Kenapa Belum Menikah?

Dua pekan yang lalu Abang ke-4 saya (akhirnya) menikah. Akhirnya? Iya, karena memang sudah waktunya, waktu terbaiknya Insyaallah. Terlepas dari niatnya yang (mungkin) sudah dari tahun-tahun lalu ditambah (mungkin juga) bosan dengan pertanyaan “kapan” dari segala jenis manusia😀

Tau kan apa yang terjadi saat Saudaramu menikah? Yayayaya, pertanyaan biasa, standar, itu-itu saja, dan yang jawabannya pun klise. Bayangkan saya yang TUJUH bersaudara, dengan puluhan sepupu yang se-umuran. Tentu saja kebal dan terbiasa ditanya “kapan”. Tahun-tahun kemarin jawaban saya beraneka ragam, sesuai mood.

Maunya hari ini, tapi si Abang nikah juga, jadi mesti ngalah.

Iya nih, belum ketemu pangeran bekuda emas.

Kapan ya? Kamu bisanya kapan maen ke Banten?

Dan jawaban-jawaban ngeyel sejenis, yang asli saya jawab dengan asal-asalan *doh!* Sampai akhirnya dua hari sebelum si Abang menikah, saya ketemuan di Bandara Polonia Medan dengan seorang teman. Mbak Kotsan saat di Jurangmangu dulu. Dia mendatangi saya di saat 30 menit sebelum pesawat berangkat. Dia, Suami, dan Anak mereka yang super lucuuu itu. Tak habis-habisnya saya menatap makhluk mungil itu sambil berkali-kali bertasbih. Mencolak-colek pipin gembilnya. Dan terus menerus takjub dengan si Mbak yang sekarang sudah menjadi Ibu. Fyi, kami sudah 2 tahun lebih tidak bertatap muka. Lalu terjadilah percakapan :

Uniii.. udah jadi Ibu aja ya, cepet banget😀

Iya, kamu kapan dong cha *pertanyaan klise yang saya jawab dengan cengar-cengir*

Eh Aku mau tanya ya cha, serius : Kamu mikirin nikah gak sih?

Jedeeeeng, meski sederhananya saya jawab : mikirin kok Uni, tenang aja. Padahal beberapa waktu setelahnya justru saya jadi tanya ke diri sendiri : kamu mikirin nikah gak sih? Kata mikirin berubah meluas makna. Sebetulnya sudah seringkali saya disindir : Jangan keliling Indonesia mulu, nikah dong. Jangan ngurusin anak kecil mulu, nikah biar punya anak kecil sendiri. Dan sindiran-sindiran standar lainnya, yang saya anggap sebagai bentuk perhatian.

Saya mikirin nikah kok. Saya pernah ber-proses-pun, meski jalan Allah menunjukkan belum waktunya.
Saya tidak serta merta minta di-carikan ngebut oleh Murabbiyah atau Orang tua. Saya santay, tapi tidak terburu-buru, apalagi melupakan. Biar Allah yang menetapkan waktunya. Akhirnya saya menyadari rentetan kejadian dalam hidup saya. Saya mau melakukan ini itu. Semua saya tuliskan sejak saya berumur 18 tahun. Apa-apa yang saya mau kerjakan, secara detail sekali saja tuliskan dalam sebuah buku. Meski ada beberapa yang ternyata diluar rencana, seperti kerja kantoran ini. Di Umur 18 tahun saya bercita-cita kelak akan mengurus tanah keluarga  yang berlokasi di Sodong, Banten. Bertani, menghasilkan beberapa jenis buah, dan tujuan besarnya membukan semacam TOTAL BUAH SEGAR yang berdampingan dengan  Toko ICE CREAM di wilayah Banten. Ternyata harus banting stir ke dunia ekonomi, dan bekerja dalam kubikel-kubikel ini. Sementara tanah itu dikelola Abang pertama, dengan 1 jenis tumbuhan saja. Itu jalan saya, saya terima, dan yakini, ini dari Allah. Ini yang terbaik, Insyaallah🙂

Dan di umur 18 tahun itu pula, saya tuliskan hal-hal yang akan saya berikan ke keluarga saya, baik secara materil dan non-materil. Alhamdulillah terlaksana, mesti ternyata ada beberapa hal yang harus dikurang dan ditambah. Tidak masalah.

Lalu tentang menikah, saya pun menulisnya. Masih ingat betul, saya mantap menulisnya kurleb di umur 24 tahun saya akan menikah. Dengan deviasi yang kecil, mari kita ambil range 23 – 25 tahun😀 . Sekarang umur saya 23 tahun. Mungkin itu pula yang membuat saya di tahun-tahun kemarin tidak kekeuh menikah. Tidak heboh ikut memberikan CV ke Murabbiyah, atau langsung menyatakan iya saat ada yang suka dan berniat berproses menikah. Mungkin karna pikiran saya belum terburu mengacu ke kata : nikah, cepetan. Eh Cepet-cepetan, buru-buru itu sifatnya setan loh😀. Menurut saya yang oke : tidak menunda, tapi tidak tergesa.

