Laki-laki BOLEH* tidak sholat berjamaah di Masjid

Jawabannya BOLEH*

Seperti pamflet-pamflet kebanyakan, ada tanda bintang, berarti boleh tapi syarat dan ketentuan berlaku. Yuks kita liat hal-hal yang membolehkan bagi para (calon juga ) Imam Rumah Tangga untuk tidak sholat berjamaah di masjid :

1. Sakit, takut datangnya bahaya terhadap diri, keluarga/hartanya.

Perlu dicatat, sakit yang dimaksud disini bukanlah sakit ringan  seperti flu ringan, sakit kepala, dll. Saat Rasululloh sakit, beliau meninggalkan sholat berjamaah di masjid selama beberapa hari, dan memerintahkan Abu Bakar menggantikannya untuk mengimami jamaah (HR. Bukhari)

mengenai takut datangnya bahaya terhadap diri, keluarga/harta :

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa mendengar seruan adzan dan ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali bila ada udzur” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa udzurnya?” Beliau menjawab: “Rasa takut (situasi tidak aman) dan sakit”

Ustadz A.Assegaf memberi contoh yang simple dalam hal ini :

Ketika sudah masuk waktu sholat, rumah kita kedatangan  tamu yang sudah terkenal dengan tabiatnya yang gemar mencuri, sedangkan di rumah tidak ada siapapun, dan tersimpan harta dengan jumlah yang luar biasa. Maka dibolehkannya untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Namun, jika ada seseorang yang dapat dipercaya untuk menjaga rumah, maka harus diupayakan terlebih dahulu. (ckckck, makanya jangan nyimpen harta luar biasa, bisa-bisa tidur jadi gak nyenyak😀 )

2. Hujan, sangat dinging/sangat panas, angin topan/keras, terutama di malam hari, gelap tidak ada penerangan sama sekali.

Nah looh, komplit kan syaratnya. Kalau cuman sekedar hujan deras, apalagi gerimis, hukumnya masih Wajib ke Masjid ya boi😀 Keluar macam udzur yang seperti itu, karena kalau di daerah timur tengah sana, intensitas dan kualitas hujannya berbeda dengan kita yang di Indonesia. Hujannya yang sebenar-benarnya hujan, dengan badai, yang sudah tidak dimungkinkan lagi menggunakan payung atau kendaraan. Mengenai suhu, disana bisa sangat ekstreem. Dinginnya sangat dingin, panasnya sangat panas, beda dengan di Indonesia yang standart🙂

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu bahwa ketika ia mengumandangkan azan pada suatu malam yang sangat dingin dan berangin, ia mengucapkan: “Shallu fii rihaalikum” (shalatlah kalian di tempat masing-masing), kemudian ia berkata: “Sesunggulnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan para muadzin agar
mengucapkan perkataan di atas apabila malam sangat dingin dan turun hujan deras”

3. Buang hajat Besar dan Kecil, tersedianya makanan/minuman sedang dia sangat lapar/haus, hendak bepergian jauh dan khawatir tertinggal, terlalu mengantuk, (tambahan, menurut Hanafiah : dia disibukkan dengan mempelajari fiqh)

Istilah kerennya Menahan Al-Akhbatsain. Al-Akhbatsain adalah buang air kecil dan buang air besar. Sebab hal itu akan menghalanginya shalat dengan khusyuk dan sempurna. Jadi, selesaikanlah dulu..

Mengenai makanan/minuman,  Berdasarkan hadits Muslim dari ‘Aisyah ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak boleh mengerjakan shalat saat makanan telah dihidangkan dan tidak pula saat menahan al-akhbatsain.”

Diriwayatkan dari Nafi’ dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu berkata: “Apabila salah seorang dari kamu sedang menyantap hidangan janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan makannya meskipun iqamat shalat telah dikumandangkan”

Contoh simple jika kita akan bepergian jauh dan dengan rombongan, jika kita tetap keukeuh untuk sholat berjamaah di masjid maka akan tertinggal rombongan, oleh karena itu diperbolehkan untuk tidak sholat berjamaah di masjid.

Berdasarkan hadits Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu:  “Tidak terhitung lalai karena tertidur. Baru terhitung lalai apabila dalam keadaan terjaga. Jika kalian terluput mengerjakan shalat hendaklah ia mengerjakannya saat ia mengingatnya ”

Perlu dicatat, mengantuk disini bukan lazimnya kita mengantuk, tapi mengantuk yang super akut. Bukan pula, seperti kasus seseorang yang (selalu) mengantuk jika mau sholat subuh berjamaah di masjid. Eta mah kudu dilawan..😀

dan sebagai tambahan, menurut Hanafiah (bukan jumhur ulama), ketika seseorang sedang disibukkan dengan mempelajari ilmu fiqh, dan jika dia meninggalkan kegiatan belajarnya maka akan tertinggal pula dengan ilmu fiqh yang disampikan, tidak mengapa untuknya melewatkan sholat berjamaah di masjid. Tapi, jika bisa di kompromikan dengan lingkungan sekitar untuk menghentikan sejenak, maka lebih baik.

