Cerita Kehamilan Arsa (riwayat KPD dan PJT)

Bismillah..

Heyho  Arsa! Barakallah ya Nak, usiamu sudah 6 bulan. Eh sudah 6 bulan aja ya saat-saat Bunda memutuskan jalan ke mall kasablanca instead of ke Rumah Sakit Islam😀 . Yuk ah biar Bunda cerita sedikiiiiit aja tentang hari-hari saat hamil untuk kedua kalinya, sebelum umur menggerogoti ingatan Bunda.

Awal Kehamilan.

Bunda sudah merasa ada yang berbeda di diri Bunda. Lebih sensitif. Lebih mudah capek, tapi nafsu makan menurun. Pagi-pagi sering kali pusing kepala, mual tapi tidak sampai muntah. Hasil pumping ASI untuk Kakak Amaya pun beberapa hari terakhir terus menurun kuantitasnya. Dan, yang paling terasa adalah. Bunda sudah telat dari tanggal haid seharusnya. Deg. Bunda bicarakan dengan Abeh tentang kondisi ini, dan esok harinya Bunda sudah siap dengan test-pack. Hasilnya langsung garis dua jelas, bukan samar-samar. Allahuakbar! Bunda masih ingat sih, apa yang bunda lakukan setelah melihat hasil test-pack itu. Bunda langsung peluk dan cium kakak Amaya yang masih tidur pulas. Tahan-tahan supaya gak menangis. Entahlah ya Nak, rasanya memang campur aduk saat itu. Takjub sekali dengan rencana Allah sebenarnya. Semuanya datang secara bersamaan. Senang, haru, gak percaya, sedih, takut, dan galau ah Nak, padahal orang-orang yang dekat sama Allah gak boleh galau loh. Makanya Bunda langsung berbenah hati deh, yakin kalau semua yang terjadi sudah skenario terbaik untuk keluarga kita. Insyaallah🙂 #senyumdulu

Bunda dan Abeh bersepakat untuk tidak memberitahukan ke keluarga besar perihal kehamilan kedua ini. Banyak pertimbangannya, tapi terlalu sensitif jika Bunda ceritakan disini. Biar saja nanti Allah yang atur gimana cara mereka tau kalau Bunda hamil. Bun, emang gak keliatan ya kalau lagi hamil? Gak dek.. kalau kata temen Bunda mah, antara Bunda masih single, menikah, hamil kakak Amaya, lalu setelah melahirkan, gak ada bedanya ukuran tubuhnya😀 ya gitu deh, segini-gini aja. Jadi aja gak ada alasan buat beli baju hamil yang kece-kece itu #eh

Sedikit Bun ceritain tadi, awal ngerasa kalau Bunda hamil itu karena hasil pumping ASI buat kakak menurun dari biasanya. Nah, ada Dokter Ian yang berbaik hati untuk bisa diajak ngobrol tentang kondisi Bunda saat itu. Ah, blessing banget deh bisa kenal sama Dokter Ian itu. Orangnya baik, masyaallah. Semoga Allah berkahi.. dan anak-anak Bunda bisa meniru kebaikan-kebaikan dari Dokter Ian itu yaa..🙂 Cerita lengkap tentang drama Nursing While Pregnant (menyusui saat hamil) ada disini, dan cerita tentang Bunda main ke rumah dokter Ian ada disini.

