karena dasar dakwah adalah mahabbah

Berdakwah bukan sekedar mengatakan dengan lafadz dan perbuatan yang sama, tetapi memiliki kandungan yang sama. Kita diperintahkan untuk memberikan kabar gembira, dengan hikmah dan diskusi, nah hal semacam ini yang luas🙂

Fatwa Ulama :

Karena kejadian-kejadian tidak berhenti. Zama terus mengalami perubahan, situasi yang berbeda. Tapi dalam batasan-batasan metode yang telah digambarkan. Jangan kita melampauinya atau keluar darinya. Maka kita melakukan perbaharuan dalam batasan-batasannya dan mengadakan perubahan dalam lingkaran (yang telah ditetapkan), kita tidak keluar dari itu selamanya.

Kalau ada orang yang fatang dan mengatakan : “ini metode bertentangan dengan metode Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena di dalamnya ada bid’ah, (kita katakan) : “tidak”, karena di dalamnya ada metode yang dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah dengannya, seperti sarana informasi yang berbeda dengan masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, koran, radio, atau perkumpulan-perkumpulan yang berbeda dengan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semua ini mengikuti perkembangan zaman, para ulama justru memiliki kaidah, kebaikan-kebaikan yang mengikuti”

Adapun isi dan tujuan begitu juga dasar metode dakwah tidak boleh keluar dari apa yang telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bagaimanapun. “kesukaan orang” bukan menjadi tujuan, sedangkan tujuannya itu adalah bisanya diterima kebenaran, baik dengan cara yang disukai atau tidak mengalami kesulitan.

Tujuan dakwah harus sesuai dengan tujuan dakwah Rasulullah :

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan ta’atlah kepadaku. (Nuh : 3)

dari ayat tersebut dapat dipastikan bahwa tujuan dakwah adalah : mengajak manusia untuk bertauhid kepada Allah dan melaksanakan syariatnya.

Metode dasar dakwah harus sesuai dengan Rasulullah : 

1. Tidak melakukan perbuatan yang haram atau bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasul

2. Penuh Hikmah

3. Diskusi dengan yang lebih baik, sebagaimana dalam surat An-nahl ayat 125 :  Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

4. Kelemah-lembutan. berdakwah tidak penuh dengan kebencian, karna dasar dakwah adalah mahabbah (cinta).

dalam surat Tahaa ayat 43 – 44 : Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.

**Bahkan ya, kepada Fir’aun yang terkenal dengan kejinya membunuh entah berapa jumlah manusia, Nabi Musa dan Harun masih harus berbicara (berdakwah) dengan perkataan yang lemah lembut, coba sama-sama introspeksi cara menyampaikan kita yang sering kali jauh dari lemah lembut >.<. Ingatkah, saat ada seorang anak kecil yang mengingatkan seorang kakek atas kesalahannya, si kakek menerima tanpa beban, karena dakwah yang sesungguhnya adalah saat orang tersebut tidak merasa dinasehati.

Namun, bagaimana agar sampai tujuan dakwah tersebut tentu saja tidak harus seperti the-way-nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini karena adanya perkembangan zaman dan pola pikir yang berbeda, seperti : sarana informasi seperti koran, radio, internet, tv, dll, adanya sarana perkumpulan-perkumpulan seperti seminar-seminar atau tabligh akbar.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqafi dan Abu Kamil Al Jahdari lafazh keduanya tidak jauh berbeda, dan ini adalah Hadits Qutaibah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Musa bin Thalhah Radhiyallahu’anhu dari Bapaknya dia berkata:

Saya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma. Tak lama kemudian beliau bertanya: ‘Apa yang dilakukan orang-orang itu? ‘ Parasahabat menjawab; ‘Mereka sedang mengawinkan pohon kurma dengan meletakkan benang sari pada putik agar lekas berbuah.’ Maka Rasulullah pun bersabda: ‘Aku kira perbuatan mereka itu tidak ada gunanya.’ Thalhah berkata; ‘Kemudian mereka diberitahukan tentang sabda Rasulullah itu. Lalu mereka tidak mengawinkan pohon kurma.’ Selang beberapa hari kemudian, Rasulullah diberitahu bahwa pohon kurma yang dahulu tidak dikawinkan itu tidak berbuah lagi. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika okulasi (perkawinan) pohon kurma itu berguna bagi mereka, maka hendaklah mereka terus melanjutkannya. Sebenarnya aku hanya berpendapat secara pribadi. Oleh karena itu, janganlah menyalahkanku karena adanya pendapat pribadiku. Tetapi, jika aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu dari Allah, maka hendaklah kalian menerimanya. Karena, aku tidak pernah mendustakan Allah.’ (Shahih Muslim 2361-139)

Karena dasar dakwah adalah mahabbah, maka tak perlu lah setiap kelompok merasa dirinya benar, dan yang lain salah. Mencela yang lain karena tak sejalan. Menghina yang berpolitik karena menganggap tak ada tuntunan dari Rasulullah, menghina orang-orang di Pemerintahan atau pejabat sekelas menteri atau apapun karena saat zaman Rasulullah tidak ada yang seperti itu. Merasa benar karena ‘menyangka’ hanya dialah yang mengikuti the-way-nya Rasulullah, dengan dakwah membenahi akidah atau membawa label khilafah, atau apapun.. dan sebagainya…

417770_548795028485913_942117445_n

Gambar dari salah satu FansPag islami

kajian selasa pagi oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s