Destinasi Impian : Chiba

Kalau mau jujur-jujur-an, pas masih SD nama Negara selain Indonesia yang sudah saya sering dengar adalah : Saudi, dan Jepang. Kalau Saudi sih karena dari jaman SD lanjut sekolah Agama siangnya kita udah hapal lah ya ada yang namanya rukum islam yang kelima : Naik Haji jika mampu, kemana? Ke Mekah kan.. Nah kalau Jepang, si saya-kecil dengar darimana coba? Bukan dengar sih, Baca lebih tepatnya, dari komik Conan! iya, dari Komik 😀 Saya masih ingat betul sejak kelas 2 SD selalu menyisihkan uang jajan beberapa perak. Saat teman-teman bisa beli cireng atau cilok sesukanya, saya harus batasi konsumsi cilok. Demi apa? demi bisa beli komik  yang datang 3 atau 4 bulan sekali. Belum lagi kalau mau beli komik di kota saya, hanya ada 1 toko, harus naik angkot yang ongkos bolak-baliknya hampir setengah harga komiknya kakaaak 😀 Tapi gapapa, saya rela, sungguh rela. Suka cita banget saat bisa jadi orang pertama di kelas yang punya komik Conan edisi terupdate, berasa paling kece seangkatan, beuh.. Dari komik Conan saya tau apa itu Negara Jepang. Bagaimana seorang Aoyama Gosho menggambarkan suasana Jepang yang berbeda-beda di tiap kotanya. Dari komik itu pula saya tau bahwa bunga paling famous di Jepang yang namanya Sakura itu hanya mekar selama 2 minggu saja selama satu tahun. Wooooh.. sebentar banget ya.

Ada yang masih inget cerita awal Detective Conan gak? Itu loh saat Shinichi dan Ran lagi jalan-jalan di Tropical Land, untuk merayakan kemenangan Ran pada Kejuaraan Karate. To make it short, Shinichi melihat transaksi mencurigakan antara seorang tak dikenal dengan seorang yang berpakaian hitam di daerah tersembunyi, lalu diberikan sejenis obat (APTX (Apotoxin) 4869) yang mengakibatkan tubuhnya mengecil

Setting-an episode 1 itu di Tropical Land, nah.. dibeberapa forum anime (pas SMP saya udah mulai kenal forum-forum anime dan manga nih..hehe) justru pada mendeskripsikan sebagai Tokyo Disneyland di dunia nyata. Karena memang sketsanya mirip, wahana-wahanya juga mirip banget. Kalau teman-teman gak kebayang sama sekali dengan apa yang saya bicarain tadi karena gak pernah baca komik conan, tapi pernah dong nonton TV, dan gak sengaja liat liputan nikahnya Sandra Dewi di Tokyo Disneyland? Hehehe… Nah itu dia lokasinya.

Tapi yang lucu, Tokyo Disneyland justru tidak berlokasi di Tokyo, tapi di Chiba! Atau kita sering banget denger kata Narita-Tokyo kalau search airport buat mendarat di Jepang, padahal padahal padahaaaal Narita itu ada di Chiba, bukan di Tokyo! Apaaaa? Ada yang belum pernah dengar kata Chiba? Gapapah.. Nanti kita cari tau sama-sama 😀

Oke, mari kita kenalan sama Chiba. Si Ibun udah pernah ke Chiba? Belooom..hahaha, tapi tolong aminkan ya kakaaak, namanya juga impian 😀