Saya hafal betul dengan tradisi (dan takdir) akhwat-akhwat dari kampus saya yang menikah dengan sesama (satu kampus maksudnya), begitu sudah dapat penempatan langsung nikah. Begitu turun-temurun. Saya kagum dengan mereka-mereka yang memilih langsung menikah. Tapi balik lagi, semuanya pilihan. Saya (memang) pada akhirnya memutuskan tidak langsung menikah saat sudah mendapat pekerjaan. Ada alasan-alasan pribadi yang saya miliki tentu saja. Baru kemudian saat saya memutuskan : iya, sudah butuh berproses, saya langsung bilang dengan Ibu, Ibu ke-dua, dan murabbiyah. Pun ketika kemaren lalu berproses dan gagal, ya memang sudah jalannya kan?🙂

eh Ibu ke-dua? bukan..bukan ibu tiri.. Beliau Ibu kotsan saya, yang jangan ditanya lagi seberapa intim saya dengan beliau. Bagaimana bisa saya tidak dekat dengan beliau, kalau pagi malam, weekend saya bertemu dengannya. Terlebih beliau tadinya adalah guru ngaji saya😀.  Beliau pun turut andil dalam proses kehidupan saya selama di Jakarta. Sampai suatu malam, sambil mengelus kepala saya, beliau bilang :

Mau yang seperti apa? Yang ini gak mau, yang itu gak mau, mau yang seperti apa?

Pernah saya nakal, dan bilang : mau arsitek mi!😀 dan benar-benar dicarikan seorang arsitek,hehe.. Beliau teramat baik, baiknya minta ampun, dan frasa sejenis yang sebenarnya tidak mampu menggambarkan kebaikan beliau. Hingga akhirnya saya tanya :

kok aku belum  nikah ya? temen-temen sudah punya anak, bahkan ada yang sudah punya dua bayi.

Alhamdulillah dikaruniai Ibu ke-dua dengan pengetahuan luar biasa. Beliau akhirnya menjelaskan tentang 4 dunia akhwat (ada istilah bahasa arabnya, tapi saya lupa). Kira-kira begini penjelasannya :

Dalam diri seorang akhwat, terdapat 4 porsi yang punya hak dan kewajiban masing-masing. yang pertama : Akhwat sebagai hamba Allah, porsinya 25% dari hidup seorang akhwat. Artinya dia harus totalitas dalam menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Segala  yang bermunculan dari title “Hamba Allah” harus dia lakukan, tanpa terkecuali. Beribadah wajib, shalat fardu secara khusyuk dan tepat waktu, tilawah yang sudah punya targetan tiap harinya, infaknya, sodakohnya, amalan-amalan sunnahnya. Semua berkumpul memenuhi satu porsi dalam diri si-akhwat. tidak boleh ada yang kurang. Yang kedua : Akhwat sebagai makhluk sosial, porsinya 25% . Hidup bermasyarakat  tentu bukan perkara mudah, ada banyak hal yang harus dipenuhi. Buat yang masih nge-kost : Kenal kah dengan tetangga kanan-kirinya? atau sudahkah menjadi teman pertama yang diminain tolong oleh sahabatnya? Dan hal-hal sosial lain yang harus kita penuhi kewajibannya. Yang ketiga : Akhwat sebagai seorang istri. Porsinya 25%. Maka penuhilah segala macam, semua jenis kewajiban dari posisi seorang istri. Melayani suami, menjadikan suami lebih berbakti kepada orang tuanya, menghormati suami, dan lain-lainnya hingga suami Ridho kepada sang istri. Dan porsi 25% terakhir adalah akhwat sebagai seorang Ibu. Dimana tanggung-jawab super besar atas posisi ini. Sudah bukan sendiri lagi, sudah bukan berdua lagi, tapi lebih dari itu. Yang dipundaknya terdapat amanah untuk membentuk generasi rabbani. Subhanallah.

Nah, jika saya bertanya mengapa saya belum menikah maka Ibu kedua memberitahukan : Saya belum bisa membenahi porsi 1 dan 2 yang seharusnya menjadi 50% : 50% dalam diri seorang akhwat-single. Saya belum mampu menjadi hamba Allah secara total, pun saya belum bisa total dalam hidup bermasyarakat. Atau Porsinya yang belum adil, bisa jadi 70:30 atau sebaliknya. Yang pasti, saya belum memenuhi syarat keadilan yang fifty:fifty itu. Bagaimana mungkin Allah memberikan amanah porsi ketiga saat dua porsi diawal belum saya penuhi secara benar. Apalagi langsung memeberikan 4 porsi. Itulah sebabnya, menikah dikatakan memenuhi setengah agama. Karena amanahmu, sudah lengkap 100%🙂

Jadi, tertelusuri-lah penyebabnya. Yang belum nikah, mari perbaiki hubungan kita dengan Allah dan hubungan dengan lingkungan kita. Berikan haknya, penuhi kewajibannya. Insyaallah setelahnya akan lancar *begitu kata Ibu kedua. I believe ALLAH has a bigger plan for me than I had for myself 🙂

One thought on “Kenapa Belum Menikah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s