Hai Kamu Orang Baik

Beberapa hari yang lalu, Paksu tanya..

“Bun, Abeh nih orang baik gak sih?”

Wiiih tumben nih suami ekeu melow tanya kayak gitu ๐Ÿ˜€ Kalau aku yang jawab langsung bisa jadi sangat subjektif dong. Maka aku bilang ke Paksu :

“Coba tanya ke si A, apa Abeh orang baik atau enggak?”

Btw si A adalah temen suami yang beberapa hari lalu dapat musibah, banyak orang bersimpati, tapi entah kenapa hanya suami saya yang berempati. Gak pake lama, atas diskusi kita berdua, suami japri ke si A menawarkan bantuan. Dan bener kan, gak ada setengah jam langsung disambut baik oleh si A. Saya langsung ngomong ke Paksu : Berarti emang belum ada yang nawarin bantuan kan Beh?

Bukan dalam rangka muji-muji paksu, karena dia mah tipe kurang pencitraan di sosmed ๐Ÿ˜€ Aku cuman mau bilang, tentu saja kamu orang baik Beh! Barakallahu..

Semoga kita teteup gak peduli dengan orang lain mau berbuat gimana kek sama kita, kita bisa tetap on the track berusaha jadi orang baik untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain..

Saat kamu tanya : Apa aku naif ya?

Gak, aku cuman mau bilang coba tanya sama hati nurani, mau semua orang melakukan itu kalau kita tau itu gak bener, ya gak usah ngikutin orang lain kan?

Kalau kata dek Conan Edogawa mah “There Is Always Only One Truthโ€

Terus yang lain bisa ngeles, tergantung dari sisi manaaa? Hahaha!

Amaya dan Sensei

Hari ini hari terakhir sekolah di tahun ajaran 2021-2022. Pulang sekolah Amaya nangis tersedu-sedu sampai ingusnya kemana-mana. Doi langsung masuk kamar dan lanjut nangis kencang. Saya tanya kenapa? Masih terisak-isak dia cerita kalau 9 Sensei di SD nya semacam kena mutasi kalau saya tangkap. Termasuk Senseinya saat kelas 1 dulu dan kelas 2 sekarang. Saya baru tau sih di SD Negeri ada pola mutasi seperti ini. Mungkin rotasi kecil kali ya, masih dalam wilayah Chiba Shi ini saja. Mungkin.

Balik lagi ke acara Amaya nangis, sebenernya saya gak kaget sih. Berasa banget kalau Amaya tuh HAPPY sekolah di SD ini. Pernah dia lagi sakit, malah sedih bukan karena sakitnya, tapi karena gak bisa sekolah. Pulang sekolah juga bawaannya senang, dan cerita ini itu. Walau adalah satu dua hari yang dia badmood banget pulang sekolah ngomel-ngomel ke Emaknya, fyuuuh. Tapi yaaa satu-dua-tiga hari saja. Selebihnya beneran anak ini HAPPY.

Amaya sering banget nulis surat buat Senseinya, se-intim itu ya hubungan murid dan guru di kelas Amaya. Semoga kelas 3 nanti Amaya dapat Sensei yang baik, nyaman, dan menyenangkan ya!

Edisi (gak enak) Tinggal di Jepang

Halo-halo, sekali-kali edisi sambat gapapa ya! ๐Ÿ˜€ Katanya jadi ibu rumah tangga yang ditinggal swami kerja dan anak sekolah butuh penyaluran kata, menulis salah satunya. Padahal memasuki usia 30 something, cirlce pertemanan semakin mengerucut ya? Eh ini circle atau cone?

Jadi mari kita nulis di blog yang mati segan hidup tak mampu..

Yok!

Hidup dimana saja pasti banyak plus minusnya, tergantung siapa, dimana, dari sudut pandang yang mana, kebersihan hati, dan tentu saja support sistemnya. Jadi mohon dimaklumi mungkin ini yang saya rasakan, tapi belum tentu yang kalian pikirkan ๐Ÿ™‚

Satu, SALON.

