mari bicara tentang hal ini lagi : mati

Apa yang lagi dibahas di meja bundar hari ini?

Tentang seorang pegawai beda lantai yang indigo, kami melahap habis seluruh isi blognya. Tentang, hantu kamar mandi perempuan, tentang hantu di jalan, dunia lain beda dimensi. Hal-hal yang cukup ‘menyenangkan’ oleh anggota meja bundar sembari menunggu kapten-kapten membawa kabar. Sempat saya bertanya bodoh: kalau saya mati, gentayangan gak ya? Seolah-olah tidak tau dengan pasti tahapan manusia setelah mati. Melalui Alam barzah yang di dalamnya ada azab kubur bagi manusia yang ‘nakal’ saat di dunia, lalu hari kebangkitan, lalu berkumpul di Padang Mahsyar, pemberian syafaat bagi yang berhak, di lanjut dengan masa hisab lengkap dengan pemberian catatan amal baik dan buruk, dan Mizan – perhitungan- amalan kita. Dan melewati Shirat, *mengetikanya sudah bikin bergidik* and the last : Surga atau Neraka. Selesai.

Seringkali saya nakal semau-maunya, layaknya hidup tak ada ujung. Tapi tersedu-sedu jika ingat mati. Setelah itu nakal lagi, dan menangis lagi. Taubat macam apa? Saya pernah bertanya (via email) dengan Ustadz yang biasa mengisi kajian pagi di kantor sebrang, intinya : Bagaimana ini Ustadz, saya merasa ‘lurus’ hanya di hari Selasa dan Rabu (setelah ikut kajian pagi), setelah itu saya kembali ‘nakal’. Ustadznya balas, intinya : Gak kenapa, terus di-tingkat-kan, hingga setiap hari ‘lurus’. Nakal? Tobat lagi. Nakal lagi? Tobat terus. Semoga di-istiqomahkan jalan menuju kebaikann. Pernah ada seorang teman-nya-teman yang ‘begajulan’, ancur-se-ancur-ancurnya, Islam sih, tapi ya gitu.. Saat ditanya apa keinginan terbesarnya, dia jawab dengan yakin : Gak muluk, gue berharap bisa mati dalam keadaan Islam. Iya, sering saya berharap (mungkin berlebih harap) : Allah saya mau mati dalam keadaan beriman kepadaMu. Saya iri, benar-benar iri dengan (alm) Bapak. Allah benar-benar mengabulkan doanya tentang cara kematiannya, di hari Jumat, di bulan Ramadhan.

Seperti pagi tadi, saat tiba-tiba diri tidak seimbang, dan pandangan agak buram. Saya langsung menghubungi teman dekat di kantor. Minta di antar ke Dokter. ternyata dia tidak bisa. Akhirnya saya memaksakan diri keluar kantor untuk ke Dokter. Beberapa kali saya harus berhenti dan menutup mata untuk beberapa saat karena merasa tidak seimbang. Saya pikir, saya bawa dompet yang berisi kartu identitas dan name-tag-kantor, amanlah mau jatuh dimana-pun. Alhamdulillah sampai juga ke Dokternya. Tapi nasib belum begitu baik, Dokternya tidak ada : lagi pergi. Ada Dokter laki-laki sebenarnya, tapi saya risih. Saya bilang : mau tunggu dokter perempuan saja. Tapi sakit-nya semakin menjadi, saya juga tidak pegang obat peredanya. Akhirnya saya menangis sendirian. Hahaha, memalukan. Beberapa perawat panik, dan minta saya tiduran saja. Tapi saya tolak, sambil senyum *menahan malu*. Lalu oleh seseorang yang baik hati, saya dibuatkan Teh Manis Hangat : biar lebih tenang. Yang ada saya malah tambah nangis : ini orang baik amat, kenal juga enggak. Dalam hati saya terus mendoakan orang-orang yang luar biasa baik dan perhatian itu. Saat menangis itu, saya cuman ingat : bagaimana kalau saya mati hari ini? Selimut tadi pagi belum dibereskan, buku-buku masih terhampar di tempat tidur, pakaian kotor masih numpuk, meja kantor masih berantakan, ibu saya, adik saya, janji saya mau ajak nonton Negeri 5 Menara sama keponakan-keponakan, hutang hafalan saya yang terus menunggak, pesenan jaket dan barang dagangan lain yang masih dalam proses, haha.. saya mikir itu dalam satu waktu, dan berhasil membuat saya semakin banjir air mata *seorang diri, di sebuah klinik*

tiba-tiba Samsung saya bergetar, muncul gambar gadis berjilbab biru. Si Mbak kantor yang tadi pagi saya minta tolong. Icha dimana/masih di dokter/ lalu dia bertanya macam-macam, tapi saya gak bisa jawab, karna menangis parah. Lalu lima menit kemudian si Mbak sudah ada disamping saya (big thanks mbaaaak >.<). Berceritalah kami tentang proses kematian.

Mbak ada di samping Mama, waktu beliau mau meninggal?

Iya, aku tidur bareng semaleman. Ketiduran jam 1, kira-kira jam 3 pagi Mama sudah tidak bernafas, tapi badan masih hangat, dan masih ada gerakan ringan di leher. Mungkin sakaratulmautnya. Mama koma sudah dari beberapa hari yang lalu, jadi sudah ada feeling. 

Oh jadi sudah siap mental lah ya?

Gak juga, karena sebelumnya Mama pernah seperti itu, dan sembuh.

Hooo.. beda-beda ya.

dulu waktu Bapak-ku beda. Jam 10 malam bapak masih telpon aku : menyemangati aku yang mau UAS terakhir, mengiming-imingi akan menjemputku besok siang, bercerita selama satu jam tentang apa aktivitasnya hari itu : main dengan cucu-cucunya, mengabari akan menjemput si Abang di Bandara setelah menjemputku di Bintaro. Menyatakan dengan sangat yakin, Lebaran Idul Fitri kali ini akan sehat-wal afiat. And Yess, 4 jam berikutnya si Abang menelpon, bilang : Kakak Icha, Bapak barusan meninggal. Menangiskah saya saat itu? Tidak, sama sekali tidak. Bahkan saya menenangkan si Abang yang masih terus menangis. Lalu setelah telpon berakhir, saya ke toilet : ambil wudhu. Lalu sholat Tahajud. barulah di sujud terakhir, saya menangis sejadi-jadinya. Tidak ada teman sama sekali di kotsan, mereka sudah mudik. Lalu 15menit kemudian, saya mengetok pintu Ibu Kotsan, minta makan sahur. Ujian saya? Hanya satu soal yang saya jawab. Saya langsung pulang, sudah di jemput si Abang didepan kampus. Jadilah satu-satunya “C” di transkrip kuliah saya, hehe. Saya masih beruntung saat UTS dapat A, jadi bisa bantu UAS yang tidak layak dinilai.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

2 thoughts on “mari bicara tentang hal ini lagi : mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s