Daycare, Yay or Nay?

daycare

Ternyata, ternyataaaa.. dunia ibu-ibu bukan hanya soal asi-sufor, normal-sectio, dan yang paling hits tentu saja Stay at Home Mom vs Working Mom, tapi ada lagi loh ini sub-bagian dari Kelompok WorkingMom, ada genk ‘anak di rumah dengan pengasuh/saudara’, another gank itu ‘anak di-daycare’ Maaaaak! Tetep ya, apapun bisa jadi heboh kalau didunia emak-emak. Seringkali kita merasa kita LEBIH benar dari Mama yang lain. Seringkali kita merasa kita LEBIH pintar dari Mama yang lain. Padahal semuanya Relatiflah ya🙂. Nah, kalau ada yang ribut-ribut soal anak di rumah atau di daycare saat Mamanya bekerja, saya sih ada di kedua kubu itu. Labil ya.. hahaha.

Amaya -karena satu dan lain hal- sejak cuti melahirkan saya habis, dititipkan di rumah Mertua dan/atau bersama Mama saya di rumah. Umurnya saat ini sudah 3 tahun 3 bulan. Sedangkan Arsa -karena satu dan lain hal- sejak cuti melahirkan saya habis, selalu ikut saya ngantor, di’sekolahkan’ di Daycare, TPA Artha Wildan. Lokasinya ada di sebrang kantor saya, jalan sekitar 15 menit kalau santai, 7 menit kalau gak santai karena ngejar waktu jemput yang mepet overtime, hehehe. Jadi, si Ibun ada di kedua kubu nih ceritanya.

lifestyle-online

So far.. semakin kesini, saya semakin bijak (cieh) dalam menyikapi apa-apa yang terjadi. Semakin sadar kalau tidak ada satu hal pun yang harus saklek dengan keinginan kita. Keadaan membuat saya lebih sadar, ada banyak hal-hal yang harus diterima, dimaklumi. Termasuk soal pengasuhan kedua anak kami. Mau bagaimana lagi ya.. kami orang tuanya masih harus ngantor 7.30-17.00, belum bisa full menemani anak-anak.

Ada banyak banget ternyata perbedaan anak daycare dan anak non-daycare. Terlepas dari berbeda gender antara Amaya dan Arsa ya.. Tapi saya merasa memang mereka berbeda. Ada beberapa nilai positif yang saya rasakan selama anak saya di Daycare :

  1. Ada waktu tambahan bersama anak dalam perjalanan ke daycare dan ketika pulang ke rumah. Ini saya rasain banget banget deh. Belum lagi kalau pas jam istirahat saya sering main ke daycarenya, rasanya seneng banget.. ditengah aktivitas kantor ada obat rindu yang jaraknya hanya ditempuh dengan jalan kaki sebentar. Semacam jadi ‘penebus dosa’ para workingmom yang dicap meninggalkan anak seharian, hihihi.
  2. Soal menyusui. Untuk Mama yang daycarenya dekat dengan kantor, bisa lebih lama waktu menyusui anaknya loh. Sebelum meninggalkan anak di daycare, saya biasa menyusui Arsa, pas jam istirahat bisa menyusui langsung juga, pas jemput biasanya juga Arsa langsung minta nenen. Ah, bahagia.. lebih banyak waktu bisa nempel sama anak lebih lama🙂
  3. Anak bersama dengan banyak anak lain, stimulasi untuk sosialisasi lebih luas. Walau diselingi dengan pukul-pukulan kecil tanda cinta, hahahaha. Tapi saya merasa banget, anak daycare lebih mudah sosialisasi ketimbang anak rumahan. (lalu saya dibully dengan golongan yang pahamnya : anak kecil gak butuh sosialisasi, hahaha)
  4. Lebih teratur dan disiplin karena jam-jam aktivitas biasanya rutin dan teratur. Ini penting loh buat tumbuh kembang anak. Anak sudah tau jam-nya, kapan dia harus makan, kapan dia bisa main bebas, kapan di harus tidur. Sudah ada polanya.
  5.  Daycare memiliki jadwal untuk menstimulasi anak, dan sesuai dengan usia anak. Misal catatan di buku raport Arsa hari senin : mengenal warna merah. Hari selasa : bermain di taman luar. Hari Rabu : mengenal binatang Gajah, dsb.
  6. Kalau yang ini positif buat Mamanya, saya jadi punya komunitas ibu-ibu yang se-profesi, workingmom-anak di daycare. Cihuy banget.. punya tempat sharing yang asik, dengan ibu-ibu yang umurnya relatif sama, dan punya anak-anak seumuran juga. Galau-galaunya bisa ditumpahin disini.