chiba

sumber : pinterst

Saya tuh ngerasa Chiba itu kota yang tawadhu’ #eaaaaa. Kota yang rendah hati. Contohnya yang tadi itu, walau ada di Chiba, tapi terkenalnya di Tokyo kan si Narita Airport dan Disneyland itu, haha. Yakin deh, kalau namanya jadi Narita-Chiba atau Chiba Disneyland, itu rating Tokyo jadi dibawah Chiba soal ketenarannya 😀 Selain itu, kenapa si Ibun pengen banget ke Chiba? Deket banget dari Airport, asik kan.. dari Indonesia mendarat di Narita, langsung ada di Chiba. Mau kemana-mana lagi saat liburan di Jepang, tinggal cuss ke Narita. Lokasi Chiba juga lumayan terjangkau dari Tokyo, jadi misal mau jalan-jalan mainstreem juga tinggal ke Tokyo. Sekitar 40 menit naik kereta ke Tokyo. Kamu tetap bisa menjelajahi Tokyo tanpa harus terus-terusan ada di kota super padat macam Tokyo. Selain Disneyland yang sudah saya sebut-sebut dari tadi, ada juga Disneysea satu-satunya di DUNIA (liat gambar di atas no.2) Keren kaaan.. sampai sini saya masih gagal paham kenapa Chiba gak seterkenal Tokyo, wkwkwkwk

Terus, tau Sakura kan ya pasti? Yang kerennya lagi ternyata, Sakura-City itu ada di Chiba. Kalau ada yang gak percaya, sok deh googling “Sakura City Chiba” :P, Sakura-city gak cuman punya ribuaaan pohon Sakura, tapi jenis pohon berbunga lainnya. Yang paling terkenal kebun buna tulipnya, beuuuh.. gak kalah sama Belanda. Jadi kalau tiket promo yang kamu dapet bukan pas musim sakura berkembang, bisa atur jadwal buat ada di Chiba sekitaran bulan April. Itu lagi mekar-mekarnya ribuan tulip warna-warni dari raturan jenis tulip. Cantiiiiik.. Btw, Chiba ini emang terkenal soal bunga-bungaannya. Sepanjang tahun berbunga! Dari mulai bunga Dafodil di Januari sampai bunga Cosmos (kenikir hias) di Desember.

chiba

last but no least, kalau kita berkunjung ke tempat baru yang paling wajib dinikmati adalah makanannya ya.. Tapi, denger cerita teman-teman muslim lain yang pernah ke Jepang, agak susah dapat makanan yang halal. Nah, bersyukurnya ada slogan yang rilis di 2014 lalu “Japan’s first Muslim-friendly facility” itu ada di Chiba. Alhamdulillaaah.. jadi mungkin lebih mudah kali ya mendapatkan fasilitas untuk muslim semisal Masjid. Fyi, di Chiba udah ada bangunan masjid milik sendiri, sebagian dananya ada yang dari urunan masyarakat Indonesia loh, kereeeen. Selain itu yang penting juga makanannya kan. Nah “Japan’s first halal-certified food-processing facility”  juga sudah dibuka di Makuhari area di central Chiba sejak tahun 2014 lalu. Yippppieee.. Dari mulai mendarat di Narita sudah ada kok tempat makan dengan sertifikat NAHA (Nippon Asia Halal Association) #senyumdulu

Dari postingan ini kebayangkan sedikittt tentang Chiba. Kalau mau info lebih banyak mah tinggal ketik aja di google “Chiba-Japan” keluar deh semua-mua yang keren-keren. Jadi, siapa yang ikutan mupeng ke Chiba? 🙂

” Tulisan di atas diikutsertakan untuk giveaway milik Nyonya Sepatudan Jalan2liburan

Rekomendasi Dokter (Umum, Kandungan, THT)

 

rekomendasi-dokter

 It takes two to tango

Pernah dengar idiom diatas? Terus apa hubungannya dengan judul postingan kali ini ya? Sebelumnya saya gak pernah terbayang akan punya list dokter yang lumayan panjang. Lah wong dulu kalau sakit tinggal cuss ke Balai Kesehatan Kantor, diperiksa 5 menitan, dikasih resep, lalu duduk manis di depan loket obat, dan siangnya setelah makan langsung diminum deh itu obatnya. Gak pernah kebayang juga akan nyari tau apa kandungan obat di drugs.com, atau mencari tau tentang apa yang salah dengan tubuh ini di mayoclinic. Deuuuh, sama sekali di luar jangkauan. Etapi, setelah menikah dan punya anak, kenalan dengan Milis Sehat mengubah pandangan si Ibun tentang dunia kesehatan. Bahwa, it takes two to tango loh.. Yep, pertama kalinya saya sadar bahwa sakit bukan hanya urusan di ruang periksa yang hanya 5 menit itu, tapi jauh lebih besar dari itu. Learn.

