Kenapa Belum Menikah?

16 04 2012

Dua pekan yang lalu Abang ke-4 saya (akhirnya) menikah. Akhirnya? Iya, karena memang sudah waktunya, waktu terbaiknya Insyaallah. Terlepas dari niatnya yang (mungkin) sudah dari tahun-tahun lalu ditambah (mungkin juga) bosan dengan pertanyaan “kapan” dari segala jenis manusia :D

Tau kan apa yang terjadi saat Saudaramu menikah? Yayayaya, pertanyaan biasa, standar, itu-itu saja, dan yang jawabannya pun klise. Bayangkan saya yang TUJUH bersaudara, dengan puluhan sepupu yang se-umuran. Tentu saja kebal dan terbiasa ditanya “kapan”. Tahun-tahun kemarin jawaban saya beraneka ragam, sesuai mood.

Maunya hari ini, tapi si Abang nikah juga, jadi mesti ngalah.

Iya nih, belum ketemu pangeran bekuda emas.

Kapan ya? Kamu bisanya kapan maen ke Banten?

Dan jawaban-jawaban ngeyel sejenis, yang asli saya jawab dengan asal-asalan *doh!* Sampai akhirnya dua hari sebelum si Abang menikah, saya ketemuan di Bandara Polonia Medan dengan seorang teman. Mbak Kotsan saat di Jurangmangu dulu. Dia mendatangi saya di saat 30 menit sebelum pesawat berangkat. Dia, Suami, dan Anak mereka yang super lucuuu itu. Tak habis-habisnya saya menatap makhluk mungil itu sambil berkali-kali bertasbih. Mencolak-colek pipin gembilnya. Dan terus menerus takjub dengan si Mbak yang sekarang sudah menjadi Ibu. Fyi, kami sudah 2 tahun lebih tidak bertatap muka. Lalu terjadilah percakapan :

Uniii.. udah jadi Ibu aja ya, cepet banget :D

Iya, kamu kapan dong cha *pertanyaan klise yang saya jawab dengan cengar-cengir*

Eh Aku mau tanya ya cha, serius : Kamu mikirin nikah gak sih?

Jedeeeeng, meski sederhananya saya jawab : mikirin kok Uni, tenang aja. Padahal beberapa waktu setelahnya justru saya jadi tanya ke diri sendiri : kamu mikirin nikah gak sih? Kata mikirin berubah meluas makna. Sebetulnya sudah seringkali saya disindir : Jangan keliling Indonesia mulu, nikah dong. Jangan ngurusin anak kecil mulu, nikah biar punya anak kecil sendiri. Dan sindiran-sindiran standar lainnya, yang saya anggap sebagai bentuk perhatian.

Saya mikirin nikah kok. Saya pernah ber-proses-pun, meski jalan Allah menunjukkan belum waktunya. Read the rest of this entry »





mari bicara tentang hal ini lagi : mati

15 03 2012

Apa yang lagi dibahas di meja bundar hari ini?

Tentang seorang pegawai beda lantai yang indigo, kami melahap habis seluruh isi blognya. Tentang, hantu kamar mandi perempuan, tentang hantu di jalan, dunia lain beda dimensi. Hal-hal yang cukup ‘menyenangkan’ oleh anggota meja bundar sembari menunggu kapten-kapten membawa kabar. Sempat saya bertanya bodoh: kalau saya mati, gentayangan gak ya? Seolah-olah tidak tau dengan pasti tahapan manusia setelah mati. Melalui Alam barzah yang di dalamnya ada azab kubur bagi manusia yang ‘nakal’ saat di dunia, lalu hari kebangkitan, lalu berkumpul di Padang Mahsyar, pemberian syafaat bagi yang berhak, di lanjut dengan masa hisab lengkap dengan pemberian catatan amal baik dan buruk, dan Mizan – perhitungan- amalan kita. Dan melewati Shirat, *mengetikanya sudah bikin bergidik* and the last : Surga atau Neraka. Selesai.

Seringkali saya nakal semau-maunya, layaknya hidup tak ada ujung. Tapi tersedu-sedu jika ingat mati. Setelah itu nakal lagi, dan menangis lagi. Taubat macam apa? Saya pernah bertanya (via email) dengan Ustadz yang biasa mengisi kajian pagi di kantor sebrang, intinya : Bagaimana ini Ustadz, saya merasa ‘lurus’ hanya di hari Selasa dan Rabu (setelah ikut kajian pagi), setelah itu saya kembali ‘nakal’. Ustadznya balas, intinya : Gak kenapa, terus di-tingkat-kan, hingga setiap hari ‘lurus’. Nakal? Tobat lagi. Nakal lagi? Tobat terus. Semoga di-istiqomahkan jalan menuju kebaikann. Pernah ada seorang teman-nya-teman yang ‘begajulan’, ancur-se-ancur-ancurnya, Islam sih, tapi ya gitu.. Saat ditanya apa keinginan terbesarnya, dia jawab dengan yakin : Gak muluk, gue berharap bisa mati dalam keadaan Islam. Iya, sering saya berharap (mungkin berlebih harap) : Allah saya mau mati dalam keadaan beriman kepadaMu. Saya iri, benar-benar iri dengan (alm) Bapak. Allah benar-benar mengabulkan doanya tentang cara kematiannya, di hari Jumat, di bulan Ramadhan.