Halo apa kabar salon-salon di Rawamangun tempat aku menghabiskan uang saat awal bulan? Apa kabar rambut cantik berlayer-layer dengan wangi stroberi atau coklat saat pulang dari salon? Hehehe, bye aja! Karena apadaya, hampir 5 tahun tinggal di Jepang aku belum pernah sama sekali ke salon, hahahaha. Tiga tahun pertama tentu saja karena TIDAK MAMPU. Fyi, selama 3 tahun ternyata kita MAKTAB alias makan tabungan wkwkkw. Jadi ya adakalanya kebutuhan bulanan terpenuhi dari uang beasiswa, adakalanya ya merogoh tabungan yang tidak sebenerapa itu (Haish Bun, dijujuin tydac bersyukur nanti!) Nah, jadi 3 tahun tanpa salon ya sudah, aku dan Amaya potong rambut di rumah saja. Ada Salon Papanji. Sedangkan buat Acha dan Papanji ya teteup potong rambut di salon karena kalau buat laki-laki entah kenapa lumayan terjangkaulah. Eh btw, berapa sih biaya ke Salon di Jepang? Ada gitu salon muslimah di Jepang? Ada! Bahkan depan komplek perumahanku ini ada loh salon buat muslimah. Buat potong rambut + creambath sekitar 7000 yen, hampir satu yuta kalau dirupiahin hahahaha. Padahal dulu di Jakarta, aku bisa setengah hari itu kalau abis segitu. Lengkap udah sama pijit, hair spa, sampai ratus! ๐Ÿ˜›

Ada juga yang di Aeon Makuhari, mayan deket lah ini tinggal naik Kereta sebentar lanjut naik bus sedikittt aja.. Yang ini keren banget sih Salonnya, dia beneran sampo dkk nya itu yang berlabel halal gitu. Tapi again, saya belum pernah ya wkwkwk.. Cek di https://www.unix.co.jp/salon/38_makuhari buat info lebih detail

Mayan yaaa..hihi

Nah setelah Papanji lulus estiga dan lanjut postdoct kan penghasilan bertambah Bun, masa gak sanggup juga? Kalau yang ini jujur aja bukan gak sanggup, tapi rasanya apa yaa.. bukan pelit, aduh bingung jelasinnya wkwkw. Tapi kalau saya mau ngeluarin duit sebesar 1 juta CUMAN buat potong rambut dan krimbet rasanya apa yaaa.. saya langsung compare, aduh ngasih ke ortu dan mertua aja seberapa sih, atau yaampun biaya potong rambut masa setara biaya les kumon 1 anakku? wkwkwk gitu-gitu lah, apa setiap makhluk hidup bernama IBU seperti itu ya? Mikir sendiri itu urutan keberapa tau.

Ih Bun.. bahagiakan dirimu, KATANYA..

berkali-kali suami emang nyuruh istrinya nyalon (mungkin karena merasa gak enak hati membawa anak perempuan orang yang sblm nikah nyalon teruuus tiap bulan hahaha), tapi saya yang gak mau wkwk. Ya, mungkin bahagiaku sudah bergeser seperti jalan-jalan ke taman bareng keluarga yang super jarang, karena suami males dengan berbagai halasyan >.< Eaaa sambat lagi. Alhamdulillah aku masih manusia kalau gitu wkwkwk.

Tadinya mau ada beberapa sambat, tapi kok 1 aja panjang gini? Lanjut edisi sambat lainnya gak?

See Ya! #lanjutnyucipiring

1 Oktober 2021

ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงุฏููŠู’ุฑู ุงู„ุฎูŽู„ุงูŽุฆูู‚ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ู„ูู‚ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุจูุฎูŽู…ู’ุณููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู„ู’ููŽ ุณูŽู†ูŽุฉู

โ€œAllah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.โ€ (HR. Muslim)

Termasuk, takdir di tanggal 1 Oktober 2021 ini kan ya? Jadi, Bismillahirrahmaanirrahiim.. Semoga Allah mudahkan langkah kami, kuatkan keimanan kami, limpahi kami dengan rahmat dan kebaikan atas segala takdir di depan.

every flower blooms at a different pace ๐Ÿ™‚

I feel (not) alright

Iya saya seringkali mendengar (membaca) bahwa bisa jadi, hidup kita saat ini adalah impian hidup dari orang lain, yang kita tidak tau siapa. Tapi, gak salah kan hari ini kita masih mengenggam impian yang lain? Bukan tak bersyukur, tapi memendam mimpi yang hampir dua dasawarsa bukan perkara mudah.

