mari bicara tentang hal ini lagi : mati

15 03 2012

Apa yang lagi dibahas di meja bundar hari ini?

Tentang seorang pegawai beda lantai yang indigo, kami melahap habis seluruh isi blognya. Tentang, hantu kamar mandi perempuan, tentang hantu di jalan, dunia lain beda dimensi. Hal-hal yang cukup ‘menyenangkan’ oleh anggota meja bundar sembari menunggu kapten-kapten membawa kabar. Sempat saya bertanya bodoh: kalau saya mati, gentayangan gak ya? Seolah-olah tidak tau dengan pasti tahapan manusia setelah mati. Melalui Alam barzah yang di dalamnya ada azab kubur bagi manusia yang ‘nakal’ saat di dunia, lalu hari kebangkitan, lalu berkumpul di Padang Mahsyar, pemberian syafaat bagi yang berhak, di lanjut dengan masa hisab lengkap dengan pemberian catatan amal baik dan buruk, dan Mizan – perhitungan- amalan kita. Dan melewati Shirat, *mengetikanya sudah bikin bergidik* and the last : Surga atau Neraka. Selesai.

Seringkali saya nakal semau-maunya, layaknya hidup tak ada ujung. Tapi tersedu-sedu jika ingat mati. Setelah itu nakal lagi, dan menangis lagi. Taubat macam apa? Saya pernah bertanya (via email) dengan Ustadz yang biasa mengisi kajian pagi di kantor sebrang, intinya : Bagaimana ini Ustadz, saya merasa ‘lurus’ hanya di hari Selasa dan Rabu (setelah ikut kajian pagi), setelah itu saya kembali ‘nakal’. Ustadznya balas, intinya : Gak kenapa, terus di-tingkat-kan, hingga setiap hari ‘lurus’. Nakal? Tobat lagi. Nakal lagi? Tobat terus. Semoga di-istiqomahkan jalan menuju kebaikann. Pernah ada seorang teman-nya-teman yang ‘begajulan’, ancur-se-ancur-ancurnya, Islam sih, tapi ya gitu.. Saat ditanya apa keinginan terbesarnya, dia jawab dengan yakin : Gak muluk, gue berharap bisa mati dalam keadaan Islam. Iya, sering saya berharap (mungkin berlebih harap) : Allah saya mau mati dalam keadaan beriman kepadaMu. Saya iri, benar-benar iri dengan (alm) Bapak. Allah benar-benar mengabulkan doanya tentang cara kematiannya, di hari Jumat, di bulan Ramadhan.

Seperti pagi tadi, saat tiba-tiba diri tidak seimbang, dan pandangan agak buram. Saya langsung menghubungi teman dekat di kantor. Minta di antar ke Dokter. ternyata dia tidak bisa. Akhirnya saya memaksakan diri keluar kantor untuk ke Dokter. Beberapa kali saya harus berhenti dan menutup mata untuk beberapa saat karena merasa tidak seimbang. Saya pikir, saya bawa dompet yang berisi kartu identitas dan name-tag-kantor, amanlah mau jatuh dimana-pun. Alhamdulillah sampai juga ke Dokternya. Tapi nasib belum begitu baik, Dokternya tidak ada : lagi pergi. Ada Dokter laki-laki sebenarnya, tapi saya risih. Saya bilang : mau tunggu dokter perempuan saja. Tapi sakit-nya semakin menjadi, saya juga tidak pegang obat peredanya. Akhirnya saya menangis sendirian. Hahaha, memalukan. Beberapa perawat panik, dan minta saya tiduran saja. Tapi saya tolak, sambil senyum *menahan malu*. Lalu oleh seseorang yang baik hati, saya dibuatkan Teh Manis Hangat : biar lebih tenang. Yang ada saya malah tambah nangis : ini orang baik amat, kenal juga enggak. Dalam hati saya terus mendoakan orang-orang yang luar biasa baik dan perhatian itu. Saat menangis itu, saya cuman ingat : bagaimana kalau saya mati hari ini? Selimut tadi pagi belum dibereskan, buku-buku masih terhampar di tempat tidur, pakaian kotor masih numpuk, meja kantor masih berantakan, ibu saya, adik saya, janji saya mau ajak nonton Negeri 5 Menara sama keponakan-keponakan, hutang hafalan saya yang terus menunggak, pesenan jaket dan barang dagangan lain yang masih dalam proses, haha.. saya mikir itu dalam satu waktu, dan berhasil membuat saya semakin banjir air mata *seorang diri, di sebuah klinik* Read the rest of this entry »





