between happiness and sadness

Dia tersenyum-senyum saja, melangkah ringan ke arah taman. Tangannya masih menggenggam surat yang baru saja datang sore ini. Tidak seperti biasanya, Pak Pos datang di sore hari. Sambil membawa surat dengan amplop biru manis. “Neng, kok tumben amplopnya biru, biasanya hijau?” Dia hanya menjawab dengan senyum dan gelengan kepala. Hati-hati sekali, dia membuka amplop itu. Agar nanti, bisa disimpannya di dalam kotak cantik berwarna merah muda, menemani ribuan surat-surat lain darinya. Hanya tiga kalimat, dibaca berulang-ulang. Sepertinya, tidak cukup sekali, dua kali, lima kali, tujuh kali. Kini dia tau, kenapa surat kali ini berwana biru, bukan hijau seperti biasanya. Tuhan, bantu dia untuk tersenyum.  Kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan, Kita menghargai cahaya karena kita pernah dalam kegelapan, begitu pula kita dapat bahagia karena kita pernah merasakan kesedian*.

Beruntungnya dia, taman sedang tak ramai. Tak perlu menunggu anak-anak komplek lelah mendorong punggung temannya yang riang bermain ayunan. Dia memilih ayunan di sebelah utara taman. Tempat favoritnya untuk membaca surat-surat darinya. Tapi kali ini, dia tak mau membacanya kembali. Sekali dia hentakkan kaki kanannya, dan angin sore pun tak segan menyambut wajahnya. Tuhan, bantu dia tersenyum. Bukankah semakin dalam kesedihan yang menggoreskan luka ke dalam jiwanya, semakin mampu jiwanya menampung kebahagiaan? **

Ia yang percaya takdir, maka dia pun harus percaya. Kadang tak masuk akal dengan pikiran mereka berdua. Lihat telapak tangan kanannya, lihat garis-garisnya, lalu coba dia genggam. Tak semua garis-garis itu tertutupi dengan sempurna kan? Itu lah, tangan-tangan Tuhan yang bekerja. Itulah, kekuasanNya. Maka saat ini, dia hanya ingin bermain dengan angin sore. Ia yang percaya takdir, maka dia pun harus percaya. Senyumnya bahagia, Tuhan benar-benar membantunya. “Aku percaya, ia akan baik-baik di sana, semuanya akan baik-baik saja”


* David L Weatherford
** Khalil Gibran

2 thoughts on “between happiness and sadness

  1. takdir dapat mempertemukan keinginan dengan kenyataan..namun takdir jualah yg memisahkannya..dan tak ada seorangpun yang tahu..only heaven know..

    -lelaki hujan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s