Baca : Mama Perah BKF

kelas-bayi-daycare

Walau begitu, ada juga kekurangannya dong ya. Terutama soal kesehatan. Untuk orang tua yang sangat sangat concern soal kesehatan anak pasti jadi titik terberat soal daycare ini, karena yaaa.. daycare bisa jadi sarang virus, hehe. Anak batuk pilek udah muter-muter aja jadi hal yang biasa. Belum lagi kalau ada yang sakit macem-macem semisal HFMD, Campak, Cacar, dll. Itu langsung deh wussss.. panik, worry anak kita kena juga ga? Hahaha.. Cara meredakannya ya kalau saya sih dengan imunisasi lengkap kap kap kap, bukan hanya yang disubsidi pemerintah ya, tapi lengkap dengan Rotavirus, PVC, dkk. Btw, ini sebagai tambahan saja : Menurut The Archives of Pediatric and Adolescent Medicine, anak-anak yang dititipkan di TPA memang akan rentan terkena penyakit pernafasan dan infeksi telinga. Namun, pada usia 5 tahun ia justru lebih jarang terkena penyakit. Kekurangan lainnya, kalau kita ada rapat sampai malam, kasian si bocah harus pulang terlambat, overtime ditemenin bu guru dan beberapa teman-teman yang senasip :p. Atau juga saat si Mama harus dinas keluar kota, biasanya para Papa akan lebih rempong, hihi. Etapi di daycarenya Arsa banyak loh, para Papa yang bawa anak-anaknya tanpa ditemenin Mamanya. Hebaaat..

rustic-mornings

Ada beberapa hal yang  harus kita lakukan untuk mengambil keputusan dalam memilih daycare (kalau ada pilihan sih daycarenya, hahaha) :

Riset, Survey, dan sejenisnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan soal riset ini. Bisa dengan tanya-tanya ke teman-teman yang berpengalaman soal per-daycare-an, atau bisa browing sana sini. Di The Urban Mama kalau gak salah ada subforum yang komplit bahas soal daycare, baca baca baca. Bandingkan daycare satu dengan daycare lainnya. Jangan hanya menilai kelebihannya, tapi juga kekurangannya. Namun, jika Mama sudah melakukan riset yang mendalam terhadap Daycare yang dipilih, sebenarnya Mama gak perlu ragu lagi. Yakinlah bahwa anak Mama berada di tangan yang tepat selama Anda beraktivitas🙂

Setelah riset, Mama bisa datang langsung ke lokasi untuk meninjau lapangan (apasih), biasanya kita punya feeling kok tempat ini cocok atau engga dengan hati kita, ya gak sih? Wawancara dengan kepala sekolah dan atau guru-gurunya deh biar bisa mantapkan feeling itu.

Selain itu pertimbangkan juga pastinya soal lokasi, percuma dong ya kalau anak di Daycare tapi jauh dari kantor Mamanya, hehe. Soal kebersihan, soal keterbukaan juga jadi point penting dalam memilih daycare. Kalau di daycarenya Aca, ada POMG, perkumpulan orang tua murid dan guru gitu lah, semacam jembatan yang menyambungkan antata ortu dan guru.

