Cerita Kelahiran Amaya #1

Oke, karna banyak yang minta (sueeerr deh.. :p) cerita kelahiran anak pertama kami, mari mulai dengan basmalah, agar tulisan ini gak berakhir di folder draft sajah😀, bismillahirrahmanirrahiim..

h e r e  w e  g o !

Katanya anak pertama itu dikebanyakan orang, lahirnya maju dua-pekan, so saat usia kandungan (UK) saya sudah 38 saya sudah menyiapkan mental : siap lahiran. Sudah ambil cuti sejak UK 36, sudah rajin sekali senam hamil di RSIA Tambak ples rutin setiap pagi dan sore saya lakukan senam hamil sendiri dengan pedoman dari VCD pinjeman dari Mbak Ary sang tetangga + video2 dari Youtube. Karna gak punya gym-ball (setiap ke mall kota kasablanka, cuman mampu liat ajah :D), jadilah saya latihan ‘goyang inul’ sajah. Tentu saja semua gerakan sudah saya konsultasikan dengan instruktur senam hamil di RSIA Tambak. Jalan-jalan pagi dengan suami juga sudah rutin di lakukan. Kalau ketemu sabtu-ahad, maka rutenya bisa 2 atau 3 kali lipat, mengelilingi Pal batu. Saya pun rasanya sangat menanti-nanti gelombang cinta yang kita sebut kontraksi itu. Wah sudah 38!

Di salah satu  Group Whatsapp yang saya ikuti, yang isinya perempuan semua sudah sering saya tanyakan, seperti apa tanda-tanda mau melahirkan itu? ada yang bilang muncul flek, bercak darah, atau kontraksi yang timbul tenggelam, sampai kontraksi rutin. Dan yaaaa..setiap wanita memang beda-beda. Tidak bisa dipukul rata. Jadilah saya seringkali menduga-duga, hari ini dateng gak ya fleknya? atau kontraksinya? Sementaraa… diluar sana, terus menanyakan, kapan lahiran? Haloooo.. pertanyaan kapan lahiran itu hampir mirip dengan pertanyaan kapan meninggal, hanya Allah yang tau :p

Terus-terusan ditanya seperti itu, rasanya stress juga. Apalagi setiap yang liat kondisi saya sering kali bilang : belum turun ya bayinya? Padahal di UK 34 janin sudah pada posisi mantap loh. Tapi karna selama hamil saya cuman naik 6kg (ha ha ha, iya tau, naiknya dikit amat, setop komen :p) mungkin tampak tidak kasat mata kali ya itu posisi janinnya. Sebenernya saya selalu berusaha untuk santay, dan meyakini kalau setiap bayi punya waktu yang tepat untuk dilahirkan. Gak usah pusing lah, sudah ditetapkan kok. Tugas saya saat itu hanya, menjaga kondisi badan agar tetap fit, rajin senam, rajin jalan, makan-minum yang cukup dan bergizi, terus mengontrol gerakan bayi. Tapiiii.. ada aja orang luar  yang membandingkan, itu si A udah lahiran loh 38 minggu, si B, si C. Haha, biarin ajaah.. Walau kadang deg-deg-an sendiri, apalagi saat cuti bersalin, setiap hari, iya s-e-t-i-a-p-h-a-r-i, suami saya menanyakan “sudah mules belum?” makin deh bikin pikiran kemana-mana *ke itc ambassador misalnya.

Kontrol kehamilan sudah berlangsung seminggu sekali saat memasuki UK 36, Nahhhh..disinilah dimulai grasa-grusunya. Saat dokternya cek panggul, alhamdulillah panggulnya besar untuk dilalui si bayi. Tidak masalah katanya. Lalu saya mulai berdiskusi dengan dokternya mengenai proses persalinan, apakah memungkinkan partus spontan (normal) karna dari awal kan alhamdulillah tidak ada masalah ya, diskusi pula mengenai opsi Operasi Sectio Cesar itu terjadi saat kondisi seperti apa. Kata dokternya, saya bisa kok lahiran normal, tinggal tunggu aja mulesnya dateng. Lalu saya tanya, kalau mulesnya gak dateng di UK 40 gimana? Dokternya dengan santay bilang : saya kasih waktu 3 hari, kalau gak mules juga ya induksi atau Sc aja langsung juga gak kenapa. Weeeeeeww… kepercayaan yang saya bangun dengan dokter tersebut langsung hancur *gak lebay*, kok ya dengan mudahnya bilang gitu. Lalu saya mencoba membuka diskusi mengenai UK itu kan bisa 42w kalau kondisi janin oke, kondisi cairan ketuban oke, gerakan janin masih mantap. Tapi yaa gitu deh, nyaris nihil diskusinya. Apalagi sang dokter sempet bilang : Emang ibu lulusan kuliahan apa sih? bekgronnya kesehatan ya? hahaha, tutup buku aja deh :p. Yuk ‘yang, kita cari dokter lain aja. Begitu saya katakan kepada suami. Rasanya mencari dokter di UK 38 seperti mencari dokter di UK awal-awal lagi. hihi.. Saya pun mulai bergerilia menanyakan kesana-sini tentang dokter yang asik diajak diskusi..

-maap bersambung ;p

4 thoughts on “Cerita Kelahiran Amaya #1

  1. yayaya… saya salah satu yang menantanati postingan ini,, etapi kok besambung pulak?????? alamat lamalah hini sambungannya… fiuhhh..😦 (semoga ngagg.. hehe).. sunsayang buat amaya.. :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s