Cerita Kehamilan kedua

Seorang teman menyarankan saya untuk nge-blog, menulis apa yang bisa ditulis, lintasan-lintasan pikiran, harapan, kekhawatiran dan hal-hal lainnya. Tentu saja, harus ada filternya.. Sooo.. here we go, Bismillah, mari mulai ngeblog lagi😉 hoya, ini postingannya agak panjang, maaap yaa😀


Pregnancy is truly teacher of patien. Yes, saya setuju sekali dengan kalimat super bijak itu. Seorang wanita diajarkan kembali untuk memaknai sebuah kesabaran saat dia mengandung. Dan, satu hal lagi yang juga saya setuju bahwa setiap sesi kehamilan pasti punya history yang berbeda, jangankan beda ibu, dari dalam satu rahimpun pasti punya cerita yang berbeda. Dan itu bukan untuk dibandingkan, tapi diambil pelajarannya. Untuk kemudian bermuara pada rasa syukur dan sabar. Begitulah yang saat ini kami hadapi, saya terutama. Saat hamil pertama, hamil Amaya dulu, masyaallah.. kerikil-kerikil kecil yang kami hadapi masih tampak biasa, mual-mual di awal kehamilan hanya terjadi sebentar, makanpun sudah lancar sejak kandungan berusia 3bulan, saya setiap hari ngantor naik motor/metromini, pulang naik angkot dua kali ganti, dan berjalan ke arah kontrakan sekitar 10-15 menit. Tidak ada keluhan berarti, keputihan, pendarahan, flek, kontraksi atau yang lainnya, masyaallah.. Bahkan masih ingat betul saya, saat mau melahirkan pun saya dan suami masih berani naik motor padahal sedang gerimis. Lancaaar.. Alhamdulillah..

Lain Aya, lain (calon) adiknya Aya. Ada beberapa hal yang tidak saya alami saat hamil Aya dulu. Saya sharing satu-satu ya, semoga bisa jadi pelajaran untuk yang lainnya.🙂

1. Kekurangan Kalsium, Gigi Bermasalah.
Yes, saya positif kekurangan kalsium. Hal ini bisa disebabkan karena saya hamil sambil menyusui. Sampai akhirnya gigi geraham saya patah, patah yang tidak sempurna sehingga meninggalkan infeksi. Saya ke beberapa dokter Gigi, sampai akhirnya memutuskan untuk continue dengan dojter gigi di RSI Jakarta, dengan alasan rekam medis saya lengkap di satu RS ini saja. Dokter gigi bilang, kalau gigi geraham saya positif terinfeksi. Ini terjadi saat usia kandungan 15minggu, mulai saat itu saya rutin ke Dokter gigi untuk memantau kondisi Gigi. Saya tau, infeksi pada gigi bisa menyebabkan kontraksi, dan kontraksi sebelum waktunya tentu saja bukan hal yang baik kan? Penting untuk perempuan yang belum hamil atau sedang program hamil untuk membereskan masalah giginya terlebih dahulu. Apapun masalahnya, bereskan dengan tuntas, jangan ditunda, jangan dinanti-nanti. Merasa tidak bermasalah dengan giginya? Saya tetap menyarankan untuk tetap memeriksakan kondisi giginya, karena dokter gigi tentu lebih tau kondisi gigi kita yang tidak kasat mata, please be wise ya untuk urusan gigi ini. Karena saat hamil, tindakan yang bisa dilakukan dokter gigi sangat terbatas.