Ada hati yang harus terus berdamai dengan pilihan lain, yang bukan pilihan diri sendiri. Ada banyak hari yang terlewati tanpa sejengkalpun mendekati impian sejak usia belasan lalu.

Sedih. Sempat terlupa beberapa waktu yang lalu. Tapi pagi ini entah bagaimana impian itu terangkat lagi kepermukaan hati. Apatah lagi masih ada gunanya sekarang? Masih ada jalannya sekarang?

 

Merinding, karena saat menulis ini sambil menikmati senandung nasyid random di yutube, tiba-tiba terdengar lagu dari IVO yang kok ya maknanya, PAS banget buat saya..

Too Good To Give In (IVO)

I know that in my life
Troubles are following me in times
Trying to stay in line, make up my mind
Or try to be kind

I feel like in my life
Temptation’s always dragging me down
Burning me to the ground
Time feels so long, my spirit has gone

But i will find through the world
That i can be the one to know
Cause i feel like i’m right alright
I feel alright and tonight
I will find the way to fight

Through the world
Cause i can be the one to show
That i can make it right, o right
Make it alright in daylight
No more wasting time to hide

Trying so hard to believe in
Cause it’s too good to give in
Keep on dreaming
Keep on believing Allah

CDC #18 : Oleh-Oleh dari Jepang, Halal Gak?

Independence Day Grills.png
Oleh-oleh dari Jepang, halal gak?

Sejak kami tinggal di Jepang, sering banget nih ditanya soal status halal haram suatu produk. Biasanya dijapri teman-teman via WA yang baru dapat omiyage (oleh-oleh) dari Jepang. Gak jauh-jauh dari coklat, snack-snack gitu, atau bumbu kare. Eh ada lagi misal kayak kukis kekinian di Jepang, sebut saja Tokyo Banana, terus milk cheese apaaa gitu.

Kalau snacknya yang familiar, biasanya saya langsung jawab. Tapi kalau gak familiar saya akan minta yang japri untuk menjepret bagian belakang kemasan makanan tersebut yang biasa ada ingredients nya. Emang sudah bisa baca kanji Cha? Ya beloooom ๐Ÿ˜€ tapi semakin kesini semakin jeli matanya untuk melihat kata-kata yang mencurigakan buat muslim.

Nah beberapa catatan akan saya highlight ya.. bismillah, semoga benar, dan kalau ada yang keliru, mohon dibenarkan yaaa..

1. ไนณๅŒ–ๆ (Nyuukazai)

Nah kanji ini nih yang paliiiing sering muncul di snack oleh-oleh dari Jepang. Tolong di skinsuuuut ya gaes :p . Dibaca Nyuukazai yang artinya emulsifier alias zat pengemulsi. Ini hampir pasti ada di setiap camilan dari Jepang entah itu coklat, biskuit, kopi, bahkan permen. Kalau KAMI, makanan yang mengandung si Nyuukazai itu gak kami makan, karena KEMUNGKINAN BESAR berasal dari babi (atau animal based lainnya yang jatuhnya tetap haram). KECUALI, setelah tulisan ไนณๅŒ–ๆ, ada tambahan seperti ini :

ๅคง่ฑ†็”ฑๆฅ (dibaca : daizu yurai) yang artinya berasal dari SOYBEAN,

atau diikuti kanji ini :

ๆค็‰ฉ็”ฑๆฅ yang artinya berasal dari tumbuhan.

