menata hati-3

Dan pada akhirnya; aku harus berterimakasih kepadamu. Terimakasih atas segala yang pernah kamu lakukan kepadaku. Walaupun itu sungguh menyakitiku. 

***

Syahdan, anak kecil itu sangat dilindungi dari hujan. Bagi ibunya hujan itu merepotkan. Dia tak mau anaknya kedinginan. Dia tak mau anaknya sakit karena kehujanan. Sampai tibalah musim hujan yang cukup panjang. Dan sempurna anak itu di rumah selama musim hujan. Diselimuti kehangatan di dalam sini dari dinginnya hujan di luar sana.

Ibunya melupakan dua hal; rasa sayang yang terlalu berlebih kadang amat melumpuhkan. Perlindungan yang terlalu ketat kadang malah jadi melemahkan. Lihatlah anak kesayangannya terputus dari pergaulan. Terasing dengan kesendirian. Hanya karena hujan. Padahal sebagaimana tanaman, anak kecil itu butuh hujan untuk melampiaskan keceriaan. Ia butuh tahu apa dan bagaimana itu hujan. Karena suatu hari ia pasti akan langsung berhadapan dengan hujan. Suatu hari entah kapan, ia akan punya masa-masa sendirian. Dan tak ada yang tahu persis, kapan ibunya akan meninggalkan.

***

Akulah ibu itu. Ibu dalam bentuk yang lain. Ibu pemiliki anak kecil. Anak kecil yang juga dalam bentuk yang lain: hati. Dan kamulah hujan itu.  

Kesalahanku adalah terlalu memanjakannya. Melindunginya dari berbagai sakit. Padahal, sakit juga rasa. Serumpun dengan bahagia, cinta dan sejenisnya. Karena sakit adalah rasa, hati juga berhak untuk merasakannya. Tapi selama ini aku menjauhkan hatiku dari rasa sakit. Aku terlalu takut untuk menghadapi sakit. Dan aku lebih memilih untuk membuangnya jauh-jauh dari hati. Dengan menghindarimu. Menjauhi pembawa hujan yang akan menyakiti. Membuangnya jauh-jauh dari pikiran. Dan mengaku-ngaku kalau sudah ikhlas menerima dengan apa yang terjadi. Lantas, aku menangaggap diriku menang. Hatiku menang. Aku ikhlas. Padahal menang itu butuh perjuangan. Padahal ikhlas itu sebuah perjalanan. Adakah disebut menang kalau kita tak pernah bertarung? Adakah disebut sampai kalau kita tak pernah berjalan? 

***

Suatu hari sang Ibu lalai untuk menjaga anak kecil kesayangannya. Lihatlah, anak itu malah ketawa-ketiwi di halaman depan. Bermain dengan air hujan. Ketahuan ketika hujan sudah berhenti. Sang Ibu hendak marah, tapi apa daya anaknya keburu demam sebelum ibu marah. Dan anak itu sakit satu minggu lamanya. Tapi, Hey ketika sembuh anak kecil itu jauh lebih ceria. Lebih menyenangkan melihatnya menikmati keseharian. Wajahnya jauh lebih nyaman dan tentram dilihat. Setelah itu, Ibu tadi tidak melindunginya lagi dari hujan. Sekarang, anak kecil itu tidak sakit lagi walaupun ia kehujanan.

***

Ibu dalam bentuk yang lain itu akhirnya sadar;

Perasaan, apapun jenisnya, selalu indah jika dirasakan pada saat yang tepat. Jika kita mengerti kenapa harus merasakan itu. Jika kita tahu harus diapakan perasaan itu. Jika kita bisa menata ruang perasaan yang ada di hati. Agar tidak tertukar. Agar enak untuk dirasakan. Tentu saja, kita akan lebih keren jika menangis ketika sedih, bukannya tertawa. 

Sekali lagi; terimakasih. Terimakasih sudah menyakiti aku, sudah mengecewakanku; yang membuatku mengerti bagaimana caranya memaafkan, yang membuatku sedikit tahu apa itu kedewasaan, yang mengenalkanku dengan sesuatu yang bernama kebijaksanaan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s