kelas biasa, Dua Empat.

Katanya jadi yang biasa-biasa saja alias standar itu gak enak ya? dulu, waktu masih di kampus kuning setiap hari saat OKK (ospek.red) dicekokin untuk jadi mahasiswa yang gak biasa-biasa saja, bla bla bla. Eh tapi beberapa hari yang lalu saya menyadari satu fase hidup yang berjalan begitu biasa, tapi tersimpan dalam memori yang luar biasa. Jadi ceritanya, ada rutinitas kelas 24 untuk kumpul setiap bada lebaran. Eh ya, 24 itu kelas kami saat SMA. Pas jaman saya, kebijakannya seperti ini : kelas 1.4 akan diteruskan menjadi kelas 2.4 (tanpa ada pengurangan siswanya), baru setelah kelas 2 masuk ke penjurusan IPA atau IPS di kelas 3. Naaaah, karna kami selama dua tahun terkurung bersama di ruangan kotak-kotak itu, sense of belonging satu sama lainnya mungkin sudah terlalu tinggi. Mari saya ceritakan sedikit tentang kelas biasa kami😉

Dua Empat, bukan kelas yang paling PINTAR seperti Dua Sembilan yang ada Salman Salsabila di dalamnya, (Salman adalah siswa paling cerdas di angkatan saya, NEM tertinggi, masuk Fasilkom UI lewat PMDK).

tapi, Dua Empat juga bukan kelas paling rendah nilai rata-ratanya seperti kelas dua xxx😀, jadi nilai kami masih biasa ajalah. standar. dibilang tinggi..gak tinggi-tinggi banget.. dibilang rendah juga enggak. Kalau indikatornya lulus SPMB, ya lumayan laaah, peringkat 1 masuk FK UNS, peringkat 2 (siapa ya? Kobo chan bukan?) Elektro UGM, lumayan lah… UI, ITB, Unpad, STAN, dll mah masuk😀. Tapi meski masuk kelas yang standar, sepengetahuan saya yaah.. justru siswa dari kelas kami-lah yang lanjut duluan ke S2, Alhamdulillah🙂

Dua Empat bukan juga kelas yang hebat banget olah raganya, bukan juara SMANSA CUP, kami kelas biasa aja.. kalah dipertengahan. Tapi, kelas kami bisa memenangkan salah satu pertandingan futsal sebagai hadiah ulang tahun untuk Dinie Dyah Ayu, mati-matian mainnya biar bisa ngasih kado ke Dinie🙂

Dua Empat juga bukan kelas yang anak-anaknya rajin oraganisasi banget, tapi kami bukan kelas yang meremehkan kegiatan-kegiatan dari OSIS dan Eskul sekolah. kalau boleh di bilang, kami tim hura-hura deh, hehe.

Dua Empat juga bukan terkenal sebagai kelas dengan orang-orang kaya, seperti kelas Dua Tujuh yang ada cucu dari orang paling kaya di Serang. Tapi kami pernah selama beberapa bulan setiap hari menyisihkan uang jajan untuk membiayai pengobatan (dan kehidupan) salah satu orang tua teman kami.

Dua Empat bukan kelas yang paling nurut dengan guru, kami pernah dijemur di lapangan karna banyak dari kami yang heboh bercanda padahal pembukaan UUD saja masih belum hapal, hehe.

Dua Empat juga bukan kelas yang alim-alim banget, kami pernah memfotokopi memperkecil beberapa bab mata pelajaran Ekonomi Bu Cha-cha, karna malas menghapal materi yang bejibun alaihim gambreng, hehe jangan ditiru. Tapi pernah pula, kami dengan penuh kesadaran akhirnya “menyantren” (apa sih bahasanya? pokoknya pesantren gitu) selama beberapa hari di daerah Anyer sana, dimana yang lain hanya ikut pesantren kilat di sekolah, tapi kami mengurusi sendiri semuanya, hingga akhirnya bisa ngerasain yang namanya Pesantren. Masih inget gak, Guru Agama dan Kepala Sekolah kita sampe nyamperin ke Anyer ngunjungin kita-kita? masih inget  sama lagunya Raihan yang Al-Kahfi itu, yang tiap hari harus kita nyanyiin meski sampai ketiduran😀

Dua Empat bukan kelas yang selalu bertanggu jawab, terlebih dengan piket kelasnya. Tapi pernah kah kelas kalian izin seharian untuk tidak ikut KBM? Kami pernah!  karna kami mengurusi seluruh proses pengurusan jenazah salah satu bapak teman kami, dari awal. iya, benar-benar dari awal. Dari mengurusi di Rumah Sakit, mengurusi pemandian jenazah, penguburan, sampai yang remeh-temeh seperti membeli kertas kuning pertanda “ada yang meninggal”, sampai mencari batang pisang untuk penguburan.

Hello Dua Empat, kemarin Saya dan beberapa teman yang lain ke rumah Bu Igin (wali kelas saat kelas satu), dan Bu Nani (wali kelas saat kelas dua), dan betapa mereka tidak pernah menyesal menjadi orang tua kita. Masih tersimpan foto-foto kita loooh🙂, kalau kalian mendengar cerita mereka (yang hampir sama tiap kunjungan tahunan), pasti kalian merasa senang menjadi kelas yang biasa-biasa saja, tapi tertanam di memory orang-orang luar-biasa.

taukah, dari 2006 hanya kelas kita yang rutin kumpul setiap bada lebaran? Alhamdulillah.. semoga usianya panjang yaaa ^o^, nih ada foto buka bareng tahun 2006 (kalau gak salah :D)

One thought on “kelas biasa, Dua Empat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s