Dan, FYI nih produsen di Jepang itu fair banget kok.. kalau emang dari tumbuhan dia akan mencantumkan info soal tumbuhan itu, tapi kalau enggak ya berarti animal based. Jadi kalau dikemasan bagian ingredients udah nemu kanji ไนณๅŒ–ๆ udah ya dadah babay gak bisa dimakan ๐Ÿ˜€

2. MENGANDUNG DAGING (AYAM, SAPI, BABI,dll)

Loh kok segala ayam dan sapi juga gak halal Cha? Ya mohon maap ini bukan negara ahli kitab. Cara sembelih ala Jepang itu yang bikin ayam dan sapi ikutan gak bisa dimakan selayaknya daging babi. Makanya KEZEL banget karena SERING lihat di instagram jastip-jastip jepang gitu (dan akun IG lainnya) yang suka SOTOY merekomendasikan makanan di Jepang buat MUSLIM. Haduuuuh parah banget pokoknya. Nanti kita bahasa ya, sekarang mari cek ricek dulu kanji (dan katakana) buat perdagingan :

่ฑš (dibaca buta) : pork

้ถ (dibaca tori) : chicken

่‚‰ (dibaca niku) : meat

ใƒฉใƒผใƒ‰ (dibaca raado) : lard Continue reading “CDC #18 : Oleh-Oleh dari Jepang, Halal Gak?”

Menghadirkan Ramadhan di Jepang

IMG_20190606_065626_486

Alhamdulillah masyaallah, Allah kasih kesempatan lagi buat Ramadhan dan Lebaran di tanah rantau. Rasanya lebih berat dari segi cuaca yang lagi panas-panasnya, plus waktu subuh yang setengah 3, sedangkan berbuka hampir jam 7, Subhanallah.

Tapi, karena nuansa Ramadhan beneran minim banget di Jepang, jadi rasanya tuh justru kuat di dalam hati. Menghadirkan Ramadhan benar-benar dari hati itu masyaallah rasanya. Beda banget sama yang di Indonesia tahun-tahun sebelumnya dimana sudah disuguhi iklan sirup dan sarung sejak sebulan sebelum Ramadhan.

Di Jepang, kita yang harus mengais-ngais keberadaan Ramadhan itu sendiri. Apalagi buat anak-anak. Beneran iman dan ilmu agama harus berawal dari dalam rumah. Beberapa hal yang saya lakukan untuk mengahdirkan feel Ramadhan ke anak-anak :

1. Membuat hiasan “welcome Ramadhan” yang digantung di depan pintu rumah kami. Setiap hari dilewati dan dilihat sama anak-anak, bikin mereka sadar kalau ini bukan bulan biasa. Tapi bulan yang disambut. Foto menyusul ya insyaallah, wifi di rumah lagi bermasalah, hiks

2. Menyiapkan kado-kado kecil untuk anak hampir setiap harinya. Diberikan kalau mereka berhasil ‘puasa’ dari pulang sekolah sampai waktu maghrib. Amaya sih yang happy banget-banget. Acha mah masih so so ajaย ๐Ÿ˜†ย Kadonya gak perlu mahal. Dan sebagi emak hemat, saya memberikan kado yang bisa dipakai atau yang memang dibutuhkan ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ seperti gunting, tumbler, atau coklat-coklat kecil dalam kemasan.

3. Mengajak mereka buat buka bersama pada acara kumpul muslim se-Chiba. Acaranya meriaaaah banget masyaallah. Makanannya super lezat seriusan. Dengar-dengar yang mensponsori acara ini dari salah satu kedutaan di Jepang, NAHA (semacam MUI nya di Chiba) dan CCIC (ini apa ya kalau di Indonesia, islamic centre gitu lah). Semua makanannya enak masyaallah ๐Ÿ˜‹

4. Beberapa kali kali mengajak ikut sahur. Yang ini gak bisa tiap hari karena waktu sahur terlalu malam, sedangkan mereka jam 8 harus siap-siap sekolah. Jadi dilakukan kalau pas besoknya gak sekolah sih. Mereka tug beneran merasa ‘puasa’ kalau ikutan sahur sama kami ortunya, rasanya tuh bangga banget sampai diomongin terus kalau mereka sahur ๐Ÿ˜…

Apalagi ya… Atau ada yang mau sharing apa aja yang bisa dilakukan untuk mengadirkan Ramadhan? Biar bisa jadi kisi-kisi tahun depan kalau masih ada umur, insyaallah masih akan menjalani Ramadhan di tanah rantau ๐Ÿ˜Š

 

CDC #17 :Suka-Suka Jastip Jepang

jastip jepang (3).png

Yihaaaa, sebelum di kick dari group 1M1C sebaiknya saya setor tulisan di blog yang mulai bersalju ini sih ๐Ÿ˜€

Agak-agak bingung mau cerita soal Jastip, soal Mudik ke Indonesia, atau soal Acha yang sudah mulai sekolah bulan April ini? Akhirnya diputuskan ngomongin jastip dulu deh.