Belajar, kata seorang dokter yang menjadi Narasumber di Seminar tentang Tumbuh Kembang Anak kemarin di Daycarenya Arsa juga sama. Pangkal dari semua adalah belajar. Terlebih seorang Ibu. Belajar itu kebutuhan. Jangan pernah terlena dengan status kita yang bukan tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, dll). Belajar tentang kesehatan bukan melulu di bangku kuliah kok.. Jangan malu juga mengakui kalau kita belajar lewat Internet. Lah, inovasi sudah dimana-mana kok. Banyak situs sahih punya negara di ujung dunia yang bisa kita akses via ponsel saja. Contohnya ya dua di atas tadi : Mayoclinic dan Drugs.com. Sederhana kok kalau mau belajar dari 2 situs aja. Kalau-kalau masih males belajar dengan bahasa asing, Indonesia punya situs yang sahih juga tentang ilmu kesehatan : Milis Sehat.

Nah selain belajar lewat membaca, saya juga kesengsem banget sama Nakes yang suka transfer knowladge saat kita konsultasi, atau bahkan di Medsos pribadinya. Rela berlama-lama di ruang periksa dengan pasien menjadi satu bukti  bahwa Dokter tersebut memang punya misi untuk mengedukasi pasien atau keluarga pasiennya. Barakallah..

So, siapa aja Nakes yang menurut saya asik buat didatengin? *sebelumnya mohon maaf buat Dokter yang namanya tersebut di Postingan ini yaaa #salim

Dokter Umum

Sering banget saya dikirimi pesan oleh teman, bahkan teman-nya teman yang bertanya rekomendasi Dokter spesialis Anak. Saya gak langsung jawab dengan nama Dokter Anak yang biasa saya kunjungi biasanya, tapi selalu saya tanyakan : apa keperluannya. Kalau dijawab dengan : anakku demam udah 3 hari nih cha, atau senada dengan itu dijawab dengan : batuk udah seminggu belum sembuh-sembuh, dan ‘penyakit’ standar anak-anak lainnya, biasanya saya akan jawab : Ke Dokter Umum dulu aja.. insyaallah kasus kayak gitu mah Dokter Umum juga mumpuni. Dan selalu saya rekomenasikan : Dokter Farian Sakina aka Dokter Ian, udah beberapa kali saya nulis tentang Dokter Ian di blog ini, bisa gugling dengan “Dokter Ian + sepedakwitang” hehehe. Kenapa saya rekomendasikan Dokter Ian? Oke mari kita bahas dikit aja ya.. Dokter Ian mau mengedukasi siapapun yang datang ke ruang praktiknya. Silahkan siapkan waktu paling enggak setengah jam untuk mendengarkan penjelasannya. Catat semua pertanyaan yang bergentayangan dikepalamu, dan keluarkan semua di ruang praktiknya. Insyaallah dijawab tuntas. Kalau kita agak-agak gak nyambung sama bahasannya, kita bisa dikasih PR membaca di situs-situs rujukan kok. Jadi misal ada konsul lanjutan, udah dapet tek-toknya. Walau dokter Ian dokter Umum, tapi percayalah sama sayah, kalau kapasitasnya wokeh banget ketimbang Dokter-dokter Umum lainnya yang pernah saya datangi. Bahkan menurut saya, beberpa dokter anak gak lebih oke daripada Dokter Ian soal mengedukasi (keluarga) pasiennya. Mantep! Hal lain yang jadi poin plus dokter Ian adalah Dokter Ian bisa dihubungi via Whatsapp. Walau ya namapun Ibu 3 anak ya.. sibuk luar biasa. Jadi untuk urusan yang urgent, gak saya rekomen ke dokter Ian, urgent mah ke UGD Kakaaak :D. Rumah Dokter Ian (tempat praktek) ada di Jalan Murtadho, kalau dari arah senen, belok kiri di prempatan lampu merah matraman, gang-nya ada setelah pom-bensin, deket dengan fly over matraman. Dari Gang murtadho itu jalan lurus aja sampai mentok, lalu belok kanan. Nanti ada plank Dokter Fahrian di sebelah kanan. Tarifnya jujur ini saya gak tau, kadang bayar 75.000, pernah 85.000, pernah juga 50.000, hehehe.. intinya gak pernah diatas 100.000 insyaallah.

