KEPO

Entah bagaimana ceritanya, beberapa bulan belakangan ini saya sering dengar (bahkan akhirnya jadi sering ikutan bilang) kata KEPO. Nah loh, berasa nilai ke-gaul-an bertambah kalau sudah sebut kata itu. Masih ingat betul pertama kali mendengar kata Kepo dari Si Abang (28th, menikah dengan 1 anak) : icha masih kepo aja nih. Wait, untuk bebera detik setelahnya saya sempat bertanya dalam hati : Kepo itu apaan yah? Sayangnya nilai ke-gengsian untuk bertanya pada Abang sendiri ternyata terlalu tinggi, akhirnya saya cuma bisa pendam dalam hati, sambil sok-sok mengerti. Masih ingat pula mendengar kata Kepo untuk kedua kalinya saat makan siang di rumah, dan  Mama yang hobi gonta ganti channel TV sampailah terlintas seorang presenter acara ghibah yang menyebutkan kata itu. Okeh dua kali saya mendengar dan masih belum tau artinya. Setelahnya semakin sering saya mendengar kata kepo dan berkesimpulan sendiri kalau kepo berarti rasa keingintahuan yang besar. Akhirnya kadang ikut-ikut-an juga pakai kata kepo. Alasannya bukan untuk menambah nilai ke-gaulan saya sih, cuma asik aja pronunciation-nya. Coba deh di-eja😀

Semakin kesini semakin yakin dengan arti kepo versi sendiri. Sampai akhirnya googling juga just make sure aja sih, karena kata kepo benar-benar lagi happening banget di dunia per-twitter-an. Hasil googlingnya yang paling masuk akal ada dua macam : Kepo merupakan akronim dari Knowing Every Particular Object adalah sebutan untuk orang yang serba tahu detail dari sesuatu, apapun yang lewat di hadapannya selama itu terlihat oleh matanya walaupun hanya sekelebat dalam beberapa kasus orang kepo adalah orang yang serba ingin tahu, bisa jadi kayak semacam kecanduan untuk tahu segala hal yang sepele dan itu bisa dia unggulkan sebagai kekuatan orang tersebut. Fakta kedua Kepo berasal dari bahasa hokkian : Kay poh (or Kaypo) Chinese origins (written as 雞婆 in Chinese) . Refers to a person that is nosey parker or busybody.
Eg ‘Eh, Don’t be so kaypoh leh!’.
Sometimes abbreviated as “KPO”. Wow, segitunya ya sejarahnya.

Menurut saya kepo dengan tingkat kewajaran yang masih normal adalah manusiawi. Apalagi buat orang-orang terdekat kita. Orang tua ke anaknya, abang ke adiknya, sesama sahabat, suami ke istri berlaku kebalikannya, dan ya even saat proses taaruf-pun memang dianjurkan untuk bertanya sebanyak-banyaknya kan kepada calon istri/suami?

Namun sunatullah juga sesuatu yang berlebihan (selain ilmu dan shodakoh) seringkali malah berdampak negatif buat si pelaku. Kepo kadang cukup mengesalkan untuk pihak ke-dua. Terlalu risih ditanya ini itu segala macem. Mungkin tipikal orang seperti ini akan merasa nyaman jika justru dia sendiri yang menceritakan apa-apa yang dia anggap penting untuk dicerikatan. Alami tanpa tekanan timbunan pertanyaan. Pun pelaku kepo kadang merasa baik-baik saja mengepoin (aneh nih bahasanya) orang lain. Perasaan sayang, atau khawatir bisa menjadi motivasi dia untuk seperti itu. Namun, jangan salah… ada juga tipikal orang yang justru senang di-kepoin sama orang lain. Katakanlah : merasa diperhatikan. No problemo🙂 Seperti saya yang seringkali di telpon mama or abang dengan kangen-band-style : icha dimana? Dengan siapa? Lagi ngapain? Ga mungkin kan saya jawab : kepo banget deh bang :p
Atau saat saya izin minta cuti ke atasan, pasti ditanya alasan cuti, ga mungkin juga saya jawab : Bapak kepo ya? *nah kan.

Ada banyak hal di sekitaran, yang tidak semuanya harus kita tau. Kadang justru tidak mengetahui apa-apa akan membuat kita merasa lebih nyaman. Kalaupun kita mencari tau, dan akhirnya tau, lalu tanpa manfaat berarti buat kita, buat apa? Sepertinya hanya memenuhi relung-relung penasaran yang kadang tanpa alasan. Minim manfaat. Sifat super reaktif dari (kebanyakan) perempuan juga bisa menjadi pemicu ke-kepo-an yang minim manfaat.

Seperti halnya saat ada temen yang keponya sudah berlebihan menurut saya, rasanya..errr… Apa yah disebutnya? Nyebelin. Misal, saat saya ke toilet, begitu saja dengan sengaja baca history chatt saya di PC, atau sengaja buka chatt saya di gtalk. Huwidihhh privasi orang ituh… Apa yah rasanya setelah membaca chattingan orang lain? Puas aja kan? Minim manfaat :p *dan kepo bukan hanya tentang perempuan, lelaki juga sama aja kok -pengalaman*

Lagi-lagi kita harus bisa mengukur diri atas semua tingkah laku kita kepada orang lain. Tingkat kepantasan seseorang untuk di-kepo-in tentu berbeda-beda tiap insan. Siapa yang bisa dan bebas kita kepoin, siapa yang haram kita kepoin, sudah semestinya punya filter sendiri dalam diri kita. Status sama bisa jadi sifat berbeda. Saya kenal betul dengan seorang Bapak yang merasa tertanggu dengan telpon ga penting (versi si Bapak loh ya) dari istrinya, sekedar bertanya sudah makan siang Ayah?  Tapi ada juga suami yang girangnya banget banget saat istrinya kirim chatt : sudah makan ayah? Nah yang seperti itu tentu hanya kita yang mengetahui karakter masing-masing kan?🙂

Sempat juga saya bahas sesuatu yang berlebihan tidak selalu berdampak baik, kecuali sedekah dan ilmu. Nah, kepo-lah dalam ber-ilmu. Kepo-lah memahami jutaan hadist-hadist Rasulullah. Seru rasanya kalau ada sekumpulan anak muda kepo pada sejarah hebat para sahabat Rasulullah. Kepo pada tumpukkan ilmu fiqh. Kepo pada ribuan tafsir ayat-ayat alquran. Huwidih, keponya full manfaat insyaallah🙂

Well, pandai-pandailah dalam ber-kepo yak🙂

Serang, 11 November 2012 [00:53]

One thought on “KEPO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s