Seperti pagi tadi, saat tiba-tiba diri tidak seimbang, dan pandangan agak buram. Saya langsung menghubungi teman dekat di kantor. Minta di antar ke Dokter. ternyata dia tidak bisa. Akhirnya saya memaksakan diri keluar kantor untuk ke Dokter. Beberapa kali saya harus berhenti dan menutup mata untuk beberapa saat karena merasa tidak seimbang. Saya pikir, saya bawa dompet yang berisi kartu identitas dan name-tag-kantor, amanlah mau jatuh dimana-pun. Alhamdulillah sampai juga ke Dokternya. Tapi nasib belum begitu baik, Dokternya tidak ada : lagi pergi. Ada Dokter laki-laki sebenarnya, tapi saya risih. Saya bilang : mau tunggu dokter perempuan saja. Tapi sakit-nya semakin menjadi, saya juga tidak pegang obat peredanya. Akhirnya saya menangis sendirian. Hahaha, memalukan. Beberapa perawat panik, dan minta saya tiduran saja. Tapi saya tolak, sambil senyum *menahan malu*. Lalu oleh seseorang yang baik hati, saya dibuatkan Teh Manis Hangat : biar lebih tenang. Yang ada saya malah tambah nangis : ini orang baik amat, kenal juga enggak. Dalam hati saya terus mendoakan orang-orang yang luar biasa baik dan perhatian itu. Saat menangis itu, saya cuman ingat : bagaimana kalau saya mati hari ini? Selimut tadi pagi belum dibereskan, buku-buku masih terhampar di tempat tidur, pakaian kotor masih numpuk, meja kantor masih berantakan, ibu saya, adik saya, janji saya mau ajak nonton Negeri 5 Menara sama keponakan-keponakan, hutang hafalan saya yang terus menunggak, pesenan jaket dan barang dagangan lain yang masih dalam proses, haha.. saya mikir itu dalam satu waktu, dan berhasil membuat saya semakin banjir air mata *seorang diri, di sebuah klinik* Read the rest of this entry »





Dhana Widyatmika [Opini Pribadi]

2 03 2012

Kamu PASTI akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yg diberi kitab sebelum kamu dan orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan (Ali-Imran : 186)

Kebiasaan saya setelah tilawah beberapa lembar, maka akan membaca terjemahnya dari ayat terakhir. Dan ayat 186 surat Ali-Imran adalah yang pertama kali saya baca subuh ini. Kaget. Luar biasa kaget. Sepanjang hari Rabu kemarin saya terus mendengar (dan membaca) berita tentang Pak Dhana Widyatmika. Tentang kasus “dugaan” korupsinya yang puluhan milyar itu. Tentang beliau yang disejajarkan kedudukannya dengan Gayus Tambunan. Tentang beliau yang walaupun bukti masih belum jelas, tapi status sudah jelas : tersangka! Ada penolakan ketika pemberitaan media yang over mengenai kasus ini. Beberapa selentingan di kantor-pun terdengar tidak mengenakkan. Terlebih setelah ada teman kantor yang nyeletuk :

DW (Dhana Widyatmika) itu anak Masjid loh! ternyata gitu ya?

Saya cuman beristighfar. Apa benar DW separah itu? sampai menangis saya dibuatnya. Berlebihan? Terserah. Saya merasa ini ujian berat buat instusi kami (Kementerian Keuangan) dan Dien kami : Islam. Dengan embel-embel yang mengikuti sosok DW : Anak Masjid, ngikwah, rajin puasa daud, dsb, saya merasa ada keterikatan secara batin sampai harus menagis. Sebelum pemberitaan media, saya sama sekali tidak tau dengan Sosok DW. Baru Rabu kemarin saya mencoba mencari tau, lewat berbagai media online dan obrolan ringan dengan beberapa teman kantor yang mengetahui sosok DW (saya bekerja di Badan Kebijakan Fiskal, salah satu bagian dari Kementerian Keuangan). Pun ternyata ada Peneliti di kantor saya yang satu angkatan dengan Pak DW saat masih kuliah di STAN dulu. Read the rest of this entry »





