“Bunda bawa apa?”

Dulu banget, 20 tahun yang lalu. Papa saya kerja di Samudera Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Kadang kala Papa tidak pulang selama lebih dari seminggu, mengurusi kapal-kapal. Di satu sisi saya sedih karena sejak kecil saya terbiasa tidur malam dengan Papa, di sisi lain saya biasanya akan senang saat menjelang Papa pulang dari kapal. Dasar bocah yaa.. pas Papa pulang ke rumah yang ditanya bawa apa Pa? Papa hampir selalu bawa oleh-oleh kalau setelah pergi beberapa hari ngurusin kapal. Dari mulai yang kecil seperti cokelat, sampai pernah saya dibawain sebuah SEPEDA original dari Jepang, saat Papa ‘DL’ ngurusin kapal Jepang. Cihuy banget rasanya dibawa oleh-oleh sama orang tua saat itu. Tentu saja kepulangan Papa ke rumah bawa oleh-oleh selalu diikuti oleh hadiah pijit kaki oleh saya, anak perempuannya. Itu Papa, yang rajin bawa sesuatu saat pulang ke rumah. Semoga Allah melapangkan kuburmu ya Pah.. Aamiin.

Dibesarkan oleh seorang Mama yang full IRT, tidak serta merta Mama saya selalu ada di rumah loh. Mama punya jadwal mengaji, mengikuti majelis taklim yang lumayan padat setiap minggunya. Dan, sama seperti Papa, biasanya mama selalu membawa sesuatu untuk anak-anaknya di rumah. Saat mengaji biasanya mama mendapatkan se-kotak snack, berisi camilan gurih seperti risoles, manis seperti puding, dan segar seperti buah jeruk, tentu saja dilengkapi segelas air mineral. Mama yang baik hati, biasanya hanya minum air mineralnya saja. Lalu saat pulang ke rumah, anak perempuan bawelnya sering kali bertanya “bawa apa Mah?” hihi.. parah banget ya.. Rasanya senang sekali dapat makanan ringan oleh-oleh Mama mengaji. Dan kalaupun saat mengaji mama lapar, dan memakan snacknya, biasanya Mama akan mampir ke tukang buah untuk oleh-oleh anak-anaknya.

Saat itu saya merasa itu hal yang sederhana saja. Tapi sekarang saya sudah menjadi orang tua, menjadi Ibu untuk dua anak saya. Beda dengan Mama, saya (saat ini) memilih untuk bekerja. Pergi pagi sekali, dan sampai di rumah sekitar jam 18 lewat. Dan saat masuk ke rumah, menaruh tas ransel eiger-pemberian suami-saya, Amaya yang berusia sudah 2 tahun akan bertanya : Bunda, bawa apa? Lalu tanpa disuruh, dia akan membuka tas saya, dan tangannya mencari sesuatu sebagai oleh-oleh untuknya. Tidak penting seberapa banyak yang saya bawa, kadang hanya sepotong roti yang saya dapat dari kotak snack rapat atau FGD di kantor siang harinya, lain waktu saya hanya membawa satu sachet biskuit yang saya beli di indomaret saat menuju pulang ke rumah. Dan balasannya, senyum sumringah luar biasa dari anak gadis saya, Amaya. Senyumnya itu priceless banget.. rasa-rasa lelah capek dan sedikit bau asem ini ‘seolah-olah’ sirna saja melihat senyumannya. Mungkin ini dulu yang orang tua saya rasakan kali ya🙂.  Jadi, bawa oleh-oleh apa Bunda hari ini?🙂

oleh-oleh rapat buat Amaya

oleh-oleh rapat buat Amaya

2 thoughts on ““Bunda bawa apa?”

  1. bahkan, dulu menganalogikan kalo mama pengajian mesti pulang bawa buah tangan. kalau tangan hampa, langsung protes. hihihi, setelah gede kok rasanya malu minta mama ngaji krn oleh2😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s