2. Apendisitis (Radang Usus Buntu)
Duluuu, saat seminggu setelah menikah saya pernah di-diagnosa terkena Apendisitis oleh seorang dokter Umum di salah satu klinik di Serang. Saat itu saya tidak terlalu mempercayainya, karena sekitar seminggu dari itu, perut saya sudah normal kembali. Namun, tiba-tiba saat Usia Kandungan di kehamilan ke-2 ini menginjak 20minggu, perut saya melilit hebat lagi. Saya sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter kandungan merujuk saya ke dokter bedah karena curiga terkena Apendisitis. Langsunglah saya cari tau tentang Apendisitis pada Ibu hamil, hasilnya bikin horor.. harus dilakukan operasi secepatnya agar tidak menganggu perkembangan janin, Subhanallah.. lemas saya setelah membacanya. Setelah tanya di milis sehat, saya disarankan untuk bertemu dengan Dokter Bedah di RSCM untuk penegakan diagnosa. Yap, saya pun sejak awal berniat ke RSCM karena pengalaman dengan dokter bedah di RSI saat menangani Suami, tidak klik dan susah diajak berkomunikasi. Cerita tentang dunia per-RSCM mungkin akan saya bahas kapan-kapan yaaa.. Akhirnya setelah mengantri 3 jam (saya pasien non-BPJS loh ya) saya akhirnya diperiksa oleh dokter PPDS dan Dokter Senior bedahnya. Dilakukan pemeriksaan klins dengan menyentuh dan menekan beberapa bagian perut dan periksa lewat dubur, lalu dilakukan interview selama lebih dari 30 menit, saya dinyatakan negatif Apendesitis, alhamdulillah.. Lagi-lagi pelajaran selanjutnya untuk yang sedang promil untuk memastikan kondisi usus dkk nya.

