahun lebih ya kita berada di dimensi yang berbeda. Apa apa saja ya pah yang sudah terjadi disana? Semoga doa doa anak perempuan Papah bisa menembus ke langit, menjadikannya hitungan amal jariyah untukmu, semoga..
Pah, 3 tahun yang lalu anak perempuanmu menikah loh. Sebelum 7 tahun yang lalu kita tidak pernah membahas tema menikah ya pah, hehe. Jangankan tentang menikah, tema ‘lelaki’ saja anak perempuanmu tak berani buka diskusi. Pernah suatu kali, saat anak perempuanmu kelas 1 SMA, datang ke rumah laki-laki komplek depan, bawa motor yang harganya mungkin lebih dari setengah mobil 2nd mu, jangankan masuk ke rumah, yang ada Papah marahi dan buru-buru nyuruh pulang..hehehe. Sejak itu bahasan tentang laki-laki dan yang berhubungan dengannya tidak pernah kita bahas ya Pah. Tapi anak perempuanmu masih ingat betul loh Pah dengan nasihatmu. Salah satunya soal masak. Sejak SD, kau minta aku belajar masak sama Mama, sayangnya Mama menolak karena katanya malah bikin repot. Kau bilang perempuan harus bisa masak.. apa mungkin karena Nenek buka rumah makan padang? Hehe.. yang pasti Papa memang memiliki tangan yang canggih soal perdapuran. Kau bilang orang Padang harus bisa masak.. Maaf ya pah, sejak nikah anak perempuanmu justru jaraaaang banget masak. Sampai pernah suami anakmu bertanya “bisa bikin telor ceplok kan?”whahaha parah. Kalau kau masih hidup, mungkin anak perempuanmu akan kau marahi ya Pah? Eh entahlah, 20 tahun hidup bersamamu, tak pernah (kuingat) kau marahi anak perempuanmu. Hal ini yang justru jadi sumber cemburu bagi anak-anakmu yang lain, bahkan istrimu. Iya mama. Mama sudah beberapa bulan tinggal bersama anak perempuamu di Tangerang Pa. Beberapa cerita tentangmu dan dia mengalir ringan. Aku baru sadar (mungkin) dulu Mama sebel sama anak perempuanmu soal tidur malam hari. Karena aku minta tidur hanya dengan Papa. Papa dan Mama harus ‘pisah ranjang’ dalam arti yang sebenarnya. Yang kuingat, aku tidur denganmu sampai kelas 1 SMP ya Pa. Aku masih ingat hampir SETIAP MALAM, aku membangunkanmu karena mau ke kamar mandi untuk buang air kecil, aku terlalu takut jalan sendirian ke kamar mandi, dan bahkan sering kali aku minta gendong sanking malesnya *tepokjidat* masyaallah baru aku sadari betapa sabarnya dirimu ya Pa.. Padahal siang harinya dirimu bisa jadi habis dari lapangan, mengecek kapal-kapal yang transit di pelabuhan, tentu saja bonus terik matahari menyertai. Semoga Allah mencatatnya sebagai nominal pahala untukmu, Aamiin.. Hoya Pa, 9 bulan menikah, kami diberikan amanah anak perempuan, Amaya namanya. Qadarullah dia memiliki jenis kulit yang bahasa medisnya disebut Atopic Skin, sederhananya kulitnya kering, kurang pelembab, yang berujung gatal. Penyebab keringnya buanyak.. aku bahas kapan-kapan. Nah, gatalnya akan muncul justru saat tubuhnya rileks.. yaitu saat mulai tidur malam. Kalau sudah muncul gatalnya, dia akan minta gendong suamiku untuk mencari ketenangan. Semoga mantu Papa diberikan kesabaran yang tak hingga di setiap malamnya ya Pa, sama seperti sabar yang kau punya saat setiap malam aku bangunkan saat mau ke kamar mandi.
Hal lain yang sering kita obrolin adalah soal bahasa. Yang aku ingat, kau lancar 3 bahasa, Indonesia, Minang, dan Inggris. Kau selalu kebingungan saat aku mengerjakan PR bahasa Sunda, kau bilang gak perlu serius-serius ngerjainnya, kita bukan orang Sunda,hahaha. Soal bahasa Inggris, kau sudah mewanti-wanti kalau itu penting. Papa tawarkan aku les bahasa Inggris di LIA sejak SD, tapi aku tolak #nyesel. Aku selalu kagum loh kalau Papa bicara bahasa Inggris di telpon dengan klien asingnya.. lancaaaar cas cis cus seperti di TV orang bule. Papa bilang, bahasa Inggris orang Jepang yang paling sulit dimengerti, agak cadel tapi gimanaaa gitu pengucapannya, ahahaha.. Maaf ya Pa, soal bahasa Inggris ini juga masih PR banget buat anak perempuanmu, entah berapa nilai TOEFLnya kalau harus test sekarang. Dulu sebelum nikah, masih sering baca novel luar, sekarang satu buku bacaan bahasa Indonesia saja bisa berminggu-minggu aku selesaikan. Maaf ya Pa.. Aku masih merangkak dalam kehidupan Rumah Tangga, masih meraba di permukaan. Masih belajar untuk tidak memikirkan diri sendiri. Terasa sekali hal-hal ‘remeh’ yang sering kau katakan dulu, ternyata saat aku menjadi istri-dan orang tua justru terasa besar. Kau bilang, “taruh barang di tempatnya lagi cha” selaluu begitu, ternyata efeknya luar biasa ya Pah. Aku juga masih ingat betul kau selalu membantu Mama di rumah sebisamu, meski di rumah beberapa kali ada ART, tapi kau tetap membantu Mama. Ah kerennya, Aku masih ingaaat kau selalu mengepel 2kali, karena 1 kalu tidaklah cukup bersih. Atau kau yang semangat sekali saat menumbuk jagung untuk perkedel. Atau kau yang sumringah saat kita berkolaborasi membuat mahakarya kripik bawang buat mengisi toples lebaran. Papa, I miss you.. Terima kasih untuk banyak pelajaran berharga ya Pa, sungguh aku menjadi saksi bahwa kau seorang suami yang penuh tanggung jawab dan seorang Bapak yang sayang dan bekerja keras untuk keluarganya. Semoga Allah balas kebaikanmu di dunia dengan manisnya kenyamanan di akhirat. Aamiin..

Tangerang
27 Des 2015
23.24

One thought on “Surat Kangen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s