dari Petasan sampai Alter Ego

Sepertinya saya memang masih  harus harus harus belajar mengendalikan esmosi, terbukti semalam gagal total ngadepin anak-anak -beneran masih anak-anak- kwitang. Jam setengah 10 semalam saya keliling komplek nyari anak lulusan ITB (Institut Tambal Ban, hehe peace), akhirnya ketemu di jalan kembang sembilan di ujung komplek. Pulang dari jalan kembang sembilan menuju kwitang satu E itu ampun deh, istighfar terus saya. Udah kayak jalan di lintasan bekas perang aja, dimana-mana ranjau petasan. Sedikit-sedikit saya harus menghentikan sepeda, nungguin petasan meletus (eh atau meledak sih?), sambil pasang tampang geram dan nutup telinga.

DUUUAAAAARRRR!!!

HUAHAHAHAHAHAHHA

itu suara petasan yang di lanjut sama suara ketawa anak-anak. Masyaallah ya, padahal mereka itu kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah, yang rumahnya di belakang komplek saya. Yang kalau lewat gang mereka, cuman bisa buat satu orang, dan suara dari rumah yang satu pasti terdengar oleh empat rumah yang mengapitnya. Tapi, tetep aja ya, anak-anaknya berani bakar-bakar uang.  Sampailah saya ke Ind*mar*t di depan kwitang IH. Setelah beli minyak goreng, dan mengambil sepeda saya tidak langsung pulang ke kotsan, tapi diam dulu memerhatikan perang petasan di depan IH situ.

Salah satu mamang Ojek : Hwoooooyyy, berenti dulu si mbak ini mau lewat!! -si mamang ojek mesti berteriak sampai urat lehernya kentara, untuk mengalahkan suara-suara petasan dan tawa-tawa bocah itu.

Saya : Gak usah mang, saya emang mau liatin mereka perang petasan. sambil mendekati mereka2 yang lagi perang yang di tongton sama mamang2 tukang ojek, sama mamang nasi goreng beserta jajaran pengantrinya.

Pikiran saya sudah kacau sekali semalam. Geram! bisa-bisanya main petasan di komplek perumahan orang, malam-malam, ganggu orang komplek. Padahal disekitar situ kebanyakan penghuninya sudah berumur. Kan bisa ganggu jantungnya!! Semakin geram, semakin geram! Akhirnya saya datangi mereka, trus saya ambil satu-satunya anak perempuan disitu yang saya hapal sekali wajahnya karena selalu ribut kalau sholat tarawih di masjid Wali Songo kwitang.

Saya : Heh kamu, namanya Rani kan? Ngapain kamu main petasan malam-malam gini? bukannya belajar di rumah! -temen-temennya langsung diam semua.

Rani : -cuman nyengir nakal-

Saya : Heh kalian ya (sambil ngeliat ke arah temen-temennya si Rani), kalian beli petasan itu pakai apa?

Mereka : Duit kaaakkkkkk…. -nadanya sebel gt-

Saya : Duitnya dari siapa?

Mereka : Dari Bapak kakkkkkk

Saya : Bapak kamu kerja susah-susah, ngojek, mulung, jualan, ngasih uang buat anak-nya, ternyata di pake buat beli petasan, petasannya di bakar pulak! sama aja kalian ngebakar duit bapak kalian tau!

mereka : -hening

Saya : Kakak tanya, kalian tega banget ya sama bapak kalian? udah gak sayang lagi apah?

mereka : sayang kakkkkk…..

Mamang Ojek : Nooooh dengerin omongan si kakak ini.

Saya : Bapak-bapak juga aneh, malah demen nontonin, kenapa gak dilarang? malah di biarin!

Mamang-manang ojek : -nundukin kepala

setelah omelan-omelan itu, ternyata dari kubu ‘lawan’ masih melempar petasan ke arah kami. Dan..

HUUUAAAAAAAAA, PETASANNYA KENA MUKA GUEEEEE

nah! si bocah yang tadinya giat banget lempar-lempar petasan, sekarang nangisnya paling kenceng. Petasannya tepat kena muka dia, saya gak liat mukanya gimana, dia langsung nutupin. jadi pas meledak, pas jatuh di mukanya. kasihan. ternyata omelan saya gak mereka dengar, temannya membalas kembali. Jadilah saya malah ada di tengah-tengah perang itu.

PRRRRRRIIIIITTTT!!!!!! -suara pluit.

HEH ANAK-ANAK BUBAR SEMUAAAAAAA! -bapak itu membawa pluit dan kayu panjang buat ngusirin anak-anak kecil itu. Anak-anak malah kesenengan, dan ngeledekin bapak itu.

GUE KASIH TAU YAAAAAAA…. KAKAK INI POLISI TAU!!! LO BAKAL DI MASUKIN PENJARA KALAU MASIH MAEN PETASAN!!

tiba-tiba aja semua mata orang-orang sekitar situ pada menuju ke arah saya. Jedeeenk, yang di maksud “kakak ini” itu saya ternyata. Oh ya, biarin aja deh mau di kira polisi kek! yang pasti setelah diteriakin polisi, anak-anak itu langsung pada diam, dan ngabuuuuuuurrrrr. Perang-pun usai.

Sekarang saya tau, kenapa di Jakarta sering ada tawuran antar warga. Karena memang mental perang itu dibiarkan mengalir, tumbuh kembang begitu saja oleh lingkungan sejak anak-anak. Bayangin, sejak mereka TK, saling lempar petasan di anggap hal yang wajar oleh lingkungannya. Saling berantem, di anggap sesuatu yang biasa saja. Mentalnya udah dipupuk  menjadi mental preman! Masyaallah.

Padahal masa anak-anak s.d. umur 16 tahun adalah masa-masa emas buat pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. Tahapan-tahapan perkembangannya harus dilewati dengan terproses, tidak boleh ada yang terlewat, tidak boleh ada yang over. Tepat dua bulan yang lalu, saya mendapati fakta bahwa ada seorang wanita berumur 23 tahun yang (katanya) ingin mengakhiri hidupnya (bunuh diri) kalau diputusin pacarnya, karena pacarnya memilih wanita lain. Hem, awalnya saya ketawa aja baca sms seperti itu. Masak iya sih, ada orang yang rela mati, cuman ditinggal pacar. Tapi kemudian saya ngobrol dengan Ustadzah saya yang seorang psikolog mengenai hal itu. Yep, ternyata memang ada. Kata beliau, background keluarganya merupakan pemicu utama dari munculnya keinginan untuk mati. Mungkin, sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, sehingga saat ini saat tidak bisa mendapatkan laki-laki idamannya muncullah niat untuk bunuh diri itu. Mungkin dulu orang-tuanya berfikir selalu menuruti dan memeberi apa yang anaknya minta adalah salah satu bentuk kasih sayang. tapi lihat kan hasilnya setelah dia dewasa? sifat yang gak banget itu muncul dengan sendirinya, dan penyakit seperti ini kalau gak dia sendiri yang berniat sembuh, ya akan terus berkembang menguasai kepribadiannya. Hii serem.. (eh semoga nulisnya gak pake tendensi ke arah siapapun ya, hehehe)

Seminggu belakangan ini saya juga jadi rajin baca-baca tentang penyakit kejiwaan : Multiple Personality Disorder (alter ego), dan Schizophrenia. Ada satu titik kesamaan yang bisa saya ambil, yaitu terdapat ‘kesalahan’ di masa kecil yang mereka lewati. Sesuatu yang membekas dan membuat mereka trauma.

See? betapa pendidikan dan pengasuhan anak itu sebegitu pentinganya. Punya efek yang sangat panjang, sampai si anak mati, bukan sampai si orang tua mati loh ya. Oh ok, saya memang belum punya anak, belum nikah pula, tapi bukan berarti saja nulis seperti ini ibarat orang yang sok tau loh ya😀

Bukankah punya anak itu adalah amanah? yang harus ditanggung beserta seluruh konsekwensinya?🙂

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Lukman : 17)

One thought on “dari Petasan sampai Alter Ego

  1. huaa ha ha ha.. cerita nya ada y lucu.. pas dek iha dibilang polisi… ha ha ha… *ngebayangin dek icha dengan kerudung begitu make topi polisi… ha ha ha ha…

    trs trs, cerita ttg ce bunuh diri itu bagi siapa y mengetahuinya mungkin tau itu di arahkan ke siapa.. weeeeekkkkk….

    nice story.. nice advice.. nice experiment.. nice and nice and nice and nice….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s