At the end, mengutip sebuah quote :
tidak-ada-satupun-obat-tidak-ada-satupun-dokter-yg-bisa-mempercepat-penyembuhan-common-cold-1

Demam (lagi)

tidak-ada-satupun-obat-tidak-ada-satupun-dokter-yg-bisa-mempercepat-penyembuhan-common-cold

Yang paling sering gagal paham soal Common Cold ini, ya gak sih? Kadang beberapa kali dokter di milis sehat menjawab obat yang paling manjur adalah : menenangkan hati orang tuanya, hihihi. Pernah juga Arsa demam sampai lebih dari satu minggu, si Ibun berusaha tetap rasional (tapi susah), karena kemakan isu kalau demam lebih dari 72 jam itu bahaya, heu.. padahal ternyata Common Cold bisa sampai 12 hari, dan Arsa pernah! Apalagi beberapa teman yang anaknya punya riwayat Kejang Demam, pasti harus lebih tough ya menghadapi yang ‘cuman’ common cold ini. Yuk ah, belajar lebih banyak soal demam ini. Bisa mampir ke :

Tentang Demam di Sepedakwitang.wp

Demam di Milis Sehat

Merawat anak Demam di Milis Sehat

Penggunaan obat demam yang Rasional di Milis Sehat

Selamat Belajar!🙂

Amaya & Fisika

#GerakSemu

Dimobil, perjalanan dari Tangerang ke Jakarta. Amaya duduk di depan, Abeh nyetir mobil, Bunda dan Arsa di belakang.

Amaya : Abeh, jangan ngebut-ngebut dong bawa mobilnya.

Bunda : Kenapa Kak?

Amaya : Itu kasian pohonnya jadi lari-lari ngejar mobil kita.

Abeh : Oh enggak.. itu pohonnya diam aja kok, kita yang bergerak.

Amaya : Kok kayak pohonnya bergerak Beh?

Bunda : (alhamdulillah tanya-nya ke Abeh) *dalam hati

Abeh : Yang bergerak itu kita, pohonnya mah diam aja.. Itu namanya gerak semu kak. Keliatannya bergerak ya? Kayak lari-lari gitu..

Amaya : Ternyata pohonnya diam aja?

Abeh : Iyaaaa… betuuulll..

 

#Orbitbulan

Suatu pagi, ada anak yang penasaran masih lihat bulan.

Amaya : Abeh, kenapa kok pagi-pagi masih ada bulan? Kan udah ada matahari..

Abeh : Oh itu karena lintasan orbitnya berbentuk elips, bla bla bla bla (sungguh bunda lupa abeh ngejelasin apa, haha maafkan) hukum kepler itu loh. Ya kan Bun? Masih inget gak?

Amaya : Oh ngerti.. aku ngerti..

Bunda : @.@

Dulu banget, si Bunda bertanya-tanya kenapa harus belajar Fisika. Ternyata ini jawabannya🙂

Cahaya

Lagi baca-baca postingan jaman MP nih, dan ternyata saya pernah dapat puisi! 9 Tahun yang lalu, manis banget ya🙂

Tak selamanya matahari berbentuk matahari
Selama ia bersinar dan bisa menyinari yang lain
Itulah matahari yang sesungguhnya

Begitupun dirimu
Kau menjadi matahariku
Kau memberi cahayamu
Menerangi sisi hidupku
Tuk menemukan sumber dari cahaya itu

Selama Cahaya itu ada
Ia terdeviasikan membentuk pelangi
Yang kita tunggu bersama

-always be my sunshine

Depok, September 2007

Martabak dan Markisa

Semakin kesini, saya semakin sadar kalau ternyata saya tipikal perempuan yang melow. Dilihat dari playlist MPC saya ada satu lagu yang terus-terusan ada di satu bulan terakhir ini, judulnya Sampai Jadi Debu, punya Banda Neira. Ah, coba baca liriknya, daleeem banget. Tapi, mungkin buat orang non-melow mah biasa aja sih😀