Spesialis Kandungan dan Kebidanan (Obgyn)

Yang ini sebenarnya saya punya list yang panjaaang banget! Secara 2 kali hamil, yang kedua lumayan heboh yaa.. Tapi ini saya tulis yang benar-benar berkesan aja ya.. Urutan nomer tidak berarti lebih asik ya, sekali lagi soal asik gak asik itu tergantung pribadi masing-masing, setuju yes? 🙂

dr. Susilawati Iriana Dewi, Sp.OG

Kalau coba gugling Nama Dokter Susi ini, gak akan dapat banyak review sebenernya. Tapi dari pengalaman beberapa teman di kantor, dan akhirnya saya mencoba sendiri konsul dan periksa dengan beliau ternyata cocok banget, alhamdulillah. Dari awal, kriteria Obgyn saya memang harus Perempuan, alhamdulillah dokter Susi malah perempuan muslimah (akhwat). Karakternya memang komunikatif, jadi kita gak sungkan mau tanya ini itu. Penjelasan dan jawaban yang diberikan juga terkesan santay, jadi gak akan tampak seperti : buruan lo selesai. Hehehe.. Evidence Based Medicine, jadi jangan harap dapet macem-macem obat/vitamin kalau emang gak perlu. Untuk ukuran seorang Obgyn, Dokter Susi hitungannya sabar. Berkolaborasi dengan Dokter Helmina di RSI Jakarta Cempaka Putih, saya yang kena kasus Ketuban Pecah Dini (KPD) di Usia kandungan 27minggu, Continue reading

Hamil yang bikin kangen

 

apa

Apa sih yang paling ngangenin dari hamil selain tendangan-tendangan kecil dari dalam perut kita? Saya sih salah satunya belanja..hehe. Kayaknya seruuuu banget belanja macem-macem perintilan soal hamil ini. Apalagi pas hamil anak pertama, suami kayaknya gak pernah komplen (atau gak berani? wkwkwk) mau saya belanja apapun. Tujuannya bikin bumil senang kali ya? Semoga Allah berkahi suami-suami macam gini, aamiin 🙂

Dulu, pas hamil Amaya di trimester pertama gak pakai morning sick sih, tapiiii gak bisa makan sama sekali, semua makanan gak berasa. Jadi seharian itu lemes, gak bisa kemana-mana. 2012 akhir belum jaman go-food dkk ya, jadi pilihan masih terbatas oleh jangkauan ibu hamil yang bekerja ini. Masuk trimester kedua baru deh segala makanan lancaar masuk, jadi udah bisa jalan-jalan ngemol. Perut juga udah semakin terlihat ke-hamil-annya. Cihuuuy banget rasanya ada alasan buat beli baju baru 😀 apalagi baju hamil kerja juga sekarang udah banyak pilihannya, dan kece-kece banget. Selalu ada alasan buat beli baju baru #tobat. Biasanya walau baju hamil, tapi tetep bisa dipakai setelahnya saat menyusui, jadi gak rugi-rugi banget karena harus dipakai selama hamil doang. Istilahnya buy one get one, eh tepat gak sih? 😀 Masuk trimester akhir, perut udah lumayan kurang asik dibawa kemana-mana. Masuk fase ini tangan udah gatel klik sana klik sini belanja online. Kalau 2017 sih yaaa, udah lah saya lebih sering belanja online daripada offline. Bakalan kalap banget kayaknya kalau baru hamil sekarang-sekarang ini. Marketplace udah bejibun, layanan ojek online tinggal klik, asik banget pasti. #lalukapanhamillagibun? Hahahaha..