image

3. Ketuban Rembes (Ketuban Pecah Dini / KPD)
Masih ingat betul saya, saat proses melahirkan Aya dulu, ketuban pecah di bukaan-6. Pecah spontan, tanpa berbunyi, tau-tau air mengalir deras dan tak bisa dikontrol. Saya tidak menyium aromanya, yang tidak seperti air seni, tapi memang terasa hangat. Naaaah., saat 7 oktober 2014 lalu, saat bangun tidur saya merasa ada yang mengalir dari miss v, langsung saya cek ke kamar mandi, airnya bening, tidak berlendir, tidak kental, tidak beraroma seperti air seni. Saya langsung bilang ke suami, dan kami memutuskan untuk observasi dulu. Siangnya cairan masih keluar, sampai membasahi gamis bagian belakang. Saya meng-whatsapp Dokter Ian (dokter-nya milis sehat), beliau bilang kalau besok masih keluar cairannya, langsung ke UGD aja, takut Air Ketuban. And yes, besok pagi si cairan itu masih keluar. Pagi-pagi kami menitipkan Aya di rumah neneknya, saya dan suami langsung berangkat ke RSIJ, masuk UGD, dan akhirnya harus rawat inap. Saya langsung diminta berbaring dan meminimalisir gerakan, ambil urin dan darah. Cek jatung janin & tensi. Malamnya dokter kandungan saya baru datang, beliau mengecek vagina dengan kertas lakmus, dan katanya memang ketuban. Lemes lah saya. Dokternya bilang tetap optimis untuk melanjutkan kehamilan, tapi juga realistis mengingat usia kandungan baru 27weeks. Dari pengalaman dokternya bilang, ketuban rembes di Usia kandungan 20-an itu biasanya berakhir dengan keguguran/kematian, atau kelahiran prematur.
Tindakan yang dilakukan saat itu : pemberian cairan infus, injeksi antibiotik, dan suntik steroid untuk pematangan paru-paru janin in case harus dilahirkan prematur. Saya tipikal wanita gak takut jarum suntik biasa saja saat suster bilang mau suntik AB dari selang infus. Tapi ternyataaaa..rasanya masyaallah ya, air mata saya langsung keluar. Begitu juga suntik steroid di bagian belakang tubuh, heuuu sakitnya masyaallah. Akhirnya saya minta sama susternya, sesi suntik menyuntik dilakukan saat ada suami aja, biar mengurangi sedikit rasanya. Qadarullah dihari ke3 rawat inap, saya mengalami keputihan. Padahal sebelum-sebelumnya sama sekali gak pernah. Keputihan sebenarnya normal saja dialami ibu hamil, tapi untuk kasus ketuban rembes ini bisa berbahaya, mengingat adanya bakteri yang bisa masuk melalui selaput ketuban yang sudah tidak utuh lagi. Ohya, banyak yang bertanya apa sebenarnya penyebab ketuban rembes ini, sayangnya dokter manapun tidak bisa memastikan penyebab pastinya, hanya beberapa hal yg bisa jadi pemicunya, misalnya keputihan yang tidak normal, masalah dengan gigi, masih menyusui saat hamil juga bisa menjadi pemicu, karena saat menyusui menghasilkan hormon oksitosin yang bisa menimbulkan kontraksi. Saya saat positif hamil kedua masih tetap menyusui, karena sama sekali tidak ada kontraksi yang saya rasakan dan dokter pun membolehkan. Tapi dokter bilang, mungkin tingkat toleransi sakit saya tinggi, jadi walau ada kontraksi, saya tidak merasakannya. Balik lagi soal rawat inap, setiap hari saya dipantau leukosit dan denyut jantung bayi, pun dengan pengecekan indeks ketuban, alhamdulillah semua masih normal. Setelah seminggu dirawat saya dibolehkan bedrest di rumah, indeks ketuban saat itu 13koma. Daaaan, dimulailah hari-hari penuh kebosanan, dan harap-harap cemas. Bosan? Tentu saja.. saya yang biasa bangun pagi langsung beraktivitas dengan segala keriweuhannya, hanya diperbolehkan berbating atau duduk selonjor ditempat tidur. Sholatpun dilakukan di tempat tidur. Aya, layaknya saat saya ngantor, pagi-pagi dibawa sama mertua, nanti bada maghrib baru dibawa balik ke kontrakan kami, tidur bersama saya. Oh yes, saya tidak bisa lama-lama tidur tanpa Aya. Kehamilan memang mengaduk-ngaduk hormon wanita, apalagi kehamilan yang ‘bermasalah’ seperti saat ini. Perasaan saya pun ikut naik turun, kadang saya sedih sampai menangis-nangis, bahasa drama queen-nya : whyyyy me? Atau bs jadi saya ngomel-ngomel kesal, siapa yang jadi tempat pelampiasan? Tentu saja suami. Sampai beberapa kali suami nyeletuk : kenapa jadi sensi? Ya karna saya hamil, sesederhana itu saja jawaban saya. Kadang, saya bilang sama suami : coba rasain hamil sehari aja ya para suami itu, biar bisa tau gimana kondisi istri-istrinya, haha gak mungkin juga :p. Back to topic, di UK 30, keputihan saya makin banyak, saya minta di lakukan swab (cek lab kandungan keputihan) sama dokter kandungan. Alhamdulillah hasilnya baik-baik saja. Tapi saat kontrol kandungan di UK 33, dokter tiba-tiba mengecek vagina saya dengan lakmus, dan bilang ketuban saya rembes lagi, rawat lagi. Kali ini lebih lama, 9 hari. Lagi-lagi hari-hari saya lalui dengan selang infus, injeksi AB, dokter juga memberikan suntik steroid lagi, awalny saya menolak karena kan sudah disuntik saat UK 27 dulu, emang khasiatnya sudah hilang kah? Tapi beliau bilang memang ada 2 pendapat, suntik ulang atau tidak, beliau berpegangan pada kubu : suntik lagi. Saya tanya, apa efek sampingnya? Beliau bilang tidak ada. Hoya, dokter juga mengganti AB dengan merk paten karen katanya saat saya diberi yang generik, leukosit saya makin tinggi (Eh? Aneh). Honestly, saya sebenarnya merasa baik-baik saja sejak saya dirawat di Oktober lalu, entahlah hanya feeling saja. Saya hanya bisa cerita ke suami tentang beberapa perasaan saya yang mengganjal dari proses 2 bulan ini, dan katanya : dokter kandungan itu jauh lebih pintar dari kamu, percaya aja. Well, yasudah.. mau gimana lagi. Bismillah, ini kami lakukan sebagai ikhtiar terbaik untuk menjaga amanah Allah. Semua pasti ada hikmahnya.. saya belajar bahwa sabar itu memang bukan sesuatu yang instan, tapi perlu belajar tiada henti, karena ujiannya bisa datang kapan saja. Kami diperbolehkan pulang setelah 9 hari menginzp, dengan kondisi janin oke, ketuban berindeks 11koma. Alhamdulillah🙂

8 thoughts on “Cerita Kehamilan kedua

  1. icha… aku juga selalu bermasalah dg gigi tiap hamil… dan skrg udah makin parah juga giginya, satu geraham hampir copot, yang lain bolong, dan gigi depan keropos…

    selama ini males malesan ke dr gigi,

    makasii sharingnya… jadi makin semangat ke dr gigi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s