Jadiiii, awalnya sama sekali gak ada rencana pulang kampung. Jujur aja gak ada uwang, hahaha. Maksudnya gak ada uwang buat mengcover soal perjalanan mudik. Lah waktu itu baru banget bayar buat sekolah Acha yang uang masuk + perintilannya hampir setengah uang beasiswa sebulan ๐Ÿ˜€

Tapi karena bapaknya suami sakit, yodahlah di-ada-ada-in itu uang. Niatnya birrul walidain aja. Lalu gak lama ada kodomo teate, alhamdulillah.. bisa buat beli tiket berangkatnya dulu. Tentu sajah pake pesawat paling muraaaah, yang sering dikomenenin tapi juga sering jadi pilihan pertama buat kami-kami kaum zero income, wkwkwk. Sebut saja Air Asia.

amaaca

Tapi galau belum selesai, tiket balik Jepang lagi belum ditangan. Seiring dengan beredarnya info kami mau mudik (duh, cem artis aja kau cha), semakin banyak pertanyaan “gak buka jastip mbak cha?” atau ada yang sudah to the point mau titip ini dan itu. Waduh, kalau banyak yang titip dan kami klaim gak buka jastip, kok rasanya berat di ongkos ya itu bawa oleh-oleh. Akhirnya diseriusin aja buat buka jastip.

Alhamdulillah lancaaar, walau ada satu dua tiga empat lima yang agak-agak ribet wkwkkw.

Rempong gak cha? PASTI dan BANGET. Hahaha.. hampir tiap weekend saya belanja. Awal-awal masih belanja sama anak dan suami. Tapi malah jadi ribet dan gak fokus. Akhirnya minta waktu sama suami buat belanja sendiri. Yang manaaah, dia sampai komen : ini kok gak selesai-selesai belanjanya? Hahaha

Oke, pertama soal AKAD ya. Karena saya belum pernah ikutan jastip apapun sebelumnya, jadi sebenarnya masih blank banget tentang jastip ini. Diwanti-wanti sama beberapa teman untuk concern soal akad. Karena bila salah dan semaunya, bisa jadi riba. Akhinya sebelum iklan jastip, saya banyak baca-baca dulu lah soal akad ini, dan nonton beberapa kajian Ustadz Erwandi di youtube. Intinya saya pakai akad : Wakalah bil ujrah, dimana teman-teman harus bayar penuh dulu. Gak boleh saya talangin dulu ya. Silahkan baca-baca lebih lanjut sendiri soal akad Wakalah bil ujrah ini.

Repotnya, karena yang order itu gak bayar barengan. Jadi saya mesti bolak-balik belanjanya untuk item yang sejenis. Belum lagi yang digantung statusnya. Saya paling males ngingetin buat transfer, kesannya maksa banget. Tapi khawatir juga orangnya lupa buat transfer. Jadi saya kadang bingung, nih orang mau cancle ikutan jastip kah? atau mau transfer tapi belum ada waktu kah? Atau gimanaaah, karena gak ada kabarnya, wkwkwk kena juga PHP gue. Tapi gak banyak kok yang macam ini. Satu dua tiga empat lima aja.

Walau harus bolak balik belanja, tapi alhamdulillah saya memang hanya buka jastip barang yang bisa saya dapat di dekat rumah saja. Bisa naik sepeda atau naik bus gratis setiap hari. Kecuali beberapa barang aja yang harus naik kereta belinya, kayak massage oilย yang belinya harus ke LaLa Port. Mau males kesana, tapi itu barang yang lariiiis banget, banyak peminatnya. Alhamdulillah..

Hoya, di atas saya tulis Suka-suka Jastip, karena emang dukanya sedikit aja sih. Dan gak sebanding sama happy nya. Apa aja Happy nya bun?