Selain soal belanja, soal perhatian itu yang paling ngangenin juga. Apa-apa diperhatiin. Mau makan apa selalu ditanyain. Nyaman gak duduknya? tidurnya? segala-gala dinomersatukan. Rasanya emang jadi spesial. Di Transjakarta, di KRL, bahkan pernah didahulukan cuman di antrian ATM #girang. Tahun lalu pernah baca cerbung di salah satu forum terbesar di Indonesia, tentang seorang wanita yang ter-obsesi dengan kehamilan. Dan dia punya anak 11! Anak loh, bukan kucing 😀 jadi dia setiap tahun hamil melahirkan hamil melahirkan, warbiyasaaak. Karena dalam dunia nyata ada juga yang memang selalu merasa istimewa saat hamil kan ya, jadi baca cerita itu ya berasa nyata aja.

Diluar itu semua, kondisi wanita hamil berkali-kali disebutkan dalam al-quran dan hadis. Tuh kan, super spesial banget. Ini yang paling saya suka :

Wahai Fatimah, jika wanita mengandung anak di perutnya, maka para malaikat akan memohonkan ampunan baginya, dan Allah SWT menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, menghapuskan seribu kejelekannya. Ketika wanita itu merasa sakit karena melahirkan, maka Allah SWT menetapkan baginya pahala para pejuang dijalan Allah SWT. Jika ia melahirkan bayinya maka keluarlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Dan akan keluar dari dunia dengan tidak membawa dosa apapun. Di kuburnya akan ditempatkan di taman-taman surga. Allah memberinya pahala seribu ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

Masyaallah.. betapa ya memang hamil itu sesuatu yang istimewa sejak dulu :’).

Sedikit agak out of topic, wanita tetaplah seorang wanita ya.. mau pernah hamil atau belum pernah hamil. Pliiis atuhlah, jangan pernah usil tanya ke teman atau saudara (apalagi kalau kamu gak deket) yang sudah nikah, dengan pertanyaan “kamu udah isi (hamil) belum?” Pliiiisss jangan! Kamu gak pernah tau seberapa keras usaha dia untuk bisa hamil, berapa banyak uang yang keluar untuk satu kata hamil itu. Kamu juga gak tau seberapa dalam perasaan yang sudah terkuras untuk hal ini. Heuu suka sedih sendiri kalau ada yang kepo-kepo soal hamil ini. Okeh okeh? 🙂

Kalau kamu, apa apa apa yang bikin kangen hamil? #sayayangkepo 😀

#Amayatalk : dari Allah kan?

Jadi ya.. ada anak perempuan usia 3 tahun yang kepengeeeeen banget banget sama tas yang ada rodanya, yang bisa didorong-dorong, udah seminggu cerita tentang tas impiannya itu.. mau tidur cerita, bangun tidur cerita.. ceritaaaa mulu..

Bun : Pengen banget ya Kak?
Aya : Bangeeeet..
Bun : Sabar yak 😀
Aya : Tunggu gajian ya Bun?
Bun : Ehhhh udah tau gajian ya? Emang gajian itu apa?
Aya : Bunda dapet uang
Bun : Uang dari siapa?
Aya : Ya dari Allah laaaah.. dari siapa lagi..
Bun : #ehhh

ya Allah..bantu kami memegang amanah besarMu ini, bantu kami agar mereka lebih kenal denganMu, bantu kami agar selalu tersebut namaMu di setiap hari-hari yang mereka lalui..

