Bagaimanalah ini. Biarkan aku mulai dari awal mula hubungan kita. Kita sama-sama lupa untuk saling bersepakat. Akan diapakan hubungan ini. Akhirnya, kita seperti air yang mengalir. Terbawa arus yang ada di hadapan. Masalahnya tidak semua arus yang ada di hadapan kita bermuara pada kebaikan. Harusnya kita bisa menentukan sendiri, akan dibawa kemana aliran ini. Kalau begitu, kita telusuri saja dari hal yang cukup mendasar; Apa yang perlu dihasilkan dari sebuah hubungan? Siapapun akan menjalin hubugan dengan orang lain jika hubungan itu menguntungkan. Termasuk hubungan yang terjalin diantara kita. Dan itulah salah satu alasan kenapa aku ada, kamu ada dan manusia ada. Untuk saling melengkapi satu diantara lainnya. Untuk saling memberi dan mengambil manfaat dari keberadaan satu dan yang lainnya.
Itulah masalahnya. Itulah yang aku ingin jujur kepadamu, dan itulah yang mungkin akan sangat menyakitimu: Ternyata aku tidak benar-benar mencintai kamu. Aku hanya mencintai sebagian diriku sendiri yang hidup dalam diri kamu. Aku menyukai kebaikan-kebaikan kamu dan segala hal tentang kamu yang sesuai dengan aku, yang membuatku senang, atau yang aku inginkan dan ada dalam diri kamu.
Tapi bagaimana dengan kekuranganmu, dengan keburukanmu, dengan semua hal yang aku tidak sukai dari kamu? Haruskah aku memaksakan diriku untuk menyukainya? Dan apakah masih disebut cinta jika ada paksaan di dalamnya? Selama ini, sepertinya kita sama-sama saling menyembunyikan kekurangan kita, keburukan kita. Berusaha nampak sesempurna mungkin. Dan apakah masih bisa disebut cinta, jika tidak berani jujur apa adanya, jika masih sama-sama ketakutan dengan menyembunyikan kondisi yang sebenarnya?


Recent Comments