#Selftalk

Saya ambil buncis dan wortel dari kulkas di pojok kanan kontrakan mungil kami, teringat seorang Ibu di kantor sebrang berkata di hari kemarin lusa : “Icha, taukah kalau setiap detik yang kita lewati tanpa berdzikir (mengingat Allah), maka sudah pasti akan menjauhkan hati dan pikiran kita denganNya.” Merinding saya.

Sambil mencuci sayuran, saya masih saja teringat percakapan kemarin siang dengan si Ibu. Ah, betapa bahagia hati manusia yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Bukan hanya sekedar menampung, menyiapkan wadah untuk diberi, tanpa mau memberi.

Sembari memotong-motong kecil buncis dan wortel, saya teringat obrolan dengan seorang Mbak mengenai kisah Abu Bakar ra yang bahkan oleh Rasulullah langsung diberikan kabar bahagia bahwa Ia akan menjadi pimpinan jamaah di surga nanti, tapi tetap merasa takut dengan azab kubur dan azab neraka.

Seandainya aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang

Seandainya aku menjadi rumput yang akan dimakan oleh hewan

Seandainya aku hanya menjadi rambut seorang mukmin

Wahai burung, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum, dan terbang di antara pepohonan tetapi di akherat tidak akan ada hisab atasmu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu

Bahkan manusia se-level Abu Bakar pun masih sebegitu takutnya.. ah, hidup..

tumblr_ligpcixfwk1qfyzcjo1_500taken from here

**

Mata saya selalu mengeluarkan air mata saat mengupas dan mengiris bawang merah, terasa sekali pedihnya, pun malam hari itu. Membayangkan apa-apa yang terjadi di dalam kubur dan akhirat sana setelah masa hisab, tak bisa lagi dibedakan air mata yang keluar.

Teringat  dengan Papa yang hampir 5 tahun lalu meninggalkan saya, sering saya bertanya sendiri : ini Papa lagi ngapain ya? masa-masa penantian selama di dalam kubur, ah masih terlalu mengerikan bagi saya yang setelah menikah, tidur sendirian saja terasa tak nyaman.

**

Suami pulang bersamaan dengan janin di dalam rahim saya yang sudah mengetuk-ngetuk keras dari dalam : minta makanan mungkin. Aroma baju dan badan saya gak karuan membuat saya mundur beberapa langkah dari posisi suami berdiri di dapur, belum mandi + di dapur dengan limpahan asep. Begitu saja teringat seorang Ibu di kantor yang bilang : kalau suami pulang tuh mestinya kita udah mandi, udah wangi, udah cantik. Apadaya, saya pulang ngantor jam setengah 8 malam, dan baru bisa masuk dapur jam 8an untuk istirahat sejenak, karena perjalanan pulang yang lumayan menguras energi saya yang sedang berbadan dua ini.

Kami makan sembari menonton acara ILC  bawaan Karni Ilyas, tema malam itu tentang “Mengusut sidak Priyo”. Membaca judulnya terlalu menyeramkan bagi saya, apa ya rasanya di-omongin dalam suatu forum, eh ada kita-nya di forum itu. Dijelek-jelekin, disindir-sindir langsung di depan mata. Apalagi nanti persidangan Allah di hari akhir ya, dimana semua catatan kehidupan kita akan dibongkar habis-habisan, segala aib, kebohongan, kejahatan, bahkan penyakit hati yang tidak tampak pun akan Allah tampakkan. Merinding saya.

**

Makan malam hari itu berakhir dengan menyisakan sayur-gak-jelas di salah satu piring. Ah ada lagi yang terbuang malam ini. Saya teringat obrolan Senin siang dengan beberapa akhwat disebuah mushola kantor. Apapun yang bukan karena Allah akan berujung pada kekecewaan. Apapun yang kita harapkan dari manusia, akan berujung kekecewaan. Saat itu kami langsung membahas saat kami yang tidak-pernah-bersolek ini berusaha dandan untuk suami, eh suami malah bilang : aneh amat siih.. Kalaulah bersolek karena suami, dan mendapati suami merespon dengan yang seperti itu, pasti akan berakhir kekecewaan. Pun saat niat bersolek untuk suami, dan suami bilang : cantik! sungguh sayang sekali.. kita hanya mendapat ‘segitu’.

Juga tentang kasus kedua yang kami tertawakan bersama, saat (belajar) memasak dengan niat hanya untuk suami. Dan suami merespon dengan kerutan dahi, yang ada kekecewaan. Kata si Ibu seberang kantor saat itu : coba lihat niatnya, kita ingin bersolek untuk menyenangkan suami, dan menyenangkan suami adalah perbuatan yang Allah suka. Kita niat (belajar) masak untuk menyenangkan suami, dan menyenangkan suami adalah perbuatan yang Allah suka. Saat segala aktivitas kita diniatkan hanya untuk Allah, maka bisa jamin.. tak ada lagi kata-kata kecewa pada makhluk-Nya.

**

Saat mencuci piring dan peralatan memasak malam itu, saya teringat lagi dengan kejadian belasan tahun yang lalu. Saat saya (sungguh) berniat menyenangkan hati Mama dengan membantunya mencuci piring setelah acara makan besar sekeluarga, yang ada malah saluran air mampet. Saya dengan bodohnya membuang segala sampah sisa makanan kesaluran air tempat mencuci piring. Saya gak tau kalau dampaknya akan se-heboh itu, saya kena omel Mama habis-habisan. Karena saat saluran air mampet, bikin repot banyak aktivitas. Setelahnya, saya hanya mengunci diri di kamar, sambil bilang berkali-kali ke diri sendiri : Gak mau cuci piring lagi. Iya, ternyata niat saja memang tidak cukup, belajar dan terus ikhtiar mestinya.. Sore harinya saya baru mau keluar kamar setelah dibujuk-bujuk oleh Papa : mau diajak jalan-jalan ke Toserba Edi di Cilegon katanya🙂

**

Dan malam itu, pikiran saya terus menjurus kangen dengan Papa. Lelaki nomer satu. Kalau kangen gini, semua rekaman vidio-vidio selama 20 tahun hidup dengannya akan terus ter-play begitu saja. Jam 23.30, suami sudah tidur tapi saya masih sukses melek. Selain si kakak yang di dalam perut terus-menerus menendang, kangen dengan Papa-pun membuat saya semakin tidak bisa tidur. Ingin rasanya membuka laptop dan mencari satu-satunya rekamanan pembicaraan saya dengan Papa di tahun 2006, tentang final Piala Dunia, saat adu pinalti antara Italia dan Prancis. Tapi saya urungkan, dan memilih untuk segera beristirahat sambil terus mengucap

Rabbighfirli wali waali dayya war hamhuma kamaa rabba yaa ni shagiira…

**

Pagi ini, sampai di kantor saya menyadari banyak orang kantor yang menyebut-nyebutkan satu nama.. Beliau orang baik, dimana-mana  membicarakan segala kebaikannya. Pagi ini meninggal dunia. Masih jelas ingatan saya saat seorang teman yang sempat ikut ke DPR pekan lalu, bilang : “Cha, tadi aku duduknya di atas Pak Ragil, eh tadi sempet liat beliau lagi liatin foto istrinya lamaaaaa bgt.. sambil di usap-usap wajah istrinya”

ah dunia.

Jangan biarkan segala tentang ke-dunia-an mendominasi hati dan pikiranmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s