Atopic Skin, Psikosomatis, dan Redwin Sorbolene Moisturiser

nurse-joyce
Sebenarnya sudah lamaaa banget ingin nulis tentang ‘penyakit’ nya Amaya, tapi masih maju mundur. Kadang baru satu paragraf akhirnya dihapus lagi. Merasa belum siap mental si Bunda, hehehe. Kali ini mudah-mudahan selesai yaaa.. ini ditulis dengan harapan bisa jadi pelajaran buat semua orang tua.
Jadi, ada apa dengan Amaya? Mari kita flashback ke 2 tahun yang lalu. Oktober 2014 saat saya hamil Arsa 6 bulan, Amaya saat itu masih 13 bulan, tiba-tiba ketuban saya rembes. To make it short, saya harus di rawat di Rumah Sakit dan bedrest total selama 3 bulan sampai lahiran. Amaya yang tadinya full ASI harus mendadak disapih, dan pisah dengan Bundanya. Amaya tinggal dengan Neneknya (masih di Jakarta). Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu. Takut, kecewa, sedih, bahkan marah semua campur jadi satu. Hal ini berat buat semua pasti, terutama buat Saya dan Amaya. Bagaimana dia menjadi uring-uringan, dan super rewel. Pernah suatu malam, saat saya sudah pulang dari RS (tapi tetap bedrest di rumah), tengah malamnya Amaya bangun, nangis heboh. Kami perhatikan kulitnya mucul merah-merah, ukur suhu badan tetap normal. Waktu itu kami pikir udara panas, akhirnya sama Pak Suami dibawa ke luar rumah (jam 12 lewat) biar adem. Eh, ternyata di luar ramai orang-orang, tetangga sebelah ada yang meninggal. Jadilah waktu itu Amaya disangka ‘kerasukan’ oleh tetangga karena nangisnya gak diam-diam, ya ampun… Beberapa malam setelahnya, Amaya masih nangis dan garuk seluruh badannya tanpa bisa di tenangkan. Sampai 3 bulan, hampir selalu seperti itu setiap malam. Sedih banget kan ya 😥
Sampai akhirnya saya melahirkan, kami mengungsi ke rumah orang tua saya di Serang. Saya selalu deg-deg-an setiap menjelang maghrib, takut banget Amaya akan ngamuk, nangis, gak bisa saya tenangkan. Bahkan saya sentuh saja dia langsung marah-marah. Setiap malam dia di kelon kalau gak sama Pak Suami, sama Neneknya. Gak pernah mau sama saya. Badannnya kami perhatikan merah-merah dan kadang sampai beruntusan. Ibu saya terus-terusan menyuruh membawanya ke dokter kulit, tapi dengan kondisi saya masih pegang bayi yang masih merah gini, saya gak berani kemana-mana dulu. Daaaan, tanpa sepengetahuan saya Amaya di bawa ke RSU Serang oleh Neneknya. Katanya dibawa ke Dokter Kulit paling terkenal di Serang, entah siapa namanya.
Kata dokternya, Amaya kena Eksim nih cha
begitu kira-kira kata Ibu saya, ampuuun.. saya yang sudah lama gabung dengan komunitas Milis Sehat gak bisa begitu saja percaya dengan diagnosa itu. Tapi susah ya kalau lawan bicaranya Nenek. Dibawalah itu obat macem-macem : salep racikan, obat puyer racikan, dan AB. Maaaak gak jelas semua obatnya. Tapi posisi saya susah banget untuk bisa diskusi dengan Ibu. Obat diminum sampai habis, dan Amaya tetap gatal, tetap muncul bruntusannya, masih sama seperti sebelumnya. Sedih? Pasti.

Continue reading