#CameraSim

21 02 2012

dapet web ini dari senior di group iSTAN Photography, yang lagi nunggu orang, beberapa menit, lumayan icip :D

dikasih tips dari senior, kalau lagi jadi tukang foto di nikahan temen : jangan kasih liat foto yang jelek/gagal, haram hukumnya :P





menata hati-6

16 02 2012

Bagaimanalah ini. Biarkan aku mulai dari awal mula hubungan kita. Kita sama-sama lupa untuk saling bersepakat. Akan diapakan hubungan ini. Akhirnya, kita seperti air yang mengalir. Terbawa arus yang ada di hadapan. Masalahnya tidak semua arus yang ada di hadapan kita bermuara pada kebaikan. Harusnya kita bisa menentukan sendiri, akan dibawa kemana aliran ini.  Kalau begitu, kita telusuri saja dari hal yang cukup mendasar; Apa yang perlu dihasilkan dari sebuah hubungan? Siapapun akan menjalin hubugan dengan orang lain jika hubungan itu menguntungkan. Termasuk hubungan yang terjalin diantara kita. Dan itulah salah satu alasan kenapa aku ada, kamu ada dan manusia ada. Untuk saling melengkapi satu diantara lainnya. Untuk saling memberi dan mengambil manfaat dari keberadaan satu dan yang lainnya.

Itulah masalahnya. Itulah yang aku ingin jujur kepadamu, dan itulah yang mungkin akan sangat menyakitimu: Ternyata aku tidak benar-benar mencintai kamu. Aku hanya mencintai sebagian diriku sendiri yang hidup dalam diri kamu. Aku menyukai kebaikan-kebaikan kamu dan segala hal tentang kamu yang sesuai dengan aku, yang membuatku senang, atau yang aku inginkan dan ada dalam diri kamu.

Tapi bagaimana dengan kekuranganmu, dengan keburukanmu, dengan semua hal yang aku tidak sukai dari kamu? Haruskah aku memaksakan diriku untuk menyukainya? Dan apakah masih disebut cinta jika ada paksaan di dalamnya? Selama ini, sepertinya kita sama-sama saling menyembunyikan kekurangan kita, keburukan kita. Berusaha nampak sesempurna mungkin. Dan apakah masih bisa disebut cinta, jika tidak berani jujur apa adanya, jika masih sama-sama ketakutan dengan menyembunyikan kondisi yang sebenarnya?

*** Read the rest of this entry »





Kontroversi #Susu

1 02 2012

Suka Susu gak? Saya suka bangeeeet, apalagi yoghurt! adeeeuh.. seminggu bisa 8kali minum yoghurt :D Tapi setahun yang lalu saya baca bukunya Prof Hiromi Shinya yang judulnya The Miracle of Enzym (gugling sendiri kalau mau tau lebih details :P ), jadi takut-takut kalau lagi minum susu dan segala turunannya. Intinya dari buku itu adalah : susu hewan itu sama sekali gak cocok buat manusia, tentu saja dengan penjelasan ilmiah tingkat tinggi dan fakta-fakta di lapangan yang disertakan. Menghabiskan buku itu dalam satu malam, lalu saya cari tau lewat web-web (lokal dan luar), akhirnya saya bilang sama diri sendiri : oke, ternyata memang benar ya susu (sapi) itu gak baik buat manusia. Seminggu kemudian saya diskusi sama seorang dokter, sembari meminjamkan buku tersebut. No Hope, mungkin dokternya sibuk banget, sampai sekarang kami belum ngobrol-ngobrol lagi. Mulai saat itu, saya jadi jarang minum susu dan turunannya (keju, yoghurt, dll)

*setahun kemudian*

Iseng-iseng saya mulai jalan-jalan di twitter, dan akhirnya duduk lama baca semua twitnya @erikarlebang mengenai #foodcombining dan #kibulan susu. Saya juga langsung nongton acara di metroTV yang beliau isi (8-11). Whey, ternyata menyadari kalau selama ini saya salah dengan pola makan dll mengenai asupan makanan. Gak sampai disitu, saya juga buka web pribadi beliau. Naaah, disitu ada bahasan tentang #kibulansusu. Intinya sama dengan buku Prof Hiromi Shinya itu : susu hewan itu gak bagus untuk manusia, bahkan sapi dewasa saja tidak minum susu induknya. Saya percaya.

