korelasi, aksi, reaksi

Apa benar ada korelasi antara berbuat baik kepada orang tua kita dengan eksistensi dari peristiwa dalam hidup kita? bagi saya, jawabannya ada. Seburuk apapun akhlak orang tuamu, tetap saja mereka orang tuamu. Menjaga perasaannya, adalah suatu keniscayaan. Meski kadang, emosi yang mudah tak terkontrol ini se-enaknya melukai perasaan mereka.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [Al-Isra : 24]

Subhanalloh, betapa Alloh menempatkan posisi Orang Tua pada tempat yang berharga. Kembali lagi dengan pertanyaan adakah korelasi antara sikap kita kepada Orang Tua dengan apa-apa yang terjadi di kehidupan kita? Disadari atau tidak, pasti ada. Sesuatu yang baik, akan mendatangkan yang baik kan? Ini mengingatkan saya saat berumur 17 tahun. Iseng, saya bertanya pada Abang, bagaimana caranya biar bisa masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), seharusnya hal seperti itu tak usah dipertanyakan kan? karna jawabannya ya cuman Belajar. Tapi bukan Abang saya kalau punya jawaban yang standar, dia bilang:

“bangun tidur, beberes kamar sendiri, bantu-bantu rumah.. misalnya menyiram tanaman, terus di sapu, di pel, rajin-rajin cuci piring.. intinya gimana caranya biar Ibu senang hatinya”

Saya menjalankan jawaban si Abang, dan Alhamdulillah lulus STAN. Ya memang, secara logis.. gak ada hubungannya. Tapi ingat, ada tangan-tangan tak terlihat yang bekerja atas Doa Orang Tua kita kan? Ibu.. Bapak..terima kasih.

Weekend kemarin, saat kumpul keluarga terjadi sedikit cekcok antara si Abang dengan Ibu.  Saya sudah ingin tutup kuping saja sebenarnya, tapi Abang yang keras ditambah Ibu yang keras, gak akan ada selesainya. Sampai esok harinya, si Abang meng-sms saya. Intinya,

“ujianku berantakan, gara-gara ribut sama Ibu kayaknya. Harus cepet-cepet minta maaf”

See? betapa kami sangat percaya aksi dan reaksi dari tingkah laku dan takdir yang kami dapati.  Allohu Rabbi.. sungguh kelak saya akan menjadi Ibu. Dan Ibu manapun di dunia ini tentu menginginkan  anak-anak yang sholeh, anak yang istiqomah dalam jalanMu.

“kalau mau jadi Orang Tua yang baik, jadilah anak yang sholeh terlebih dahulu”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s