6th

27 12 2011

my little nephew, Hadziq Cendikia Firmansyah

[Playing Football-Milk-Driving my daddy's car]





mau seperti apa matinya?

19 12 2011

sering saya berfikir, seperti apa ya meninggal itu?

bagaimana rasanya?

seperti apa sakitnya?

sering saya berfikir, akan seperti apa saya meninggal nanti?

bagaimana cara meninggalnya?

dimana meninggalnya?

Seingat saya, sejak saya SD, Almarhum Bapak beberapa kali berkata, tentang permohonannya. Permohonan sederhana tapi aneh di telinga saya saat itu.

Bapak ingin meninggal di hari Jumat, di Bulan Ramadhan. Read the rest of this entry »





Rain

14 06 2011

Padahal muslim yang kuat lebih dicintai ketimbang muslim yang lemah. Kalau inget statment itu jadi malu. Dua hari ini full istirahat di sebuah desa pinggiran Banten. Buat saya sendiri, tidak bekerja disaat yang lain sibuk rasanya aneh sekali. Namun apadaya, mungkin kemarin lalu terlalu dzolim dg hak tubuh.

Saat saya menulis postingan ini, tepat di samping kanan kiri terkapar 2 bocah perempuan dg wajah polosnya. Setelah sibuk menemani, menjaga, mengajak ngobrol, menyemangati utk makan, mengajak bermakeup, menemani tidur di malam hari, sibuk bolak balik rumah ke rumah sakit sampai sibuk ngomel di dua hari ini akhirnya lelah dan lelap saat ini. Terima kasih Sasa (8th) dan Lala (17bln), keponakan Teteh yang super. Saya yang lagi down kalau main sama mereka bs tiba2 semangat. Lala yang bawel dg nyanyian ‘kakak mia’ dan ‘dudidudidam’ komplit dg joget2an konyolnya, padahal baru kemarin tangan kanannya patah. Sasa yang cerdas, selalu tanya apa yg blm dia tau, “Teteh, Magang itu apa?”
“Teteh, Sasa kalau udh gede mau masuk UI”
“Teteh, ternyata Yesus itu bkn Nabi Isa”
“Teteh, kenapa pada rebutan mau jd Presiden?”
“Teteh, inget 10 pedoman hidup sehat dan bahagia, gak boleh khawatir, nanti jadi stress,akhirnya depresi” dan pertanyaan plus pernyataan lain yang kadang bikin sy geli. Tadi bodohnya saya bilang ke mereka, “enak ya jadi kalian”. And,no hope. Mereka gak ngerespon. Haha.. Read the rest of this entry »





Rindu itu.

14 06 2011

Taukah kamu tentang Rindu?

Rindu itu ketika sekelebat bayangmu mengalihkan diamku.

Rindu itu ketika nasihat-nasihatmu datang menyadarkanku.

Rindu itu ketika aku mengingat guyomu, dan senyum tipis terlukis di wajahmu.

Rindu itu saat kamu mengantarkanku ke sekolah,meski hanya berjarak selang selangkah.

Rindu itu saat aku bersikeras mengatakan sholatmu tidak sah!
“gak pake bismillahirrahmanirrahim,gak sah pokoknya. Titik!” Belakangan, baru aku tau kita berbeda mazhab.