* Read the rest of this entry »





15 To Complete!

30 01 2012

akhir tahun yang lalu saya nulis status facebook kayak gini :

Read the rest of this entry »





menata hati-5

30 01 2012

“Kamu, hanya harus jujur dengan perasaan kamu sendiri. Membohongi perasaan hanya akan mengusir ketenangan hatimu. Sedang menghindarinya, akan menghilangkan keleluasaan yang kamu punya. Kamu jadi bukan kamu. Kamu ada, tapi sebagian dirimu hilang entah kemana. Ditutupi topeng yang kamu sendiri tak tahu bagaimana bentuknya. Dan yang nampak dari luar; kamu sudah bukan kamu lagi. Apakah orang lain suka? Bisa jadi ia, kalau mereka belum tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Yang jelas kamu pasti tak menyukai dirimu sendiri. Karena kamu mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Karena kamu tahu dengan pasti; apa yang kamu lakukan, apa yang kamu ungkapkan adalah bukan apa yang kamu rasakan. Memang begitu adanya. Tak ada orang yang suka dibohongi. Termasuk dirimu, walaupun pelakunya adalah diri kamu sendiri. Terserah mau secerdik apa kamu membohongi dirimu sendiri.”

Kalimat itu menghujam dalam hatiku, keluar dari mulutku sendiri dan diperuntukan untuk diriku sendiri. Tapi kamu punya andil yang sangat besar di belakangnya.

Pada mulanya, aku hanya ingin menjaga perasaan kamu. Maka kusimpan saja ketidaksukaan itu. Tak kuungkapkan, tapi sangat kurasakan. Dan sungguh sangat tidak enak merasakannya. Inilah salah satu kebodohanku. Bagaimanalah bisa menjaga perasaan orang lain, jika perasaan sendiri masih berantakan. Aku pikir itu adalah bentuk pengorbananku untukmu, sebagai sahabat, atau sebagai apalah karena kita sudah cukup lama melewati kebersamaan yang sama. Dan lagi-lagi aku salah. Pengorbanan harusnya membuat kita bahagia. Tidak menderita, apalagi menyisakan penyesalan. Sayangnya, yang terakhir yang aku rasakan. Penyesalan yang aku sisakan. Dan benci yang aku simpan. Read the rest of this entry »





menata hati-4

25 01 2012

Kalau setiap orang hanya akan menuai apa yang ditanam, apa yang akan dituai oleh orang yang menanam perasaan?

***

Hati kita punya banyak ruang. Dan dari sekian banyak ruang itu, selalu tersedia ruang benci diantaranya. Begitu juga dengan hatiku. Yang aku tak mengerti, kenapa kamu harus memasukinya? 

Ada sejumput rindu yang menjemput. Mengajak hatiku berdamai untuk menerima apa yang telah terjadi. Kembali ke masa lalu, merasakan apa yang pernah kita rasa dalam kebersamaan ini. Menyusuri segala hal yang membuat kita saling merasa nyaman untuk saling mendekat dan mengikat. Tapi kenyataan lebih kuat dari kenangan masa lalu. Dan kabar buruknya, hatiku masih tetap menolak untuk berdamai. Atau masalahnya bukan tentang masa lalu atau sekarang, toh banyak juga yang terjebak dengan masa lalunya, hidup dalam harapan agar kondisinya seperti masa lalu, padahal waktu sudah berdetak berjuta detik, dan kita sudah sama-sama mengalami banyak perubahan.

Apa memang begitu hukumnya, segala yang menyakitkan akan bertahan lebih lama walaupun kadarnya hanya sedikit. Sedangkan segala yang membahagiakan akan cepat terlupakan walaupun kadarnya melimpah. Barangkali itulah salah satu penyebab, tetua kita yang bijak bestari menyimpulkan peribahasa yang serasa tak adil, tapi memang begitu adanya: “Nila setitik bisa merusak susu sebelangga”

Entahlah, yang pasti sekarang kamu sedang menempati ruang benci di hatiku. Dan aku belum tahu caranya untuk mengeluarkanmu dari sana. Apa aku usir saja kamu secara paksa, agar kamu tidak mengganggu hidupku. Agar kamu tidak mencemari ruang yang lainnya. Tapi bukankah itu percuma saja, karena walaupun kamu tak ada disana, ruang itu akan tetap ada. Hanya siapa yang mendiaminya yang berbeda. Kalau bukan kamu, tentu saja ada orang lain. Sekarangpun kamu bukan satu-satunya penghuni. Masih banyak yang lainnya. Hanya saja, kamu yang paling mendominasi. Apa aku hancurkan saja ruang itu, agar ruang itu tak ada dalam hatiku? Tapi bagaimana bisa, bukankah hati adalah sesuatu yang diberikan Tuhan satu paket dengan ruang-ruangnya. Sudah begitu adanya. Mana bisa melanggar sunatullah-Nya. Read the rest of this entry »