Syarat-Syarat IMAM (bonus: sedikit sirah sahabat)

Tulisan kali ini lumayan panjang, yang mau minum dulu, sok atuh.. atur nafas dulu juga trus Baca Basmallah.. :)

di sini Imam terbagi menjadi 2 :

1. Imam Kubra, artinya Imam dalam skala besar, Imam dengan kepemimpinan yang bersifat makro, dengan tupoksi menjaga kemaslahatan manusia dalam urusan agama dan dunia. Subahalloh..

Menurut ulama, menentukan Pemimpin (Imam) merupakan suatu kewajiban dalam ajaran Islam. Hal ini tercermin saat peristiwa wafatnya Rasululloh SAW. Sesaat sebelum Rasululloh dikubur, para sahabat sudah membahas tentang Imamah/Kepemimpinan. Hal ini sangat penting, terkait dengan tempat pemakaman Rasululloh. Kaum Muhajirin keukueh menyatakan Rasul harus dikubur di Mekah, karna Rasul lahir di Mekah. Sedangkan kaum Anshor menginginkan Rasul dikubur di Madinah, karna merupakan tempat hijrahnya. Akhirnya setelah melakukan musyawarah di Sagifah Bani Saidah (semacam Balairung di kota Madinah), diangkatlah Abu Bakar sebagai Pemimpin saat itu. Abu Bakar  memerintahkan bahwa dimana Rasul wafat, disitulah beliau dikuburkan. Maka Rasul pun dimakamkan di kamar Aisyah, di Madinah. FYI, Abu Bakar sendiri merupakan Kaum Muhajirin. Intinya, tidak boleh ada vacum of power yang terlalu lama. Pengangkatan Abu Bakar saat itu, berfungsi untuk menentukan langkah-langkah setelah Rasul wafat :

a. Menentukan tempat pemakaman Rasul

b. Menentukan penggiliran sholat janazah Rasul (karna, luar biasa banyaknya yang mau menyolatkan Rasul)

c. Menentukan siapa yang harus turun, menaruh janazah Rasul (akhirnya, hanya pihak keluarga saja)

Selanjutnya, Setelah lebih 2 tahun kepemimpinan Abu Bakar, beliau jatuh sakit dan akhirnya wafat. Digantikan oleh Umar Bin Khattab, lalu Utsman Bin Affan, dan yang terakhir Ali Bin Abu Thalib.

Syarat Kepemimpinan (kubra) :

1. Muslim

2. Merdeka

3. Laki-laki

4. Berakal

5. Baligh

6. Memiliki Kemampuan

Kepemimpinan tersebut dapat terbentuk dengan cara :

a. Dipilih dari Ahlu Hilli wal Aqdi (orang yang dipercaya oleh masyarakat, menentukan siapa yang harus dipilih)

b. Warisan/keturunan

c. Kudeta/Pemberontkan (karena terpaksa)

Fadhilah Menjadi Imam :

Dari Salamah Binti Hur, Rasululloh bersabda:

“Sungguh diantara tanda hari kiamat, para ahli masjid saling mendorong karena tidak ada Imam yang mengimami mereka” (HR. Abu Daud)

2. Imam Sugra, Yaitu kepemimpinan dalam lingkup mikro. Misalnya, Imam dalam Sholat berjamaah.

berikut syarat-syarat Imam (Sugra) :

a. Muslim

Hanabilah : Jika kita sholat di belakang orang-yang-diragukan-keIslamannya, sholatnya terhitung SAH selama belum jelas kekafirannya. Dan jika setelah sholat barulah diketahui kekafirannya, maka hendaknya mengulang sholatnya. (Pada dasarnya, setiap orang yang mendirikan sholat adalah Muslim)

2. Baligh dan Berakal

Malikiah dan Hanabilah : Mumayyiz (blm baligh) tidak diperbolehkan untuk menjadi Imam pada sholat Fardhu, tapi boleh pada sholat Sunnah, misalnya sholat Tarawih.

Hanafiyyah : Tidak diperbolehkan baik sholat Fardhu ataupun Sunnah.