Salah satu contoh lain tentang si Melow ini adalah dalam hal kenangan. Adakah yang sama dengan saya dalam hal mengasosiasikan sesuatu dengan seseorang yang ingin dikenang? Martabak kacang-cokelat dan Rasa-Markisa menjadi dua hal yang selalu mengingatkan saya kepada (alm) Papa. Papa sukaaaa banget Martabak kacang-cokelat, hampir setiap pekan kami membeli martabak itu di Royal (salah satu lokasi jajan warga Serang). Selain karena pedagangnya orang Padang (Papa orang Padang), juga karena martabaknya memang enak banget! Sampai si Abang Martabaknya kenal banget sama kami. Jadi, terbawalah saya dengan si Martabak. Perlahan tapi pasti, martabak jadi salah satu makanan favorit saya tanpa saya sadari. Setelah Papa meninggal 8 tahun yang lalu, saya selalu menyempatkan menikmati martabak setiap pekannya. Menikmati martabak bukan hanya sekedar : memasukan ke mulut – mengunyah perlahan – menelannya, gak.. bukan hanya itu. Setiap gigitan martabak membawa memori saya ke sosok Papa. Kenangan-kenangan manis tentangnya begitu saja muncul di 10 centi di depan wajah saya. Bagaimana kami naik angkot dari rumah ke Royal hanya untuk membeli seporsi Martabak, mengantri dan menikmati martabak bersama se-isi rumah. Setiap gigitannya, saya tidak hanya merasakan kombinasi antara tepung-mentega-cokelat-kacang-mentega, bukan.. bukan hanya itu. Tapi rasa sayang seorang Ayah ke anak perempuan satu-satunya ini. Sesederhana potongan martabak. Manis yang tidak berlebihan.

Saya menyimpan rapat-rapat filosofi  menikmat martabak ini sendirian sejak Papa meninggal, hingga akhirnya saya menceritakan ke suami sambil ngambek nangis. Jadi saat awal-awal menikah, kondisi kami masih pelan-pelan saling menyesuaikan. Termasuk soal keuangan. Pernah suatu hari di akhir bulan, saya benar-benar ingin makan martabak. Bertepatan dengan jadwal kami ke rumah mertua. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli satu porsi martabak (martabak nya mahal soalnya, hahaha). Saat di warung Martabak saya langsung memesan martabak manis cokelat-kacang. Tapi langsung dipotong oleh suami yang mengcanlce pesanan saya, dan menggantinya dengan Martabak telor yang saya sama sekali gak suka! Saya bengong dong.. dia tau saya sukanya martabak manis, bukan telor. Dan jawabannya masih saya ingat sampai sekarang : Ibu (mertua) gak suka martabak manis, sukanya martabak telor. Oh, oke.. fine. Sedangkan untuk membeli satu porsi martabak manis lagi tampak tidak memungkinkan. Sepanjang jalan saya hanya diam, dimotor pun saya berpegangan dengan jok belakang saja. Di rumah mertua saya pun enggan menyentuh martabak telor-yang-saya-gak-suka itu. Saya merasa momen-mengenang-Papa menjadi tertunda, dan itu bikin saya sensi banget (selain bawaan hamil sih). Sepulang dari rumah mertua, saya masih ngambek dan akhirnya sampai nangis, menceritakan betapa saya menginginkan martabak manis itu. Hahaha, called me Lebay!😀

Selain martabak, Papa juga suka markisa. Buah yang jarang banget kan.. Nah, untuk mengganti sensasi Markisa, biasanya saya membeli softdrink rasa Markisa. Beberapa orang menegur saya karena kok ya sering banget minum softdrink gitu, saya hanya tersenyum sambil bilang : gak sering kok, sesekali aja. Lebih dari itu, saya hanya ingin mengenang Papa dalam tegukan rasa Markisa ini kok. Saya hanya ingin (kembali) merasakan bagaimana terobatinya dahaga saya akan kasih sayang seorang Ayah. Semanis rasa markisa. Manis yang tidak berlebihan.🙂

Nge-Game

Amaya lagi seneng-senengnya nge-game di HP Kakeknya.

Nenek : Ama, ajarin nenek main gamenya dong.

Amaya : Emang Nenek bisa?

Nenek : Ya belum.. makanya ajarin..

Amaya : Yaudah sini, nih liat ya.. mainnya gini gini gini *sambil nunjukkin caranya*

—  10 menit berlalu —

Nenek : Ama, gantian doang mainnya.. Nenek kan mau coba juga, masa Ama terus yang main

Amaya : Ini aku gak lagi main loh Nek.. ini kan aku lagi ngajarin Nenek..

Nenek : @.@

Modus

Suatu malam di kedai Burger, saat Amaya minta beliin 1 buah beef burger.

Abang Burger : Bu, ini mau pakai salada gak?

Amaya : Gak bang

Abeh : Pake aja Bang. Gapapa kak, nanti saladanya Abeh yang makan.

Amaya : Ah bilang aja Abeh mau minta burger aku itumah. Ya kan?

Whahaha, gagal modusin anak sendiri😀