4. Memakan sesuatu yang tidak baik aromanya

Kewajiban shalat berjama’ah gugur atas orang yang baru memakan makanan yang menimbulkan bau tak sedap, seperti bawang merah, bawang putih dan sejenisnya. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa memakan bawang merah atau bawang putih hendaklah menjauhi masjid kami dan hendaknya ia tetap di rumah saja” (HR. Muslim)

Yang dimaksud bukan hanya bawang merah atau bawang putih saja, tetapi seluruh makanan yang menimbulkan bau tak sedap. Alasannya adalah mengganggu jama’ah shalat lainnya. Termasuk di dalamnya orang yang sakit kusta atau kudis yang menimbulkan bau busuk dan sejenisnya, statusnya disamakan dengan orang yang makan bawang karena alasan yang sama.

5. Karena tertahan (di penjara), sibuk karena mengurus jenazah.

Gak lucu kan, kalau kita lagi mengurusi mayit, lalu masuk waktu sholat, dan begitu saja meninggalkan mayit untuk pergi berjamaah di masjid. Jadi, selesaikanlah dulu kewajiban kita untuk mengurusi mayit🙂

6. Pengantin

Nah loooh, ada apa dengan penganten? Menurut Jumhur ulama, seorang pengantin pria dibolehkan untuk tidak sholat berjamaah di masjid selama satu hari, dipersilahkan untuk sholat berjamaah dengan istri tercintanya😀

Bahkan, menurut Malikiah, pengantin pria dibolehkan tidak berjamaah di masjid selama 6 Hari😀😀😀

7. Imamnya terlalu lama, atau terlalu cepat, Imam yang tidak layak menjadi Imam.

Sehingga, sholat kita tidak khusyuk. Untuk kasus ini dibolehkan untuk tidak berjamaah di masjid.

8. Kegalauan yang menghalangi khusyuk di dalam shalat.

Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu berkata: “Termasuk kedalaman fiqih seseorang adalah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu hingga ia dapat mengerjakan shalat dengan hati yang lapang”

Selain yang telah tersebut di atas, termasuk juga orang yang sangat rindu kepada sesuatu dan belum memperolehnya, orang yang sedang sibuk mencari barangnya yang hilang, orang yang sedang berusaha mengembalikan barangnya yang dirampas, kegemukan yang melebihi batas kewajaran, orang yang mendapat gangguan di tengah jalan atau di masjid, orang yang takut tertimpa fitnah atas dirinya atau dirinya dapat menimbulkan fitnah atas orang lain dan sebagainya.

As-Suyuthi berkata dalam kitab Al-Asybaah wan Nazhaair : “Udzur-udzur yang membolehkan meninggalkan shalat jama’ah ada sekitar empat puluh: Salah satunya adalah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad: “Seseorang yang te- ngah diisolir (dikucilkan) oleh kaum muslimin merupakan udzur bolehnya ia meninggalkan shalat jama’ah”

Yakni isolir yang dibenarkan dalam syariat, karena Hilal bin Umayyah dan Maraarah bin Ar-Rabi’ duduk di rumahnya, mengerjakan shalat di rumah dan tidak mengerjakan shalat berjama’ah di masjid”

Imam An-Nawaawi berkata dalam kitab Ar-Raudhah setelah menyebutkan udzur-udzur yang membolehkan meninggalkan shalat Jum’at dan jama’ah: “… Karena salah satu syarat sah shalat adalah dapat memahami dan menyadari gerakan-gerakan shalat yang dilakukan. Udzur-udzur yang kami sebutkan di atas menghalangi hal tersebut. Maka mengerjakannya dengan khusyuk meski terluput jama’ah lebih baik daripada mengerjakannya bersama jama’ah tanpa khusyuk”


**

Alloh yang Maha Pemurah, luar biasa baiknya..

Untuk kalian yang istiqomah dalam menjalankan sholat berjamaah di masjid, maka jika terjadi udzur seperti yang disebutkan di atas, maka meski kalian tidak melaksanakan sholat berjamaah di masjid, pahala berjamaah tetap mengalir untukmu. Allohu Rabbi… begitu pemurahnya Engkau🙂

(catatan kajian Fiqh Rabu Pagi, Mushola Danaphala lantai 1, Kemenkeu by Ustadz Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Lc)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s