mau seperti apa matinya?

sering saya berfikir, seperti apa ya meninggal itu?

bagaimana rasanya?

seperti apa sakitnya?

sering saya berfikir, akan seperti apa saya meninggal nanti?

bagaimana cara meninggalnya?

dimana meninggalnya?

Seingat saya, sejak saya SD, Almarhum Bapak beberapa kali berkata, tentang permohonannya. Permohonan sederhana tapi aneh di telinga saya saat itu.

Bapak ingin meninggal di hari Jumat, di Bulan Ramadhan.

kata, biar dalam keadaan bersih. Dan terjadilah minimal 4 kali dalam setahun, saya ketakutan sendiri, apa Bapak akan meninggal hari ini? 24 jam yang mendebarkan. Bahkan saya masih SD, sudah paham betul bahwa kematian itu tidak mengenal sehat atau sakit. Kalau-pun Bapak dalam keadaan sehat bugar, apa yang bisa membelokkan takdir Allah. Mungkin supir Bapak ngantuk, jadi mobil bisa salah jalan. Mungkin juga anak krakatau meletus tiba-tiba, dan tempat kerja Bapak yang menjadi sasaran utamanya. Dan yak, kurang lebih 15 tahun saya dalam ketakutan. September 2008, Bapak benar-benar meninggal. Di hari Jum’at, di Bulan Ramadhan. Sesuai permohonannya. Rasanya aneh, waktu Abang mengabari lewat telpon, kalau Bapak meninggal jam 2 pagi tadi. Rasanya benar-benar aneh, karna dari jam 21.00 s.d. 22.00 saya ngobrol panjang dengannya. Saya cerita seharian ngapain aja, saya cerita laptop hadiah darinya tiba-tiba nge-hang, saya cerita besok mau UAS terakhir, saya cerita kalau saya sudah sangat ingin pulang ke Serang. Satu jam kami berbincang. Bapak cerita kalau hari ini rasanya sehat betul, penyakit jantung koronernya tidak kambuh barang sekali, makannya lahap, dan cerita rumah sudah sangat ramai oleh cucu-cucunya. Bapak juga cerita besok pagi akan menjeput saya ke Bintaro, sekaligus menjemput Abang di Bandara. Rasanya benar-benar aneh, mendapatkan berita mengejutkan itu, seorang diri. Benar-benar sendiri. Saat teman-teman kotsan sudah mudik, dan saya benar-benar sendiri di kotsan. Rasanya aneh, Jumat yang biasanya ditakutkan selama 15 tahun lebih tiba-tiba terlupa begitu saja, dan tiba-tiba pula datang tanpa menyapa. Doa Bapak benar-benar terkabul, meninggal sesuai permintaannya. Sakaratul mautnya begitu cepat, tidak sampai 5 menit.

Sejak itu, saya sering berdoa. Mau seperti apa saya nanti? dengan cara apa saya meninggal? Hari apa? Bulan apa?

Sendirian di kotsan, kadang bisa menjadi hal yang menyeramkan. Bahkan hanya untuk sekedar menutup mata untuk tidur. Sering kali saya berbicara kepada diri sendiri. Kamu datang ke dunia ini sendiri, melakukan hal -sesuka-mu sendiri, dan tanggung jawab oleh diri sendiri. Mati sendiri, di kuburan sendiri, di alam sana sendiri. Mati itu adalah kata terampuh dalam mengendalikan kelakuan nakal saya. Jika saya macam-macam, saya suka bilang sama hati :

Bagaimana kalau kamu mati saat ini?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” [Q.S Ali Imran (3) ayat 185 ]

3 thoughts on “mau seperti apa matinya?

    • ada saat-saat dimana lebih nyaman untuk tidak sendiri, misal : datang ke undangan pernikahan, ngobrol -> masak ngobrol sendirian? tapi ada juga saat-saat lebih baik sendirian… yaa, tergantung situasi dan kondisinya mb..

  1. dari mulai judulnya hingga akhir serasa ‘jleb jleb jleb..’ (nusuk)

    benar sekali bahwa ‘Mati itu adalah kata terampuh dalam mengendalikan kelakuan nakal kita’ ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s