Rindu itu saat kau sibuk memintaku utk belajar masak rendang. ”Jgn mengaku orang Padang, kalau icha gak bisa masak rendang enak”

Rindu itu saat, kau melerai pertengkaran aku dan abang, aku dan adik, bahkan saat aku bertengkar dengan tetangga pun, kau yg menyelesaikannya. Read the rest of this entry »





Loooooooong Weekend

25 04 2011

Jika kamu mau tau arti satu menit, tanyakan pada saya yang baru saja telat ngantor  satu menit. Tapi, jika kamu mau tau arti satu hari libur, tanyakan pada semua orang yang biasa bekerja dari senin-jumat! Kalau dipikir-pikir, padahal cuman satu hari kamis aja libur paskah kemaren, tapiii efeknya luar biaso. Tiket-tiket pesawat, kereta juga udah pada dipesen dari bulan maret, niat betul menggerakkan sektor riil perekonomian Indonesia! :D Read the rest of this entry »





untuk Bapak

14 02 2011

Kasihilah dia disana
Di dalam kesendiriannya
Lapangkanlah alam kuburnya
Terangilah dengan cahyamu

Duhai Robbi ampunkan dia
Sejahterakan dengan nikmatmu
Yang tak pudar ditelan masa
Ijinkanlah kami meminta

 

*taken from “Sejagat kasih Ibu-SP” so easy to love you pah.. :)





korelasi, aksi, reaksi

15 12 2010

Apa benar ada korelasi antara berbuat baik kepada orang tua kita dengan eksistensi dari peristiwa dalam hidup kita? bagi saya, jawabannya ada. Seburuk apapun akhlak orang tuamu, tetap saja mereka orang tuamu. Menjaga perasaannya, adalah suatu keniscayaan. Meski kadang, emosi yang mudah tak terkontrol ini se-enaknya melukai perasaan mereka.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [Al-Isra : 24]

Subhanalloh, betapa Alloh menempatkan posisi Orang Tua pada tempat yang berharga. Kembali lagi dengan pertanyaan adakah korelasi antara sikap kita kepada Orang Tua dengan apa-apa yang terjadi di kehidupan kita? Disadari atau tidak, pasti ada. Sesuatu yang baik, akan mendatangkan yang baik kan? Ini mengingatkan saya saat berumur 17 tahun. Iseng, saya bertanya pada Abang, bagaimana caranya biar bisa masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), seharusnya hal seperti itu tak usah dipertanyakan kan? karna jawabannya ya cuman Belajar. Tapi bukan Abang saya kalau punya jawaban yang standar, dia bilang:

“bangun tidur, beberes kamar sendiri, bantu-bantu rumah.. misalnya menyiram tanaman, terus di sapu, di pel, rajin-rajin cuci piring.. intinya gimana caranya biar Ibu senang hatinya”

Saya menjalankan jawaban si Abang, dan Alhamdulillah lulus STAN. Ya memang, secara logis.. gak ada hubungannya. Tapi ingat, ada tangan-tangan tak terlihat yang bekerja atas Doa Orang Tua kita kan? Ibu.. Bapak..terima kasih.

Weekend kemarin, saat kumpul keluarga terjadi sedikit cekcok antara si Abang dengan Ibu.  Saya sudah ingin tutup kuping saja sebenarnya, tapi Abang yang keras ditambah Ibu yang keras, gak akan ada selesainya. Sampai esok harinya, si Abang meng-sms saya. Intinya,

“ujianku berantakan, gara-gara ribut sama Ibu kayaknya. Harus cepet-cepet minta maaf”

See? betapa kami sangat percaya aksi dan reaksi dari tingkah laku dan takdir yang kami dapati.  Allohu Rabbi.. sungguh kelak saya akan menjadi Ibu. Dan Ibu manapun di dunia ini tentu menginginkan  anak-anak yang sholeh, anak yang istiqomah dalam jalanMu.

“kalau mau jadi Orang Tua yang baik, jadilah anak yang sholeh terlebih dahulu”