Trimester ke-dua

Nah, ada sedikit cerita ala ala sinetron nih di trimester tengah ini. Saat hari Raya idul Adha tahun 2014, Bunda mendapati kalau Baju yang Bun pakai buat tidur basah di bagian belakangnya. Sampai ke-esokan harinya tetap masih keluar cairan. Endingnya, Bunda harus masuk UGD di RSI karena ternyata itu cairan ketuban. Bun harus dirawat lanjut bedrest-entah-sampai-kapan. Kok gak tau pastinya Bun? Karena kasus KPD (Ketuban Pecah Dini) di usia kandungan masih 27 itu BIASANYA berakhir dengan keguguran. Ehya, walau namanya PECAH, tapi nyatanya hanya rembes ya.. bayangin kalau ada balon berisi air, lalu ada lubang keciiiiiil banget, nah airnya kan gak langsung keluar semua ya, tapi tes tes tes perlahan. Gak kayak kalau balon itu ditusuk pakai pisau, lalu airnya langsung luber. Back to KPD tadi. Iya loh Nak, Dokter Helmina yang nanganin kita, sudah bilang kalau kasus-kasus yang sudah beliau tangani biasanya berujung keguguran, jadi kami diminta menyiapkan mental dan hati yang luas tentu saja. Duh Nak, rasanya dunia berhenti beberapa detik saat Dokter bilang gitu. Ya Allah.. Bunda langsung minta ampun sama Allah. Kalau-kalau ini azab karena dosa-dosa Bunda. Juga minta Allah yang punya kuasa tak terbatas untuk menyelamatkan kita berdua, bukan Bunda seorang. Tapi Dokter Helmina juga janji sama Bunda akan melakukan semaksimal mungkin kemampuannya. Abeh berbaik hati (dan dompet) menempatkan Bunda di ruangan inap kelas 1 yang super nyaman. Nenek Medan alias Nenek Medan pun sungguuuuh baik banget mau nemenin Bunda di Rumah Sakit. Duh, sudah jadi orang tua ternyata masih bikin repot Nenek juga. Hiks.. Kelak kalau panjang umur, Anak-anak bunda harus berbakti sebesar-besarnya sama Nenek yaa🙂 Lanjut tentang bedrestnya, Allah Maha Penyayang.. DIA kasih kesempatan lagi untuk kita tetap bertahan. Saat itu usia kandungan 28minggu, nilai ketuban masih aman, dan Bunda sudah di suntik untuk mematangkan paru-paru kamu dek. Jadi, kelak kalau kamu harus dilahirkan-segera, paling enggak paru-parumu sudah matang (emang makanan buuuun.. :p) tiap minggu Bunda dipantau segala-galanya, dari USG, CTG, darah, air pipis. Untuk memastikan kamu baik-baik saja disana, masih bisa bertahan. Yang paling deg-deg-an saat hasil leukosit keluar, setinggi apakan nilainya. Sebanyak apa kah bakteri yang ada di dalam? Duh, rasa-rasanya Bunda lebih deg-deg-an saat itu deh ketimbang saat Bunda taaruf sama Abeh dulu #lho

Trimester ke-3

Eh yaa.. Qadarullah Bunda dirawat lagi di RSI saat usia kandungan 33minggu. Karena rembesan ketubannya masih terus keluar. Padahal sejak usia kandungan 27minggu itu Bun sudah bedrest total loh, gak masuk kerja juga. Tapi yasudahlah yaaa.. kita jalanin aja usaha yang maksimal, yang terrrrbaik sebisa mungkin. Tapi Dokter Helmina bener-bener menunaikan janjinya kok, untuk berusaha sebesar-besarnya untuk keberlangsungan kehamilan Bunda. Sebenernya walau belum cukup bulan, tapi perasaan bunda dan dokter serta perawat yang nanganin Bun sudah lumayan lega, karena sudah masuk ke 33. Kalau harus di operasi secar, lebih tidak berisiko ketimbang saat 27weeks kemarin. Tapi tetep loh Bunda harus disuntik lagi untuk pematangan paru-paru kamu deh. Dek, just wondering aja nih ya, apa yaaa yang Adek rasain saat Bunda disuntik itu?😀 Daaaan, alhamdulillah atas izin Allah kita berdua sampai di cukup bulan, usia kandungan 36lewat, cihuy! Hoya, sampai sini sebenernya sudah bunda ceritain detailnya disini.