Bisa bantu teman-teman yang lagi cari sesuatu. Tsaaaah mulia banget kan tujuannya? Hahaha, tapi seriusan loh ini mah. Tujuan awalanya selain cari cuan, juga buat bantu teman aja dapet barang yang dibutuhkan.

Bisa menyalurkan hasrat belanja. Iyessss, sebenernya saya suka belanja. Pilah-pilih barang, masukin trolley, bayar di kasir. Bahagia aja. Tapi semenjak di Jepang, palingan belanja di supermarket aja jadinnya, wkwkwk. Karena jujur aja hasrat buat beli macam sepatu baju tas dan perintilan lainnya berkurang drastis selama disini. Bukannya gak punya uang Karena emang rumahnya kecil, dan buang barang juga ribet dan berbayar di Jepang, jadi males weh bebelanjaan.

Yang ini mungkin agak sedikit jahat, hahaha maapkan ya. Tapi selama tinggal di Jepang tuh saya gateeeel banget kalau ke Daiso atau 100 yen shop lainnya. Bawaannya pengen belanja macam-macam karena barang-barangnya lucu-lucu banget. Dan tentu sajah murah mursidah. Pas saya upload barang-barang Daiso di IG, seneng aja ternyata emak-emak di Indonesia merasakan apa yang saya rasakan. Galau pengen beli macam-macam barang yang lucu itu. Hahahaha.. Akhirnya terbukti sih, barang daiso yang di order sekitar 200an item, wkwkwk racun banget kaaan..

Dan yang terakhir, dan paling utama tentu saja dapet untung alias duit alis cuan, hihi. Tapi Allah tuh ya beneran sesuai prasangka hambanya deh. Diawal saya niatkan buka jastip ini buat beli tiket pesawat Jakarta-Tokyo. Dan masyaallah, setelah kita hitung-hitung KEUNTUNGANNYA PAS seharga TIKET pesawatnya dooong. Masyaallah, alhammdulillah. Tiket pesawat berempat pun ditangan. Perlu digarisbawahi ya, tiketnya Air Asia, bukan Garuda Indonesia apalagi JAL atau ANA, wkwkwk. Mungkin besok-besok niat buka jastip buat #panjichakeMekah2020 kali ya? Biar semesta mendukung gitu ๐Ÿ˜€

Hoya, soal harga Jastip ya. Banyak teman-teman di LN yang DM nanya berapa rate jastip saya. Saya kasih tau, tapi saya bilang juga jangan dijadikan referensi, Karena banyak yang bilang kemurahan. Hahaha.. Tau gak, ada loh beberapa teman yang bayar lebih dari harga yang saya kasih. Karena ngerasa kemurahan. Ada juga yang barangnya gak ada 1 barang gitu, gak mau saya refund uangnya, karena katanya barang yang dia beli di saya udah murah banget kok. Adalagi yang sampai nanyain biaya packing, karena saya gratisin, padalah saya packing pakai buble wrap segala. Masyaallah, teman-temankuuuu baik banget alhamdulillah.

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.15.51 AM (1)
satu dari banyaaaak testimoni tsururi yang best seller di jastip kemarin, kemurahan jual 135 keknya, wkwkwk

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.15.51 AM

Balik lagi soal menentukan harga, saya gak pakai rumus-rumusan. Tapi selalu saya bertanya sama diri sendiri : kalau kamu mau gak beli barang ini seharga segini? Kalau diri sendiri jawab gak mau ya gak akan saya jual dengan harga segitu. Dan mungkin karena saya masih level menengah, jadilah harga-harganya ya segitu ajaaa..wkwkwk. Terus beberapa kali liat jastip lain, jual dengan harga bahkan 2x lipatnya. WOW.. tapi semua sudah ada rezeki masing-masing sih yaa.. selow aja sist..

Plus, pasar saya juga hanya teman-teman dekat saja. Beberapa kenalan di Facebook yang jumlahnya gak terlalu banyak dan bisa saya percaya. Males saya kalau kedepannya ada apa-apa ribet, hihihi..

