Si Botak dan Kontrakan Kecil

Sudah menjadi pertanyaan terpopuler di kamus-nya Aya, walau doi masih bayi imut-imut menggemaskan, tapi sudah sering dapat pertanyaan yang bahkan orang tuanya pun tak punya jawaban. Tentang rambut. Rambut Aya masih dikiiiit banget, tipis dan tampak nyaris botak, hihi. Bisa dibilang hampir selalu ditanya sama orang yang baru ketemu Aya, atau bahkan orang yang sering sekali kok bertemu Aya. “Ayaa, rambutnya kemana nih? Udah gede kok masih botak ajaa?” Tentu saja pertanyaan tersebut diiringi nada bercanda dan senyuman khas ke anak bayi. Aya yang kalau ditanya kebanyakan cuman diam, saya pun biasanya menjawab dengan senyuman saja. Laaah, masak iya saya harus minta sama Allah, minta rambut Aya lebat, hitam, bagus, keren gitu lah. Mana bisa yaa.. hihi.. Saya selalu mensyukuri nikmat Allah yang diberikan oleh kami berdua : hamil yang menyenangkan, persalinan yang super singkat, tubuh yang sehat-sehat sampai Aya nyaris 8bulan ini. Tak akan terganggu syukur saya, hanya karena rambut Aya yang masih sedikit itu. Lagipula saya tau dari mertua, katanya adik ipar saya pun begitu, bahkan di usia 5 tahun masih sangat minim, tipis, dan jarang-jarang, tapi sekarang alhamdulillah lebat dan kece gitu. Jadi saya tenang-tenang saja sih. Ada juga yang iseng komentar, saya sering pake-in Aya jilbab buat nutupin botaknya. Hihihi.. aya-aya-wae (ada-ada-saja, sunda.red) Dari Aya usia 3minggu, saat keluar pertama kali, saya sudah pakaikan jilbab. Aduh itu cita-cita saya banget laaah, punya anak bayi perempuan dan pake jilbab lucu-lucu gitu😀 Semanget banget deh kalau hunting jilbab kecil buat Ayaa..

Semalam, kami (saya, Aya, dan suami) sedang jalan bertiga menuju rumah.

Saya : “Aya, harus banyak bersyukur ya dikasih banyak nikmat sama Allah. Termasuk untuk rambut Aya, banyak bersyukur.. Karna janji Allah, akan menambahkan rezekinya untuk hambaNya yang pandai bersyukur untuk hal-hal kecil. Nanti in shaa Allah, rambut Aya akan lebat. Ya, Abeh ya?

Abeh : Iya, di Al-Quran ada juga bahasannya kok Aya..

Aya : *mandangain serius kami berdua*

Saya : Surat apa beh?

Abeh : hihihi lupa nama suratnya, tapi hapal ayatnya : wa-idz ta-adzdzana rabbukum la-in syakartum la-aziidannakum wala-in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiidun 

Aya : *masih memandang serius, bolak balik saya dan abehnya*

Saya : Iya ya Aya, Aya juga gak boleh sombong sama bayi yang rambutnya lebih botak dari Aya😀

Aya : *cengar-cengir*

—-

Setelah sampai rumah, dan kedua makhluk kesayangan itu sudah tidur, saya jadi tertohok dengan apa yang kami bicarakan tadi. Tentang syukur. Kami sejak awal menikah menempati kontrakan bedengan super sederhana di kawasan palbatu. Kontrakan dengan 3 ruangan tanpa pintu. Jadi losss begitu saja dari pintu masuk, alhamdulillahnya ada sekat. Pager? Jangan ditanya, jarak jalan umum ke pintu masuk hanya 1,5 langkah. Entah berapa sendal kami yang hilang, karena lupa memasukkan ke dalam. Ruangan pertama isinya motor, rak sepatu, kasur (tanpa tempat tidur), rak tivi, beberapa box container yang isinya full buku-buku saya, stroller Aya. Kami tidur, makan, nongton, menerima tamu, markir motor, disitu. Diruangan kedua isinya baju-baju, dulu kami punya lemari, tapi sayang pas saya cuti melahirkan, kontrakan kami bocor, sehingga lemarinya lapuk, dan mesti di buang. Jadilah baju-baju kami banyak berserakan diatas box-box saja, alhamdulillah ada rak susun yang menampung sebagian😀, tempat buat nyetrika, tempat dispenser, tempat kado-kado pernikahan dan lahiran yang belum terpakai, tempat karpet yang belum pernah dipasang, karena lebar karpet lebih lebar daripada space kosong yang ada di kontrakan kami, hihi. Ruangan ketiga isinya dapur, ada kulkas, kompor gas, mesin cuci, tempat baju kotor, kamar mandi, rak piring kecil, rice cooker. Seringkali saya sebel kalau liat rumah berantakan, baju dimana-mana karena gak punya lemari, hahaha.. Atau baju digantung di pintu kamar mandi karna gak punya gantungan baju di kamar mandi. Banyak banget sebenernya pemicu bikin sebelnya. Saya seringkali minta sama suami untuk pindah, gak heboh minta beli (cicil) rumah, pindah ke kontrakan yang lebih baik aja sudah lebih dari cukup. Eh qadarullah, sampai sekarang belum dikasih rezeki dadpet kontrakan baru yang ber-pintu lebih dari 1😀

Saya renungi, dan ketemu. Saya kurang bersyukur untuk kontrakan mungil kami. Saya lebih banyak mengeluh tentang listrik, air, bocor saat hujan ketimbang syukurnya. Bersyukur masih dikasih rizki untuk bayar kontrakan setiap bulannya, tak pernah telat. Bersyukur karena gang kecil kami, termasuk gang yang ter-bersih. Banyak tanaman hijau termasuk melati dan kemuning disempanjang jalannya. Tertatur dan bersih, tidak seperti gang kecil lainnya yang terasa kumuh. Bersyukur karena punya tetangga yang baik-baik. Bersyukur lokasi kontrakan kami yang sangat strategis, dekat kemana-mana, gampang transportasi umumnya. Ah banyak deh sebenernya yang bisa saya syukuri.   Sepertinya itu titiknya, saya yang kurang bersyukur. Maaf yaa Pak Suami, mungkin Allah bikin langkah kita terhenti karna sifat nyebelin si istri ini😦

Semoga Allah memudahkan langkah kami, menjemput rezeki halal dan barokah yaa, mohon doanya🙂

amaya

10 thoughts on “Si Botak dan Kontrakan Kecil

  1. rafsanjani juga rambutnya sedikit, tapi tetep ganteng kok. Jumlah rambut bukan indikasi tingkat kekecean seseorang. hahahaha. cemangaddh ya ayaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s