Tapi..tapi..tapi… Kok ukuran kamu, berat badan kamu, kecil dan gak sesuai dengan chart-pada umumnya ya. Walau Bun berkali-kali bilang kalau Kakak Amaya pun lahir dengan BB 2,65kg, tapi Dokter Susi (another doctor) kekeuh kalau Bun harus di rujuk ke Dokter Kandungan Subspesialis Fetomaternal dengan suspect PJT alias Pertumbuhan Janin Terhambat atau istilah medisnya Intra Uterine Growth Restriction (IUGS), wissss horor banget pas denger itu. Btw, Dokter Kandungan Subspesialias Fetomaternal itu lumayan limited di Jakarta ini. Hanya ada di RS Rujukan saja.  Awalnya di rujuk ke RS Persahabatan, tapi duuuuh sistem CS by phone nya gak banget deh. Bunda diminta datang hari Rabu, pas udah dateng, ternyata jadwalnya hari Kamis atau Jumat. Pas Bunda komplain ke CS Centre, yang lagi di situ bilang “itu bukan bagian saya jaga” wew.. Jadilah Bunda dan Abeh memutuskan datang ke RSCM.  Ehya, Pemeriksaan Fetomaternal artinya pemeriksaan yang tujuannya untuk menegakkan diagsnosis pada kasus-kasus gangguan kehamilan atau gangguan janin, atau biasa disebut kehamilan risiko tinggi. Biar kalau memang positif ada gangguan kehamilan, langsung bisa ditangani segera. Waktu itu Bunda di USG lanjut CTG selama kurang lebih 1jam. Sebenernya beberapa nilai (duh Bunda lupa deh apa aja nilai-nilai yang ada di hasilnya) masih dalam nilai rujukan, tapi entah kenapa kesimpulan dan sarannya : untuk mengakhiri kehamilan. Deg-deg-an banget pas itu karena Bunda hanya sendirian, Abeh diluar gak boleh masuk. Langsung buru-buru whatsapp dokter Susi, dan gak dibales. Yaudah Bun berkesimpulan kalau ini gak urgent lah. Toh Dokter Susi gak langsung bales :p

Besok lusanya Bunda ketemu Dokter Helmina untuk menyerahkan hasil USG Fetomaternal itu. Dokternya sih masih santay ajah, lumayan bikin tenang, alhamdulillah. PRnya Bun harus minum susu high protein macem ensure, peptisol, makan daging merah tiap hari, which is hampir tiap hari Bunda makan steak, kalau lagi tajir di Steak 21 di kasablanca atau melipir jalan ke Waroeng Steak di Tebet. Hoya, PR lainnya karena posisi kamu masih sungsang jadi atas rekomendasi dari Bidan Wina yang baik hati, Bunda dikirimin beberapa gerakan dan posisi yang harus Bunda lakukan setiap hari. Eh ya, Bidan Ika ini juga Bunda gak kenal loh, cuman tau via Facebook aja. Tapiiii.. masyaallah orangnya baiiik banget. Semoga Allah balas dengan kebaikan bertubi-tubi juga ya untuk Bidan Ika🙂

10808237_844836252233610_453167638_n

Ini kata Bidan Ika : Ada banyak sebenarnya untuk memposisikan bayi menjdi normal.. Sujud itu gerakan yg simple tp banyak manfaat, Rebozo, ada juga gerakan tidur dibagian pinggang diganjal setinggi mungkin semampu mb bisa dengan bantal dg posisi kaki ditekuk jadi posisi kaki lbh tinggi dr kepala,tujuan agar janin yg mungkin hampir masuk kepanggul bisa naik lagi dan janin bisa berputar mjdi normal.. Lakukan sesering mungkin semampunya..

Pose itu yang Bun lakukan sesering mungkin, sampai akhirnya di usia kandungan 39minggu, posisimu sudah bagus, dan siap dilahirkan! Air ketuban aman dengan ICA 8koma, plasenta masih aman walau sudah pengapurang tingkat 2. Dan kami sepakat untuk menunggu rasa mulas kontraksi datang. Bunda sesering mungkin untuk jalan-jalan pagi. Dan saat hari Jumat pagi, Abeh, Bunda, Kakak Amaya dan Nenek jalan-jalan ke taman suropati untuk icip-icip batu refleksinya.

