Tentang Memasak

Kamu jago masak  ya? Enggak.

Kamu suka masak ya? Biasa aja, lebih suka baca buku (dua hal yang tidak bisa dibandingkan hoy)

Ada rutinitas baru sejak tiga minggu lalu. Memasak sebelum ke kantor. Riweuh? Pastinya.. Apalagi seminggu pertama saya belum punya kulkas, jadi tiap subuh harus ke pasar, mau gak mau. Alhamdulillah, Ibu Kost yang baik hati mengizinkan saya membeli kulkas (dengan kompensasi, uang kostan naik 50rb –> saya yang minta sendiri), jadilah sekarang ke pasar paling cepet 5 hari sekali. Kenapa harus memaksakan diri untuk memasak? Riweuhnya, mepetnya kalau bangun kesiangan, selalu ada cucian tupp*rw*are+penggorengan ditiap pulang kerja, panasnya kalau masak dalam keadaan ready ke kantor, sampai… rasa masakannya yang aneh, hehe. Dari semua kegaduhan itu, banyak manfaat yang saya rasakan tiga minggu ini. Mari saya tulis satu-satu🙂

1. Katakan tidak untuk tidur setelah subuh. Jangan harap bisa tepat masuk kantor, kalau baru mulai masak jam setengah tujuh-an, wassalam aja. Bada shubuh sampai jam enam itu waktu-waktu yang sangaaat mepet sekali. Biasanya saya langsung menyiapkan baju+jilbab kerja, lanjut sesi pemotongan, iris-iris, cuci, jam enam kurang sepuluh, biasanya sudah siap untuk masak.

2. Meski rasanya kadang enak, lebih banyak anehnya, tapi dengan sangat pasti kamu mengetahui apa yang kamu makan. Karna, kamu yang beli sayur+lauknya, kamu yang cuci dengan air bersihnya, kamu yang potong-potong dengan pisau yang higienis, penggorengan bersih, kondisi dapur aman tidak seperti  dapur-di-warung-warung-kebanyakan, dan yang paling saya suka dari memasak sendiri adalah : Kamu dengan pasti mengetahui bahwa sarapan kamu tidak mengandung unsur M*CIN, atau M*SAK* bahkan R*YK* dan sejenisnya. Terlepas dari kontroversi bahaya atau tidaknya mecin, saya sih tetap anti-mecin😛

3. Dengan memasak dipagi hari, hidup jauh lebih teratur. Bangun jam segini, sholat jam segini, ngaji jam segini, mulai masak, bla bla bla. Sampai akhirnya TEPAT waktu tiba di kantor, jadi TC tetep utuh, tidak kena potongan telat absen🙂

4. Belajar berumah tangga. Yah, lumayan lah sedikit-dikit belajar masak dari sekarang. Meski rasanya masih kadang membuat dahi berkerut, namanya juga belajar. Kata (alm) Bapak, suami saya akan senang kalau saya bisa masak , hehehe

5. Pengalaman adalah guru terbaik. Sepanjang belajar memasak tiap harinya, pasti kamu mendapatkan sesuatu. Misal, jadi tau agar bawang bombay tidak cepat gosong sebaiknya dipotong agak lebar. Agar labu siyamnya tidak bergetah dan jadi lemes saat dimasak, bubuhi garam setelah dipotong-potong. Bahkan saya jadi tau, kalau tumis 1buah oyong+3wortel+2tomat menjadikan sayuran tersebut terasa aneh *menu sarapan pagi ini, haha

6. Hemat. yaiyalah.. seminggu saya belanja paling 20ribu. Padahal harga sarapan di kantor dengan teh manis berkisar 13ribu. lumayan kan🙂

7. Terhindar dari ajakan ber-hedon. “duh, sarapan aja nge-bekel, pasti susah deh di ajak nongton” hahaha, biarin deh sampe ada pertanyaan “kamu lagi nyicil rumah ya? bawa bekel segala”😀

kalau mau berfikir keras sepertinya masih banyak manfaatnya, tapi ini udah mau pulang, jadi tujuh dulu saja🙂

hayuk (belajar) memasak ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s