H-1 untuk DKI1

Berkali-kali sudah beliau bilang : jaga emosi, jangan mudah nangis. titik. Apa daya, sepertinya sisi melankolisnya terlalu mendominasi ruang hati. Seperti semalam, saat Ustadz Teguh memberikan taujih sederhananya. Tentang Pemimpin. Tentang Jakarta. Yes, bagi kalian yang mengenal saya, pastilah tau dukung-siapa-saya-ini. Kerikil kecil sudah mulai bermunculan dari beberapa bulan yang lalu. Mulai dari cara yang dikemas halus berdiskusi ringan dengan inti : Pilkada itu busuk, bukan Islam, aqidah kalian rusak, hingga debat terang-terangan dari beberapa orang yang terlanjur frontal. Mungkin juga ada yang kesal dengan saya yang lebih menghindari debat-debat pepesan kosong, sorry to say tapi saya memang sengaja menghindari debat dengan jenis manusia-yang-saya-sudah-tau-isi-kepalanya, yang saya tau tidak ada solusi dikesudahannya.

Balik lagi soal Pilkada DKI yang akan dilaksanakan besok. Oh My, beneran besok? *Allah tidak pernah tidur cha, pun malaikat-malaikatnya yang terus mencatat segala tindak tanduk manusia PPS* Meski saya hanya tim-hura-hura di keluarga itu, saya tau betul apa yang sudah terjadi di dalamnya. Betapa kumpulan manusia berikhtiar semaksimal mungkin, bukan untuk mereka, bukan untuk partai, apalagi buat Ustadz Hidayat. Betapa kumpulan manusia ini sedari awal mengeraskan ikat pinggang demi terkumpulnya dana, merelakan waktu weekend keluarga untuk terjun langsung dalam aktivitas di dalamnya. Allahurabbi, balas mereka dengan pahala berlimpah-limpah.

Kenapa saya kekeuh dengan Ustadz Hidayat dan Prof. Didik? Sederhananya, mereka memenuhi seluruh kriteria pemimpin yang dicontohkan Rasul. Ada pemimpin terbaik di dunia selain Rasulullah? 1. Memegang Amanah, 2. Ucapannya Benar dan Jujur, 3. Mengedepankan Akhlakul Karimah, 4. Tidak tamak terhadap harta. Silahkan liat TL Twitternya @triomacan2000, @HidayatDidik, @Gusholah, @AryaShandiYudha, @salimafillah untuk fakta-fakta yang luar biasa, yang saya yakin tidak ada satupun calon lain bisa seperti itu. Pernah pula saya ditanya oleh seorang Profesor, kenapa dukung Ustadz Hidayat cha? saya jawab dengan simple, karna beliau takut hanya kepada Allah. Maka Allah akan membantunya memegang amanah berat itu.

Bagaimana dengan Prof. Didik? Sejujurnya saya tidak terlalu tau tentang beliau, tapi ada satu moment yang begitu membekas. Sekitar 3 bulan yang lalu, saya diajak si Boss untuk ikut rapat dengan seluruh Rektor dan Petinggi PTN seluruh Indonesia, lokasi rapatnya di ruang auditorium Kemendiknas. Rapatnya lumayan, alot dan panas. Beberapa Profesor terlibat debat panjang, seperti Prof Emil Salim dan Prof. Didik, bahasannya mengenai RUU PTN. Selagi diskusi panas itu, sekitar lima menit menjelang Adzan Dzuhur, tiba-tiba Prof Didik, langsung keluar : ke Masjid, laki-laki itu wajib sholat di Masjid. Subhanallah. Bahakan rapat sepenting itu, beliau acuhkan untuk sholat di masjid, meskipun di samping ruang rapat ada mushola. Saya langsung bisa menilai, betapa beliau menaruh akhirat di dalam hatinya. Beliau orang baik, dan lurus.

Pilih pemimpin yang takut kepada Alloh, tak cinta dunia, cerdas niscaya akan dibimbingNya, amanah dan adil -Aa Gym

Semalam pula saya dapat info terbaru dari Ustadz Teguh : Sekarang ini serangan fajar sudah tidak ada, karena dianggap tidak efektif. Sebagai alternatifnya : warga harus membawa bolongan kertas yang dicoblos untuk ditukar dengan sejumlah uang (sudah dapat info, pasangan nomor sekian akan mengganti potongan kecil itu dengan 250.000), atau bisa juga dengan membawa HP berkamera dan memfoto surat suara yang dicoblosnya.

Allahurabbi, ingin saya bertanya langsung : buat apa? cari apa? seolah-olah dunia akan sepanjang masa, lupa kelak akan ada hisab di akhirat. Belum lagi, kecurangan lainnya seperti panitia yang berkuku panjang, yang dengan sangat mudah merusak kertas suara sehingga dianggap tidak sah, atau dengan cincin, atau bahkan jual beli suara dari pasangan yang sudah nyata kekalahannya. Miris rasanya. Saya yang bodoh ini dibuat terheran-heran dengan sajian manusia-manusia tamak dan haus kekuasaan.

Saya tidak bangga atas keberhasilan yang tidak direncanakan, pun saya tidak menyesal atas kegagalan yang didahului dengan usaha yang maksimal. Manisnya adalah Allah memberikan keberhasilan atas usaha maksimal kita ~Harun Ar-Rasyid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s