Nah soal custom nih, saya berusaha menaati peraturan yang berlaku sih, eaaaa. FYI, selain mencari tau tentang akad jastip yang syar’i saya juga baca tuntas Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 203 tahun 2017 tentang Ekspor Impor barang bawaan penumpang. Bahkan saya print loh itu PMK yang mayan tebel, plus saya tandai pasal-pasal yang berkaitan dengan barang bawaan penumpang, #terniat2019 banget kan? Hahaha..

Intinya setiap penumpang itu maksimal bawa barang nya total senilai 7 juta rupiah (kurs 14000 ya). Tapi ada yang bikin bertanya-tanya sih, karena isi PMK hanya mention jumlah harganya senilai 500 usd itu, tapi gak mention berapa banyak barang bawaannya (kecuali baju yang jumlahnya 10 dan 2 barang elektronik). Disebutkan dalam batasan wajar. Nah wajar ini kan subjektif banget. Tergatung melihat dari sisi apa dan siapa? Gitu..

Terus kalau lebih dari 500 usd gimana cha? Atas kelebihan nilai barang, akan dikenakan BM dan PDRI dengan rincian: BM: 10% (Flat), PPN: 10%, PPh: 7,5% (jika punya NPWP) dan 15% (jika tidak punya NPWP).ย Baca-baca aja di Page Bea Cukai di FB, cukup informatif kok.

Terus, satu lagi yang ganjel nih belum saya confirm ke teman yang di BC atau PKPN BKF #eaaaa. Di PMK tertulis tiap penumpang itu 500 usd kan, nah di PMK itu juga tertulis definisi penumpang itu apa. Intinya anak-anak juga masuk dalam definisi penumpang. Nah tapi pas di custom declaration, tertulis kalau yang 500 usd itu buat anak minimal 18 tahun, cmiiw *ini Pak suami sih yang ngisi data di custom declaration. Lain-lainnya bisa dibaca di laman kemenkeu yang ini.

Duh jadi serius banget postingannya, wkwkwk. Balik lagi ke suka-suka Jastip. Barang apa aja yang kemarin saya jastipin? Kebanyakan barang daiso yang kelihatannya receh banget cuannya 11 ribu aja, tapi dikali ratusan ya lumayan juga jumlahnya, hihi. Terus skinker pastinya. Soal skinker ini lebih banyak pesanan sih, lebih tau mereka daripada saya tentusaja. Saya jual dengan harga yang lumayan murah ketimbang di tokped atau shopee, bisa beda 30-100 ribulah kalau cek-cek toko sebelah. Terus, coklat-coklat gitu juga. Tapi ternyata rada ribet nih soal coklat. Karena pas dari Bandara ke Serang, coklatnya meleleh dooong karena panas. Akhirnya mesti masuk-masukin ke kulkas dulu.

Teruuus, banyak DM yang masuk nanyain open jastip lagi gak cha? Yakaliiii oi, gue mudik sebulan sekali, horangkayaaah, hahahaha. Tapi ini lagi dipikirkan, bagaimana teteup open jastip tanpa saya mudik. Semoga ada solusi terbaique ya buat semuaa.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah ikutan jastip kemarin, tanpamu tiket balik Jepang kami masihlah sebatas harapan, hihi. Mohon maaf jika ada kekurangan disana-sini yaaa.. nanti ikutan lagi ya kalau gue open jastip lagi :p Sekarang follow dulu akun instagram @jastipjepangjakarta biar bisa update soal jastip yang akan datang *belumtaukapansih, wkwkwk.. aligacoooo..

jastip

 

See yaaa

 

CDC #16 : Lebih Enak Tinggal di Indonesia atau Jepang?

Untitled design (3).png
CDC #16 : Lebih Enak Tinggal di Indonesia atau Jepang?

Suatu saat pernah Pak Suami tanya ke saya :

“Gimana Bun, enakan tinggal di Jepang atau di Indonesia?”

Maunya saya ngegombal aja bilang dimana aja asal bareng situuuu. Eh tapi pertanyaan dilontarkan dengan nada serius, jadi saya jawab dengan serius juga saat itu.