Al-Atsram meriwayatkan dari Ibnu Mas”ud dan Ibnu Abbas radhiayllahu anhuma bahwa: Janganlah seorang anak kecil mengimami shalat jamaah kecuali setelah bermimpi.

Dari Ali Bin Abi Thalib, Rasululloh bersabda :

“Diangkat pena atas 3 perkara : Orang yang tertidur hingga bangun, Anak kecil hingga bermimpi, dan Orang gila hingga berakal” (HR. Abu Daud)

Sedangkan menurut Syafiiyyah : tidak mengaoa bagi Mumayyiz untuk menjadi Imam dalam sholat Fardhu ataupun Sunnah, selama mengerti cara menghilangkan Najis serta mengerti syarat-syarat per-imam-an.

Amr bin Salamah menuturkan kelengkapan kisahnya: Kami bermukim di dekat sebuah mata air yang biasa dilewati orang-orang. Suatu ketika serombongan musafir yang berkendaraan melewati kami. Kami pun bertanya kepada mereka, “Bagaimana kabarnya orang-orang? Ada apa dengan mereka? Bagaimana dengan lelaki yang sedang ramai pemberitaannya?” Mereka menjawab, “Lelaki itu mengaku Allah-lah yang mengutusnya dan memberi wahyu kepadanya. Allah mewahyukan kepadanya ini dan itu (dengan membacakan wahyu Al-Qur’an yang mereka maksud).” Aku pun menghafalwahyu berupa ayat-ayat Al-Qur’an tersebut seakan-akan menempel dalam dadaku. Sementara itu kabilah-kabilah Arab menunda keislaman mereka sampai Fathu Makkah. Mereka mengatakan, “Biarkan dia dan kaumnya. Bila dia menang atas kaumnya berarti memang dia nabi yang benar.” Tatkala terjadi Fathu Makkah, setiap kaum bersegera masuk Islam. Ayahku mendahului kaumku dalam berislam. Saat ayahku datang dari menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Demi Allah! Aku datang kepada kalian dari sisi nabi yang haq (benar-benar seorang nabi). Nabi itu berkata, “Shalatlah kalian shalat ini di waktu itu dan shalat itu di waktu ini. Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan dan hendaknya orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya mengimami kalian.” Mereka pun melihat siapa yang paling banyak hafalannya. Ternyata tidak ada seorang pun dari kaumku yang paling banyak hafalannya melainkan aku, karena sebelumnyaaku mendapatkannya dari rombongan musafir. Kaumku pun memajukan aku di hadapan mereka untuk mengimami mereka, padahal saat itu usiaku masih enam atau tujuh tahun. Saat mengimami mereka aku mengenakan pakaian yang pendek. Bila aku sujud, pakaian itu terangkat dari bagian bawah tubuhku. Seorang wanita dari kampung (yang ikut shalat bersama jamaah) lalu berkata, “Tidakkah kalian menutupkan dari kami aurat pembaca Al-Qur’an kalian itu?” Kaumku lalu membelikan untukku pakaian dan mereka pakaikan kepadaku. Tidaklah aku bergembira memperoleh sesuatu sebagaimana gembiraku mendapat pakaian tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

3. Laki-laki

Harus laki-laki yang menjadi Imam, jika makmumnya ada yang laki-laki, wanita, ataupun waria. Tapi jika makmumnya seluruhnya wanita, tidak mengapa seorang wanita menjadi Imam.

4. Suci dan hadast dan Khabats (kotoran yang tampak).

Jika makmumnya tidak mengetahui bahwa Imam tidak suci dari hadast dan khabats, maka bagi makmum sholatnya tetap sah dan terhitung sholat berjamaah. Tetapi jika setelahnya, sang Imam mengetahui adanya Hadast dan Khabats, maka dia wajib mengulang sholatnya (makmum tidak perlu).

—- atur nafas lagi, Ucapkan Hamdallah :D

Kajian Fiqh 12 Januari 2011, By Ust. A. Assegaf

One thought on “Syarat-Syarat IMAM (bonus: sedikit sirah sahabat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: