Anak

Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatinu).” (HR. Aththusi)

malah yang saya inget, ada tuh kewajiban seorang Bapak kepada anaknya adalah mencarikan Ibu yang baik untuk calon anak-anaknya.  Tapi saya jadi miris, kalau mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat saya sedang duduk-duduk santai menunggu martabak matang di perempatan Rivoli, ternyata di belakang saya (katanya) ada tiga orang anak yang (mungkin) berniat mencuri sesuatu, kondisi ransel saya sudah terbuka lebar. Plong banget, tinggal ambil barang-barang aja. Isinya ada satu dompet isinya 2HP, 1 I-pod, dan uang sekitar 3 juta rupiah (bukan uang saya tapi). Alhamdulillah, saya langsung sadar, dan mereka langsung kabur juga. Lucunya, orang-orang disekitar (pedagang, pengamen, dkk) cuek bebek aja dengan kejadian itu. Mungkin sudah biasa, atau memang dibuat biasa? allohualam.

Rasanya sedih aja, mereka bertiga menurut taksiran saya masih berumur 7-10 tahun. Masih pada bocah-bocah. Sayang kalau mesti berprilaku seperti itu. Kok ngenes banget ya. Tentu bukan salah mereka sepenuhnya, lingkungan yang membuat mereka nyaman dengan kondisi seperti itu.  Kalau sudah begini, kadang ada pertanyaan, siapa yang harus bertanggung jawab? Orang tuanya? atau siapa? Sebenarnya tidak terlalu penting jawabannya. Buat saya pribadi, lakukan hal-hal yang dapat kamu lakukan, sekecil apapun itu.

Awal-awal tinggal di kwitang,  selepas pulang kantor saya sering main dengan anak-anak jalanan di perempatan Senen. Ngobrol-ngobrol aja, sambil traktir Ice-Cream, mereka seneng banget tuh. Tapi udah males deh, kalau mereka bilang gini:

“Kak, uangnya aja dooong”

Jyahaha, pengen saya jitak deh, hehe gak deng. Kegiatan itu berlangsung selama 3bulan-an, sampai akhirnya ada orang kantor yang menegur saya, katanya terlalu bahaya kalau saya sendirian gitu. Perempuan pulak. Besoknya saya lakukan rutinitas itu, dan memang baru saya sadari ternyata kalau lagi ngobrol-ngobrol sama mereka di taman depan gunung Agung itu, banyaaak banget mata-mata preman Senen yang memantau. Dari mimiknya, memang tidak begitu suka dengan kehadiran saya. Akhirnya setelah diceramahin sama temen kantor itu, saya mundur deh. Udah banyak cerita yang endingnya nyeremin berurusan dengan preman Senen.

Tentang perilaku anak memang beda-beda ya, sesuai dengan kondisi keluarganya seperti apa. Dulu waktu jaman kuliah, saya pernah mengajar (apapun = pelajaran sekolah, atau TPA) berbagai macam anak. Dari mulai anak Dosen, anak ‘warga biasa’, anak pemulung, dan sekarang anak Ustadzah (eh cuti dulu deng yg ini). Daaan, semuanya beda-beda. Kalau ada pertanyaan mana yang paling susah? Anak Pemulung itu paliiiiing susah, karena memang lingkungannya keras. Butuh sabar dengan kualitas akut untuk transfer ilmu dengan mereka.

Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi)

–Tiba-tiba saya pengen nulis tentang anak, karena hari ini banyak yang bawa anak ke kantor😀

(ini bonuslah foto2 saya sama Kaori, anak perempuannya bapak2 di kantor :D) saya kapan ya punya anaknya? hehe

icha n kaori

One thought on “Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s