menata hati-5

“Kamu, hanya harus jujur dengan perasaan kamu sendiri. Membohongi perasaan hanya akan mengusir ketenangan hatimu. Sedang menghindarinya, akan menghilangkan keleluasaan yang kamu punya. Kamu jadi bukan kamu. Kamu ada, tapi sebagian dirimu hilang entah kemana. Ditutupi topeng yang kamu sendiri tak tahu bagaimana bentuknya. Dan yang nampak dari luar; kamu sudah bukan kamu lagi. Apakah orang lain suka? Bisa jadi ia, kalau mereka belum tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Yang jelas kamu pasti tak menyukai dirimu sendiri. Karena kamu mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Karena kamu tahu dengan pasti; apa yang kamu lakukan, apa yang kamu ungkapkan adalah bukan apa yang kamu rasakan. Memang begitu adanya. Tak ada orang yang suka dibohongi. Termasuk dirimu, walaupun pelakunya adalah diri kamu sendiri. Terserah mau secerdik apa kamu membohongi dirimu sendiri.”

Kalimat itu menghujam dalam hatiku, keluar dari mulutku sendiri dan diperuntukan untuk diriku sendiri. Tapi kamu punya andil yang sangat besar di belakangnya.

Pada mulanya, aku hanya ingin menjaga perasaan kamu. Maka kusimpan saja ketidaksukaan itu. Tak kuungkapkan, tapi sangat kurasakan. Dan sungguh sangat tidak enak merasakannya. Inilah salah satu kebodohanku. Bagaimanalah bisa menjaga perasaan orang lain, jika perasaan sendiri masih berantakan. Aku pikir itu adalah bentuk pengorbananku untukmu, sebagai sahabat, atau sebagai apalah karena kita sudah cukup lama melewati kebersamaan yang sama. Dan lagi-lagi aku salah. Pengorbanan harusnya membuat kita bahagia. Tidak menderita, apalagi menyisakan penyesalan. Sayangnya, yang terakhir yang aku rasakan. Penyesalan yang aku sisakan. Dan benci yang aku simpan.

Padahal perasaan ada bukan untuk disimpan. Ia ada untuk disalurkan atau dihentikan. Menyimpan rasa benci hanya membuat hatiku semakin busuk. Dan aku membutuhkan pelampiasan untuk menghentikannya. Terserah apakah itu baik; dengan membalas segala benci dengan melakukan kebaikan terhadapmu, dengan mencoba menyadarkanmu untuk berubah dan tak menyakiti lagi. Atau melalui cara buruk dengan memaki atau memarahi kamu, meledakkan segala ketidaksukaanku padamu yang sudah lama tertanam di dalam hati. Yang jelas, hatiku tak mau membusuk. Dan aku butuh tempat untuk membuang perasaan itu. Walaupun memang, Tuhan selalu menjadi tempat pelampiasan yang paling baik.

Barangkali ini juga berlaku untuk rasa cinta. Cinta dalam konteks laki-laki dan perempuan. Bukan cinta dalam konteks keluarga, sahabat atau kerabat. Menyimpannya hanya akan menimbulkan ketidaktenangan, kekhwatiran dan perasaan tidak jelas lainnya. Menyalurkan atau menghentikannya bisa jadi pilihan yang paling baik. Walaupun itu butuh proses yang tidak sederhana. Dibutuhkan keberanian yang tidak kecil untuk mengambil salah satu dari dua keputusan itu. Dan tentu saja, menyimpannya adalah pilihan yang paling mudah sekaligus paling tidak gentleman yang bisa dilakukan seseorang.

Ah, sudahlah. Stop. Aku sedang tak ingin membicarakan cinta. Aku sedang membicarakan benci. Dan aku masih membenci kamu. Tapi aku tak mau hatiku kian membusuk. Aku sedang belajar untuk meneladani Ali:

***

Barangkali kepala orang itu sudah terpisah dari badannya, jika saja orang itu tidak meludahi Ali Bin Abi Thalib. Setelah salah satu musuhnya terdesak dalam duel di sebuah peperangan, Ali sudah melayangkan pedangnya ke kepala musuhnya itu. Sayangnya, sebelum pedang itu sampai ke kepala, musuhnya itu meludahi Ali. Maka Ali tidak melanjutkan niatnya itu. Dan membiarkan musuhnya tetap hidup.

“Aku ingin membunuhmu karena Allah. Tapi karena kamu meludahiku, aku khawatir niatku sudah berubah. Aku tak ingin membunuhmu karena kemarahanku.”

Bagitulah jawaban Ali ketika ditanya musuh yang bersangkutan, kenapa Ali tak jadi memenggal kepalanya.

***

Dan aku? Tentu saja masih sangat jauh dari kebijaksanaan Ali. Tapi aku ingin jujur dengan perasaanku sendiri, sebagaimana Ali jujur dengan perasaannya sendiri: Aku membenci kamu. Dan aku sedang marah padamu. Sampai sekarang aku belum tahu bagaimana melampiaskannya. Entah akan dengan cara yang baik, atau hanya bisa dengan cara yang buruk. Aku juga belum tahu kamu harus tahu ataupun tidak. Kamu akan tahu kalau aku memilih menyalurkannya dengan cara yang buruk. Dan tentu saja kamu tak perlu tahu kalau aku bisa berdamai dengan hatiku sendiri untuk memilih menyalurkan benci itu dengan cara yang baik. Syukur-syukur bisa mematikannya.

Sekarang, aku tak ingin lagi berbohong dengan perasaanku sendiri. Dan aku harus segera meminta maaf pada diriku sendiri karena sudah sekian lama membohonginya. Aku juga harus membujuk sebagian diriku yang lain untuk mau memaafkan diri sendiri. Semoga saat untukmu segera tiba: saat aku minta maaf dan memaafkan kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s