Adzan

Pura-puranya lah Pemuda itu menyapu lantai masjid yang tak kotor. Seperti ada yang menggelitik perutku, aku tertawa saja mendengar ceritanya. Lain halnya dengan Mahasiswa itu, sengaja-sengaja tak sadar sudah mau masuk waktu maghrib, masih sok sibuk dengan diktat kuliah yang sebenernya sudah di luar kepalanya. Dan masih banyak lagi macam-macam perangai para lelaki zaman kini jika sudah dekat-dekat dengan waktu sholat. Adzan. Mak… sepertinya susah kali menemukan kata banyak dalam himpunan kata Adzan, Masjid, dan Pemuda. Dari jumlah 5 Pemuda dalam keluargaku, hanya 2 orang yang bisa (bukan pandai) mengumandangkan panggilan sholat itu. 3 lainnya? Wassalam. Pernah aku berfikir, susahkah Adzan itu? Sepertinya tidak, sejak kecil acara tontonan kita selalu di potong Adzan Maghrib kan? Lafadznya mudah di hapal, Bagus nian artinya.

Tentang Adzan, teringat seorang Bilal bin Rabah. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah Ta’ala pada awal 11 Hijrah. Setelah itupun Bilal menyatakan diri tak mau mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, bilal berkata,

“Biarkan aku jadi mu’adzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan mu’addzin siapa-siapa lagi.”

Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya,

Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?” Abu Bakar terdiam.

“Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi mu’adzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Aih.. mana ada (sepertinya) Bilal di zaman sekarang. Sedih rasa sebenarnya. Kepandaian mengumandangkan adzan, bukan sesuatu yang membanggakan bagi diri sendiri dan orang tua, sehingga amat jarang orang tua yang menggebu-gebu memaksa anaknya agar bisa mengumandangkan adzan.  #AllohuRabbi, kelak saya akan punya anak lelaki, akan saya pinta Ayahnya mengajarkan Adzan.

Fakta yang baru-baru ini dipaparkan oleh metro tv pada Adzan Maghribnya membuat banyak orang sadar, ternyata setiap saat ribuan muadzin —jika bukan ratusan ribu— di seluruh dunia mengumandangkan keesaan Allah yang Maha Kuasa dan kenabian Nabi Muhammad saw di muka bumi ini! Insya’allah, adzan (panggilan universal) lima kali sehari ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat, Amin..

“Kami bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lalu Bilal berdiri mengumandang kan adzan, ketika bilal diam beliau bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan seperti yang diucapkan Bilal ini dengan yakin niscaya masuk surga.” (HR Ahmad, an Nasai dan Ibnu Hibban)

‘(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’ (Ali Imran: 191)

**

at the end of this part, i wanna ask u..  Bisakah kamu adzan, wahai lelaki?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s