menata hati-4

Kalau setiap orang hanya akan menuai apa yang ditanam, apa yang akan dituai oleh orang yang menanam perasaan?

***

Hati kita punya banyak ruang. Dan dari sekian banyak ruang itu, selalu tersedia ruang benci diantaranya. Begitu juga dengan hatiku. Yang aku tak mengerti, kenapa kamu harus memasukinya? 

Ada sejumput rindu yang menjemput. Mengajak hatiku berdamai untuk menerima apa yang telah terjadi. Kembali ke masa lalu, merasakan apa yang pernah kita rasa dalam kebersamaan ini. Menyusuri segala hal yang membuat kita saling merasa nyaman untuk saling mendekat dan mengikat. Tapi kenyataan lebih kuat dari kenangan masa lalu. Dan kabar buruknya, hatiku masih tetap menolak untuk berdamai. Atau masalahnya bukan tentang masa lalu atau sekarang, toh banyak juga yang terjebak dengan masa lalunya, hidup dalam harapan agar kondisinya seperti masa lalu, padahal waktu sudah berdetak berjuta detik, dan kita sudah sama-sama mengalami banyak perubahan.

Apa memang begitu hukumnya, segala yang menyakitkan akan bertahan lebih lama walaupun kadarnya hanya sedikit. Sedangkan segala yang membahagiakan akan cepat terlupakan walaupun kadarnya melimpah. Barangkali itulah salah satu penyebab, tetua kita yang bijak bestari menyimpulkan peribahasa yang serasa tak adil, tapi memang begitu adanya: “Nila setitik bisa merusak susu sebelangga”

Entahlah, yang pasti sekarang kamu sedang menempati ruang benci di hatiku. Dan aku belum tahu caranya untuk mengeluarkanmu dari sana. Apa aku usir saja kamu secara paksa, agar kamu tidak mengganggu hidupku. Agar kamu tidak mencemari ruang yang lainnya. Tapi bukankah itu percuma saja, karena walaupun kamu tak ada disana, ruang itu akan tetap ada. Hanya siapa yang mendiaminya yang berbeda. Kalau bukan kamu, tentu saja ada orang lain. Sekarangpun kamu bukan satu-satunya penghuni. Masih banyak yang lainnya. Hanya saja, kamu yang paling mendominasi. Apa aku hancurkan saja ruang itu, agar ruang itu tak ada dalam hatiku? Tapi bagaimana bisa, bukankah hati adalah sesuatu yang diberikan Tuhan satu paket dengan ruang-ruangnya. Sudah begitu adanya. Mana bisa melanggar sunatullah-Nya.

“Aku tak menanam rasa benci itu. Kamu yang membuatnya tumbuh di ruang benciku. Kamu yang menyuburkannya dengan tingkahmu yang tak aku suka, dengan perilakumu yang menyakiti. Dan aku yang harus menanggung deritanya, yang merasakan ketidak-tenangan-nya.” Itulah apa yang aku pikirkan. Dulu.

Lalu, kedewasaan menamparku, membangunkanku dari kekonyolan yang tak aku sadari. Hati itu lahanku, milikku. Ruangan yang ada di dalamnya juga sepenuhnya kuasaku. Apa yang harus ditanam dan tumbuh disana juga pilihanku. Jadi kalau kamu menawarkan bibit kebencian, harusnya aku menolaknya. Tidak menerimanya begitu saja. Jikapun tak sengaja bibit itu tersebar di ruang benciku, kemudian tumbuh subur, harusnya aku bisa menatanya sedemikian hingga, agar ia tak tumbuh merajalela. Agar ia tak menjadi parasit bagi yang lainnya.

Dan parahnya, aku salah besar, ternyata ruangan di hatiku bukan diperuntukkan untuk orang lain. Bukan juga untukmu. Ia diperuntukan bagi sifat-sifat yang dimiliki orang lain. Termasuk sifatmu. Sifatnya, bukan orangnya. Setiap orang memiliki sifat baik dan sifat buruk. Kalau begitu, harusnya kamu tidak hanya menempati ruang benci di hatiku karena keburukanmu, tapi juga ruang sayang di hatiku karena kebaikanmu. Dan harusnya aku yang lebih banyak mengajakmu untuk berada di ruang sayang hatiku, bukan malah membiarkanmu berkeliaran di ruang bencinya. Maaf.

***

Apa yang dituai dari orang yang menanam perasaan? Sekarang, aku mengerti jawabannya. Jawabannya adalah perasaan yang sama. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s