10897091_933249620041908_1714345530927784673_n

Teringat pengalaman nemenin Tante Hana saat melahirkan Izan dulu diawali dengan jalan-jalan di sebuah taman di Bali, yang ini dek. Pulang dari taman suropati, kami lanjut mampir ke rumah Nenek Ain.

Siangnya Bun sama Abeh pulang ke kontrakan untuk melakukan sesuatu, dan jadwal minum susu peptisol Bunda. Hoya Nak, efek minum susu tinggi protein itu bikin perut Bun jadi mules.. berasa mau pup tapi gak jadi. Duh gimana ya ngejelasinnya😀 Akhirnya sore-sore setelah minum susu itu perut Bunda mulesss. Abeh tanya apa udah waktunya melahirkan, tapi Bun bingung jawabnya..ahahaha. Setelah diskusi, diputuskan Bun dan Abeh ke mall kasablanca dulu, buat apa? Beli Kameraaaa.. sejujurnya Bunda ngidam kamera sejak diawal kehamilan. Tapi, tapi, tapi cuman berkode aja sama Abeh. Sampai akhirnya Abeh sadar, baru deh di usia kandungan 39minggu 5hari meluncur ke ES buat menunaikan ngidamnya Bunda. Hahaha agak konyol sih, karena disana perut Bunda makin mules sebenernya. Bolak balik maju mundur keliling mall. Abeh udah was-was ngajak ke Rumah Sakit sebenernya, tapi Bunda bilang gak usah dulu. Setelah beneran punya kamera, Kami langsung meluncur ke rumah Nenek Ain. Walau Abeh minta langsung aja ke RS, tapi Bunda bilang melahirkan itu hidup dan mati. Kalau nanti takdirnya mati, bunda pengen banget ketemu Kakak Amaya dulu. Makanya bunda bela-belain ke Rumah Nenek Ain buat peluk-peluk kakak Amaya dulu. Jam 20.30 WIB meluncur ke RSI, alhamdulillah gak macet. Di Mobil, mulesnya makin jadi, tapi Bunda berusaha banget buat stay cool biar Abeh stay focus sama nyetirnya. Nenek Ipah terus-terusan berzikir. Sampai di RSI, langsung meluncur ke Ruang Persalinan. Pakai adegan digodain perawatnya dulu lagi : mana senyumnya bu? wekekek.. kontraksi lagi dateng senyumnya dikit ajah :p Sampai di ruang persalinan, jam 21.20, cek bukaan, alhamdulillah sudah bukaan 7 menuju 8, cihuy! Instruksi dari dokter Susi via telpon sajah, karena udah gak keburu kalau ke RS dari Rawamangun. Alhamdulillah, wasyukurillah 21.40 Adek lahirrrr… Ah, lega bangettt. Adek lahir dengan berat 2900gr dan tinggi 48cm. Alhamdulillah..

Hanya karena kuasa Allah deh, kita berdua bisa selamat. Dari yang hanya berharap kamu dilahirkan dengan paru-paru matang, dilanjut harapan dilahirkan cukup bulan walau lewat operasi secar, meningkat jadi lahiran cukup bulan dengan proses spontan (normal). Terima kasih banyak Abeh, sudah mendampingi Bunda 100%. Allah yang akan balas segala kebaikan Abeh ya.. Jadi, 2015 ini kita ubah formasi yaaa.. Abeh, Bunda, Kakak Amaya, dan Adek Arsa. Semoga Allah mampukan Abeh dan Bunda menjaga amanah besar ini. Semoga Allah berkahi keluarga kita ya.. Semoga Allah mengumpulkan kita di dunia dan kelak di Surganya. Aamiin..

Hoya, karena sudah 6 bulaaaan, selamat makan Arsa! Selamat menjelajahi ribuan rasa!🙂

Ini Foto Arsa usia tepat 6 bulan, BB 9.3kg, Pj 70cm, Lika 44cm pas makan pertama kali di Daycare. Makan apa Bun? Jambu merah :D Terus sehat, tumbuh dan berkembang ya Arsa!

Arsa 6 bulan

Arsa 6 bulan

One thought on “Cerita Kehamilan Arsa (riwayat KPD dan PJT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s