Indikator dari “enak-an mana” itu pasti banyak banget ya. Dan nanti saya dijulid-in lagi kalau bilang lebih enak tinggal di Jepang. Dibilang kena norak’s syndrome orang-orang yang baru ngerasain tinggal di Luar Negeri. Hihihi gak yaa…

Ini teh sangat subjektif banget. Pertanyaan suami juga bisa disamakan dengan pertanyaan : enak jadi ibu rumah tangga yang kerja di luar rumah, atau ibu rumah tangga full domestik? #eaaa ngambil bahasanya IIP banget, ibu domestik ๐Ÿ˜€

Keduanya punya kelebihan dan kekurangan (buat saya pribadi). Tinggal di Jakarta itu enak banget buat yang tipikal males repot kayak saya : males masak tinggal go-food atau beli di warteg yang rasanya jaman sekarang udah enak banget kok.. Males bersihin rumah tinggal, bisa pakai jasa asisten rumah tangga, atau yang praktis ada go-clean juga. Dan harganya gak mahal-mahal banget. Capek lima hari bekerja, banyak mbak pijet yang bisa dipanggil ke rumah kapan aja. Tapi ya ituuu.. ketemu anak cuman sebelum berangkat kerja, dan setelah pulang kantor yang manaaah sudah lelah menembus kemacetan dan polusi jakarta yang kezam banget itu. Dulu pernah bilang : capek ku hilang setelah melihat senyuman anak. Capek pikiran iya hilang, tapi seiring bertambahnya usia, capek fisik itu suatu keniscayaan, wkwkwk.

Jadi emang bener sih, ketemua anak sudah capek. Tapiiii.. dengan sedikitnya waktu berinteraksi sama anak, saya merasa dulu sebisa mungkin untuk gak ngomel-ngomel sama anak. Berusaha semanis mungkin sama anak. Haduuuh, masa udah sebentar doang ketemunya, masih juga ngasih moment yang gak ngenakin sama anak sih.

Tinggal di Jakarta, artinya tetap bekerja, artinya tetap dekat dengan keluarga. Artinya apa? banyaaak orang yang ‘terlalu care’ sama saya. Belum punya rumah diomongin, bawa anak ke kantor diomongin, perut suami buncit diomongin, kondangan pake sepatu kets pun diomongin. HAHAHAHA. you name itu deh apaan. Intinya, pasti pada bisa nangkep sendiri kan? :p

Tapi jujur aja, jadi wanita bekerja itu ada enaknya juga. Apalagi awal bulan, hihi. Punya penghasilan sendiri itu enak (menurut saya). Ngerasa gak harus membebani suami (padahal ternyata suami jadi bangga kalau dibebani istrinya), ngerasa bisa bantu keluarga di kampung dengan penghasilan sendiri. Itu bikin happy. Belum lagi sesi makan siang sama teman-teman kantor. Ini juga bisa menambah kebahagiaan. Tapi.. kebahagiaan itu sebanding gak dengan rasa was-was pikiran anak-anak lagi ngapain ya? jajan sembarangan gak ya? masih digendong-gendong gak ya makannya? ikutan nonton sinetron atau gosip gak ya sama yang nemenin? NAH, itu jawabannya masing-masing aja.. Continue reading “CDC #16 : Lebih Enak Tinggal di Indonesia atau Jepang?”

Small Talks About Love and Life with PloveA

There's Laugh... There's Joy... There's Love... There's Life...

Diary Hujan โ„ข

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

PM

Bacalah dan Menulislah

nazh al itsnaen

seorang pembelajar kehidupan dan perekam momen-momen yang ada di dalamnya

Verba volant, scripta manent

Spoken words fly away, written words remain...

Arsitekata

menarik garis, membuat batas, merรฉka makna

Sakura Merah

share something with love...

Selembar Kertas Kehidupan

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain

Travelover Travelogue

Just a little story of my little adventure...

uus

Just a goofy-random-(probably)-gonna-be-cheesy-diary

catatan mama nisa

Jadi Ibu di Jepang.

Cerita dari Seberang

Ketika hidupku hidupmu seiring sejalan

A Modern Indonesia Fairy Tale

Sofia Dewi Passion Diary

Nonikhairani

Once You Make a Decision, The universe Conspires To Make It Happen

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

%d bloggers like this: